
“Kamu akan membutuhkanku, percaya deh.” Kata Rucira sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Harsa baru saja selesai menceritakan situasinya pada Rucira dan Kriya setelah Rucira memaksanya untuk minum teh dulu di dalam kastil batunya. Dia seorang gadis perempuan yatim piatu, yang diurus oleh neneknya seorang diri dalam kastil batu. Temannya seorang hanya Kriya dan kakaknya. Sebagai kelluarga mantan adipati, mereka bertugas untuk menjaga kesucian altar Dewa Kehidupan selama ribuan tahun. Oleh karena itu, dia sangat senang ketika ada kesempatan untuk pergi ke luar rumahya, atau jika ada orang dari luar yang masuk ke rumahnya. Tidak mungkin Rucira membiarkan mereka pergi begitu saja.
“Nggak mmungkin. Masa kamu mau mempertaruhkan nyawa untuk membantu manusia ini?!” Cegah Kriya.
“Aku tak mempertaruhkan nyawaku, Ya. Aku tahu pasti kamu akan melindungiku.” Kata Rucira dengan senyum lebar.
Harsa menghela nafas. Dia ingin mengingatkan kembali bahwa dirinya masih memiliki darah Kasarewang, namun dia terpikirkan jawaban yang lebih baik. “Bukannya terakhir kali kamu malah diselamatkan oleh Aster, seorang manusia, Kriya?”
Muka Kriya memerah. “Ehh… Itu…” Dia tidak bisa menjawab.
Harsa beralih pada Rucira. “Aku tidak mau ada orang lain yang terluka karena aku.” Kata Harsa.
Rucira tampak begitu kecewa. “Aku… aku bisa bantu…”
Kriya tiba-tiba berdiri. “Jangan pikir karena kamu dan temanmu pernah menyelamatkanku satu kali, maka aku nggak bisa menyelamatkanmu juga! Nona Rucira! Aku akan berangkat sebagai pelindung sejati untuk melaksanakan keinginannmu.”
Harsa mengerjap-ngerjapkan matanya, kaget. Dia tidak menyangka akan menekan kebanggan Kriya hingga menhasilkan reaksi yang kebalikan dari yang dia harapkan. Kriya menatapnya begitu yakin. Dia tidak akan membiarkan Harsa mengejeknya satu kali lagi.
“Uhh, uhh. Aku tidak memintamu untuk mem-”
“Memang tidak. Tapi ini inisiatifku sendiri.” Kata Kriya tegas. “Dan kau akan menyesal kalau menolaknya.”
__ADS_1
Harsa yang panik memandang nenek Rucira yang dari tadi hanya duduk tegak di sofa ruang tamu dengan mata kosong. “Apa keluargamu tidak apa-apa?” tanya Harsa khawatir.
“Nenekku tidak akan bisa meninggalkan tempat ini. Dia harus menjaga altar Dewa Kehidupan sampai ada yang bisa menggantikannya.” Kata Rucira.
“Nggak. Maksudku, apa nenek tidak apa-apa kalau Rucira pergi?”
Menyadari bahwa dirinya diajak bicara, wanita Kasarewang yang sama sekali tidak terlihat seperti nenek-nenek itu menjawab. “Aku akan menagih darah Rucira darimu, kalau sampai terjadi apa-apa darinya, karena ini ide darimu juga, Kriya.” Kata nenek Rucira itu, lalu tak berkata apa-apa lagi.
Keringat dingin mengaliri dahi Kriya, namun Rucira bersorak senang. “Yey!! Aku akan siapkan semua barang untuk pergi.” Katanya meninggalkan mereka.
Adi mendesah panjang. “Kita juga harus menjaganya tetap aman.” Kata Adi tegas. “Bagaimanapun juga dia bangsawan, keluarga kerajaan. Aku tidak mau bermasalah dengan keluarga kerajaan.”
Sekarang, Harsa yang berkeringat dingin.
Harsa sangat kagum dengan cara Kriya memakai senjatanya, yaitu gagang pedang tanpa bilang. Kriya memiliki dekrit material. Dia sangat mahir membuat dan membentuk elemen metal, baja, dan besi. Senjatanya terus berubah-ubah dari pedang pendek, katana, bilah dua, dan bahkan tameng. Harsa tidak bisa menebak kapan dia akan mengubah bentuk dari senjatanya. Kriya terlihat menguasai bela diri sebaik Barasa, namun dia juga punya physis yang tak terbatas.
“Apa?!” tanya Kriya karena dilihati melulu. “Mau bertarung?!” tantangwnya.
Harsa menggeleng. “Hah? Nggak, kok. Aku hanya kagum akan kemampuan bela dirimuu saja.”
DI luar dugaan, wajah Kriya memerah karena malu. “Kamu pikir begitu? Eh? Hah? Maksudku, tentu saja! Sebagai pelindung dari Rucira aku harus kuat! Ahahaha, kamu masuh seratus tahun lebih awal untuk melawanku.” Kriya merendahkan.
“Ya, kurasa begitu.” Kata Harsa tertawa.
__ADS_1
Wajah Kriya kembali memerah. Dia tidak menyangka Harsa malah akan tertawa seperti itu. “Uhh.”
“Kalau begitu kamu lebih baik ajarkan aku!” Pinta Harsa tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Harsa benar-benar menganggap keahlian Kriya tingkat tinggi.
“Hee!!” Kriya terheran-heran. “Nggak! Ini teknik rahasia keluargaku! Belajar saja sendiri!” Tolak Kriya sambil pergi dari tempat itu.
Setelah tiga hari, mereka kembali ke Dunia Material dan menemukan bahwa Lisa sudah kembali tersadar. Lisa dan Edi juga sedang berlatih untuk memanaskan kemampuan mereka setelah beberapa hari beristirahat. Namun, Barasa belum juga bangun. Sekarang, Elis yang membantu keluarga Barasa untuk menjaga anak laki-laki itu.
Sesuai dengan perkiraan Gilda, formskitter itu bergerak berputar-puar. Akan tetapi, akhir-akhir ini, tampaknya formskitter itu mengarah ke satu tempat. Ketika formskitter itu akhirnya berdiam diri lebih dari satu hari, mereka akan menyerang tempat itu.
“Wow… Aku tak tahu bahwa ada teknologi untuk melacak seseorang seperti ini. Karena tidak terbuat dari sihir, formskitter juga tidak bisa melacaknya. Kalau barang-barang ini digunakan saat perang harian, maka kita bisa menang besar.” Kata Adi sambil mengangguk-angguk.
“Yahh. Sejujurnya aku yang paling terkejut mereka belum menghancurkan pelacak itu ampai sekarang.” Kata Edi.
Kriya masih melihat handphone Edi dengan penuh kecurigaan. Dia dan Rucira tinggal di saparatemen portabel selama berada di Dunia Material. Hanya sekali-kali saja mereka berkumpul di taman rumah sakit depan kamar Lisa untuk mendiskusikan rencana serangan dadakan mereka. Meski Ruciria sering mengeluh karena ingin berkeliling di Dunia Material, terutama di Kota Bandung, lebih jauh lagi. Dia penasaran dengan sekolah.
Selama satu minggu penuh ini, Harsa melupakan sekolah. Dia berhenti khawatir soal ujian akhir, maupun soal kuliah. Dia tidak bisa memikirkan itu saat dia tidak tahu kapan Barasa akan bangun. Setidaknya sampai dia berhasil menghancurkan organisasi itu, dia tidak akan memikirkan sekolah.
__ADS_1