Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Kelegaan Harsa


__ADS_3

Barasa dan Aster saling melempar ekspresi panik. “Kenapa polisi datang?” tanya Barasa kebingungan. Otaknya sudah mulai tak bekerja.


“Yah, bisa jadi banyak hal.” Aster melirik Adit barang satu detik. “Adit, waktu dia menyuruhku membunuh orang dengan sihir, aku kan tak mau, tapi dia tetap lakukan!”


Barasa menepuk kepalanya dengan dua tangan tanda putus asa. “Ya, sudah kalau gitu bilang saja begitu! Kita kan gak salah! Kamu diculik!”


“Bodoh kita bakalan dibawa ke rumah sakit jiwa kalau nyinggung-nyinggung sihir!”


“Ya, itu, atau dikira lagi mabok-mabokan. Terus gimana?”


‘Brak!!!’ Belum sempat mereka menemukan jawabannya, pintu kamar mereka didobrak oleh dua orang berseragam, lengkap dengan pistol terpasang di ikat pinggang mereka. Dua orang pria dan satu orang wanita masuk dalam kamar. Polisi wanita yang pertama kali masuk melihat ruang kamar penginapan dengan dahi berkerut heran. Tak terlewat di kepalanya kalau dia akan mendapati dua orang remaja yang masih mengenakan satu seragam sekolah, seorang lainnya terbaring tak sadarkan diri di lantai, dan satu orang lainnya terborgol oleh es batu.


“Walah, walah. Kalau di kampung saya berduaan di kamar jam-jam segini sih, harus langsung dinikahin, nih.” Kata polisi perempuan itu sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju.


“Nggak!!” Tolak Barasa dan Aster bersamaan.


“Mending bawa ke kantor polisi aja, Bu!” Barasa memohon.


“Kami nggak ngapa-ngapain, kok.” Kata Aster menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Nggak ngapa-ngapain?!” Bentak polisi pria yang masuk di belakang polisi wanita itu. “Kami dapat laporan dari warga dan pemiliki penginapan kalau ada kegaduhan dari kamar ini. Ada juga yang melaporkan perkelahian di jalan belakang penginapan! Lalu apa ini?” katanya menunjuk Harsa dan Adit.


“Ee, itu pak.” Barasa menatap Aster dengan pandangan memohon.


Aster menghela nafas panjang. “Aku diculik sama dia, Adit namanya. Lalu teman-temanku datang menyelamatkanku.” Jelas Aster sambil menunjuk Harsa dan Barasa. “Mereka tadi berkelahi melawan Adit untuk menyelamatkanku dari penculikan.”


Alis polisi pria itu terangkat heran. “Dua orang anak SMA melawan satu orang penculik?”


Menghiraukan pertanyaan polisi pria itu, orang ketiga yang masuk dalam kamar mereka bertanya. “Bagaimana dengan tengkorak hidup?”


Baik Barasa dan Aster tak bisa menjawab. Pria itu, merupakan satu-satunya orang yang tidak memakai seragam kepolisian dalam ruangan itu. Daripada pistol, dia membawa satu parang besar di ikat pinggalnya. Dahi Aster berkerut ketika menyadari bahwa dalam parang itu terdapat kumpulan physis. Penampilannya cukup mencolok. Dia mengenakan baju jaket hitam kulit dan celana hitam kulit. Rambutnya yang lurus panjang diikat kuda.


“Kami dengar ada penampakan tengkorak yang disaksikan oleh warga.” Kata pria yang membawa parang tersebut.


“Hush. Kalau memang keributan tadi karena hantu, kita nggak diperlukan di sini.” Sanggah polisi pria itu.


“Ya! Teman-temanku melawan tengkorak yang dibuat oleh penculik itu!” Teriak Aster sambil menunjuk Adit. Semua orang di ruangan itu melihat Aster. Barasa memandangnya heran. Bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak menyinggung-nyinggung sihir?

__ADS_1


“Ih, ya ampun serem banget dong.” Komentar polisi perempuan.


“Nggaklah! Mereka ngeracau aja!” Kata si polisi pria.


Pria yang membawa parang itu memandang Aster lama, seolah ragu, tapi pada akhirnya dia berkata. “Kasus ini merupakan bagian dari divisiku.”


Baik polisi pria dan wanita itu melihat orang ketiga dengan heran, namun dia tidak mempertanyakan kata-kata pria itu. Mereka berdua meninggalkan pria itu sendirian bersama Aster dan Barasa. Setelah mereka berdua pergi, dia bertanya. “Tolong katakan semuanya. Jangan difilter, seaneh apa pun itu.”


Dengan percaya diri, Aster menjelaskan semuanya. Mulai dari bagaimana dia berkenalan dengan Adit, hingga pembunuhan yang dilakukan oleh Adit, dan bagaimana Harsa dan Barasa datang menyelamatkan mereka. Sepanjang cerita Aster, pria itu mendengarkan dengan serius. Dia tidak pernah sekalipun menyela Aster.


