
Satu minggu kemudian.
Bel rumah Harsa berdering keras di hari Sabtu pagi-pagi, sebelum matahari terbit. Di belakang pagar rumah Harsa, Aster berdiri dengan celana training dan perbekalan untuk dua hari ke depan. Wajahnya segar, ceria, dan bersemangat. Berbanding terbalik dengan Harsa yang datang membukakan pintu.
“Uahhh.” Harsa menguap di depan wajah Aster.
“Sa,aku nggak terlambat kan?” tanya Aster bersemengat.
“Ya Eh, nggak, kok. Nggak telat.. Kak Adi baru bangun. ”
Sa!!! Ayo cepat masuk ke Tepi Dunia Roh!“
“Iyaa!!!” Aster yang menajwab Adi. Dia segera masuk melewati Harsa ke ruang tengah rumah Hara. Di sana, Adi sudah berdiri di depan tudung menujuu Tepi Dunia ROh.
“Mana Harsa?” tanya Adi.
Anak yang dibilang itu datang dengan langkah kecil dan lemah. “Iya, kak Adku datang.”
__ADS_1
“Wow! Sihir macam ap aini? Kenapa dari rumah Harsa bisa tiba-tiba ke lembah yang dipenuhi oleh rumput?” tanya Aster penasaran melihat distori di ruang keluarga Harsa itu.
“Eh, Uh. Ini sihir yang memerintahkan elemen ruang untuk terpotong dan menyediakan ruang ke Tepi Dunia Roh”
Aster memgamgguk-angguk. Ooh. Lalu bagaimana cara untuk melakukannya?“
“Eee.” Adi menunjukkan cincninya. “Di dalam sini ada mantra sihir yang ditulis oleh ahli Dekrit Ruang. Siapapun yang bisa memerintahkan physis bisa memakainya.”
“Wow.” Aster mengangguk-angguk. “Boleh aku mencoba?”
“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Adi khawatir.
“Iya.” Jawab Aster berusaha tersenyum.
“Halah, kalau saja aku, udah pasti diteriakkin, segitu aja udah capek!!” Keluh Harsa yang masuk duluan ke Tepi Dunia Roh.
Adi mencibir padanya, tapi tak mampu membalas.
__ADS_1
Aster tertawa. Dia juga ikut masuk dalam Tepi Dunia Roh. Sama seperti ketika Harsa pertama kali pergi ke Tepi Dunia Roh, Aster juga tidak bisa berdiri di sana. Dengan sabar, Adi mengajarinya untuk mengalirkan physis secara rata ke seluruh tubuhnya dan menyuruh Harsa untuk latihan secara pribadi. Aster belajar dengan cepat. Kurang dari setengah hari, Aster sudah bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Sejak Aster tahu identitas Harsa, dia diizinkan atau sebenarnya menurut Harsa memaksa, untuk mengikuti latihan Harsa bersama dengan Adi. Kesenangan Aster sudah tidak bisa ditampung lagi. Dengan penasaran, dia bertanya apa ini dan apa itu pada Adi. Dia juga bertanya banyak bagaimana caranya menguasai berbagai macam elemen-elemen yang dikuasai oleh Adi. Aster tidak pernah kehabisan bahan pertanyaan. Untuk pertama dalam sekian bulan, Harsa merasa latihan tidak seberat dulu. Seusai latihan mereka, Aster tersenyum manis pada kedua kakak beradik itu.
“Makasih, ya. Akhirnya aku punya teman untuk belajar sihir bersama sekarang.” Kata Aster tulus. “Nggak apa-apa kan kalau aku mampi setiap akhir pekan?”
“Nggak, kok. Aku senang kamu datang. Rasanya lebih mudah mengajarimu daripada Harsa.” Kata Adi di luar dugaan Harsa.
“Kak Adi! Aku juga cepat belajar, kok.” Protes Harsa, lalu berbalik menatap Aster lega. “Ya. Aku juga lega kamu nggak akan menyebarkan kalau aku merupakan Kasarewang.”
“Tenang aja, aku tutup mulut!” Janji Aster.
Sambil melambaikan tangan, Aster kembali pulang setelah dua hari penuh berada di Tepi Dunia Roh. Dia sangat puas dan lega. Klub sulap tidak lagi terancam bahaya, dia punya prospek pekerjaan di bidang sihir, dan terutama, tentu saja, dia punya teman belajar sihir.
__ADS_1