Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Sang Kakak (4)


__ADS_3

Mereka berenang-renang di pantai hingga sore. Setelah mandi dan istirahat sebentar, mereka pergi makan malam. Kali ini, meski terlihat ragu, Adi tidak menolak ikut makan malam. Matanya melebar ketika mencoba daging ikan, udang, dan kerang.


“Enak’kan?” tanya Erik dengan nada penuh kemenangan.


Malu-malu, Adi menjawab. “Ya… tapi rasanya sia-sia.” Katanya masih ragu apakah dia suka makan atau tidak.


“Memangnya ini pertama kalinya kamu makan?” tanya Harsa tidak memahami kakak tirinya.


“Ya.” Jawab Adi sambil mengangkat bahunya, seolah itu bukan masalah besar. Mulut Harsa terbuka heran. “Kasarewang cukup hidup dengan physis.” Tambah Adi.


“Hati-hati yang itu pedas.” Erik memperingatkan ketika Adi mau mencicipi kepiting saus padang.


Terlambat, Adi keburu mencicipi saus padang itu. “Gahh!!------???!!” Wajahnya memerah dan lidahnya keluar karena panik. Harsa tidak bisa menahan tawa dan seringai.


Melihat Adi bisa panik karena kepedasan, dia terasa lebih manusiawi. Mungkin benar kata papa, pikir Harsa, Kak Adi terasa mengesalkan karena akan aku belum kenal saja. Selain tahu kelemahan Adi, hobi menyelamnya juga mendekatkannya dengan Harsa. Pada saat bergiliran mandi di hotel, Adi bercerita kalau dia ingin punya teman menyelam. Dia juga bercerita kalau dia pernah berenang bersama lumba-lumba di laut lepas dan berburu bersama paus Narhwal. Harsa setengah percaya, tapi melihat bagaimana Adi berenang dengan mudahnya bergerak di kedalaman sepuluh meter tanpa lelah sedikit pun, Harsa tidak membantahnya. Satu hal yang dia sadar, kalau sudah berbicara soal hobi, mulut Adi bocor juga.


“Minum, minum.” Darma langsung sigap memberikan teh tawar hangat padanya.


“Duh, kalaupun nggak ada yang paham selain aku, jangan mengumpat dong!” Kata Erik mengomentari nyanyian Adi.


“Apa katanya?” Tanya Harsa penasaran.


Mata Erik memincing. “Hush. Jangan belajar bahasa Kasarewang lewat umpatan.”


“Cukup. Aku sudah cukup makannya.” Kata Adi trauma. Dia memandang Harsa yang menikmati kepiting saus padang dengan mata bingung.

__ADS_1


“Kalau sudah terbiasa makan pedas, jadi enak loh.” Kata Harsa.


Adi menggeleng. Harsa masih menyeringai. Mungkin nanti malam tidak akan terlalu sulit tidur satu kamar dengan Adi, pikirnya. Tadinya Harsa sudah sangat khawatir akan canggung sepanjang malam karena harus satu kamar dengan kakak tirinya, tapi setelah tahu bahwa pria misterius itu punya kelemahan dan hobi, rasa asingnya berkurang. Yah, selama dia tidak meremehkanku lagi.


Setelah kenyang, mereka berencana untuk jalan-jalan membeli oleh-oleh. Kali ini, Darma yang tampaknya paling semangat. “Yo guys, masih pada bertenaga’kan?”


“Iya, Ma. Mau beli baju pantai’kan?” kata Harsa hendak berdiri, tapi bahunya ditahan oleh Adi.


“Tunggu.” Perintahnya dingin. Matanya memandang sekeliling dengan curiga. “Menurutku lebih baik langsung istirahat saja.”


“Yah, kenapa? Kamu lelah?” tanya Darma kecewa.


Tatapan Adi berkata, yang benar saja. “Bukan itu. Ada bahaya. Yah, Ayah tidak merasakannya?”


Dahi Erik berkerut. “Kamu tahu aku sudah nggak bisa merasakan pergerakkan physis lagi. Tapi aku percaya padamu. Kalau gitu malam ini kita istirahat dulu di kamar hotel.”


