Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Study Tour


__ADS_3

Gilda tersenyum meminta maaf pada Harsa, Barasa, dan Elis. Hari itu, guru mereka tidak masuk kelas. Kejadian yang lumayan jarang di sekolah Harsa, apalagi di kelas tiga. Namun, hari ini kelas mereka harus mengerjakan tugas-tugas sebagai bentuk pembelajaran mandiri. Anak-anak kelas Harsa membagi diri mereka menjadi kelompok-kelompok untuk menyelesaikan tugas itu bersama. Gilda, dengan naturalnya bergabung dengan Elis, Barasa, dan Elis.


Barasa tertawa. “Akhirnya! Ada juga yang lebih bodoh daripadaku!”


“Hush. Jahat banget kamu.” Kata Elis tak setuju.


Dua bulan sudah berlalu, Gilda tidak dapat mengikuti pelajaran di kelas. Pendidikan umum yang dia dapatkan di sekolah sihir terlalu berbeda dengan SMA Harsa. Gilda tidak memahami listrik dalam rumus-rumus, dia memahami listrik sebagai elemen. Harsa tidak terkejut dengan tingkat pemahaman Gilda. Pengetahuan umum yang ditanyakan di ujian standarisasi hanyalah hingga ke tingkat sekolah dasar. Oleh karena itu, nilai-nilai Gilda hancur seperti kertas yang terbakar.


“Jangan gitu dong!” Kata Harsa ketakutan. Dia tidak akan berani mengatakan hal seperti itu pada seorang tentara Kasarewang yang dapat melayangkan kepala dari lehernya.


Walaupun begitu, Gilda tak terganggu oleh nilai-nilainya. Dia tetap tersenyum pada Barasa tanpa tanda-tanda tersinggung sekalipun. “Kalau begini aku tidak akan bisa naik kelas ya?”


“Lulus.” Barasa menekankan. “Iya, deh. Maaf. Aku yakin kamu pasti bisa kok. Yok kita bagi aja soal ini.”


“Sudah deh. Sejujurnya aku  nyerah.” Gilda menutup soal di kertas abu mereka dan melihat Harsa dengan tatapan penuh makna. “Aku salin punya kamu, ya.”


Mata Harsa mengerjap-ngerjap. Dia menatap Elis dan Barasa yang juga terkejut. Seburuk-buruknya performa Barasa, anak laki-laki itu serius belajar.


Barasa menggeleng-geleng tak setuju. “Jangan gitu, Gilda. Kalau kamu tidak buat tugas dan PR sendiri, gimana kamu bisa lulus ujian?”


“Ya aku akan gagal.” Kata Gilda tenang. “Jangan khawatir soal itu.” Dia melempar tatapan memohon pada Harsa sekali lagi.


Harsa mendesah, lalu mengangguk. Dia tidak perlu khawatir tentang lulus. Harsa mengerti, Gilda tidak ada intensi untuk lanjut tinggal di Dunia Material dan hanya di sini untuk menjaga Harsa. Selama dua bulan ini, dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Formskitter hanya menyerang Harsa satu kali, dan Gilda menanganinya dengan sebelum Harsa bisa berespon.


“Sa!!” protes Elis.


“Aku nggak tanggung jawab ya, sama nilaimu.”


“Yey!”


Mereka mengerjakan tugas itu dalam diam, tentu kecuali Gilda. Di tengah kelas, ketua kelas mereka kembali masuk dengan membawa tumpukan kertas dari ruang guru. Dia mulai membagikan kertas itu ke setiap murid.


“Pengumuman guys! Sama surat buat orangtua! Minggu depan harus dikumpulin.” Katanya sambil membagikan kertas-kertas itu.


“Apa ini?” tanya Gilda sambil menyipitkan matanya. Dia masih membiasakan diri membaca dalam bahasa Indonesia.


“YES!!” teriak Elis senang. “Akhirnya! Hu, yang kutunggu-tunggu dari tiga tahun lalu.”


Sementara itu, Barasa mendesah ketika membaca surat itu. “Mahal juga.”


Harsa juga tak bisa menahan senyumnya melihat pengumuman itu. “Kayaknya seru banget sih.”

__ADS_1


Gilda menyenggol Harsa. “Apa?”


“Studi tour. Jadi kita satu angkatan akan main ke Bali selama satu minggu naik bis. Untuk trip ini harus bayar, itu….”


Gilda tersenyum lebar sambil memberikan jempol. “Got it. It is covered.”


Lalu keduanya saling bertatapan.


“Trip?” Tanya Gilda sekalli lagi.


