
“Bagaimana latihanmu dengan Adi?” tanya Erik setelah makan malam. Sudah tiga minggu berturut-turut Adi melatih Harsa tanpa ampun.
“Hmm. Capek tapi lancar kok.” Kata Harsa melupakan PR matematikanya sejenak. Sejak SMA, tiap hari, tampaknya selalu ada PR setiap hari. “Menurutku ya. Kadang kak Adi suka ngomong pakai bahasa Kasarewang di sana sini. Aku nggak paham sama sekali.” Keluh Harsa. “Kalau dia ngeluh, aku nggak tahu.”
“Hooh, gitu.”
“Menurut papa, aku bisa belajar bahasa Kasarewang gak?” tanya Harsa. Selama ini, dia semakin ingin belajar, mengingat bagaimana Adi sering mengejeknya karena dia tidak bisa.
“Loh, kok kamu nanya gitu?” Erik balik bertanya. “Kalau kamu mikir dari awal tidak akan bisa bahasa Kasarewang, kamu nggak akan bisa selamanya.”
Kata-kata Erik menancap hati Harsa. “Benar juga.” Dengan kata-kata dari Erik itu, Harsa membulatkan tekadnya. Walaupun, Harsa tidak punya sedikit pun ide akan bagaimana mengembangkan perfect pitch, maupun kapan dia bisa menyediakan waktu untuk belajar bahasa Kasarewang.
***
Elis, Barasa, dan Harsa secara natural menjadi satu kelompok diskusi di kelas. Ketika bahan-bahan diskusi telah selesai, pembicaraan mereka mulai menjalar ke hal-hal lain.
“Gimana, di klub musik?” tanya Barasa pada Elis.
“Seneng mereka semua pada ramah. Untungnya mereka memang butuh orang yang bisa main piano, jadi aku langsung dapet posisis yang aku mau.” Katanya senang.
“Hmmm, baguslah untukmu.”
“Kamu sendiri gimana di klub basket?” tanya Elis balik.
Barasa menghela nafas. “Lumayanlah, tapi gak gitu seru sekarang nggak ada Harsa.”
“Eh, aku rencananya masih mau datang lagi kok, kalau ada waktu.” Konsentrasi Harsa terbagi antara tuntutan akademis, klub sihir, dan latihan sihir dengan Adi.
“Kalau sudah gitu, berarti kamu nggak akan dateng lagi.” Simpul Barasa. “Klub sulap emang seseru itu ya?”
“Hehehe. Lebih seru dari yang kubayangkan.” Kata Harsa jujur. Dia tidak bisa tidak tertarik, dari Aster, dia bisa belajar sihir yang berbeda dengan yang Adi ajarkan. Sudah dua minggu ke belakang, Harsa mulai paham sedikit-sedikit bagaimana Aster menyihir. Dengan penjelasan dari Aster, dia mulai dapat memahami cara Aster menyihir, dia bisa belajar membentuk apinya menjadi berbagai macam bentuk, mulai dari tongkat panjang hingga kelinci api. Kadang berguna, kadang tidak. Terlepas dari itu, pertemuan-pertemuan itu tetaplah menyenangkan.
“Eh, serius kamu join klub sulap?” Tanya Elis kaget.
__ADS_1
“Iya, serius dia. Awalnya aku pikir Harsa dipaksa.” Komentar Barasa.
“Kenapa gitu, Lis?”
“Nggak sih. Aku banyak dengar gossip soal klub sulap. Klub sulap katanya cuma untuk anak-anak yang nggak mau berkegiatan aja. Lalu, soal ketua klubnya, aku pernah dengar kalau dia pendiam yang sulit didekati.”
“Aster?” Harsa menggeleng. “Dia ramah sih sama aku. Dia bukan pendiam sama sekali.”
“Hmm, baguslah kalau gitu.” Elis bebalik pada Barasa. “Kalau bosan main yuk ke klubku. Kita mau kerja sama bareng klub drama untuk bikin pentas musikal gitu untuk pentas seni sekolah nanti. Kayaknya kita bakal butuh lebih banyak orang terutama untuk bantu-bantu.”
“Menarik. Tapi aku nggak bisa main musik.” Kata Barasa.
“Nggak masalah! Justru kita butuh orang untuk jadi blackman dan bantu-bantu acaranya berlangsung.” Tak terduga, Elis juga menatap Harsa. “Kamu juga, Sa. Kalau bisa, bantu dong!”
“Eh? Aku cuma bisa main gitar kalau musik, tapi itu pun aku belajarnya iseng saja.” Jawab Harsa.
