
Adi menyeret Harsa di hari Sabtu yang indah untuk latihan. Hari liburan terakhirnya terpakai sudah. Belum juga matahari menyingsing, dia telah membuka jalan ke Tepi Dunia Roh di tengah ruang tamu. Tudung transparan yang robek menunjukkan lembah berumput luas. Sama seperti di Dunia Material, langit di sana masih berwarna biru gelap, dan berangsur-berangsur terang.
“Yok, cepat Harsa.” Kata Adi sudah tak sabar. Dia berdiri di tepi robekan tudung itu lengkap dengan seragam tentaranya yang biasa, rompi dan celana kulit yang lentur.
Harsa yang baru lima menit lalu bangun dari tidur, sedang mengobrak-ngabrik lemari dapur, mencari roti atau apalah yang bisa dijadikannya sarapan. “Bentar, Kak. Sarapan dulu. Aku juga belum mandi.”
“Gak usah. Supaya kamu lebih cepat menyerap physis nanti.”
Baru saja dia menemukan satu potong roti di kulkas, Adi kehilangan kesabarannya. Dia menjambret Harsa di kerah piamanya dan melemparnya ke balik tudung itu. “Sihirku banyak dimakan percuma hanya untuk membuka jalan ke Tepi Dunia Roh.” Keluh Adi, sembari masuk ke Tepi Dunia Roh itu.
Seperti sebelumnya, badan Harsa terasa jauh lebih berat sepuluh kali lipat. Adi tidak terpengaruh sama sekali. Ketika kedua kaki Adi menginjak Tepi Dunia Roh, tudung transparan tu memperbaiki dirinya sendiri, kemudian jalan ke rumahnya hilang sudah, meninggalkan mereka dalam sabana tanpa ujung.
“Lagian kenapa sih kita harus belajar sihir di Tepi Dunia Roh?” tanya Harsa dengan dahi berkerut. Dia mencoba untuk berdiri dengan mengalirkan physis ke seluruh tubuhnya. Segera, physis itu lepas dari kendalinya, dan meledak dalam bentuk api.
Adi melihat adiknya dengan ekspresi datar. “Supaya kamu tidak dengan tidak sengaja membakar rumah. Lagipula physis Tepi Dunia Roh lebih padat dari physis di Dunia Material, jadi lebih mudah untuk mengendalikan physis dan mengisi ulang tenagamu di sini.”
Harsa menghela nafas, kembali jatuh terduduk. “Apa karena itu di sini jauh lebih berat daripada di… Dunia Material?”
“Jujur, buatku sama saja, karena aku lahir di sini.”
“Jadi dimana di sini itu?” Tanya Harsa, menyerah untuk berdiri. “Dan aku masih nggak tahu apa itu physis.”
__ADS_1
Adi duduk di depan Harsa dan mengambil sebuah ranting tajam dan mulai menggambar di tanah. Dia menggambar beberapa lingkaran yang saling tumpeng tindih. “Lihat ini.” Suruh Adi.
“Heeh?”
“Kurang lebih, inilah peta gambar dunia ini dari perspektif seorang Kasarewang. Kamu bisa memandangnya seperti melihat diagram venn.” Adi langsung menjelaskan. “Bumi, ruang angkasa, semua yang bisa dijelajahi oleh manusia berada di Dunia Material, dan Dunia Material seluruhnya berada dalam Tepi Dunia Roh, tapi tidak semua yang berada di Tepi Dunia Roh berada di Dunia Material. Sekarang ini, kita berada di Tepi Dunia Roh, tapi tidak di Dunia Material. Oleh karena itu, di sini tidak ada manusia atau binatang. Manusia bisa ke sini, tapi secara naturalnya Tepi Dunia Roh yang di luar Dunia Material merupakan tempat tinggal Kasarewang dan binatang-binatang ajaib. Tadi kita pergi dari Dunia Material ke Tepi Dunia Roh melalui sihir teleportasi. Dimana itu Tepi Dunia Roh? Tepi Dunia Roh ini berada di antara Dunia Roh Positif dan Dunia Roh Negatif.”
“Surga dan neraka?” tanya Harsa dengan dahi berkerut.
Bahu Adi menaik. “Manusia punya terlalu banyak cerita sampai aku tidak paham lagi. Positif dan Negatif sendiri hanyalah nama. Intinya ada dua dunia roh yang saling bertentangan sifatnya.”
