Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Kelas Dua


__ADS_3

Dua minggu liburan kenaikan kelas berlangsung seperti sekejap mata. Tanpa terasa, dia mulai bersekolah lagi. Harsa merasa lega doanya terjawab. Dia kembali satu kelas dengan Elis dan Barasa.


“YEAYY!!” Harsa merangkung Barasa dan Elis dengan Bahagia. “Satu kelas lagi, genks. Seneng banget aku sudah nyaman barengan.”


“Yoi, bro. Nanti tolong ajari aku lagi, ya. Apalagi untuk UAS dan UTS ya!” Pinta Barasa. Kemarin ini, Barasa sampai sujud syukur karena pada akhirnya mendapatkan nilai delapan di pelajaran matematika setelah di drilling oleh Harsa dan Elis sepanjang minggu UAS.


“Iya, tenang saja. Nanti kita belajar bareng lagi.” Kata Harsa menenangkan.


Berbeda dari mereka, Elis merasa sedih karena dia tidak lagi sekelas dengan Gina, sohibnya di kelas satu. “Ya, ya. Mungkin aku harus lihat sisi baiknya sekelas dengan kalian.”


Kelas dua tidak lebih ringan dari kelas satu. Justru, guru-guru tampak tegas dengan nilai. Mereka berulang kali berkata bahwa sekolah tidak akan menaikan murid-murid yang tampaknya tidak akan lulus di kelas tiga. Meskipun begitu, suasana belajar di kelas Harsa tampaknya tidak juga menjadi serius. Harsa sendiri juga tak pernah membayangkan dia akan berhenti menjadi anak SMA. Sampai, ketika hari dimana sekolah mereka kedatangan berbagai macam universitas yang masing-masing mempresentasikan universitas mereka.


“Yes.” Kata Elis di pagi hari setelah meletakkan tasnya di bangku. “Hari ini gak usah belajar.”


Setiap kelas masuk ke satgkpu kelas yang di dalamnya sudah ada perwakilan dari setiap universitas. Seperti Elis, Harsa tidak terlalu memikirkan banyak hal tentang presentasi dari universitas ini, hanya sebuah waktu untuk beristirahat dari kegiatan belajar mengajar yang biasa. Namun, berbeda dengan mereka berdua, Barasa sangat serius. Dia membawa notes khusus untuk acara ini dan mencatat di setiap universitas yang datang ke sekolah mereka.


“Sa, ya ampun kamu niat banget.” Komentar Elis.


“Ya, dong. Aku kan mau beneran kuliah. Terus, acara seperti ini bantu banget buat aku yang masih gak tahu mau masuk jurusan apa.”


“Kenapa kamu nggak pilih sesuai dengan pelajaran yang kamu suka aja?” Usul Harsa di jam istirahat mereka.


“Kalau gitu, nggak ada dong.” Jawab Barsa dengan dahi berkerut.


Tanpa ampun, Harsa dan Elis menertawakannya. “Ya ampun, padahal kamu paling niat belajar.”


“Aku mau pilih jurusan yang banyak lowongan kerjanya saja.” Kata Barasa. “Kalian juga dong. Sudah dikasih sarana sama sekolah dimanfaatkan dong.”


“Ah, aku sih akan tetap coba masuk universitas musik, kalau pun orangtuaku tidak mengizinkan.” Kata Elis penuh tekad.

__ADS_1


“Bagaimana caranya?” tanya Harsa.


“Mereka nggak akan bisa ngomong apa-apa kalau aku dapat beasiswa ke luar negeri.” Kata Elis percaya diri.


Barasa menggeleng-geleng. “Kalau Harsa?”


Aku ingin belajar sesuatu yang bisa membantuku memahami sihir lebih lagi. Harsa ingin mengatakan hal itu, tapi tidak di depan Elis. Dia tidak mau Elis turut bingung dengan ucapannya soal sihir. “Nggak tahu, aku masih belum terbayang.”


“Tuh kan!” Barasa menepuk punggung Harsa dengan semangat. “Padahal kamu pasti mau masuk kuliah kan?”


“Uh, yah. Mungkin.” Jawab Harsa tak yakin. Dalam pikirannya dia teringat tentang universitas di Kota Drestha. Selama ini, dia selalu bingung bagaimana sihir bekerja. Bagaimana dekrit itu membagi jumlah elemen. Pengetahuan itu seperti ada di belakang kepalanya, namun dia tidak pernah bisa mengucapkannya. Harsa merasa tidak nyaman menerima kenyataaan bahwa dia bisa berada di dalam dunia dimana ilmu pengetahuan berjalan-jalan bersama dengan sihir. Otak dan pikirannya berlari-lari mencari koneksi yang bisa menyatukan persepsinya akan dunia. Dia tidak bisa menerima dua kenyataan yang saling bertolak belakang. Baik Erik dan Adi tidak punya jawaban atas kegelisahannya karena mereka bahkan tidak paham apa yang dia tanyakan.


