
Harsa menekan tombol unggah di aplikasi berbagi foto kesukaannya. Foto yang dia unggah merupakan foto dirinya, Elis, dan Gina yang sedang menerima piala penghargaan dan serifikat pemenang lomba cerdas cermat biologi dari pihak universitas.
"Hehe." Harsa tertawa senang.
Pulang dari lomba itu, dia langsung tertidur sangking lelahnya. Namun, pagi ini, perasaan Harsa sudah kembali terbang mengingat dia akan main seharian bersama Elis dan Barasa.
Selesai mandi, dia dengan girangnya berkata pada Erik. "Pa, tolong antarkan aku ke mall. Mau main sama Elis sama Barasa seharian."
"Boleh." Kata Erik mematikan televisi. "Kamu sudah kosong? Nggak ada ujian atau apa?"
"Iya, kok Pa. Eng, nggak sih, sebenarnya. Masih ada ujian standarisasi di kota Drestha, tapi aku mau main dulu. Nggak kuat jenuh banget belajar."
Erik mengangguk-angguk saja. Dia tidak ingin mempertanyakan keputusan Harsa. Mereka bertiga, Harsa, Elis, dan Barasa bertemu di food court mall.
"Sa!" Elis melambai-lambaikan tangannya dari jauh. "Sini!"
Penampilan Elis jauh lebih menarik daripada biasanya. Dia mengenakan kemeja pink trendi dengan celana hitam kain. Di lengannya yang mungil, dia mengenakan jam tangan putih kecil yang besinya mengkilat. Bibirnya yang manis diberi lipstik merah muda.
Harsa tersenyum karena senang dapat melihat penampilan Elis yang tidak akan dia lihat di sekolah. Namun, senyumnya terganggu oleh fakta bahwa yang duduk di sebelahnya, bukan di seberang Elis, adalah Barasa. Harsa terpaksa duduk di seberang mereka berdua.
"Hai gaes." Sapa Harsa. "Maaf telat. Nunggu lama?"
"Nggak, kok. Tadi aku sama Barasa juga baru datang." Jawab Elis.
"Kalian datangnya barengan?" Harsa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Iya.” Jawab Barasa,
“Tadi Barasa jemput aku di rumah. Hehe, makasih ya. Lumayan lho gak perlu pesan ojek.”
“Sama-sama. Nggak pelu dipikirkan. Pulangnya nanti kuantar lagi kok.”
“Thank you banget, Bar.”
__ADS_1
Harsa hanya mampu membisu. “Mau ngapain dulu nih?" Tanya Harsa pada akhirnya. Dia ingin mengalihkan pembicaraan.
"Makan!! Makan enak! Kapan lagi aku makan enak di luar?" Kata Barasa tanpa basa-basi.
Tiga anak itu makan besar. Kemudian mereka bermain escape room walaupun Harsa tak lagi bisa merasa tegang karena auranya dapat mendeteksi keberadaan setiap orang sejauh dua ratus meter darinya, termasuk orang-orang yang beperan sebagai hantu di sana. Atas permintaan Elis, mereka melihat-lihat toko pernak-pernik untuk hadiah ulang tahun. Elis membeli satu pak jepit rambut sementara Harsa dan Barasa melongo memandang barang-barang anak perempuan. Mereka berakhir di pojok kabel-kabel ponsel tanpa niatan membeli sedikit pun.
"Mungkin aku seharusnya mencari kalung untuk Elis." Kata Harsa tanpa pikir panjang.
"Buat apa? Ulang tahunnya kan masih lama." Komentar Barasa.
"Nggak apa-apa, ngasih aja. Siapa tahu dia suka."
"Kalau kamu ngasih kalung, aku akan kasih cincin." Tanggap Barasa tak bersahabat.
Harsa melemparkan tatapan terkejut. "Sudah, mending janjian kita berdua nggak ngasih apa-apa.”
"Sepakat."
Ketika sudah lelah berjalan-jalan, mereka masuk ke restoran cepat saji untuk membeli minuman dingin dan es krim. Mereka sedang asik-asik mencari tempat duduk kosong dalam restoran yang sudah penuh ketika rahang Harsa terbuka lebar.
“Hah?” Harsa tidak bisa menahan rasa terkejutnya.
Benar. Adi dan Aster sedang duduk di salah satu bangku restoran itu. Beberapa buku pelajaran ujian standarisasi ditaruh di atas meja yang seharusnya untuk empat orang.
“Wah, kamu kenal, Barasa? Minta bareng bisa gak? Soalnya kayaknya nggak ada yang kosong lagi.” Usul Elis.
“Ya, kenalah. Kak Adi itu kakaknya Harsa.” Kata Barasa sambil memandang Harsa.
