Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Ujian Standarisasi (5)


__ADS_3

“Hei!!! Pengawas!! Formskitter yang ini tak berinti!” Teriak Kasarewang yang belum juga memperkenalkan dirinya.


Lima menit kemudian, tak juga ada jawaban. Tak terdengar suara dari sisi ruangan manapun. Mereka berlima jadi mulai ragu mereka sedang diawasi.


“Mungkin percuma, Bedo.” Kata Kriya tak bersemangat.


“Ahh!!” teriak Bedo frustasi. “Apa ada trik di balik ini?”


Formskitter berbentuk bola itu tak diam saja selagi mereka berbicara. Mereka berlima sama-sama harus terus bergerak untuk menghindari serangan-serangan formskitter berbentuk bola itu.


“Seseorang harus menyibukkan formskitter ini ketika kita menyusun rencana.” Usul Harsa sambil menghindari peluru bulat yang meledak ketika mengenai lantai.


“Aku akan menahannya.” Usul Aster, meski wajahnya masih pucat.


“Nggak. Biar aku saja.” Kata Kriya kembali menyeimbangkan senjatanya. “Karena kamu lemah.” Kata Kriya tanpa rasa kasihan, lalu mulai kembali menyudutkan formskitter itu sementara yang teman-teman yang lain berkumpul.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Rucira panik.


“Dulu, bagaimana kamu mengalahkan bagian tubuh formskitter dulu?” tanya Bedo.


“Yah, aku nggak menang. Kakakku yang menghancurkan inti dan tubuh aslinya. Setelah tubuh aslinya hancur, bagian itu pun hilang.”


“Jadi tubuh aslinya ada di sekitar ruangan ini?” tanya Rucira dengan dahi berkerut. “Aku tak merasakan keberadaan formskitter lain di ruangan ini.”


“Nggak.” Kata Harsa. “Tubuh aslinya berada jauh sekali dari sini. Aku tidak bisa mendeteksi keberadaan tubuh aslinya.”


“Mungkin teorimu itu benar.” Aku Bedo, meskipun dia tampak tak senang. “Aku bisa merasakan saluran physis yang memberikan energi pada setumpuk daging itu.”


“Eh? Apa? Gimana caranya bisa mendeteksi physis lawan seperti itu?” tanya Harsa, karena dia hanya bisa mendeteksi elemen, physisnya sendiri, dan physis di lingkungan.

__ADS_1


Dahi Bedo berkerut. “Tingkatkan persepsimu terhadap physis deh. Tapi, dengan informasi seperti ini, memangnya bagaimana kita bisa menghentikan formskitter itu?”


“Bagaimana dengan menggunakan keselerasan dekrit ruang kamu untuk mengurung formskitter itu dengan ruang terpisah?” Usul Rucira.


Beda menggeleng keras-keras. “Tidak mungkin. Aku tidak menguasai dekrit ruang sejauh itu. Aku hanya bisa melakukan teleportasi saja.”


Mereka terdiam sebentar sebelum Harsa mendapatkan ide. “Tunggu dulu, bagaimana kalau kita memutuskan supply physis dari tubuh asli formskitter itu? Seharusnya dia tidak akan menyembuhkan dirinya lagi, bukan?”


“Ya. Logikanya begitu, tapi bagaimana kamu bisa memotong aliran physis? Apa kamu pikir mungkin halnya memanipulasi physis orang lain?” Kata Bedo sambil menyengir.


“Bisa!” Teriak Harsa yakin sambil menunjukkan lengannya yang menghitam. “Salah satu formskitter itu memanipulasi physisku dan mencampurkannya dengan physis formskitter itu sehingga sekarang tanganku jadi begini!”


Baik Rucira dan Bedo langsung menampilkan ekspresi jijik ketika melihat lengan Harsa yang menghitam.


“Uh, yaa. Aku pernah dengar hal itu mungkin bisa dilakukan dengan dekrit hidup tingkat tinggi, tapi… sepertinya aku tak akan bisa.” Kata Rucira sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Harsa langsung memandang Aster. “Kamu gimana, Ter? Apa kira-kira kamu bisa?”


“Dia menguasai dekrit hidup tahu!”


Bedo dan Rucira terkejut, lalu Bedo tertawa. “Haha, mana mungkin dia menguasai dua dekrit!”


Rucira melihat Aster baik-baik. “Kamu serius bisa?”


Dahi Aster berkerut memikirkan permintaan Harsa. “Aku tak tahu sebelum dicoba.” Katanya penuh tekad. Dia tidak ingin mengecewakan ekspektasi Harsa. “Tolong arahkan aku dimana tali yang menjadi sumber physis itu berasal. Aku akan coba untuk memotongnya.”


***


“Kriya!!” Teriak Rucira keras-keras. “Kita sudah punya rencana!”

__ADS_1


Harsa menggantikan Kriya menyibukkan formskitter itu selagi Rucira menjelaskan rencana mereka untuk mencoba memotong sumber physis yang menyebabkan bagian formskitter itu untuk terus bisa beregenerasi. Kriya menggeleng-geleng sambil mengambil nafas karena kelelahan. Dia tak percaya rencana seperti itu akan berhasil.


