Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Study Tour (4)


__ADS_3

Gelap. Sesak. Pusing.


Harsa merasa sangat tak nyaman dalam tidurnya. Dari kegelapan mimpi, Harsa dipanggil oleh suara teriakkan keras dari temannya. Mata Harsa terbuka lebar. Di atasnya, seorang pria dengan bola mata hitam pekat sedang mencekiknya dalam tidur.


Tangan Harsa langsung mencoba mengangkat kedua tangan pria itu dari lehernya. Namun kekuatannya hilang. Bukan hanya kekuatan pria itu, physisnya juga membuat Harsa tak berkutik.


“Heii!! Aku panggil polisi, ya!” Teriak teman Harsa. “Lepaskan Harsa!!”


Dia menghiraukannya.


“Uuhh.” Barasa yang baru saja tertidur lelap bangun. Tanpa bertanya di kepalanya, dia mengalihkan physis ke kakinya dan menendang pria itu hingga terpental ke dinding kamar hotel dengan suara ‘BAM!!’ yang sangat keras.


“Uhuk! Hah…. Hah…. Hok!” Harsa kesulitan mengambil nafas.


“Dia manusia, bukan?” tanya Barasa yang langsung segar.


Harsa mengangguk. “Kita harus masuk ke Tepi Dunia Roh.”


“Apa?!” Baras tidak mengerti, apalagi teman Harsa satu lagi.


Dia telah keluar dari ruang kamar sambil berteriak, “Aku akan panggil guru!”


“Lupakan saja. Kamu mungkin tidak akan bisa bertarung di Tepi Dunia Roh.” Kata Harsa. Dia telah melebarkan auranya. Dari auranya, dia dapat merasakan physis dalam jumlah besar yang tidak dapat digunakan oleh manusia.  Ditambah lagi, warna hitam di mata dan kulitnya…

__ADS_1


Dia pasti telah bergabung dengan formskitter. Pria itu berdiri tanpa terluka atau rintihan sedikitpun.


“Aku tak paham apa itu Tepi Dunia Roh, tapi yang pasti dia ini harus dihajar, kan?!” kata Barasa sambil meloncat dari kasur dan menendang pria itu tepat di muka.


Tendangan Barasa tak berdampak apa-apa pada pria itu, meski dinding di belakangnya hancur berantakan.


“Dasar tengik!” Teriak pria itu mengambil kaki Barasa dan membantingnya ke lantai.


Meski serangan Barasa tak berdampak banyak, Barasa cukup menyibukkan pria itu. Harsa tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Barasa buat. Harsa bergerak cepat ke tasnya. Dia mengambil cincin batu akik untuk membuka tudung transparan ke Tepi Dunia Roh.


Pemandangan hutan di Tepi Dunia Roh muncul dari balik tudung transparan. Harsa menarik baju pria yang sedang memukuli Barasa di lantai lalu membuang tubuhnya ke Tepi Dunia Roh lalu mencebloskan dirinya sendiri ke sana. Dia tidak akan bertarung di dalam kamar hotel dan mengancurkan fasilitas mereka jauh lebih dari ini. Dia juga tidak ingin melibatkan teman-teman lainnya dalam pertarungan ini. Ketika dia sudah berdua dengan pengejarnya di Tepi Dunia Roh, Harsa menutup tudung transparan yang dia buka.


“Cukup!! Aku nggak akan menahan diri kalaupun kamu manusia!” Teriak Harsa. Dia membuka Kainya lebar-lebar, mengalirkan physis sebanyak mungkin dari Dunia Roh.


Harsa tertegun heran. Dia merasa sangat familiar dengan formskitter itu. Formskitter itu sangat mirip dengan formskitter pertama yang dia hadapi dengan Gilda di awal perjalanan ini. Apa mungkin formskitter yang mirip terbentuk kembali?


Harsa memutuskan untuk tak banyak berpikir. Dia melemparkan dua buah bola api pada formskitter itu. Satu merupakan bola api besar sebagai distraktor dan satu lagi merupakan bola api biru kecil yang mematikan bagi formskitter pohon itu. Bola api Harsa membakar pepohonan di hutan-hutan itu tanpa pandang bulu, menyisakan jalur kosong berbentuk satu garis lurus.


Di luar ekspektasi Harsa, formskitter berbentuk tanaman itu dapat menghindar dari serangan bola api Harsa. Bahkan serangan lebarnya yang pertama. Gerakannya begitu cepat walaupun badannya besar. Kecepatannya tidak kurang dari formskitter yang dihabisi oleh Gilda, meskipun tubuhnya lebih besar. Batang pohonnya terbelah menjadi dua begitu saja untuk menghindari serangan bola api Harsa. Serangan keduanya juga tembus melalui lubang yang tiba-tiba terbentuk di tubuh formskitter itu.


