Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Rahasia vs Pengakuan


__ADS_3

Aster tidak berbohong tentang bagaimana dia yakin dia dapat menguasai physis mengenai arahan yang diberikan oleh Barasa. Dua hari setelah dia menguasi gerakan-gerakan itu, dia mendatangi Harsa dengan senyum lebar di kelasnya. Dari jauh, dia sudah merasakan keberadaan Harsa di kelas, karena dengan rajin Harsa mengerjakan PR dari Adi. Sepuluh jam sehari, dia mengaktifkan auranya. Aster merasa asing berjalan di antara tatapan-tatapan anak kelas satu, namun langkah ringan dan moodnya melayang.


“Sa.” Panggi Elis yang sedang ngobrol di depan pintu kelas bersama dengan teman-teman perempuan lainnya. “Ada kakak kelas yang cari kamu tuh.”


“Hah? Sia-” Harsa berhenti bertanya melihat wajah yang muncul dari balik pintu. Dia agak selalu agak takut kalau dicari kakak kelas. Takut kakak kelas dari klub bela diri mencarinya. Meski, hingga sekarang, untunglah mereka masih mengabaikan Harsa. “Aster?”


“Hehe, sini, ke ruang klub bentar.” Panggil Aster mengajak Harsa keluar lewat jempolnya.


Meskipun jam istirahat tinggal sepuluh menit lagi, Harsa mengikuti Aster ke lantai empat. Melalui auranya, Harsa bisa merasakan perubahan halus dalam diri Aster, dan dia menantikan apa yang akan ditunjukkan oleh seniornya itu pada dirinya. Sampai di lantai empat, mereka masuk ke ruang klub yang kosong.


Aster berbalik dengan senyum lebar pada Harsa. “Lihat.” Tangannya terulur. Dari tangan itu, keluar physis yang segera berubah menjadi elemen air. Dari lengan Aster, muncul bola tanah yang langsung jatuh ke bawah, kemudian bola air terlempar dari lengannya dan membasahi Harsa.


“Oops! Maaf.” Pinta Aster dengan cengengesan. Kali ini, dari tangannya bola angin meluncur ke depan, mengeringkan Harsa dan seragamnya dalam waktu satu menit. “Hehe.”


“Kamu sengaja ya?” Harsa ikut tertawa. “Tapi, wow. Kamu benar-benar bisa sihir sekarang!”


“Hehe.” Terakhir tanpa di Aster melemparkan bola api kecil Harsa.


“Woahh!!” Harsa kaget, bola api itu bisa saja membakar mukanya, jika saja Harsa tidak punya afinitas terhadap elemen api.


Aster tertawa lagi.


“Jail banget.” Komentar Harsa mulai kesal. “Padahal bahaya loh.”


“Lah kamu nggak kenapa-napa, kok.” Kata Aster santai. “Tapi kenapa ya? Apa kamu pakai sihir tadi? Sampai saat ini, kalau aku nggak pakai sihir, aku bisa kena luka bakar loh.”


“…” Harsa tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu, jadi dia hanya berkata. “Jangan lakukan ke orang yang gak bisa sihir, ya! Gimana ceritanya kamu sampai bisa memerintahkan physis?”


“Tenaga dalam yang diajarkan oleh Barasa memang physis. Setelah aku mulai merasakannya mengalir dalam diriku, aku mulai mengontrolnya. Lalu, Kemarin, aku akhirnnya bisa mengubah physis di lingkungan. Karena aku menyadari kamu punya sejenis sumber physis di badan kamu, aku mencoba membuat hal yang sama. Aku mengumpulkan physis yang ada di badanku selama berjam-jam di titik perutku. Lalu, bam! Sekarang aku punya kumpulan physis.” Cerita Aster senang. “Rasanya senang sekali. Sejak mengobrol denganmu kemampuan sihirku meningkat pesat. Mungkin memang beda ya, kalau keluarga kamu semua sudah jago sihir...” Aster terdiam sebentar lalu melihat Harsa dengan tatapan bingung. “Loh? Memangnya kamu nggak-?”


“Bentar-bentar.” Potong Harsa. Mulut Harsa menganga lebar. Dia tidak percaya dia mendengar kata-kata Aster dengan benar. “Sekarang kamu punya Kai?”


“Kai? Maksudmu cadangan sihir? Namanya Kai?”

__ADS_1


“Iya, apa itulah.” Kata Harsa tidak percaya. Bukankah Kai adalah organ tubuh? Dia lahir dengan vasal dan Kai, bagaimana Aster bisa mengembangkan Kai?


“Eng? Yap. Setelah ada Kai, aku mulai bisa mengubah physis dalam tubuhku menjadi elemen-elemen api, air, a-”


“Aku cek, boleh?” Potong Harsa masih tak percaya.


“Engg, yang menjijikan itu?” Dahi Aster menyeringit agak ragu. Dia ingat rasa tidak nyaman jika ada physis orang lain yang masuk ke dirinya.


“Ya, tapi tolong! Aku penasaran banget. Aku harus lihat dengan mata kepala sendiri.” Kata Harsa. “Bentar aja!!”


Dengan ragu-ragu, Aster mengangguk. Dalam sekejap, Harsa memasukkan physisnya ke badan Aster. Dengan cara itu, dia bisa mempersepsi aliran physis dalam tubuh Aster. Harsa berharap dia dapat memasukkan vasalnya dalam roh Aster, sama seperti Adi memasukkan vasalnya untuk mengajari Harsa membuka Kainya, namun Harsa tidak berhasil menemukan apa-apa. Daripada lorong putih yang terbuat dari marmer, dia menemukan sebuah bola kristal putih kecil bersinar tanpa noda, penuh dengan physis.


