
Elis menepati janjinya tentang membantu Harsa melatih perfect pitch. Jumat sore, minggu itu pula, mereka bertemu di aula yang kosong melompong. Di bagian ujung aula, ada sebuah piano sekolah yang sering dipakai untuk kelas musik. Sore hari, mereka hanya berduaan di aula.
Elis membuka tudung yang melindungi piano dari debu. Harsa mengambil satu kursi dari pinggir aula dan meletakkanya ke sebelah piano. Elis memainkan beberapa nada selagi Harsa duduk di kursinya.
“Nggak apa-apa, Lis, kita pakai piano ini?” tanya Harsa gak ragu.
“Nggak apa-apa, kok. Aku juga sudah minta izin ke ketua klub musik untuk pakai piano ini. Selama nggak kelamaan, nggak masalah.” Jawab Elis.
Elis memainkan satu kunci nada, kemudian Harsa harus menghafalkan nadanya. Kemudian, Elis akan memainkan kunci nada secara acak dan Harsa harus mengenali nada apa itu. Bahkan setelah mereka berusaha berkali-kali, Harsa tidak mampu dengan benar selama dua kali berturut-turut.
“Arghh! Ini rasanya mustahil.” Kata Harsa frustasi.
“Mungkin aku harus memberikanmu tiga kunci nada dulu. Jadi kamu bisa memilih dari tiga dulu.” Usul Elis.
“Ide bagus.” Harsa setuju.
“Oh, iya. Aku baru ingat. Gimana kalau kamu membayangkan satu gambar atau pemandangan tertentu waktu mendengar nada tertentu. Katanya nanti kalau kamu mendengar nada yang sama akan tebayang gambar yang sama juga.”
Harsa menutup mata. “Baik, aku coba ya.”
Mereka mencoba-coba mengembangkan perfect pitch Harsa hingga langit menggelap. Setiap kali Harsa berhasil berturut menebak dua nada dengan benar, mereka seolah berhasil menatap Gunung Everest. Kesal karena lambatnya kemajuan mereka, Harsa membuang nafas lelah.
Elis tersenyum menghibur. “Nggak apa-apa. Kayaknya memang mustahil untuk mengembangkan perfect pitch hanya dalam sekali latihan.”
__ADS_1
Harsa memaksakan senyum balik. “Ya, benar juga.”
“Untuk hari ini, kayaknya harus sudahan dulu.” Katanya sambil menutup piano besar itu dengan kain. Harsa membantunya. “Tapi aku penasaran sih. Untuk apa kamu perlu mengembangkan perfect pitch, padahal kamu bukan musisi juga.” Elis sendiri, yang suka bermain musik, merasa nyaman saja dengan kemampuan pendengarannya yang normal.
“Uuh.” Harsa menggaruk kepalanya bingung. Dia mulai tak nyaman. “Kakakku… Di keluarga ayah, semua orang bisa perfect pitch, jadi kakakku agak … kamu tahu, suka ngomel karena aku nggak bisa perfect pitch. Papaku sih nggak masalah, tapi karena suatu hal… aku sering ketemu kakakku sekarang dan aku sudah malas aja menanggapinya.”
“Hoooh.” Elis mengangguk-angguk. “Ya, kurang lebih terbayang. Waktu aku umur dua belas tahun, aku belajar bahasa Perancis mati-matian karena alasan yang sama dengan kamu. Keluarga ayahku asalnya dari Perancis. Papa dan mama bicara bahasa Inggris di rumah, tapi setiap kali bertemu dengan keluarga papaku, rasanya selalu ada cibiran kenapa aku nggak bisa bahasa Perancis.”
“Nah, iya! Iya! Padahal sebenanya bisa nggak bisa, nggak ada pengaruhnya buat kita! Tapi masalahnya diungkap lagi dan lagi.” Harsa tidak menyangka akan ada seseorang yang memahami masalahnya. Pulang dari latihan, mereka jadi banyak bicara tentang keluarga masing-masing. Selama ini, Elis selalu tampak malu-malu dan lebih terbuka pada Barasa. Baru kali ini, Harsa merasa begitu dekat dengan Elis, dan rasanya menyenangkan.