“Mati.”
“Huh?”
“Satu-satunya cara bagi manusia dan Kasarewang untuk pergi ke Dunia Roh, baik positif maupun negatif, adalah mati.”
“Aku pikir Kasarewang itu abadi.” Ungkap Harsa.
“Aku bisa mati kalau dibunuh, tahu.”
__ADS_1
“Bagaimana kita tahu Dunia Roh yang akan kita datangi setelah kita mati?” tanya Harsa, tangannya mulai berkeringat. Mengapa pelajaran ini jadi seram? Untunglah fajar baru saja menyingsing.
“Yah, Kai. Gerbang yang bisa kamu lihat dalam rohmu. Ketika Kai sedikit dibuka, kamu bisa mengintip sedikit ke Dunia Roh, tapi kalau kamu sampai masuk, kamu tidak bisa kembali.”
“…” Harsa mengolah informasi itu sesaat, menaruhnya sebagai satu konsep yang utuh. “Aku nggak paham. Kai itu, semacam sihir dalam diri kita kan?”
Adi melihatnya tidak yakin. “Apa kamu tidak pernah secara tidak sadar masuk ke lorong putih? Di ujung lorong itu, akan ada gerbang putih yang mudah sekali kamu lewati. Kalau kamu melewati gerbang itu, kamu akan pergi ke Dunia Roh. Gerbang itu bernama Kai.”
Mimpi Harsa tujuh tahun lalu kembali teringat. Sekarang, rasa takutnya muncul dalam bentuk keringat dingin. Dia kemudian menceritakan mimpinya pada Adi.
“Baguslah kamu tidak melewati gerbang itu.” Kata Adi, benar-benar lega. Tidak terbayang oleh Adi bagaimana duka ayahnya kalau Harsa meninggal. Adi tidak memberitahu Harsa, tapi sebenarnya kasus dimana anak setengah manusia setengah Kasarewang berhasil bertahan hidup sangatlah langka. Pada umumnya ada dua hal yang dapat terjadi. Pertama, janin akan lahir sebagai manusia biasa karena tidak punya Kai. Kedua, janin akan mati karena tubuhnya tidak sanggup menahan physis murni yang besar karena physis yang keluar dari Kai.
Kasus seperti Harsa sebenarnya termasuk kasus kedua. Namun, ajaibnya, tubuh manusia Harsa cukup kuat -lebih kuat dari manusia biasa- untuk menahan physis murni. Adi ingat bertapa hati-hatinya Erik ketika tahu bahwa Darma mengandung. Erik harus menyegel Kai Harsa pada saat yang tepat. Terlalu cepat akan menghancurkan gerbang itu selamanya, terlalu lambat, maka physis murni akan menghancurkan tubuh Harsa. Harsa mungkin tidak ingat, tapi pada umur dia delapan tahun, adalah kedua kali Kainya disegel.
“Kak Adi” Panggil Harsa dari lamunannya. “Berarti aku akan mati? Kalau aku melewati gerbang itu?”
“Ya. Kai merupakan alasan kematian terbesar untuk Kasarewang yang masih kecil dan tidak tahu lebih baik. Di sisi lain, sebenarnya entah gerbang itu kutuk atau berkat bagi Kasarewang. Sebab dengan adanya gerbang itu, Kasarewang bisa memilih kapan dan dimana dia mati.” Jelas Adi. “Pokoknya hati-hati terhadap gerbang itu. Memilih kapan dan dimana akan mati mungkin terdengar seperti berkat, tapi di balik itu, kita harus benar-benar bijak untuk menentukan dimana dan kapan kematian kita tepat. Kalau tidak tepat, pilihan itu akan jadi kutuk.”
“Hmm. Oke. Akan aku ingat-ingat, tapi kalau sekarang sih aku ogah banget mati.” Tanggap Harsa. “Aku sekarang sudah paham dimana itu Tepi Dunia Roh. Kalau begitu, apa kak Adi bisa mulai mengajariku sihir? Ee, soalnya aku kesulitan berdiri di sini.”
“Ya, benar.” Kata Adi, masih heran dengan fisik adiknya. “Sebelum itu, memangnya apa yang kamu tahu tentang sihir?”
__ADS_1