
Di akhir acara main mereka, Adi memutuskan untuk ikut Harsa pulang ke rumahnya naik mobil Erik.
“Kamu nggak perlu balik ke Drestha, langsung?” tanya Erik heran juga. Dia tidak tahu kalau Adi sedang berada di dunia material.
“Sebenarnya iya,tapi capek banget, Yah. Aku diam di rumah dulu boleh kan? Besok baru balik ke Drestha.” Kata Adi memohon sambil duduk di bangku belakang mobil .
“Haha, tentu saja. Rumahku rumahmu juga.”
Harsa duduk di kursi depan mobil. “Kenapa capek, kak? Capek pacarana?” Goda Harsa.
Adi langsung duduk tegak dan waspada. “Apa? Apa maksudmu?”
“Ayolah, kak! Ngaku aja. Tadi bareng Aster berdua ngapain? Terakhir, aku pikir kak Adi bakal ajak aku kalau mau ngajarin Aster.”
“Lah, memangnya kalau aku ajak kamu, kamu bisa ikut?” Adi balik bertanya.
“Nggak sih, tapi tetap saja! Aku kaget tahu. Mergokin kalian berdua begitu.”
“Aku cuma bantu dia belajar, kok.”
“Walaupun kak Adi lagi capek banget, sampai nggak mau balik lagi ke Drestha?” Harsa terus mendesak.
“Apa’ sih yang kamu mau? Iya. Lalu kenapa kalau aku memang suka dengan Asater? Mengobrol dengannya menyenangkan.” Aku Adi. Dia menyerah dengan perilaku kekanak-kanakan Harsa. “Kamu mau goda aku soal itu?”
”Ya, dong. Cieee.” Kata Harsa penuh kemenangan.
“Apaan ini. Aku belum dengar. Aster itu temanmu yang sering datang ke rumah untuk belajar sihr?” tanya Erik bingung.
“Iya, Pa! Ya ampun, sejak kapan, sih?” tanya Harsa penasaran.
“Sudah sejak tahun lalu. Dulu, saat masih latihan bersama, aku pernah bercakap panjang lebar dengan Aster. Entah bagaimana aku bisa jadi lebih terbuka setelah dia cerita bahwa dia kehilangan kedua orangtuanya, padahal aku biasanya tidak seperti itu. Kamu mungkin tidak tahu karena kamu sudah tidur duluan karena kelelahan waktu itu.” Cerita Adi.
__ADS_1
“Wooohh.” Harsa mengangguk-angguk. “Tapi sejujurnya aku kaget, loh. Lagian kenapa kakak bisa sampai merasa tertarik sama Aster.”
“Kenapa nggak? Dia passionate soal sihir, berbakat, dan enak diajak mengobrol. Aku suka sifatnya yang pantang menyerah.” Adi menghela nafas sejenak. “Tapi jujur, aku merasa tidak enak. Aku sendiri belum yakin mau membawa hubungan ini kemana.”
Raut muka Harsa berubah tak enak. “Kenapa? Karena Aster manusia?”
“… Ya.” Kata Adi ragu-ragu. “Dia mungkin tidak akan hidup sampai sepuluh dekade bukan? Tapi, bukan itu juga. Umurnya masih di bawah dua dekade. Rasanya aneh bersama orang yang dimurnya jauh beda denganku, tapi dia juga sudah terasa dewasa sekali.”
“Manusia jadi dewasa lebih cepat dari yang kamu kira.” Kata Erik menasehati. “Aku mengalaminya sendiri. Waktu pertama dengan Darma, aku juga awalnya berpikir dia tidak tahu apa-apa, tapi ternyata dia lebih bertanggung jawab daripada yang aku kira. Dugaanku orang menjadi cepat dewasa bukan hanya karena umur, tapi karena ekspekstasi masyarakat di sekitarnya.”
“Bagaimana pikiran ayah soal ini?” tanya Adi. Suaranya kecil dan rendah.
“Aku tidak akan melarangmu karena aku sendiri menikah dengan seorang manusia.” Kata Erik cepat. “Aku hanya bisa memberikanmu nasihat. Kalau kamu benaran akan menjalin hubungan dengannya, maka kamu harus berpikir untuk menikmati saat ini. Aku tahu kamu pasti ketakutan jatuh cinta pada seseorang yang akan hilang dari hidupmu dalam waktu tujuh atau delapan dekade, tapi kalau kamu berhenti memikirkannya, semuanya akan baik-baik saja.”
“Lalu bagaimana kalau waktunya datang?” tanya Adi dengan suara yang lebih pelan lagi.
“Kamu harus memutarkan fokusmu untuk menghadapi rasa duka itu nanti.” Kata Erik. “Aku berkata begini, karena aku sendiri merasa tidak siap berapa kalipun aku menghadapi kehilangan. Jadi aku rasa, siap tidak siap ketika mereka pergi, aku harus menghadapinya pada saat itu juga. Kalau dipikirkan sekarang, rasanya akan stress sendiri.”
“Ya ampun, kak. Aku pikir kakak nggak akan serius jatuh cinta sama Aster.” Kata Harsa mulai menyesali dirinya yang ingin menggoda Adi sejak dia merasakan rasa galau yang nyata dari kakaknya itu.