Ketika selesai bercerita, sekarang gantian Aster yang menatap pria itu dengan bingung. “Apa kamu percaya?”


“Ya, tentu saja. Aku bagian dari kepolisan yang menangani kasus kriminal yang dilakukan oleh hal-hal supernatural, meskipun divisi kami sama sekali tidak resmi dan selalu kekurangan orang.” Penjelasannya berubah menjadi keluhan ketika pria itu terdengar semakin lelah. “Selanjutnya aku akan menahan orang ini. Maaf ya, kasus penculikanmu sama sekali tidak akan bisa dibawa ke pengadilan, tapi aku berjanji untuk sebisa mungkin mencari akar dari organisasi yang mencoba untuk menculikmu. Untunglah, kamu tidak jadi diculik. Kalau iya, mungkin tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu. Aku malu mengakuinya, tapi tidak banyak yang bisa dilakukan oleh divisi kami karena keberadaan kami baru dan masih sulit meresmikannya.” Katanya sambil membogrol Adit dengan borgol sungguhan. Lalu berbalik pada Aster dengan tatapan serius. “Kamu dan temanmu, Harsa, minta nomor telepon dan KTPnya.”


“Eh, untuk apa? Kan kasus ini tidak bisa diungkapkan baik ke publik dan pengandilan.”


“Untuk keterangan di laporan di divisi kami sendiri. Kalau kami bisa membuktikan pada atasan bahwa kasus seperti ini sering terjadi, maka akan lebih mudah meresmikan dan membuat regulasi tentang sihir. Selain itu, kalau kamu ingin pekerjaan di bidang sihir, divisi kami selalu terbuka untuk tenaga kerja baru. Meskipun gajinya kecil dan pekerjaannya kurang jelas, setidaknya kamu nggak akan direkrut lagi oleh para mafia untuk jadi senjata mereka.”


“Apa aku akan dibayar?” tanya Aster tertarik.


Aster tersenyum lebar. “Makasih! Apa ada persyaratan pendidikannya?”


Pria itu menggeleng, tapi kemudian dia melihat pakaian Aster. “Tapi jangan putus sekolah ya!”


Aster tertawa. “Ya, aku akan kuusahakan.”


Setelah mencatat nomor telepon dan KTP mereka semua, pria itu mengangkat Adit yang masih tak sadarkan diri dan pergi meninggalkan mereka. Aster dan Barasa merasa lega setelah Adit pergi. Bukan hanya karena mereka tidak jadi dibawa ke kantor polisi, namun karena pria itu tidak harus bertemu Adi.


Ketika Adi datang, angin kencang yang terus menerus menerjang sudah berhenti dan pada akhirnya mereka dapat tidur dengan tenang.


Besok paginya Harsalah yang terbangun duluan. “Uah!!” Teriaknya keras dan langsung memasang kuda-kuda waspada.


“Harsa!” Baik Aster dan Barasa berteriak senang ketika mendapati sepertinya Harsa baik-baik saja.


“Lah? Dimana Adit?!” Aster kembali menceritakan peristiwa yang terjadi Harsa pingsan.


“Wow. Aku nggak tahu kalau ada polisi yang mengurusi sihir.” Kata Harsa.

__ADS_1


“Yah, dia juga bilang itu nggak resmi.” Cerita Aster. “Tapi mungkin aku mau bekerja di sana kalau sudah lulus nanti!”


“Mereka ke sini?!” tanya Adi kaget, yang juga baru saja tahu cerita itu. Aster dan Barasa terlalu lelah untuk menceritakannya pada Adi kemarin malam.


“Ya. Kak Adi kenal?” tanya Aster.


Adi menggeleng. “Tidak spesifik ke orangnya, namun aku tahu divisi seperti itu ada. Mereka sering muncul ketika Raja mengadakan pertemuan dengan pemimpin manusia beberapa kali.” Cerita Adi.


“Pemerintah tahu tentang peri?” tanya Aster tidak percaya.


“Uh, ya, tapi kami memang meminta agar keberadaan kami tidak diketahui oleh masyarakat luas.” Jawab Adi.


“Bentar!” Potong Harsa melihat baik dirinya dan Adi masih menampilkan rambut berwarna mencolok, lalu melihat ke arah Barasa dan Aster. “Kalau begini, kalian tahu kalau kak Adi bukan manusia biasa?!”


Barasa mengangkat tangannya. “Aku tidak mau tergabung dan aku tidak mau tahu kejelasannya. Aku hanya akan melupakan apa yang terjadi kemarin.”