“Ayo, Sa. Gak apa-apa. Sedikitpun bantuannya kita hargai kok. Soalnya klub teater juga kurang orang.” Bujuk Elis lanjut.
Sulit bagi Harsa untuk menolak Elis, apalagi ketika Elis melihatnya dengan mata berbinar-binar seperti itu. “Iya, deh. Kalau ada yang bisa aku bantu, aku janji bantu.”
Begitu Elis berkata seperti itu, Harsa langsung teringat satu hal. “Em… Sebenernya ada satu hal.”
“Ya?”
“Aku ingin punya perfect pitch… Menurutmu bisa kah?” tanya Harsa tak yakin. Dadanya berdebar tak karuan tak karena takut divonis tidak mungkin dari seorang yang suka musik.
“Bukannya perfect pitch itu harus dari lahir?” tanya Barasa meragukan.
“Hmm banyaknya sih berkembang secara natural.” Elis yang menjawab untuk Harsa. “Tapi aku pernah dengar kasus ada yang kemampuan perfect pitch berkembang di umur lima belas tahun kok, karena dia terlalu sering berlatih bermain biola.” Cerita Elis. “Aku nggak tahu sih, apa semua orang bisa begitu atau nggak. Cuma aku pernah dengar nih, ada aplikasi untuk mengembangkan perfect pitch. Kalau nggak salah, aplikasi itu bantu kamu untuk menghafalkan nada-nada sampai kamu bisa dianggap perfect pitch.”
“Ohh gitu. Tapi emangnya kamu kenapa memangnya mau mengembangkan perfect pitch? Aku baru dengar kalau aku suka musik.” Komentar Barasa.
“Eeee.” Aku mau belajar bahasa yang hanya bisa dimengerti kalau dinyanyikan. Harsa menahan mulutnya dan memutar otaknya, tapi tidak berhasil. “Adalah. Untuk proyekku sendiri.” Kata Harsa pada akhirnya, tidak mampu membuat alasan.
__ADS_1
Dahi Barasa berkerut dan matanya memincing curiga, namun dia tidak menekan Harsa lebih lanjut.
“Mungkin aku bisa bantu kamu menghafal nada-nada dari piano kalau kamu mau. Pulang sekolah, di hari Jumat, aku kosong. Piano klub musik juga nggak terpakai di hari itu.” Elis menawarkan.
Wajah Harsa yang sudah cerah jadi semakin cerah. “Mau banget! Thank you, Lis!!”
“Hehehe, sama-sama.”
Percakapan mereka terhenti setelah bel sekolah berdering keras, tanda bahwa mereka bisa makan siang.
“Akhirnya!!” Elis langsung berdiri bersemangat. “Aku tidak sabar makan siang. Duluan ya!” Elis melambai dan berlari menyusul teman-teman perempuan lain di kelas mereka, meninggalkan Harsa dan Barasa di tempat mereka.
“Yuk. Kita juga makan.” Ajak Harsa, turut berdiri menuju ke kantin, namun Barsa menahan bahu Harsa.
“Bentar. Soal klub sulap. Kamu nggak benar gak diancam sama senior itu kan?”
“Memangnya kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Habis kemarin aku didekati oleh Aster juga. Dia mengira aku bisa sihir karena aku bisa menahan Legenda Bayangan. Lalu dia, agak sedikit memaksaku ikut klub sulap, meski aku bilang aku nggak percaya sihir dan nggak mau masuk klub sulap.”
Terbayang wajah Aster yang bersemangat mengajak siapapun yang bisa sihir untuk masuk klub sulap. “Haha. Itu pasti karena keadaan klub sulap lumayan gawat. Sekarang anggota aktifnya hanya aku dan Aster. Maaf ya, tapi kamu berhasil menolak kan?”
Dahi Barasa berkerut. “Belum. Kemarin aku baru berhasil menunda menjawab saja. Tapi….”
“Tapi?”
“Tapi, aku jadi ragu tentang sihir. Maksudku, kalau cuma satu orang saja yang mengoceh soal sihir, pasti kuketawain. Sekarang, ada kamu sama kakak kelas itu.”
“Aster. Namanya Aster.” Harsa menekankan.
“Iya, Aster. Intinya adalah, apa kalian berdua serius soal sihir?” tanya Barasa menyelidik.
Seringai kemenangan muncul di wajah Harsa, “Kalau memang penasaran, kenapa gak coba dulu aja kegiatan klub sihir?”
__ADS_1