
Mereka berempat, Adi, Kriya, Aakil, dan Harsa Wijaya, pergi ke rumah sakit yang disebutkan oleh Lisa. Rucira, tetap tinggal bersama Aster, jika terjadi apa-apa. Mereka bersegera ke sana, namun sampai di sana, mereka tiba di ruang mayat. Ekspresi Harsa berubah menjadi suram ketika mendengar jawaban Lisa kemana mereka harus pergi. Seperti yang telah dibayangkan, Edi terbaring di salah satu ranjang dalam kamar yang dingin itu. Seluruh tubuhnya ditutup oleh kain putih, hingga ke wajahnya. Kain itu menutupi bekas luka mengerikan di perut Edi. Di sebelahnya, Lisa terduduk dengan lemas. Matanya terlihat kosong ketika menyadari kedatangan mereka.
"Tubuhnya baru dipindahkan ke sini beberapa menit lalu." Lisa mengabari dengan lemas.
"Nggak, nggak mungkin." Bisik Harsa sekuat tenaga. "Paman Adipati!! Kamu bisa melakukan sesuatu kan?! Kamu bisa menyembuhkannya, kan?"
Adipati Aakil terdiam sejenak. Sejujurnya, dia tak ingin menjawab. Namun akhirnya, kata-katanya harus keluar juga. "Aku tak bisa. Rohnya sudah menyebrang ke dunia."
Mata Harsa terbelalak dan mulutnya terdiam selagi pikirannya mulai berkabut. Dia berusaha menerima fakta bahwa Edi telah tiada, tapi kenyataan itu tidak juga terpatri di pikirannya. Di tengah-tengah kesunyian itu, dua tiga orang datang ke tempat mereka, lalu mulai meraung dan menangisi tubuh Edi. Lisa kemudian menarik mereka berempat keluar dari ruang mayat. “Keluarganya butuh ruang untuk berkabung.”
Mereka semua keluar dari ruangan itu mengikuti himbauan Lisa. Harsa larut dalam kesedihan ketika mendengar tangisan keluarga Edi. Mata Harsa mulai berkaca-kaca. Sedih, sesal dan rasa bersalah mulai memenuhi hatinya. Bagaimana kalau dia tidak diincar, akankah Edi baik-baik saja? Untuk sesaat, Harsa tidak bisa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan teman-temannya.
Lengan Adi memeluk punggung belakang Harsa. Kehangatan dari pelukan itu menariknya kembali ke dunia nyata. Dia mendengar kata-kata lembut yang terucap dari mulut Adi.
"Aku turut berdukacita, Lisa. Sebagai seorang prajurit, aku paham bagaimana kehilangan seorang teman satu perjuangan." Kata Adi penuh simpati.
Lisa tersenyum kecil, meski senyum itu tak cocok di wajahnya yang sedang getir. "Makasih."
Sejujurnya, Lisa sudah berada di ujung tanduk, tapi dia menahan tangisnya. Dia sudah berkali-kali berkata pada dirinya bahwa dia harus siap kehilangan nyawa rekan ataupun nyawanya karena pekerjaan ini. Namun, ketika momen-momen tidak diinginkan itu datang, dia selalu mendapati dirinya tak pernah siap. Dia butuh apapun juga untuk mengalihkan pikirannya dari Edi.
"Tapi dengan keberadaan kalian bertiga, em, berempat di sini, aku simpulkan formskitter itu sudah terkalahkan." Tanya Lisa.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal formskitter itu. Mereka sudah lenyap." Kata Adi dengan nada kepuasan.
Di saat itu, ponsel Lusa berdering keras, menghentikan semua obrolan mereka.
"Halo?" Tanya Lisa di telepon. Seiring berjalannya waktu, wajahnya semakin pucat. "A, apa?" Matanya terbelalak dan melototi Harsa, Kriya, dan Adi. "Kalian menghancurkan satu buah gedung?!!" Teriak Lisa panik.
"Oh iya… nggak sengaja, sih." Jawab Kriya tanpa rasa bersalah.
"Benar. Aku sebenarnya khawatir. Beberapa manusia yang keberadaannya terasa di sana… menghilang."
Lisa mengerutkan dahinya, bingung.
__ADS_1
"Maksudnya, ada orang-orang yang mati tertimpa bangunan itu." Jawab Kriya menjelaskan.
Wajah Lisa tidak bisa lebih pucat lagi daripada hari itu. Mulutnya ternganga memikirkan masalah yang bisa menimpanya. Dia tidak bisa berkata-kata apa-apa. Dia hanya bisa mendengarkan omelan atasannya sambil berpikir bagaimana mengatasi situasi ini.
"Setidaknya kita bisa mencegah bencana badai dan angin puyuh." Kata Adipati tersenyum bangga mengingat muridnya Aster.
"Ini sudah bencana bagiku." Jawab Lisa dengan suara serak. Setelah telepon itu ditutup, Lisa berkata pelan dan lemas. "Aku harus pergi ke sana untuk memastikan keadaan di sana. “
Harsa tidak tahan lagi. Dia mulai berkata-kata di tengah isaknya. “Aku minta ma-”
Lisa menghentikannya di saat itu juga. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu tidak menyebabkan semua ini. Mereka yang mengincarmu yang salah."
Harsa ragu-ragu mengangguk.
"Tunggu. Aku juga akan kembali ke sana. Aku tak nyaman tak tahu kondisi Rucira.” Kata Kriya berinisiatif.
