Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Sekolah Setelah Semua


__ADS_3

Berjalan masuk ke lapangan sekolah terasa berbeda daripada sebelumnya. Belum lama Harsa menyadari bahwa dirinyalah yang berubah. Sekolahnya masih sama. Harsalah yang tidak bisa memandang sekolahnya sebagai tempat untuk mencari pertemanan dan kesenangan, sekarang Harsa hanya ingin lulus. Sudah waktunya juga dia belajar serius di kelas tiga


Meskipun yah, imagenya berbeda dengan sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri, menghilang dari sekolah selama satu minggu, tidak membuatnya jadi anak kesayangan guru di sekolah. Image berandal itu semakin melekat pada Harsa. Untunglah dia tidak terlalu peduli. Yang penting, ada Barasa dan Elis tetap mau setia berteman dengan dirinya. Lagipula Harsa sekarang ini fokus belajar. Dia sudah memutuskan dalam hatinya, bahwa dia ingin masuk jurusan fisika untuk lebih mempelajari bagaimana dunia ini bekerja. Apapun selain itu, tidak penting.


“Sa! Ayo bolos!” Ajak salah satu teman mereka sembari mengejek. “Kok rajin padahal sempat bolos dua minggu?!”


Harsa melihatnya tanpa menjawab, hingga akhirnya dia sendiri ketakutan dan meninggalkan Harsa sendirian.


“Yo, kalau gitu kamu makin serem, Sa!” Kata Barasa sambil memeluknya.


“Sumpah aku sudah berusaha sebisanya biar gak marah.” Kata Harsa. “Sudahlah, ayo kita belajar. Kita sama-sama mau masuk ke jurusan Fisika’kan?!”


“Iya, iya.” Jawab Barasa sambil mengambil PRnya yang menumpuk. Siang hari di jam istirahat itu mereka akan mengerjakan tugas sekolah dalam kelas.


Elis melihat mereka sebelum keluar dari kelas untuk beli makan di kantin. “Ih, kok pada rajin-rajin amat? Aku jadi merasa tertinggal.”


“Soalnya kami mau masuk jurusan fisika!” Kata kedua sahabat itu berbarengan.


Elis menggeleng-geleng, tapi setelah membeli makan, dia kembali untuk belajar bersama mereka. Walaupun Harsa berubah, teman-temannya tetap sama. Atau berusaha tetap sama. Harsa tidak merasakan perubahan antara Elis dan Barasa walaupun Elis telah mengetahui perasaan Barasa. Itulah yang mereka tunjukkan di depan Harsa.

__ADS_1


Untunglah rekaman dari tragedi penyergapan mereka ke markas formskitter terlalu buram untuk mengidentifikasi siapa saja yang berada di sana, sehingga Harsa aman dari gerangan masyarakat tentang manusia terbakar. Meski sejak saat itu, netizen selalu membicarakan manusia api itu. Mulai dari blog, para influencers yang membahas kejadian dan sosok misterius. Harsa tutup mulut akan ini semua.Untunglah Elis dan Barasa cukup peka untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.


Selain belajar dengan serius bersama dengan Elis dan Barasa, Harsa juga sering bulak balik ke Kota Drestha untuk bertemu dengan Aster.


“Kamu benar-benar keren waktu itu.” Puji Harsa ketika akhirnya mereka bertemu lagi.


Muka Aster memerah. “Apa?! Nggak. Aku cuma belajar banyak dari Adipati. Tapi untunglah, Kriya memperingatiku sebelum para polisi itu datang. Jadi mereka tidak melihat sihirku bekerja. Lalu! Ayo kamu segera ke sini. Di sini sangat magical. Kamu benar-benar kehilangan banyak.”


“Apa kamu nggak kesusahan?” tanya Harsa benar-benar penasaran.


“Yah… Tentu saja ada beberapa hal yang menyulitkan. Tapi di luar itu aku menikmatinya." Kata Aster sambil memainkan rambutnya.


“Nah… Aku baik-baik saja.” Kata Aster menolak menjawab pertanyaan Harsa. “Lagi pula, pelan-pelan mereka juga pasti bisa menerima. Kamu nggak akan bisa menduga bagaimana Kriya berubah sekali sikapnya sama aku tahu.”


“Wow… baguslah kalau begitu. Aku yakin yang lainnya juga akan begitu.” Kata Harsa optimis. Dia lalu menambahkan. “Aku akan kuliah dulu di dunia manusia. Tepatnya jurusan Fisika.” Kata Harsa blak-blakkan.


“Oh.” Aster sedikit kecewa


“Aku yakin aku pasti bisa menemukan sesuatu tentang sihir juga dengan pengetahuan manusia.” Kata Harsa yakin. “Tapi nanti aku akan ke Drestha. Janji.” Kata Harsa menaikkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


***


Satu hal yang bagus dari penyergapan. Benar-benar tidak ada orang atau organisasi lain lagi yang mengganggu Harsa. Dia bisa belajar dengan tenang selama bulan-bulan terakhir di sekolahnya. Tentu saja ketenangan itu tidak termasuk formskitter-formskitter lemah yang selalu muncul selama beberapa bulan satu kali.


Barasa dan Harsa mengikuti ujian UTBK di tempat yang berbeda-beda. Berkat kerja keras, mereka dapat pergi ke universitas yang sama. Sementara itu, Elis berhasil mendapatkan beasiswa sekolah musik ke luar negeri. Sekolahnya terasa cukup prestis hingga orangtuanya tidak bisa menolak.


Kedua anak laki-laki merasa sedih karena mereka tidak bisa melihat cinta pertama masa-masa SMA lagi untuk beberapa bulan. Namun, mereka dengan semangat mengikuti kegiatan MOS di kampus baru.


“Wow, Sa! Banyak banget orangnya.”


“Iya, lapangannya juga besar banget.” Kata Harsa. Mereka berdua lalu terkagum-kagum melihat besarnya universitas itu. Di saat Harsa sedang enak-enak melihat-lihat universitas itu. Bulu kuduknya bergidik karena merasakan satu aura sihir yang tidak seharusnya ada di tempat itu. Aura sihir terkutuk yang selalu membuat masalah.


Tap. Harsa menepuk pundak Barasa. “Tunggu sebentar.” katanya tiba-tiba.


“Eh, Sa! Mau kemana kamu?”


Bukan hanya Barasa, panitia MOS juga mulai panik melihat Harsa keluar dari barisan. “HEI! TETAP di barisan!!” Teriaknya.


Tapi Harsa tidak mempedulikannya. Dia segera mencari tempat yang sepi untuk bisa segera masuk ke Tepi Dunia Roh. Tak terasa, sebuah senyuman lebar tersungging di wajahnya, ya, Dia akan menghajar satu makhluk ini. Berapa kalipun. Pikirnya penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2