Berbeda dengan Barasa, Aster mengangguk tenang. “Sudah, kamu tidak perlu mengelak lagi. Aku janji aku nggak akan mengumbar-umbar identitasmu pada siapa-siapa. Aku juga sekarang paham bahwa kamu bisa diincar oleh mafia. Aku waktu itu bertanya karena aku penasaran dengan sihir yang belum pernah aku tahu. Lalu, aku juga nggak bisa tinggal diam setelah dengan kalau peri bisa mempunyai sihir yang sangat kuat hingga menimbulkan bencana alam. Aku takut kalau meninggalnya orangtuaku disebabkan oleh peri. Tapi sekarang, aku merasa bodoh. Aku sadar aku hanya mencari hal-hal untuk disalahkan atas kehilanganku untuk kepuasanku sendiri. Kamu, baik kakakmu, tidak akan mungkin berniat menimbulkan bencana alam seperti itu ketika kalian berdua berani bertarung nyawa untuk menyelamatkanku.”


Harsa menggeleng. “Makasih, Aster, tapi maksudku bukan begitu. Ayahku memang… peri?” Harsa melihat Adi tak yakin. Adi mengangguk kecil sebelum melanjutkan. “Tapi ibuku manusia. Selama lima belas tahun sebelumnya, aku selalu merasa manusia biasa. Memang baru-baru ini aku merasa berbeda, tapi tidak sampai kalau aku bukan manusia lagi.”


Aster memikirkan kata-kata Harsa baik-baik. “Oohhh. Maaf, kalau aku sudah membuatmu merasa seperti monster.”


“Bukan begitu juga!”


“Sudah! Sudah! Bisa bicaranya nanti saja? Supaya kita segera pulang?” Pinta Barasa. “Aku sudah nggak tahan untuk makan dan mandi. Aku juga nggak kebayang bagaimana aku akan dimarahi oleh kakekku nanti di rumah!”


“Ah iya! Ayo pulang!” Aster berseru setuju.


Di perjalanan pulang, Adi tidak mau membawa mereka naik awannya karena terlalu banyak orang yang melihat. Mereka pulang naik lagi naik kereta dengan menggunakan kartu kredit Darma. Harsa dan teman-temannya semua merasa lelah, lapar, dan kotor. Namun, di balik itu semua, Harsa pribadi merasa sangat lega. Dia lega karena mereka masih hidup, lega dengan kemampuan barunya untuk memerintahkan physis menjadi elemen laser, dan lega karena kini dia dapat melindungi teman-temannya. Harsa tahu masih banyak yang harus dipelajarinya tentang sihir, namun untuk saat ini, dia cukup bersyukur punya kekuatan yang cukup untuk menyelamatkan Aster. Lebih dari pada itu, dia juga lega dia punya teman di sekolah yang bisa menerima kalau dia adalah setengah Kasarewang, dimana dia tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya pada Aster.


***


Dalam kamar penginapan yang Aster, Adi, Barasa, dan Harsa tinggalkan, seekor semut berubah menjadi seekor kupu-kupu hitam. Setelah terbang ke gang luar kamar, kupu-kupu itu berubah menjadi seekor kucing hitam, dan setelah sampai di tikungan ke jalanan raya, kucing hitam itu berubah menjadi seorang laki-laki tanpa disadari oleh siapapun. Setelah menaiki angkot, pria itu menelepon seseorang


“Tadi malam itu bahaya.” Kata pria itu pada seseorang di telepon. “Adit sudah ditangkap oleh pihak berwenang. Selanjutnya sindikat kalian akan dicari dan diawasi oleh orang-orang pemerintah. Tentu saja sayang kita tidak jadi punya penyihir baru untuk mengurusi sampah sindikat karena anak perempuan itu berhasil kabur. Hei!! Jangan salahkan aku!! Siapa yang sangka eh? Anak perempuan yang kebetulan tahu soal sihir punya teman seorang Kasarewang? Jujur saja, aku tidak akan berani melawan mereka. Apalagi kalau harus beradapan dengan Kasarewang muda itu. Kalau tidak salah, namanya Adi? Aku tak menyangka kalau Firya sampai mati dikalahkan oleh Kasarewang muda itu. Kalau saja aku tidak buru-buru menyembunyikan diriku darinya, maka aku pasti akan mati juga. Hah? Apa aku benar-benar formskitter? Tentu saja, kalau bisa aku juga ingin membunuh semua Kasarewang. Aku cuma lebih cerdas dari formskitter-formskitter lain yang tidak punya kekuatan untuk melawan insting mereka. Kalau aku sih, aku akan memilih lawan mana yang bisa aku kalahkan dan mana yang tidak. Nah, kalau anak remaja yang bernama Harsa itu, mungkin aku berani melawannya sendirian. Dia juga, kalaupun dia aneh, setengah-setengah begitu, mungkin dia akan berguna untuk penelitianmu. Apa? Apakah menurutmu bisa? Aku tak yakin, selama kakaknya ada di sana mungkin akan sulit. Kalau kamu memang mau, kamu harus persiapkan rencana sematang-matangnya. Mungkin kau siapkan lain penyihir kuat yang bisa bergabung dengan aku. Sedang kau cari? Hahaha! Baiklah!”


Setelah itu, dia menutup teleponnya sambil tersenyum jahat. “Manusia-manusia itu, mereka tidak tahu ke apa yang sebenarnya mereka lakukan.”

__ADS_1


__ADS_2