Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Sebab-Akibat


__ADS_3

Harsa tidak bisa mempercayainya. Gilda adalah kasarewang yang kuat, percaya diri, dan adi. Walaupun dia tak memiliki keselarasan dengan dekrit tertentu, Gilda memiliki vasal yang kuat. Dia dapat menarik dan mengendalikan physis dalam jumlah besar. Dia juga cepat, pandai menggunakan pedang, dan punya satu gudang pengalaman bertarung. Oleh karena itu, dia tak bisa percaya kalau Gilda sudah tiada.


“Terlempar ke Dunia Roh itu…. Beda dengan mati, kan?” tanya Harsa dengan suara serak. Berharap sedikit saja…


“Itu sama.” Jawab Adi pelan dan khusyuk.


“Apa kak Adi nggak sedih?”


“Aku sedih.” Kata Adi. “Tapi ini adalah nasib seorang tentara Kasarewang. Melihat kematian teman-temanku sendiri lebih seperti melihat bagaimana nasibku nanti, kalau aku tidak semakin kuat.”


Harsa termenung sendiri. “Kak Adi… Ini bukan pertama kalinya kakak kehilangan teman ya?”


Adi terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Ya.”


Resa dan Costa membawa tubuh Gilda kembali ke Drestha. Dari atas punggung Adi, Harsa menangkap air mata Resa yang mengenang dan jatuh bagai air hujan. Dia membawa Gilda sambil melolong dengan kesedihan.


“Ini pertama kalinya Resa kehilangan teman satu tim.” Kata Adi ikut berkaca-kaca. “Mengingatkanku tentang bagaimana aku dulu.”


Sementara itu, Edi dan Adi membawa Harsa dan barasa kembali ke Dunia Material. Atau lebih tepatnya, ke sekolah Harsa. Di sana guru-guru melihatnya dengan wajah khawatir. Bukan hanya tiga orang sudah terluka parah, mereka juga tidak bisa mengidentifikasi keberadaan penyerang anak-a3nak ini. Ketika mereka melihat Barasa tak sadarkan diri, guru-guru itu telah kehilangan harapan, meski Edi bersikeras untuk menenangkan mereka. Untuk ketiga kalinya, mereka harus memanggil ambulans ke sekolah.


Harsa ikut menemani Barasa di ambulans. Dia melihat wajah kawannya yang tak sadarkan diri dengan sedih. Barasa punya masa depan yang cerah. Dia belajar dengan giat untuk masuk universitas terbaik. Dia tidak boleh menghabiskan hari-harinya di sini.


Perasaan sedih itu berubah menjadi marah. Beraninya, beraninya para formskitter itu melukai teman-temannya. Ya. Bukan dia yang membawa bahaya untuk Barasa, namun formskitter itu sendiri yang mencari gara-gara. Tiga ruang rawat inap di rumah sakit mereka pakai untuk Elis, Barsa, dan Lisa. Tak lama rumah sakit itu penuh dengan orang-orang yang Harsa kenal, termasuk ibunya.

__ADS_1


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Darma sambil memegang muka Harsa.


“… Aku tak terluka parah.” Kata Harsa sejujurnya. Tangan kirinya yang menghitam berdenyut sakit sedikit. Dia tidak bisa mengatakan kalau dia baik-baik saja, tidak setelah apa yang dia alami. Dalam hatinya dia tidak baik-baik saja. Harsa tidak bisa melihat kakek dan adik Barasa tepat di mata mereka. Dia juga tak bisa melihat orangtua Elis di depan mata.


“Ma, bisakah kita membantu biaya pengobatan mereka sedikit saja? Barasa terluka karena melindungiku.” Pinta Harsa.


“Kita akan memikirkan satu dua cara.” Kata Darma menenangkan Harsa.


Elis merupakan orang yang pertama kali bangun. Luka di lehernya sangatlah fatal, namun untunglah, dengan dia cepat dibawa ke rumah sakit, sehingga nyawa Elis tertolong. Setelah hilang kesadaran beberapa jam, akhir Elis bangun di subuh hari itu.


“Uaahh!!” Teriak Elis begitu bangun. Dalam pikiran dia masih berhadapan dengan manusia formskitter itu. “Harsa! Apa Harsa baik-baik saja?” tanyanya pada ibunya.


“Aku nggak apa-apa.” Kata Harsa dari belakang. “Om, tante. Maaf ya Elis jadi terluka.”


“Aku bakalan sembuh, kok.” Kata Elis, meski wajahnya masih meringis sakit.


“Ooh…” Elis tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.


Kedua orangtua Elis menangkap sinyal untuk meninggalkan ruang kamar rumah sakit itu. Mereka meninggal Harsa dan Elis berdua. Harsa, punya banyak hal yang untuk dikatakan pada Elis.


“Apa yang terjadi?” tanya Elis bingung. “Apa mereka orang-orang jahat yang mengincarmu?”


Harsa menyeret satu kursi dan duduk di samping meja Elis. “Ya. Elis, dengar… Aku harus bilang sesuatu…”

__ADS_1


“Ya?”


“Barasa menyukaimu. Dia orang yang baik. Begitu dia bangun, kamu lebih baik bicaranya padanya.” Kata Harsa.


Elis menatapnya tak percaya. “Apa?! Itu yang mau kamu katakana padaku?”


“Ya.” Kata Harsa yakin. Dia berusaha tersenyum, tapi tidak bisa. “Dia sudah suka kamu dari lama.”


Lalu, setelah itu, Harsa buru-buru keluar dari kamar Elis. Dia harus buru-buru keluar sebelum air matanya jatuh bergelimpangan. Dia keluar dari kamar Elis dan berlari menuju toilet sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Hatinya yang terasa sakit. Di dalam kamar mandi, dia tidak bisa menahan diri untuk menangisi keputusannya sendiri. Akan tetapi, dia tahu saat itu , dia tahu dia tidak akan bisa membangun hubungan dengan Elis. Tidak kalau dia terus berada di dalam bahaya seperti ini. Tidak kalau dia harus melihat Elis terluka.


Harsa menghabiskan  lima belas menit dalam sana. Ketika keluar, dia mendapatkan kabar bahwa kondisi Barasa telah stabil. Harsa mendesah lega. Dia mengangguk.


“Baguslah.” Kata Harsa pada Edi.


“Aku tidak menyangka kita akan kehilangan Gilda.” Aku Edi menyesal.


“Formskitter yang bertarung dengan Gilda. Dia bisa menyembunyikan aura dan physisnya dengan baik. Bukan saja aura formskitter itu, tapi juga aura teman-temannya.” Pikir Harsa. Punggungnya bergidik. “Sekarang aku bahkan takut kalau dia sedang mengawasi kita.”


Harsa melihat ke sekelilingnya. Mulai dari semut, orang-orang di rumah sakit, dan cicak bisa jadi formskitter itu. Dulu Harsa sering takut ketika merasakan aura formskitter, sekarang, dia takut kalau dia tidak bisa merasakan aura formskitter sama sekali.


“Aku tak mengerti tapi, bagaimana formskitter bertudung hitam itu bisa menghabisi Gilda hanya dengan menyentuhnya?”


“Dia adalah formskitter yang menggunakan Dekrit Kehidupan Tingkat Tinggi. Dia membunuh Gilda dengan menghancurkan vasal dan pintu Kainya, sehingga Gilda terlempar ke balik Dunia Roh.” Adi ikut bergabung ke pembicaraan mereka. “Aku ingat tudung hitam itu dengan jelas. Seperti itulah dia membunuh ibuku.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2