Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Sang Kakak (6)


__ADS_3

Semakin dilihat, bentuk formskitter itu mirip dengan landak laut raksasa. Namun, bukannya duri, yang mencuat dari tubuhnya yang bulat adalah tentakel-tentakel kecil entah berapa banyaknya. Batu-batu kerikil tajam yang memborbardir mereka, dibentuk dan dilemparkan oleh ratusan tentakel itu. Tentakel-tentakel itu luar biasa cepat hingga Harsa tidak bisa melihatnya jelas.


Harsa juga baru menyadari bahwa, Adi sudah berganti baju jadi rompi coklat dan celana kulit yang dipakainya kemarin, juga tak lupa cincin-cincin batu akiknya yang mencolok. Pada saat Adi menerjang ke depan, salah satu cincinnya bercahaya, kemudian dari udara kosong muncul sebuah pedang ramping sepanjang satu meter. Dengan pedang itu, Adi memantulkan kerikil-kerikil batu dengan kecepatan yang setara.


KLANG!!! KLING!!!!!


Setiap kali Adi berhasil memantulkan kerikil-kerikil tajam, dia semakin dekat dengan formskitter itu. Setiap tebasan menaikkan suhu bilah pedang, terlihat dari besinya yang memancarkan warna merah menyala. Adi menusuk ke udara di depan, dari gagang pedangnya, muncul ledakan bola api biru yang meluncur ke arah formskitter itu. Mulut Harsa terbuka lebar sangking terkejutnya. Dia pikir Adi punya afinitas elemen air, namun nyatanya, sekarang dia menggunakan elemen api untuk menyerang formskitter itu.


Si formskitter gurita itu melunjak kaget. Seperti bola, dia memantul ke atas, tapi dia tidak bisa menghindari seluruh serangan Adi. Tentakel-tentakel bagian bawahnya hangus menjadi abu.


Dengan jarak dekat, formskitter itu mengubah taktiknya. Dari atas, dia menyerang Adi dengan sisa-sisa tentakelnya yang memanjang. Adi tanpa kesulitan memotong tentakel-tentakel itu dengan pedang apinya.


Adi sudah siap menebas formskitter itu menjadi dua bagian ketika bola tentakel itu jatuh tepat di tempat Adi berdiri, namun bentuk formskitter itu berubah menjadi seekor serigala. Cakar serigala itu menahan serangan Adi. Memanfaatkan kekuatan dari tebasan Adi, formskitter itu melompat beberapa meter ke belakang, mengambil jarak dari Kasarewang yang segera disadarinya terlatih bertarung.


Ketakutan Harsa mulai mencair, melihat bagaimana Adi berhasil memojokkan formskitter dengan mudahnya. Aura Adi yang memancar ketika warna mata dan rambutnya kembali seperti semula, mengesampingkan aura dari formskitter itu. Untuk pertama kalinya, aura dari Adi terasa menenangkan.

__ADS_1


Adi menyuruhnya bersembunyi, tapi sepanjang matanya memandang, hanya pasir pantai dan laut terhampar luas di sebelah kirinya. Di kanannya, jauh di belakang hamparan pasir pantai, terdapat hutan tropis yang mungkin bisa dipakai bersembunyi.  Masalahnya, tubuh Harsa terasa berat, seolah-olah gravitasi tempat itu sepuluh kali lipat lebih tinggi dari gravitasi bumi.


Apakah tubuhnya terluka? Adi kembali merenungkan pertanyaannya tadi. Tak mungkin. Tadi Adi jelas-jelas menerima seluruh dampak dari jatuhnya mereka. Kalau begitu, bagaimana Adi bisa bergerak tanpa halangan seperti itu?


Harsa mengerahkan konsentrasinya. Intuisinya mengatakan bahwa pergerakan Adi diliputi oleh tenaga yang tidak bisa dia lihat. Apakah….? Harsa memandang dalam dirinya sendiri. Seperti dia bisa membayangkan paru-parunya melebar dan mengempis pada saat bernafas, Harsa bisa membayangkan Kai dalam dirinya yang saat ini terkunci oleh segel yang ditanamkan oleh Erik sewaktu dia berumur delapan tahun, sehingga Harsa tidak bisa menggunakan sihirnya sembarangan. Meskipun begitu, dari sela-sela segel itu, physis masih menemukan jalan keluar dari segelnya. Mengendalikan physis yang keluar dari sela-sela segel itu, Harsa menyeliputi tubuhnya dengan physis. Seketika tubuhnya terasa ringan, dan Harsa bisa bergerak dengan normal.


“Uah!!!” Layaknya balita berusaha berjalan, Harsa tidak punya pengalaman mengontrol sihirinya. Kontrolnya tergelincir beberapa saat kemudian. Physis yang menyeliputi tubuhnya terlepas dari kendali Harsa, meledak keluar dalam bentuk bola api.


