Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Air Mata Aster


__ADS_3

Kata-kata percaya diri Harsa mengenai dirinya yang biasa rangking tiga bukan ucapan sembarang semata. Di hari minggu sore, Adi sudah memberikan anggukan tanda persetujuan setelah melihat aura Harsa yang akhirnya cukup lebar, tipis, dan khamir. “Tinggal bagaimana caranya agar aura kamu lebih lebar lagi untuk mendeteksi kedatangan formskitter.”


“Bagus.” Katanya mengangguk-angguk. “Pelajaran selanjutnya, kamu harus bisa menyerap physis.”


Harsa mengelap keringatnya dan melihat matahari yang sudah mulai terbenam di sabana di Tepi Dunia Roh. “Umm. Kak Adi masih mau lanjut?” tanya Harsa.


Adi menatap matahari yang sudah mulai terbenam. “Ya, kurasa kita tidak punya pilihan. TAPI. Kamu akan harus latihan di rumah. Selama sepuluh jam sehari, kamu harus bisa tetap mengeluarkan auramu. Terus. Jangan lupa coba latihan menyerap physis.”


Harsa menelan ludah. “Yaps.” Katanya sambil menangis dalam hati merenungkan nasib PR lain dari guru matematika dan fisikanya.


***


Hari Rabu, sepulang sekolah, ada satu sosok tambahan selain Harsa dan Aster di ruang klub sulap. Wajah Aster menyeringai lebar penuh kepuasan melihat Barasa menampakkan dirinya di ruang klub sihir. Barasa memalingkan matanya dan pipinya memerah karena malu. Sebelumnya, Barasa menolak dengan gigih untuk ikut klub sulap, tapi sekarang di sinilah dia.


“Ehm.” Kata Aster membuka percakapan mereka. “Senang kamu bisa datang.”


“Aku baru mau lihat-lihat saja kegiatannya kayak apa. Aku belum tentu mau join klub sulap kok.” Kata Barasa malu-malu.


“Iya, iya.” Kata Aster dengan senyum puas. “Lihat saja baik-baik.”


Klub sulap sebenarnya tidak punya kegiatan terstruktur khusus. Mereka memulai kegiatannya dengan medalami sihir masing-masing. Dua minggu ke belakang, Harsa telah sebaik mungkin menjelaskan apa itu physis pada Aster, namun Aster penjelasan Harsa tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, Aster sudah menjelaskan bagaimana cara mengendalikan elemen air pada Harsa, namun sampai sekarang, Harsa tidak bisa mendeteksi elemen lain di luar elemen api. Pada akhirnya. Harsa memutuskan untuk mendalami ilmunya sendiri.


Jadi, dalam kelas itu, kegiatan Aster adalah merenungi physis dan Harsa mencoba menyerap physis. Dari luar, kegiatan mereka tidak lebih dari duduk-duduk dan berkonsentrasi saja. Barasa, yang baru pertama kali ikut, melihat Aster dan Harsa dengan tatapan heran. Setelah sekian menit, dia menatap Aster dari kiri ke kanan.


“Hm, sorry kita ngapain ya?” tanyanya bingung.


“Aku sedang mencoba menyerap physis.” Jawab Harsa tanpa membuka mata, tidak mau merusak konsentrasinya. Menyerap physis sangat berbeda dengan hanya mendeteksi physis dengan aura. Setelah mengetahui keberadaaan physis di sekitarnya dengan aura, Harsa harus menarik physis itu masuk dalam dirinya. Berbeda dengan menarik elemen, menarik physis tidak semudah yang dia kira. Jauh lebih cepat dan mudah mengisi kembali tenaga dan perutnya lewat makanan dan beristirahat, tapi Adi mengharuskannya mempelajari ilmu ini, karena Adi bilang, bisa saja dia tidak akan punya kesempatan makan. Apalagi jika di sekitar tidak ada elemen api yang bisa dimakan. “Masa kamu mau mati karena tidak punya tenaga? Padahal ada banyak physis di sekitarmu.” Katanya begitu, meski Harsa sendiri bingung apakah dia akan pernah menghadapi situasi kelaparan tanpa makanan.


“Physis? Maksudmu tenaga dalam?” Kata Barasa membenarkan.


“Iya, kalau kata kamu begitu.” Harsa tak peduli.

__ADS_1


“Tenaga dalam?” kali ini Aster tidak bisa menahan penasaranya. “Apa itu?”


“Sama saja seperti physis.” Kata Harsa.


“Nggak. Bukan, tenaga dalam itu bukan sihir.”


“Bentar-bentar.” Kata Aster.  “Bagaimana kamu bisa merasakan tenaga dalam?”


“Uuhh. Dengan latihan. Ketika melakukan gerakan-gerakan tertentu, ada tenaga yang terasa mengalir dalam badan kamu.” Kata Barasa.


“Ajarkan gerakan-gerakan itu.” Pinta Aster sungguh-sungguh.