“Ya. Memang, tapi aku nggak tahu kalau mereka berdua-” Harsa tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung saja berjalan ke arah Adi dan Aster.
“Kak Adi.” Panggil Harsa.
Adi terperanjat mendengar suara Harsa. Sangking terkejutnya, Aster yang menanggapi duluan. “Sa! Loh ada Barasa sama Elis juga? Pada ngapain?”
“Hehe, kita lagi main.” Jawab Barasa ramah.
“Mau bareng?” ajak Aster langsung.
__ADS_1
“Mau! Boleh?” Jawab Elis bersemangat.
Aster dan Adi menyingkirkan buku-buku agar memberi mereka ruang untuk makan sementara Barasa mengambil satu kursi lagi untuk mereka. Melihat tumpukan buku-buku itu, Harsa sudah menebak kalau Aster dan Adi sedang belajar bersama, tapi dia tak habis pikir. Adi pasti tidak akan bisa membayar makanan yang dia pesan di sini. Tidak, sebenarnya melihat Adi makan burger juga sudah mengejutkan sekali. Namun, dia memutuskan untuk tidak bertanya yang macam-macam.
“Lis, kenalin. Ini kakakku. Kak Adi.” Kata Harsa memperkenalkan mereka berdua. “Kak Adi, ini Elis. Dia teman satu kelasku.”
“Ya. Salam kenal.” Jawab Adi tanpa mengulurkan tangan kanannya.
“Salam kenal, kak.” Balas Elis. “Kak Adi sudah berkuliah? Soalnya penampilannya dewasa sekali.”
Mungkin daripada ‘dewasa’, kata yang lebih cocok adalah ‘eksentrik’. Batin Harsa. Adi tidak mengubah penampilannya sama sekali. Rambut biru terang dan mata putih. Juga seragam tentaranya yang kotor terkena tanah.
“Tidak. Aku sudah bekerja. Memang umur kami berbeda jauh.” Jawab Adi dengan nada datar.
“Oooo.” Elis mengangguk-angguk.
Setelah itu, mereka berempat kehabisan bahan pembicaraan. Barasa memakan es krimnya dengan diam. Elis mengecek ponselnya berkali-kali. Aster kembali menghafal Sejarah Kasarewang, dan Adi diam menatap ke kejauhan. Sementara itu, hati Harsa tidak tenang karena merasa sangat canggung. Dia berusaha keras untuk mencari bahan pembicaraan.
Duh, plis. Apapunlah!! Canggung banget! Rasanya kayak mergokin orang selingkuh lalu ganggu kencan mereka!
Untunglah, satu topik terbesit dalam pikirannya.
“Ter! Omong-omong, kamu sempat bilang ingin jadi lebih kuatkan?” tanya Harsa.
Aster sempat memandangnya aneh, lalu menyadari maksud Harsa adalah soal melawan formskitter pada ujian standarisasi Kasarewang. “Ohh, iya, iya. Kenapa gitu?”
“Gimana kalau kamu belajar sama kakeknya Barasa? Dia buka les bela diri gitu. Kalau perlu bukti, nih ini Barasa dilatih sama kakeknya jadi jauh lebih kuat. Kemarin aja sampai menang lomba bela diri!”
Aster memikirkan ide ini dengan serius di kepalanya. “Benar juga. Waktu itu juga. Aku bisa merasakan pergerakkan physis dalam tubuh karena diajari Gerakan bela diri sama Barasa.”
Barasa langsung menyambut ide itu dengan bersemangat. “Wah, ayo, Ter. Sumpah lesnya gak mahal kok.” Dia langsung mempromosikan klub bela diri kakeknya. “Kita ada instagramnnya kok.”
Elis tertawa melihat Barasa begitu bersemangat. “Iya. Ini Barasa sebenarnya bisa masuk tim nasional, lho! Tapi orangnya saja, greget.”
“Shush.” Muka Barasa memerah.
“Lagian kamu yakin, Sa. Kalau beneran mau jadi atlet bela diri, bukannya berjuang sekarang?” Tanya Elis yang masih kecewa dengan tekad Barasa untuk meninggalkan dunia bela diri.
__ADS_1
Barasa mengangguk yakin. “Aku memang suka bela diri, tapi aku nggak mau terikat dengan bela diri.”
Mereka berdua lanjut berdebat. Aster kembali fokus belajar setelah mencatat nomor telepon klub bela diri Barasa. Harsa memperhatikan dua orang temannya yang masih asik bertukar pikiran dengan tatapan iri karena tak ada satupun kesempatan untuk bergabung dalam pembicaraan. Sementara itu, Adi tetap diam dan memperhatikan.