“Wow.” Kata Harsa menarik physisnya. Dia masih tertegun memikirkan apa yang baru dilakukan oleh Aster.


“Hehehe. Hebat kan?” Kata Aster bangga.


“Iya, hebat.” Aku Harsa. “Apa itu? Seperti cadangan physis, tapi bukan Ka-” Kata-kata terhenti ketika menyadari raut muka Aster mulai berubah curiga.


“Heeh?” Aster memancingnya untuk terus berbicara.


“Sa, apa maksudmu dengan bukan Kai? Memangnya Kai itu sebenarnya seperti apa?” Desak Aster sementara Harsa mulai berkeringat dingin, tidak tahu apa yang harus dia jawab. Kalau dia menjelaskan Kai dengan rinci, Aster sudah pasti sadar kalau dia bukan manusia biasa? Bagaimana dia bisa menjelaskan Dunia Roh yang ada di balik Kai?


Untunglah pertanyaan Aster terpotong oleh suara bel kencang tanda waktu istirahat mereka sudah berakhir. Tanpa menunggu Aster, Harsa berbalik keluar dari ruang klub sulap. “Sudah, ya! Aku ke kelas dulu!” Katanya berlari menghindari pertanyaan menyelidik Aster.


***


Pulang sekolah, Harsa, Elis, dan Barasa, berkumpul di kantin untuk membicarakan festival sekolah. Elis menyampaikan pada mereka tentang bagaimana jadwal pentas musikal mereka, Dengan rinci, dia menjelaskan kapan Harsa dan Barasa harus menaruh kursi dan properti drama di panggung, dan kapan mereka harus menariknya keluar dari panggung.  Setelah selesai membahas pentas, Elis menanyakan hal tak terduga pada Harsa.


“Sa, omong-omong, tadi kamu bicara apa sama senior itu?” tanyanya sambil menatap Harsa tepat di mata.


“Hah? Senior?” Tanya Barasa yang tidak tahu apa-apa karena sedang pergi ke kantin. “Kamu nggak dibully senior klub bela diri lagi’kan?”


“Bukan, kok. Maksudnya Aster.” Harsa membenarkan. “Tentang kegiatan klub.”

__ADS_1


“Oooh.” Kata Elis menganguk-angguk.


“Memangnya kenapa?” tanya Harsa.


“Nggak, kok. Habis. Ngajak ngobrol berdua sih, jadi aku pikir ada apa-apa.” Kata Elis. Ketika Harsa masih menatapnya bingung, dia menambahkan. “Aku pikir dia nembak kamu atau gimana.”


“Hah?! Nggak, kok!!” Bantah Harsa langsung. “Aku dan Aster gak sedekat itu. Lagian aku kan suka sa-” Mulut Harsa tertutup. Mukanya merah bagai tomat ketika dia hampir menyatakan perasaannya.


Barasa tertawa. “Hayoloh! Suka sama siapa?” Dia menguncangkan badan Harsa, memaksanya mengaku. Barasa tidak tahu tentang perasaan Harsa. Dia benar-benar penasaran.


“Nggak, nggak. Sudah, diam!” Pinta Harsa.


“Ngomong dong. Jangan bikin penasaran.” Tuntut Elis juga.


Urgh! Kenapa aku hampir keceplosan mulu sih? Keluh Harsa dalam dirinya sendiri. “Nggak, kok! Aku cuma salah ngomong aja!”


“Benar salah ngomong?” Barasa tidak percaya.


Harsa terus menutup mulutnya hingga Elis terpaksa pulang karena sudah terlalu sore. Sementara Barasa, yang bisa pulang kapan saja, terus menginterogasi Harsa.


“Bilang, nggak! Kalau nggak bilang, bukan teman loh!” Paksa Barasa.


Harsa menghembuskan nafas panjang. “Iya, ya, deh! Aku bilang! Tapi janji nggak bocor ke Elis!”


“Iya, tenang!” Kata Barsa membuat gerakan mengunci di depan bibirnya. “Aku bisa jaga rahasia, kok! Siapa? Gina? Anak-anak cowo di kelas pada bilang dia cantik dan hits!”


“Gimana kalau aku bilang orang itu Elis?” Tanya Harsa serius.


Wajah Barasa berubah dari bersemangat, kaget, kemudian murung. Suana ceria di antara mereka berubah menjadi lesu. “Beneran?”


“Beneran. Tadi aku hampir aja….” Suara Harsa hilang ketika melihat pandangan Barasa berubah galau..


Kecemasan Harsa sejak masa MOS berubah menjadi nyata. Kebaikan Barasa yang selalu menawarkan bantuan pada Elis, cara Barasa memandang Elis, dan bagaimana Barasa selalu mengajak Elis mengobrol. Dalam hati kecilnya, Harsa sudah tahu, tapi dia tak mau mengaku. Sekarang, kenyataan itu seperti dilemparkan ke mukanya.

__ADS_1


Mereka bertiga sudah berteman hampir satu bulan penuh dan pertemanan mereka sangat menyenangkan. Namun sekarang, Barasa merasa sangat terganggu. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk berkata jujur. “Jangan. Soalnya, aku juga suka Elis.”


__ADS_2