“Ah, iya. Satu hal lagi. Jangan harap anak dengannya.” Tambah Erik.
“Ya, ampun, Pa. Itu jauh banget.” Kata Harsa. “Memangnya kenapa? Apa masalahnya dengan anak?” Tanya Harsa sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Kamu cukup spesial tahu.” Jawab Adi singkat, lalu membiarkan Harsa berpikir-pikir sendiri. ”Ya, itu kejauhan, Yah. Aku hanya berpikir apakah ingin serius memulai hubungan pacaran atau tidak.”
“Justru itu. Memangnya kamu pikir berapa lama bisa berpacaran dengan manusia? Kamu harus berpikir hubungan pacaran akan berubah jadi pernikahan dari sekarang karena aku pikir kamu nggak akan siap untuk itu jika dijalani begitu saja.” Erik melirik Harsa dan menambahkan konteks. “Biasanya, Kasarewang mengabiskan kurang lebih sepuluh dekade pacaran sebelum nikah. Tapi, kamu tidak bisa seperti itu dengan manusia, Di. Mereka lebih cepat dewasa, iya. Kalau kamu benar serius dengan anak ini, harus benar dipikirkan sekarang, karena itu artinya setidaknya, satu dekade dari sekarang, kamu harus bersiap menikah dengannya. Sepuluh tahun lagi, Aster sudah dua puluh tujuh tahun kan?”
“Dua puluh delapan. Baru-baru ini dia ulang tahun.” Koreksi Adi.
“Wow, aku nggak tahu itu. Aku jadi nggak enak.” Komentar Harsa. “Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya.”
__ADS_1
Lalu mata Adi mengerjap-ngerjap sementara otak lelahnya memproses kata-kata Adi. “Tunggu dulu, menikah dalam rentang waktu satu dekade?! Bukannya terlalu cepat?”
“Nggak, Di. Aku juga terkejut setengah mati ketika dengar dari Darma seberapa cepat manusia menjalani hubungan sebelum menikah. Intinya kamu harus siap menghadapi kehidupan mereka yang cepat. Kamu harus serius dari sekarang karena aku tidak ingin kamu menyia-nyiakan sepuluh tahun hidup seseorang lalu berpikir kamu tidak salah apa-apa karena buatmu satu dekade itu waktu yang cepat. Satu dekade itu waktu yang lama dan berharga untuk seorang manusia. Aku belajar dengan cara yang menyakitkan dengan Darma. Setelah kurang lebih setengah dekade pacaran dengan Darma dulu, kami sempat bertengkar hebat karena dia pikir aku hanya ‘main-main’ dengannya. Dia berpikir begitu karena sekali pun aku tidak pernah membicarakan hubungan serius seperti pernikahan. Tentu saja, aku bingung sekali karena aku masih sayang sama dia dan kami nggak bermasalah. Jujur waktu itu kaget sekali dan nggak siap untuk pernikahan. Akhirnya aku minta waktu satu tahun lagi untuk bersiap-siap, meski waktu satu tahun itu juga terlalu lama buatnya dan terlalu cepat buatku. Aku hanya tidak ingin kamu mengalami hal yang sama.”
Adi tidak membalas nasihat Erik, sampai Erik menambahkan. “Aku bukan ingin memarahimu. Aku hanya ingin berbagi pengalaman hidup saja.”
“Aku paham, Yah.” Kata Adi. “Jadi, normal saja untuk menjalani hubungan pacaran di umur dia yang baru delapan belas tahun?” Adi masih ragu karena Kasarewang biasa dianggap dewasa setelah umur tiga dekade.
“Untuk manusia, ya. Mereka butuh beberapa tahun lagi untuk siap dalam pernikahan, tentu saja. Lihat adikmu. Umur segini udah naksir orang.”
Harsa yang sedang sibuk chat langsung merengut. “Pa! Jangan singgung-singgung aku!”
Adi langsung tersenyum sinis. “Huh? Apa dengan anak perempuan yang bersamamu tadi? Siapa namanya, Elis?” Dia gatal ingin membalas Harsa.
“Kak!” Protes Harsa,
“Haha, sudah! Ngaku saja. Tadi kelihatan sekali dari caramu memandangnya!” Kata Adi sambil tertawa.
Harsa mendecak kesal. “Eh, tapi ingat ya kak. Aster itu teman baikku, jadi jangan sampai menghancurkan hatinya.”
“Iya, aku paham.” Kata Adi lalu terbenam dalam pikirannya.
“Tapi, kalau kak Adi mau serius sama Aster aku setuju, kok.” Tambah Harsa dengan senyuman.
“Benarkah?” Tanya Adi.
“Serius. Papa juga pasti tidak akan melarang, bukan?” tanya Harsa mengkonfirmasi.
“Ya, kalau dari anaknya sih kelihatan baik.”
Adi tersenyum sedikit mendengar kata-kata mereka. “Aku butuh merenungkan ini dulu.” Katanya serius. “Satu dekade yaa….”
__ADS_1