Harsa terbelalak. Kurang dari satu menit, kegiatan klub sihir mereka berubah menjadi kegiatan klub bela diri. Awalnya Harsa terganggu, tapi setelah dia perhatikan, gerakan-gerakan itu sangat berguna untuk bertarung melawan formskitter. Pada akhirnya, dia juga ikut belajar dari Barasa.


“Huh.” Kata Barasa  setelah dua jam mempraktekan gerakan-gerakannya pada Harsa dan Aster. Tanpa satu titik pun keringat, dia mengeluh. “Jadi ini, kegiatan klub sulap?!” Katanya tidak percaya.


“Hehehe.” Aster tartawa bangga. “Iya, aku dan Harsa fokus belajar sihir di kegiatan klub.” Aster mengakui.  Wajah dan badannya penuh keringat dan nafasnya terengah-engah. “Tapi kalau kamu mau lihat yang spesial, sini kutunjukkan.”


Mata Barasa mengerjap-ngerjap sangking kagetnya. “What? Gimana cara kamu melakukannya?”


“Hehe. Dengan sihir.” Kata Aster puas melihat kekaguman Barasa, yang masih terkagum-kagum dengan campuran warna yang memenuhi ruang kelas. Tidak berhenti sampai di situ, Aster mengendalikan gas warna-warni yang ada di sektiar ruangan menjadi berbagai macam bentuk. Gas berwarna merah berkumpul menjadi matahari, gas berwarna hijau menjadi dedaunan, dan gas berwarna putih menjadi bunga-bunga melati.


“Eng? Nggak mungkin. Ini ada triknya kan?” Barasa masih tidak percaya.


“Nggak kok.” Kata Harsa membela Aster. “Ini benar-benar sihir.” Harsa kemudian mengeluarkan bola api dari tangannya.


“Woah!!” Barasa berseru kaget. “Kalian berdua indigo?!”


“Nggak tahu. Aku cuma mengubah physis. Tenaga dalam yang selama ini kamu gunakan juga.” Kata Harsa. “Aku nggak bisa lihat hantu.”


“Aku juga nggak pernah. Kecuali bayangan hitam yang waktu itu ingin membunuh.” Kata Aster, sambil melihat Harsa. “Apa bayangan itu tidak akan datang lagi?”

__ADS_1


“Legenda Bayangan?”


Formskitter. Kata Harsa dalam hati. “Hm, nggak perlu khawatir.” Kali ini, aku akan jadi cukup kuat untuk menghadapi formskitter itu sendiri, tanpa membahayakan kalian. Janji Harsa pada dirinya sendiri.


Aster mengangguk dan berpaling dengan senyum puas pada Barasa. “Gimana? Apa kamu tertarik ikut klub sihir?” tanya Aster dengan dada membusung bangga.


Muka Barasa memerah malu, tapi dia tetap mengaku. “Ya, mungkin aku akan datang beberapa kali lagi, tapi aku akan mendahulukan bantu-bantu klub musik, karena aku sudah janji. Bantu-bantu untuk festival sekolah.”


“Oh, iya. Festival sekolah… Hm tapi kalau kamu ikut terdaftar sebagai anggota aktif klub sulap, dan menunjukkan muka hanya untuk sekadar tanda tangan daftar hadir dua minggu sekali, bisa kan?” tanya Aster setengah memaksa, setengah memohon, dan penuh harapan. Senyum lebar dan pandangan matanya penuh dengan permintaan.


Barasa mengangkat tangannya tanda menyerah. “Baiklah.”


“YES!!” Aster melompat-lompat sangking kegirangannya. Tidak biasanya anak yang pendiam dan malu-malu itu mengeluarkan energi yang tinggi. “YES! YES! Tetap ada ruang klub untuk latihan sihir.”


Harsa ikut tertawa senang. “Haha! Selamat, ya.” Katanya. Bahkan, keceriaan itu sampai menular hingga ke Barasa. Sebuah senyum kecil tersinggung di wajahnya.


“Ya, ampun, guys!” Teriak Aster senang sambil memegang tangan mereka berdua. “Makasih, banyak!! Aku nggak pernah berpikir bisa punya teman belajar sihir!” Sangking senangnya, Aster dipenuhi air mata haru.


“Woah!! Aku juga nggak nyangka.” Harsa kaget mata Aster sampai berkaca-kaca. “Selama ini pasti kamu frustasi tidak bisa mengobrol soal sihir sama siapa-siapa.” Kata Harsa membayangkan perasaan Aster.


“Hehe. Iya.” Kata Aster mengelap kedua matanya. “Makasih juga Barasa. Sudah mau join klub sulap sampai klub ini bisa bertahan. Makasih juga udah mengajariku cara merasakan physis.”


“Haah? Maksudmu tenaga dalam? Cara tadi benar-benar membantu?”


“Physis!” Kata Aster dan Harsa bersamaan.


“Membantu, kok. Membantu banget malah.” Kata Aster dengan anggukan percaya diri. Kemudian dia memandang Harsa. “Tunggu saja, sebentar lagi aku benar-benar bisa memerintahkan physis.” Katanya yakin.


 


 

__ADS_1


__ADS_2