Harsa menelan ludah, dan mengambil pedang kembarnya.


“Harsa!!” Bersamaan dengan panggilan namanya, Harsa merasakan aura lain masuk ke dalam Tepi Dunia Roh. Aura itu berasal dari Gilda. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Gilda masuk ke Tepi Dunia Roh. Dia tidak sendirian. Dari sisi lain, Edi dan Lisa juga memasuki Tepi Dunia Roh siap dengan senjata mereka masing-masing.

__ADS_1


Saat itu, bunga-bunga pada pohon formskitter itu berubah menjadi buah besar yang berwarna hitam pekat. Harsa merinding setiap kali dia melihat buah-buah hitam itu. Tapi keberadaan Gilda, Edi, dan Lisa membuatnya lebih tenang. Dia tahu akan ada yang menolongnya kalaupun dia disergap tiba-tiba seperti terakhir kali.


Edi bertarung dengan memotong cabang-cabang pohon-formskitter yang hendak menusuk tubuhnya. Harsa membantunya dari belakang, sembari mencari-cari inti formskitter itu, karena dia tidak dapat Lisa memukul batang pohon dengan elemen gravitasi yang langsung menggetarkan pohon itu. Buah-buahnya yang hitam jatuh berguguran.


“Mundur!” Teriak Gilda yang entah kenapa belum mulai masuk ke dalam pertarungan.


Lisa menarik Edi dan menarik badannya sendiri ke belakang dengan mengubah daya gravitasi di sekitarnya. Buah-buahan hitam itu hancur ketika jatuh mengenai tanah, namun dari sana keluar belalan sembah berwarna hitam yang memiliki cakar mengerikan. Sekali tangannya memangkas, batang-batang pohon di antara dia dan Edi terpotong menjadi dua.


Harsa otomatis berinisiatif membakar mereka, namun belalang sembah raksasa itu melompat tinggi. Tiga belalang sembah mengejar Edi dan Lisa, sementara dua lagi mengejar Harsa. Harsa mempersiapkan diri untuk menangkis sabetan belalang sembah itu dengan kedua bilah pedangnya sendiri.


Angin. Harsa sadar.


Serangan formskitter berbentuk belalang sembah itu adalah physis yang diubah menjadi elemen angin. Baju dan kulit Harsa robek karena terkena serangan itu. Tubuhnya juga terhempas ke belakang. Dia kehilangan pandangan akan pertarungan teman-temannya yang lain.


“Arghhh!” teriak Harsa untuk melepaskan ketegangan dan rasa sakitnya.


Mereka mulai menyerang Harsa bertubi-tubi. Harsa berfokus untuk menghindari semua serangan itu dengan mulai mengontrol gelombang elektromagenetik di sekitarnya dengan penuh kehati-hatian sehingga dia dapat melayang di udara. Harsa tidak ingin membuang tenaganya dengan melemparkan laser pada belalang-belalang itu. Harsa tahu, sama seperti serigala yang dia dulu hadapi dengan Barasa, belalang-belalang sembah itu hanya akan terbentuk kembali bahkan jika dia menghancurkan mereka sampai menjadi debu. Dia harus menghancurkan inti formskitter yang formskitter itu sembunyikan di tubuh aslinya.


Harsa melemparkan dirinya sendiri ke tubuh asli formskitter itu. Melepaskan pengendalikan elektromagnetiknya dia turun dari udara menuju formskitter berbentuk pohon raksasa yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari pada pohon-pohon lain. Mata jeli Harsa melebar ketika dia melihat-dan merasakan dengan auranya- Gilda sedang berada di antara akar-akar pohon itu. Dia memegang pedangnya dengan kedua tangan. Di bawahnya, pria yang menyerang Harsa sedang terbaring lemas.


Gilda akan memotong tangan pria itu. Harsa tahu alasannya dengan jelas. Di sana, ada benjolan hitam yang berisi inti dari formskitter. Tapi dari samping kiri, sisi yang berlawanan dengan keberadaan Edi dan Lisa, satu kekuatan lain melesat dengan cepat dan menghempaskan Gilda. Harsa ingat jelas formskitter berbentuk manusia yang menggunakan jubah dan topeng hitam itu. Dia adalah formskitter yang melukai tangan Harsa.


 

__ADS_1


 


__ADS_2