Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Fasilitas Tersembunyi Formskitter (1)


__ADS_3

Badannya  terasa berat seperti batu  dan otot-ototnya kaku seperti engsel besi berkarat. Ketika dia membuka mata, pemandangan di sekitarnya berputar-putar. Tak lama setelah itu, perut Harsa dipenuhi rasa mual. Dia kembali menutup matanya, dan tak lama, dia sudah kembali kehilangan kesadaran.


Ketika dia berhasil membuka matanya kembali, langit biru di atas kepala Harsa masih berputar-putar, namun akhirnya dia mampu bangun. Dia berada dalam sebuah gerobak yang ditarik oleh kuda-kuda bertanduk. Tidak ada yang menuntun kuda-kuda itu. Mereka berjalan sendiri, tahu pasti jalan mana yang harus dituju. Di kiri-kanannya embun dingin pagi-pagi berhembus mencakar pipi Harsa, sementara panas terik matahari di atasnya tidak membantu beban berat kepala Harsa. Dari seberapa kering tenggkoraknya dan seberapa berat badannya, Harsa menyimpulkan bahwa dia sudah tidak sadarkan diri beberapa hari. Kalau saja dia hanya seorang manusia biasa, dia pasti telah meninggal karena dehidrasi. Namun, dengan membuka Kainya sedikit, Harsa dapat memulihkan kondisi tubuhnya sedikit lebih cepat.


Di depannya, seorang pria berambut hampir botak dengan senyum mengerikan duduk memperhatikan Harsa. Dari dalam dirinya, Harsa dapat merasakan auara mengerikan yang biasanya dia temukan dalam formskitter. Aura itu, jelas menekan Harsa yang masih merasa badannya terasa berat.


“Sudah sadar?” tanya laki-laki mengerikan itu. Ah, tidak. Bukan laki-laki, dia itu tidak salah lagi, dari auranya merupakan formskitter. Namun, Harsa kurang dapat memahahami kenapa formskitter itu dapat berbicara bahasa Indonesia.


Hal pertama yang Harsa coba lakukan adalah mengalirkan physis ke seluruh tubuhnya. Tenaganya seperti kembali, namun dia segera menyadari bahwa tangan dan kakinya sedang terikat. Dari ikatan tersebut, ada satu batu akik yang berisi mantra untuk menahan aliran physisnya. Dia tidak bisa mengeluarkan physis macam apapun dari tubuhnya. Dia tidak dapat melebarkan auranya. Harsa meronta-ronta untuk melepaskan diri dari ikatan dengan mantrai itu.


Usahanya sia-sia.


“Kekekeke. Coba saja terus. Bukan salahku kalau tanganmu putus.” Kata formskitter itu menik,ati pemandangan di depannya. “Sungguh mudah menangkapmu kalau nggak ada tentara sialan itu.”


“Kak Adi?” tanyanya bingung. Suaranya serak karena sudah lama tak minum.


“Hehehe. Maaf, aku nggak peduli dengan siapa namanya.” Kata formskitter tak peduli.


Jujur saat itu Harsa takut dan panik. Ini pertama kalinya sejak hampir dua tahun lalu dia begitu tak berdaya ketika berada di depan formskitter.


Tenang, Sa. Tenang. Katanya pada diri sendiri. Coba lihat sisi baiknya. Kamu masih hidup. Saat itulah Harsa baru sadar. Tunggu dulu, kenapa aku masih hidup? Bukankah formskitter sangat agresif terhadap Kasarewang?

__ADS_1


“Kenapa kamu nggak langsung membunuhku?” tanya Harsa sambil menyadari sisi baik kedua, dia bisa bicara.


“Oohhh, tentu saja kedengarannya itu akan sangat menyenangkan. Jika saja aku tak punya janji-janji dengan manusia-manusia bodoh yang tak tahu diri.”


Dahi Harsa berkerut tebal. Janji dengan manusia yang tak tahu diri? Apa? Janji apa dengan manusia? “Janji?” tanyanya cemas.


“Ya, mereka ingin bereksperimen dengan setengah Kasarewang sepertimu. Kekekeke. Melihatmu menderita tak buruk juga.” Katanya senang. “Setelah itu, mungkin aku bisa mencoba menyatukan diriku denganmu.”


Harsa masih belum paham bagaimana yang formskitter itu maksud dengan menyatukan diri, tapi dia tahu maksud dari formskitter itu pasti buruk. “Lepaskan aku.” Tuntut Harsa dari kengeriannya.


“Kekekekeke. Gampang sekali kamu mintanya. Tentu saja tidak!!”


Sekarang Harsa benar-benar sadar dirinya sedang berada dalam kondisi terpojok. Dia bahkan tidak tahu dimana dirinya berada. Satu hal yang pastikan, Harsa masih berada di Tepi Dunia Roh karena binatang sihir kuda bertanduk satu itu, lalu kedua karena beratnya gravitasi dari sekitar lingkungannya.


“Kekekekekekekekeke.”


Harsa telah berhenti mencoba mendapatkan infromasi dari formskitter itu sejak lama. Pascanya kata-kata formskitter itu seperti racun yang membuat dirinya ketaktuan. Dia hanya menjawab pertayaan Harsa, apapun itu, dengan kata-kata seperti ‘kau pasti mampus’, ‘tidak akan yang menolongmu’, atau ‘tamatlah riwayatmu jadi kelinci percobaan’. Tak lupa kata-kata itu disertaai tawa dan senyumnya yang mengerikan.