“Lalu kamu belajar bahasa Perancis dalam waktu tiga bulan?!” Seru Harsa kagum.
Elis mengangguk dengan bangga. “Oui. Ya. Makanya, kamu pasti bisa dan buktikan pada kakakmu itu.” Kata Elis memberi semangat sebelum pulang naik ojek.
Harsa tidak perlu menunggu lama sebelum mobil ayahnya muncul di depan batang hidungnya. Ketika Harsa masuk ke bangku depan, Erik bertanya dengan nada menggoda.
“Oh. Siapa tadi anak perempuan itu? Kamu katanya ada kegiatan di sekolah jadi minta dijemput malam. Eh, pas aku jemput, eh lagi ngobrol enak sama anak perempuan manis.”
Wajah Harsa memerah malu. “Dia teman sekelasku. Anak klub musik yang janji bantu aku ngembangin perfect pitch.”
“Ooohh. Teman, ya.” Kata Erik sambil mengangguk-angguk.
"Iya teman." Harsa menekankan. "Teman."
__ADS_1
Erik tidak tahan lagi, lalu tertawa lepas. "Aduh. Maaf. Kadang aku lupa seberapa cepatnya manusia berkembang. Kalau dulu Adi, dia butuh beberapa dekade untuk mulai tertarik untuk mencari pasangan." Cerita Erik.
Entah bagaimana, Harsa tidak mengelak, tidak menyanggah, tidak mengatakan apapun. Dia diam seperti batu, bisu seribu bahasa. Seluruh tenaganya, otot-ototnya, dan kemampuan mentalnya dia tahan untuk menahan rasa malu. Seperti biasa, Harsa kesulitan untuk berkata tidak pada hal yang memang benar.
"Tapi bagaimanapun juga. Kamu harus fokus sama studimu di sekolah dulu. Juga fokus belajar sihir dari Adi. Soalnya kamu perlu sihir untuk mempertahankan diri dari formskitter. Apalagi kalau kamu mau terus tinggal di sini."
"Terus tinggal di sini?" tanya Harsa bingung. "Kesannya aku bisa pindah?"
"Yah... Maksudku, siapa tahu saja kamu mau tinggal di Kota Kasarewang, Drestha, kalau kamu mau."
“Kota Kasareang? Memangnya ada?” Tanya Harsa mulai membayangkan kota penuh sihir yang ditinggali oleh manusia-manusia abadi.
“Ya, memangnya kamu pikir dimana Adi kerja selama ini?” Kata Erik dengan tawa kecil. “Kalau diingat-ingat, kamu belum pernah ke sana ya.” Pikir Erik.
“Memangnya kota itu ada dimana?”
“Di daerah Hutan Amazon.” Jawab Erik.
Ketika Harsa hanya melihatnya dengan ekspresi wajah, ‘Hah’, Erik menambahkan. “Bukan Hutan Amazon yang di dunia materialnya, tapi Hutan Amazon yang ada di Tepi Dunia Roh. Kalau kamu naik pesawat ke sana sekarang, nggak akan ketemu.”
“Ooh. Gitu. Hmm berarti jauh juga Kak Adi tiap minggu harus bolak balik dari sini ke sana.” Kata Harsa mengingat keluhan Adi.
“Ya, makannya. Kamu harus serius belajar sihir.” Erik Kembali ke mode menasehatinya. “Setelah bisa melindungi dirimu sendiri, aku tidak perlu khawatir bagaimana nasibmu kalau diserang oleh formskitter.”
__ADS_1
“Iya, Pa. Iya. Aku serius kok belajar sihirnya. Tiap minggu aku menginap di Tepi Dunia Roh bersama Adi untuk belajar sihir loh.” Kata Harsa mengingatkan. Dalam kepalanya terbayang lagi esok hari dan lusa yang harus dia hadapi bersama dengan Adi.