Sementara itu, Bedo mencoba mengajarkan pada Aster bagaimana cara membedakan physis dari setiap mahkluk. “Physis di lingkungan biasanya hanya bereaksi. Physis dari makhluk tertentu biasanya beraksi sesuai dengan keinginan pemilikinya. Jadi, kamu harus fokus pada pergerakan physis dan lihat dari mana mereka berasal.”


“Aku bisa merasakan physis lawan kalau mereka berubah jadi elemen.” Kata Aster belum mengerti. “Bagaimana bisa kalau physisnya tak berubah?”


“Lupakan elemen. Fokus pada physis saja.” Tegas Bedo.


Aster berkonsentrasi penuh pada auranya. Dia melupakan elemen api dan elektromagnetik yang dihasilkan oleh Harsa dan elemen sel-sel daging yang dibuat oleh formskitter lawan mereka. Hanya physis. Pergerakkan physis. Aster menutup matanya. Physis yang mengalir dalam ruangan itu tampaknya seperti badai yang bergemuruh, namun semakin dia berkonsentrasi, dia dapat memahami pergerakan aksi dan reaksi dari physis di ruangan itu. DI antara badai pegerakan physis di ruangan itu, selalu ada aliran physis yang masuk ke dalam tubuh formskitter bola. Dia membuka matanya kembali. “Ya, aku rasa aku tahu dimana harus memotong aliran physis formskitter itu.”


“Bagus. Apa kamu siap?”


Aster kembali berkerut dan dia membayangkan physis baru yang asing dalam tubuh Harsa. Dia harus mengubah physis miliki lawannya menjadi physis lain yang tidak bisa mereka kendalikan. Aster menggeleng. “Sebenarnya tidak. Tapi aku harus percaya aku bisa melakukannya. Selama ini, begitulah caraku mempelajari sihir.”


“Baiklah, coba sana.” Suruh Bedo tanpa rasa percaya pada Aster sekalipun.


Aster menangguk, terlalu fokus pada tugasnya untuk menyadari nada sarkas dari Bedo. Dia berlari ke belakang formskitter yang tak terlindungi selagi Harsa terus menerus menahan serangan dan menyerang formskitter itu. Aster menjulurkan tangannya dan memerintahkan physis berasal dari formskitter itu menjadi physis yang berasal dari lingkungan. Ketika Aster memmikirkan rencana itu dalam kepalanya, dia merasa hal tersebut mungkin dilakukan. Namun, ketika benar-benar mencobanya, dia merasa bodoh. Apa yang dia coba benar-benar absurd. Rencana mereka terbukti gagal ketika saluran physis formskitter itu malah meledak dan melemparkkan Aster jauh ke ujung ruangan.


“Lihat, kan.” Kata Kriya tanpa perasaan.


“Lalu apa kamu puna ide lain?!” teriak Harsa kesal sambil menghindari tembakkan peluru formskitter itu. “Kita nggak bisa bertarung melawan formskitter ini selamanya!”


“Aahh! Sudahlah!” Teriak Bedo kesal. “Aku akan mengubah auraku menjadi garis untuk melacak tubuh asli formskitter itu. Aku bisa meneportasikan hanya dua orang bersama dengan aku sendiri! Siapa yang akan ikut?”


Rucira sudah melangkah, namun Kriya menahan tangannya. “Itu berbahaya sekali, nona. Rucira dan aku akan tetap berada di sini.” Kata dia pada Bedo, lalu berbalik kembali ke Rucira.  “Jangan khawatir, aku akan melindungimu dari formskitter itu.”


“Baiklah.” Jawab Harsa sambil melompat tinggi ke arah Aster. “Kalau begitu, aku dan Aster yang akan pergi.”


Aster berusaha bangkit berdiri. Kepalanya pusing karena terbentur tapi dia tidak mengeluh. Dia memegang tangan Harsa yang terulur untuk membantunya berdiri. Kriya menggantikan Harsa untuk menyibukkan formskitter bulat itu.

__ADS_1


“Dalam hitungan ketiga, pengang bandanku!” Perintah Bedo. ”Satu!! Dua!! Tiga!!!”


Harsa menggendong Aster dan menyentuh Bedo. Lalu, dia kehilangan orientasi. Tiba-tiba dia, Aster, dan Bedo berada bukan di ruangan tes mereka, namun mereka berada di sebelah tembok besar dan tingginya tak terkira karena tertutup oleh awaan-awan. Hutan-hutan tropis terbentang di sebelah sisinya yang lain. Di sekitarnya suara metal bertemu dengan metal berdering dengan keras, juga bau daging terbakar, dan teriakan perang terdengar di mana-mana. Yang paling mengerikan, dengan auranya yang hanya menjangkau dua ratus meter, dia telah merasakan sepuluh formskitter di sekitar mereka.


__ADS_2