Meskipun pikiran itu mengganjal, Harsa tidak punya banyak waktu untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaannya. Tugas-tugas sekolah Harsa semakin lama semakin menumpuk dan setiap kali Harsa selesai mengerjakan tugas sekolah, tumpukan buku sihir yang diberikan Adi selalu membayangi. Selain belajar mata pelajaran di sekolah, dia juga harus belajar sejarah keluarga Kerajaan Kasarewang, klasifikasi binatang sihir, dan melatih pelafalan bahasa Kasarewang dengan buku pelajaran yang sudah berumur seratus tahun.


“Ini buku pelajaran lamaku.” Kata Adi menyerahkan tiga buku yang tebalnya lebih dari lima belas centimeter.


“Tunggu dulu. Kalau gitu buku ini sudah berumur seratus tahun lebih?” Tanya Harsa agak khawatir melihat kertasnya yang sudah menguning.


“Lah, kak. Memangnya isi pelajaran ini masih relevan?”


“Ya, tentu saja.” Jawab Adi tanpa keraguan. “Seratus tahun tidak selama itu.”


Harsa menerima buku itu dengan hati-hati. Dia bahkan tidak berani menggaris halaman buku itu karena membalikkannya saja sudah menegangkan. Debu-debu itu berterbangan setiap kali dia membuka halaman baru. Untunglah tulisannya masih terlihat jelas setelah Harsa menyalakan lampu belajarnya. Setiap malam, sebelum tidur, Harsa selalu mengusahakan untuk membaca satu halaman dari buku itu.


“Naga merupakan mahkluk sihir yang merupakan satu-satunya reptil bersayap yang bisa terbang. Naga biasa tinggal di daerah benua eropa di Tepi Dunia Sihir. Mereka merupakan binatang sihir yang mempunyai keselarasan dengan dekrit abstrak. Namun, jenis naga paling banyak ditemukan menguasai elemen api.” Harsa membaca pelan-pelan dengan mata mengantuk. “Berbeda dengan naga-naga di daerah eropa, naga-naga di benua Asia memiliki afinitas dengan dekrit…..”


Suara Harsa semakin kecil setiap katanya sementara matanya mengerjap-ngerjap karena rasa kantuk. Akhirnya niatnya kalah ketika matanya tertutup dan wajahnya terbaring di atas buku berdebu itu dengan tenang. Dia telah masuk dalam alam mimpi.


Erik, sedikit terkejut mendapati posisi tidur Harsa malam itu. “Yah. Dia sudah bekerja keras. Untunglah aku masuk untuk mematikan lampu tidur.”

__ADS_1


Darma menggeleng-geleng sembari Erik memindahan Harsa ke kasurnya tanpa membangunkan anak bungsunya itu. “Dia belum gosok gigi.”


Erik tertawa. “Sudah, biarkan saja dia tidur.” Bela Erik.


***


Jujur, Harsa masuk kelas masih dengan keadaan setengah sadar keesokan paginya. Di pikirannya, dia masih membayangkan mimpinya bertemu dengan naga ketika mendapatkan kesempatan liburan keliling Eropa. Bahan belajarnya masuk ke mimpi Harsa. Sehingga ketika jam pelajaran pertama guru mereka tidak bisa mengajar, Harsa berniat untuk tidur kembali melanjutkan mimpinya.


Akan tetapi, ketua kelas baru mereka, Rian, berdiri ke depan kelas. “Guyss!! Guyss!! Perhatian! Perhatian!”


“Apa?!” Anak-anak yang lain berseru menjawab. Mereka merasa terganggu oleh teriakan Rian. Harsa juga, dia mengangkat kepalanya dengan lemas.


“Guys? Gimana kalau kita main bareng sehabis ulangan fisika di hari Sabtu nanti? Main satu kelas, sekalian mengakrabkan diri dan melepas penat?”


Usul Rian langsung disambut baik. Tampaknya, anak-anak kelas mereka semunya ingin main setelah penat di minggu yang sibuk ini. Bahkan Barasa juga tertarik untuk ikut.


“Sa, gimana, kamu bisa?” tanya Barasa. “Kamu masih suka ada acara keluarga yang gak bisa diganggu gugat setiap akhir pekan?”


“Hm? Latihan sihir dengan Adi?” kata Harsa tanpa pikir panjang. Sejak Adi bilang bahwa tidak ada yang bisa dia ajarkan lagi, Adi setuju ketika Harsa memintanya belajar sendiri. Lagipula, pelajaran sihir Harsa lebih banyak tentang teori daripada praktik sekarang, dan Adi tidak suka mengajarinya teori. “Nggak, kok. Sekarang, aku punya waktu kosong di hari Sabtu.”


“Yess! Kalau begitu kamu ikut?” tanya Barasa bersemangat.


“Iya, tentu saja.” Harsa tersenyum berusaha bersemengat. Dia ingin ikut, tapi dia masih ngantuk dan hanya ingin kembali tidur sekarang.


“Nais, janji ya.”


“Iya, janji.” Kata Harsa tanpa pikir panjang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2