
Semangat Gilda untuk membalas organisasi formskitter-manusia itu menular pada Harsa. Namun, pulang sekolah, kecemasan Harsa malah mengalahkannya. Sepanjang perjalanan pulang, dia terpikirkan akan diserang lagi oleh formskitter. Dia melebarkan auranya sejauh mungkin, waspada akan setiap kedatangan formskitter. Sekarang ini, Harsa bisa lebih memahami kenapa dulu Adi sangat paranoid dengan formskitter.
Diserang mendadak, diserang oleh formskitter yang tak terdeksi oleh auranya, dan diserang oleh formskitter yang jauh lebih kuat dari dirinya. Bayangan-bayangan seperti itu bersarang di kepalanya hingga energinya habis ditelan oleh kekhawatiran.
Harsa terduduk lemas di sofa ruang tamu sampai Erik pulang ke rumah. Sekali lihat, Erik tahu putranya tidak bersemangat. Erik duduk di sebelahnya dan menepuk paha Harsa.
“Woahh.” Teriak anak itu terkejut.
“Ada apa?” tanya Erik.
Harsa melihat ayahnya dengan mata lelah. “Aku capek. Nggak, sih… Hari ini ada Kasarewang di sekolah, dan dia bilang dia dan polisi sihir akan bekerja sama untuk melindungiku dari organisasi itu.”
“Akhirnya.” Kata Erik pada Harsa dengan nafas lega. “Mereka bekerja sama juga.”
Alis Harsa menaik. Dia meminta penjelasan.
Bahu kiri Erik menaik. “Aku berusaha untuk membuat mereka bekerja sama kurang lebih dua ratus tahun lalu. Saat itu kepolisian sihir masih berbentuk komunitas. Bagus dengar mereka melindungimu sekarang. Seharusnya mereka melakukan itu dari dulu.”
“Sekarang aku paham kenapa dulu kak Adi takut banget sama formskitter.”
“Ya.” Jawab Erik singkat.
“Tapi sejujurnya, Pa. Aku capek. Aku merasa capek harus selalu waspada kapan akan diserang formskitter.”
“Ya, kamu pernah bilang begitu sebelumnya.” Kata Erik penuh pengertian. “Apa kamu bakal percaya kalau aku bilang aku nggak mau kamu mengalami ini semua?”
“Ya, tentu saja. Tapi aku penasaran sih, Pa. Sebenarnya kenapa Kasarewang dan formskitter bertarung satu sama lain?” Harsa berpikir jika saja dia punya alsan yang jelas, mungkin dia dapat bertahan dengan pertarungan-pertarungan tanpa henti ini.
“Perang antara formskitter dan Kasarewang sudah terjadi sejak dunia diciptakan, Sa. Sudah menjadi insting formskitter untuk melukai kita.”
__ADS_1
“Yaa. Kenapa formskitter punya insting seperti itu? Apa nggak ada cara untuk kita berhenti berperang dengan formskitter?”
“Apa kamu mengerti apa itu formskitter itu sebenarnya?” tanya Erik menyelidik.
Harsa terkejut. “Eee.. Yang jelas mereka mahkluk hidup. Maksudku, mereka bergerak…” Kata Harsa mulai menerka-nerka. Pengalaman ketika dia pertama kali melawan formskitter sendirian terlintas dalam kepalanya. ”Mereka terbuat dari sihir. Mereka muncul setelah sekian lama merasakan sihir dan aura Kasarewang…. Apa aku benar?” tanya Harsa ragu karena Erik terus mengangguk-angguk namun tak memberikannya kejelasan.
“Nggak salah, kok. Kayaknya kamu udah lama ketemu formskitter untuk bisa menebak-nebak dengan benar.” Erik membenarkan. “Pertanyaanku, kalau mereka terbentuk dari sihir, berarti apakah ada yang menyihir mereka?”
“Ya.” Harsa langsung menjawab, tapi langsung bingung. “Maksud papa, ada yang membuat formskitter?”
Erik mengangguk-angguk. “Ada satu mahkluk yang mewujudkan satu buah mantra dari Dekrit Hdiup. Mantra yang menciptakan formskitter di seluruh dunia di mana pun mantra itu mendeteksi sihir Kasarewang. Mantra itu menciptakan formskitter yang ganas dari physis sekitar secara otomatis. Setelah triliunan tahun, formskitter itu terus berevolusi menjadi semakin pintar.”
“Triliyunan…” Harsa bergumam sendiri. “Apa nggak ada yang bisa menyingkirkan mantranya? Lagipula kenapa ada mantra seperti itu?!”