Seketika formskitter itu menyadari keberadaan Harsa. Matanya terfokus pada remaja yang masih kesulitan berdiri itu dan tubuhnya menerjang menghiraukan Adi. Instingnya menyuruhnya menghabisi lawan yang lebih lemah. Salah satu kaki serigalanya berubah menjadi kepala ular yang bergerak dengan cepat menuju Harsa. Dari kepalanya itu mencuat empat buah taring yang tampaknya cukup kuat untuk menghancurkan batu.


“--------!” Adi melonjak tepat ke depan Harsa, melindungi adiknya dari gigitan mematikan ular tersebut.


Harsa tidak mendengar kata-kata Adi, matanya terfokus pada luka yang menganga dari perut Adi. “Kau terluka!”


Tidak memedulikan lukanya, Adi kembali berdiri. Cukup cepat untuk menebas serangan tentakel dari formskitter yang sekarang kembali menjadi landak laut dengan tentakel-tentakel itu. Setiap kali satu tentakel terputus, tampaknya dua tentakel kembali terbentuk dari landak laut itu. Sekarang suasana pertarungan berbalik. Dahi Adi berkerut menahan serangan formskitter yang semakin membabi buta. Pijakan kakinya mulai terdorong ke belakang.

__ADS_1


Kembali mengalirkan physis untuk menyellimuti badannya, Harsa berdiri.


“Diam saja!” Perintah Adi sambil terus menahan serangan tentakel itu.


Menghiraukan Adi, Harsa berlari menuju formskitter itu. “Kak Adi terluka! Aku harus melakukan sesuatu!”


“Tch!” Adi mendecak, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan Harsa. Pikirannya terbagi antara menahan serangan formskitter dan memanggil air dari lautan di kiri mereka.


Harsa sadar dia tidak punya pengalaman bertarung dengan formskitter, maupun menguasai sihir seperti Adi, namun dia tidak bisa diam saja selagi Adi bertarung sendirian dengan luka yang menganga. Seumur hidupnya melihat pasien datang ke rumah, Harsa tidak pernah melihat luka separah itu. Ketika cukup dekat dengan formskitter yang masih sibuk menyerang Adi, dia melepaskan kontrolnya atas physis yang menyeliputi tubuhnya. Sekali lagi, kali ini disengaja, energi itu meledak keluar dan membakar semua yang berada dua meter di dekat tubuh Harsa, termasuk formskitter itu. Hampir setengah tubuhnya hangus menjadi abu, menampilkan satu bola hitam di tengahnya.


Serangan Harsa tidak bisa disebut sihir, hanya penerapan sederhana dari kesalahan dan pengalamannya sendiri. Akan tetapi, serangan Harsa cukup untuk memberikan waktu bagi Adi. Dia tidak perlu menahan serangan formskitter sambil membangun sihirnya. Sebelum formskitter itu meregenerasi dirinya, dia menyelesaikan sihirnya.


Suara gemuruh ombak terdengar dari laut sedari gelombang tsunami dengan tinggi meter menerjang baik Adi, Harsa, maupun formskitter itu. Bukannya kembali dengan menghanyutkan mereka bertiga ke lautan, air itu berkumpul memerangkap Harsa dan formskitter dalam gelembung bola air. Tak terpengaruh oleh tubrukan air dengan volume luar biasa, Adi tetap berdiri tak bergeming di tempatnya. Mata putihnya menyala bagai rembulan saat dia mengendalikan air dalam jumlah yang tak terkira. Kedua tangannya terkepal erat.


Gelembung air yang memerangkap Harsa pecah ketika Adi membuka tangan kirinya. Sementara itu, gelembung air besar yang memerangkap formskitter itu semakin mendingin dan tak lama sudah berupa bongkahan es yang membekukan apapun di dalamnya. Harsa yang terlepas dari gelembung itu terengah-engah mencari oksigen sembari memuntahkan air laut.

__ADS_1


Adi maju ke depan, ke arah formskitter itu. Kali ini suhu pedangnya mendingin, menyelimuti pedang ramping itu dengan bilah es yang lebih tajam, lebih bermassa. Dengan satu kali tebasan, dia membagi bola es dan formskitter yang ada di dalamnya menjadi dua. Bola hitam yang menjadi inti dari formskitter itu pun terbelah, sementara tubuhnya yang lain hancur menjadi serpihan abu.


Senyum puas dan jahat muncul di wajah Adi. Harsa tidak pernah melihat kakaknya tersenyum lebar seperti itu. Dia mengatakan sesuatu dalam bahasa Kasarewang pada dirinya sendiri sebelum berbalik memeriksa keadaan Harsa.


__ADS_2