Harsa jadi ingin kembali juga, tapi dia melihat wajah pucat Adi dan dia melepas Lisa dan Rucira pergi. “Kamu butuh istirahat.” Katanya pada Adi. “Aku akan cari cara supaya kamu bisa beristirahat.”
Alis Adi mengangkat naik. “Kamu harus memeriksakan keadaanmu juga. Kalaupun sudah disembuhkan oleh Adipati, ada baiknya kamu juga dicek oleh dokter manusia.”
Telepon genggam Harsa berdering nyaring. Dengan setengah hati Harsa mengangkatnya. Dari balik sana, suara cemas Darma terdengar.
“Kamu dimana?!”
“E, ma. Di rumah sakit. Tenang, ma. Aku baik-baik aja. Sebentar lagi dokternya pun datang kok.”
“Baik-baik aja gimana? Kalau kamu masuk rumah sakit kamu nggak baik-baik aja!”
“Iya, ma! Maaf! Kalau bisa aku juga nggak mau terluka.”
“...” Akhirnya Darma baru tenang sedikit. “Bagaimana aku nggak khawatir?! Ayahmu selalu bilang kalau Adi akan menjagamu, tapi kalian berdua nggak pernah memberi kabar!”
“Iyahh. Maaf, soal itu.” Kata Harsa mulai bersalah. Dia tidak terpikir sama sekali untuk menghubungi ibunya. “Tapi kenapa mama tiba-tiba telepon?”
__ADS_1
“Kamu tidak lihat televisi?! Coba buka televisi! Teriak Darma.
Harsa mengambil remote televisi yang terdapat di ruang kamar mereka. Berita breaking news langsung tayang ketika televisi itu menyala. Mata Harsa langsung terbelalak. Mulutnya menganga.
Apa? Adalah kata pertama yang terlintas di kepalanya.
“Pada malam tadi tiba-tiba gedung perbelanjaan yang telah lama ditinggalkan rubuh secara misterius. Salah satu warga berhasil merekam kejadian misterius ini. Sampai saat ini BMKG belum melaporkan apakah terdapat gempa atau tidak. Namun, masyarakat melaporkan mereka sempat merasakan tiupan angin kencang dan badai yang tiba-tiba menghilang. Berikut ini merupakan rekaman video yang telah didapatkan oleh ... ”
Mulut Harsa semakin menganga melihat bayangan dirinya sendiri terbakar dan meluncurkan bola api. “Eehh..” Tak lama kemudian, dia melihat gedung itu runtuh lagi untuk kedua kalinya di hidupnya Kemungkinan besar, dia dapat menontonnya ratusan kali karena video itu akan muncul di internet. Entah kenapa, Harsa merasa stress kalau mengingat hal itu. Dia tidak ingin diingatkan akan kematian orang-orang di sana lagi dan lagi. Apalagi ketika Harsa mulai mendengar presenter itu bercerita tentang korban jiwa. “Dua orang ditemukan tewas tertimpa oleh reruntuhan bangunan itu… Satu orang teridentifikasi sebagai seorang dokter yang sudah lama hilang. Para polisi masih menyelidiki identitas korban satunya dan penyebab dari kecelakaan mengenas-”
“Biip..” Harsa menekan tombol mati televisi itu. Dia tidak ingin mendengarkan lagi.
Untuk sesaat Harsa tidak ingat kaluu dia sedang telepon bersama ibunya,
“Sa?” tanya Darma khawatir. Dia bingung karena Harsa tidak menanggapi kata-katanya beberapa kali.
“Ah, iya, Ma.. Aku lelah. Aku mau tidur dulu. Aku janji aku pasti pulang dengan selamat.” Kata Harsa benar-benar kehilangan semangatnya.
Mendengar suara anaknya, Darma mengikuti keinginan Harsa. Dia menghentikan teleponnya. Harsa menutup matanya, tapi tidak bisa lama. Seorang dokter datang memeriksa mereka. Harsa merasa aneh, melihat Adi diperiksa oleh dokter.
Adi juga. Lalu dia melihat dokter itu dengan tatapan aneh. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa ketika dokter mendiagnosanya dengan kelelahan dan memberikan infus untuk membantu penyembuhannya. Sang dokter sangat cemas saat memberikan diagnosa ‘kelelahan’ untuknya. Dokter itu juga merawat kaki Harsa yang belum sepenuhnya sembuh.
“Aneh. Kalau kamu luka begini, harusnya langsung datang ke rumah sakit. Bukan nunggu setengah sembuh seperti ini.”
Harsa mengelap keringat dingin yang mengalir di dahinya. “Ya, Dok.” akunya gugup. Untunglah dia tidak bertanya lebih lanjut dan meninggalkan mereka berdua untuk beristirahat.
“Kakak.” Panggil Harsa dengan suara serak. “Aku ingin mengakhiri perang ini.”
“Kita semua ingin.” Kata Adi. “Tapi tak mungkin kamu melangkah sedikitpun ke arah sana kalau kamu tanpa...”
Harsa langsung memutus kata-kata Adi. “Aku tahu. Aku juga mau belajar ke sihir ke Drestha. Tapi.. aku juga percaya kalau mau menghancurkan formskitter sama sekali, kita perlu ilmu pengetahuan manusia juga.”
Adi melihatnya dengan tatapan terlena. “...”
__ADS_1
“Karena itu aku ingin belajar di sini dulu.”