“Ya! Kita bisa main sama temen-temen dan nginep bareng. Seru kan?!” Elis paling bersemangat. “Ayo nanti kita semua ambil banyak foto di Bali!”


“Bali itu dimana?”


Dahi Elis bekerut. “Wow. Aku tahu kamu bukan orang Indonesia, tapi masa kamu nggak tahu Bali?”


Barasa dan Harsa memandang satu sama lain dengan canggung, sementara Gilda tersenyum minta maaf. “Sorry, aku bukan anak yang gaul.”


Elis masih curiga, tapi dia melepaskan Gilda. “Ya ampun. Bali itu salah satu pulau di Indonesia. Di sana banyak pantai dan gunung cantik. Pokoknya tempat liburan idaman lah!”


Gilda mengangguk-angguk. “Lalu…. Kita akan habiskan satu minggu di sana?”


Alis Gilda terangakt tinggi. “Lima hari traveling.” Kata Gilda sambil memandang Harsa.


Harsa menghela nafas. “Aku akan tanya dulu orangtua deh.”


“Hah? Kamu nggak seratus persen akan ikut, Sa?” tanya Elis tak percaya.


“Yeahh…” Kata Harsa mulai galau. Dia ingat. Terakhir kali dia pergi liburan ke pantai bersama keluarganya, dia dan Kak Adi diserang oleh formskitter. Apalagi sekarang dia sedang diincar oleh formskitter. Bagaimana nasibnya kalau dia pergi ke Bali? Bukankah di sana tidak ada mantra untuk menutup sihirnya dari formskitter?


“Sa, jangan gitu dong.” Pinta Elis.


“Memangnya kenapa?” tanya Barasa.


Harsa menggeleng-geleng. “Nggak, aku harus ngobrol sama ortu dulu saja.” Kata Harsa berat hati.


Di rumah, dia menyerahkan pengumuman dan surat kepada kedua orangtuanya.


“Apa ini?” tanya Darma.


“Surat untuk pergi studi tour, Ma. Harus ditandatangan.”

__ADS_1


“Ohh.” Darma menganguk, lalu menjadi bersemangat. “Hehehe, asik nih. Tanggal berapa.”


“Tanggal tujuh bulan depan.”


“Oke, aku tanda tangan ya….” Kata Darma tanpa pikir panjang.


“Apa?” tanya Erik yang baru selesai mandi. “Tanda tangan apa?”


Darma menjelaskan ulang dengan sabar, lalu Erik jadi ragu. “Kamu yakin?” Tanyanya pada Harsa.


“Kenapa nggak? Ini kesempatan sekali seumur hidup loh untuk pergi main sama teman-teman.”


“Aku tahu ma… Aku juga pengen banget ikut, tapi… formskitter.”


Raut muka Darma menjadi suram.


“Kasarewang yang mengawalmu… apa katanya?”


“Gilda? Dia bilang akan berbahaya, tapi boleh saja kalau aku nekat mencoba. Dia akan lakukan yang terbaik untuk melindungiku.” Harsa menceritakan rapatnya dengan Gilda sepulang sekolah. “Dia juga akan mengajak orang dari kepolisian sihir untuk ikut mengawasi sampai ke sana.”


“Kalau memang bahaya, menurutku lebih baik jangan.” Darma mengeleng-geleng dan meremas tangan Harsa. “Aku nggak mau merasa khawatir seperti kemarin lagi.”


Dada Harsa langsung terasa berat. Meski takut, ternyata dia sangat ingin mengikuti study tour. Dia baru tahu kalau dia benar-benar ingin ikut study tour itu. Tanpa bisa dicegah, Harsa menghela nafas panjang.


“Kamu benar-benar ingin pergi, ya.”


“Iya. Ini satu kalinya bersama teman-teman.” Jawab Harsa lemas. “Aku janji akan jaga diri baik-baik, Ma. Tolong biarkan aku pergi.”


Perang batin berkecamuk dalam hati Darma. Dia kembali teringat horror ketika dia bangun dan Harsa tidak ada dimana-mana hingga dua minggu. Namun, dia juga tidak dapat mengabaikan tatapan memelas Harsa. Darma memandang Erik meminta pertolongan.


“Kamu merasa worth it dengan segala resiko yang ada?” tanya Erik lagi.


Harsa mengangguk. “Aku ingin pergi.” Kata Hasa penuh tekad, meski dadanya turut bergejolak. “Aku janji jaga diri.”


Erik dan Darma saling berpandangan, lalu Erik menghela nafas panjang. “Baiklah, aku akan tanda tangani.”


“Yes.” Bibir Harsa tersenyum lebar. “Makasih, Pa! Aku janji akan pulang dengan selamat.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2