Erik tersenyum melihat antusiasme putranya. ”Bukankah pertanyaan lebih tepat siapa yang membuat mantra seperti itu?”
“Uhhh… Makhluk sihir?”
“Aku nggak bisa membayangkan binatang sihir mengerjakan mantra kompleks seperti itu.” Kata Harsa. “Sudah, Pa. Tolong ceritakan saja. Aku nggak paham apa-apa.”
“Mantra itu dibuat oleh sesuatu seperti Kasarewang, tapi bukan. Triliunan tahun lalu, ketika Dunia Material baru mulai dibuat, dan Kasarewang pertama baru dibentuk oleh para dewa. Kasarewang merupakan manusia pertama belajar sihir langsung dari pada dewa. Tapi, kita bukan yang terakhir. Ada mahkluk lain yang diajarkan sihir oleh para dewa. Binatang sihir.”
“Manusia?”
“Ya, sedikit dari mereka.” Jawab Erik lalu melanjutkan kisahnya.
“Murid kedua dari para dewa belajar sihir juga dan dia sangat berbakat. Dalam waktu singkat dia dapat menguasai keempat dekrit. Dekrit material, dekrit abstrak, dekrit ruang, dan terutama dekrit hidup. Dia menguasai dekrit hidup sampai dapat menciptakan makhluk hidup sendiri. Akan tetapi, dia tidak ingin mengikuti perintah dewa. Dia memberontak, sehingga para dewa menolaknya. Sebaliknya, para dewa menyukai Kasarewang dan mempercayai Kasarewang bahwa kita dapat menentukan kapan kematian kita, sehingga yaaa…. Bisa dibilang kita abadi. Murid kedua tidak mendapatkan itu. Dia hidup untuk waktu yang lama dan penuh keirian pada Kasarewang. Murid kedua itu akhirnya meninggal, tapi dendamnya bertahan hingga sekarang, dalam bentuk mantra yang dia ciptakan. Tak ada seorang Kasarewang pun yang begitu menguasai Dekrit Hidup untuk menguraikan mantra itu dan menghentikannya. Jadi, sampai sekarang, kita terus bertarung melawan fromskitter.”
Erik menghentikan ceritanya hingga di sana. Dia membiarkan Harsa menyerap seluruh informasi dalam waktu beberapa menit. Harsa terdiam merenungi.
__ADS_1
“Murid kedua itu… Apa dia meninggal karena usia tua?”
Erik menggeleng. “Ada legenda yang menceritakan tentang satu orang pahlawan. Jauh ada sebelum kerajaan Kasareawan terbentuk. Dia mengalahkan murid kedua itu dalam satu perang besar yang menyebabkan perubahan iklim bumi selamanya. Murid kedua diyakini tewas di hari itu.”
“Hmm. Kenapa semua cerita ini nggak ditulis dalam buku Sejarah Keluarga Kerajaan Kasarewang?” tanya Harsa heran.
“Karena semua ini terjadi sebelum kerajaan Kasarewang terbentuk. Beberapa Kasarewang percaya ini adalah kejadian nyata. Beberapa lainnya hanya berpikir kalau cerita itu adalah mitos. Biasanya cerita ini diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya dari keluarga. Yah, jika keluarga itu percaya dengan mitos itu.”
“Bagaimana dengan ayah?”
“Ya, penjelasan yang cukup fair buatku.” Jawab Erik singkat. “Kamu?”
“Aku masih nggak mau terima fakta kalau kita berperang tanpa musuh utama.” Kata Harsa cemberut.
Erik tersenyum memaklumi. “Aku tak memberitahumu dari awal karena aku mau menunda kamu terlibat dalam perang ini untuk sekian lama.”
“Iya, makasih, Pa.” kata Harsa datar.
“Aku tak tahu ap aini bisa menyemangatimu. Perang ini memang abadi. Perang antara Kasarewang dan Formskitter. Tapi perang ini bukan berarti tak berhenti. Aku dapat memandang ke depan jelas. Kalau perang ini akan selesai.”
“Gimana?” tanya Harsa datar.
“Pada akhirnya, aku yakin dewa akan melepaskan mantra itu. Lalu Kasarewang akan tinggal di Duinia Roh bersama orang-orang yang telah tiada.” Cerita Erik terus.
Harsa memandang ayahnya yang sedang melihat kejauhan. Dia baru sadar bahwa ayahnya menunggu untuk bertemu kembali dengan ibu Adi. “Manusia juga?”
Erik terkejut sendiri. “Manusia juga.” Dia menepuk bahu Harsa dan menambahkan. “Kamu akan memenangkan peperangan ini.”
__ADS_1