Erik menghela nafas. “Harsa. Mungkin sudah waktunya kamu tahu. Ada alasannya kenapa aku malas sekali liburan ke luar rumah. Kasarewang itu punya musuh bernama formskitter. Mereka akan mendeteksi sihir dan terbentuk setelah beberapa lama untuk menyerang Kasarewang. Di rumah kita aman karena aku sudah memasang beberapa mantra untuk menyembunyikan setiap percikan sihir di dalam rumah, tapi di sini tidak ada mantra pelindung itu.”


“Jadi maksudnya, sekarang ada yang mau menyerang kita?” tanya Harsa memastikan. “Apa itu kenapa kak Adi selalu muncul di dalam rumah dan bukan dari luar? Supaya sihirnya tidak terdeteksi?”


“Ya.” Jawab Adi datar.


“Jangan khawatir. Serahkan saja situasinya pada Adi. Sebentar aku bayar dulu makanannya lalu kita kembali ke hotel.” Kata Erik beranjak ke kasir.


“Apa nggak bisa kak Adi singkirkan dulu sekarang? Lalu kita lanjut belanja? Kan sayang waktunya kalau kita habiskan untuk nonton televisi saja dalam hotel.” Tawar Harsa pada Adi.

__ADS_1


Wajah Adi kebat-kebit. “Kamu--------------------------!”


“Ngomong pakai bahasa Indonesia, dong!” Harsa berteriak karena kesal. Walau tak paham kata-kata Adi, dari bahasa tubuhnya Harsa tahu kalau Adi sedang mengejeknya. Kalau memang bukan mengejek, kenapa harus pakai bahasa yang dia tak mengerti?


“Hei, sudah! Sudah! Jangan bertengkar lagi. Kalian berdua bukan anak kecil.” Tegur Darma, tidak mau membuat keributan. Mereka sudah mulai diperhatikan oleh pengunjung lainnya.


“Kamu nggak berencana membatalkan acara belanja karena mama’kan?!” Lanjut Harsa menghiraukan Darma.


“Apa?”


“Aku nggak tahu kenapa, tapi dari awal kamu nggak pernah lihat mama di mata!” Kata Harsa mulai tak sabar. “Kenapa? Karena mama manusia? Kamu juga memandangku sebelah mata’kan?”


Pertanyaan Harsa membuat Adi tertegun. “Aku…”


Untunglah Erik segera kembali dan mengambil alih situasi. Sadar dirinya kalah suara, Harsa menahan mulut dan rasa kesalnya pada Adi. Dia mengikuti keluarganya ke mobil untuk kembali ke hotel. Sejujurnya Harsa agak menyesali dirinya yang lepas kendali. Suasana hangat yang mulai terbentuk pulang dari main di pantai hilang sudah. Mereka juga harus cepat-cepat pergi menghindari tatapan bingung dari pengunjung lainnya.


Sesampainya di kamar, Adi tidak memanfaatkan kasur hotel mereka yang empuk. Dia masuk ke apartemen portabelnya dan menutup pintu mozaik warna-warni itu, sehingga Adi hilang dari kamar hotel mereka. Seolah-olah Adi tidak ingin satu ruangan dengannya.


Harsa mendesah keras dan menghempaskan dirinya ke kasur. Wajah terkejut Adi ketika dia melampiaskan kekesalannya di restoran terbayang. Jelas sekali bahwa Adi tidak bisa membalasnya, dalam artian lain, dia tidak menolak gagasannya. Jadi, dia memang memandang manusia sebelah mata? Atau, Adi hanya tidak mengira bahwa Harsa bisa marah?


Di tengah-tengah kegalauan Harsa, pintu kamar hotelnya diketuk.


“Papa?” tanya Harsa bingung mendapati ayahnya di luar kamar Harsa.


“Adi mana?” tanya Erik.

__ADS_1


“Nggak tahu.” Nada kesal masih terdengar di nada suara Harsa. “Tadi dia masuk, apa? Apartemen portabelnya, lalu hilang?”


Erik mengangguk-angguk. “Oke. Ngomong bentar, yuk.”


__ADS_2