Tanpa perlu lampu, kuda-kuda bertanduk itu berjalan masuk ke kedalaman gua tanpa tersenggol oleh batu sekecil apapun. Tak lama, mereka seperti menuruni tangga ke fasilitas bawah tanah. Di saat itu, barulah ada sedikit cahaya dari lampu listrik. Dia dimasukkan dalam sebuah sel kecil dari besi yang dingin, lembab, dan gelap. Tak ada jalan keluar lain selain jeruji bersi yang menjadi pintu sel tahanan dan satu lubang kecil untuk saluran udara, yang entah, mengarah ke mana. Entah kenapa, akhirnya setelah sendirian, rasa panik dan takut Harsa keluar dalam bentuk air mata. Setelah dibiarkan beberapa menit sendirian, satu orang berjas lab putih masuk dalam cellnya. Harsa tak dapat melihat wajahnya karena gelapnya sel itu, namun dari tak adanya physis dia dapat tahu kalau pria itu merupakan manusia. Dahi Harsa berkerut melihat bagaimana manusia bisa berdiri di Tepi Dunia Roh, namun dia segera menyadari bahwa seperti Adit, manusia itu telah bergabung dengan formskitter.


“Please let me go.” Pinta Harsa memelas dalam bahasa Inggris. Pria itu tidak bereaksi ketika Harsa berkata-kata dalam bahasa Indonesia. Ketika Harsa berbicara dalam bahasa Inggris, untuk satu detik pria itu tampak ragu-ragu.

__ADS_1


“What? How can you speak-?” Namun, sisi formskitternya mengambil alih. “Hissss!!!”


“Please, help! I am a half-human, please.” Pinta Harsa lagi. Kali ini tidak ada tanggapan.


Pria itu menyeret Harsa yang kesulitan berjalan karena kedua kakinya terikat ke sebuah ruangan putih terang. Mata Harsa tersengat karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan terangnya ruangan itu. Tubuhnya diikat pada sebuah meja bedah di tengah ruangan dengan tali pengikat. Setelah dia diikat, empat buah aura menekan masuk ke ruangan itu. Satu terasa tak mengerikan seperti dua yang lainnya. Empat formskitter masuk ke ruangan serba putih itu.


Harsa memperkirakan, satu formskitter yang tak terlalu kuat telah bergabung dengan manusia yang memakai jas laboratorium itu. Satu formskitter lainnya adalah formskitter yang menculiknya dan membawanya ke tempat ini. Dia datang bersama satu sosok formskitter berbentuk manusia dengan tinggi dua meter dengan mengenakan jubah hitam serta topeng hitam. Satu sosok formskitter lain yang datang bersamanya merupakan kucing hitam yang dia gendong dengan manisnya.


Dahi Harsa mengerinyit merasakan seluruh aura yang bertubrukan itu. Apalagi dia tidak dapat mempertahankan dirinya dengan auranya sendiri.


“Oops. Tampaknya kehadiran kita cukup menekan. Kekekeke.” Kata formskitter yang menculiknya. “Aku akan menekan auraku.” Setelah itu, auranya seperti hilang. Bahkan, keberadaannya juga seperti hilang. Kalau Harsa tidak yakin dirinya berada di sana, dia tidak akan dapat melihat sosoknya.


Pantas saja aku tidak merasakan keberadaan formskitter sama sekali waktu sedang beristirahat. Pikir Harsa.


Selanjutnya, formskitter-formskitter itu seperti berkomunikasi satu salama lain. Mereka saling lirik, meski tak ada kata-kata yang terucap. Sementara itu, aura mereka membentuk riak-riak physis kecil. Butuh waktu lama untuk Harsa meyadari bahwa mereka berkomunikasi dengan saling mengirimkan kode morse tertentu dalam bentuk physis.


Setelah beberapa menit lamanya mereka berdebat. Formskitter penculiknya tampak kalah untuk beberapa waktu, tapi senyum mengerikannya kembali secepat kilat. Si formskitter bertopeng dan berjubah hitam itu, mengambil formskitter berbentuk kucing hitam yang dengan kasar. Bukan, dia mengambil inti formskitter dari tubuh kucing itu. Formskitter itu mengambil lengan kiri Harsa dan mulai memasukkan physisnya ke dalam tubuh Harsa.


“Stopp!!” Teriaknya merasa tak nyaman. Lebih mengerikan lagi, physis formskitter itu mulai bertarung dengan physisnya sendiri untuk mengambil alih tubuhnya. Harsa membuka Kainya lebar-lebar, dan mengirimkan sebanyak mungkin physis untuk bertarung melawan physis formskitter itu. Di tengah pertarungan itu, dia dapat merasakan physis formskitter lain masuk. Physis formskitter yang pertama mulai berubah, atau mengubah baik physisnya dan physis formskitter kedua menjadi satu physis lain yang tidak dapat Harsa kendalikan. Selama proses sihir itu berlangsung, kepanikan Harsa sudah mencapai puncaknya.


“Stop!! Berhenti!! Apa yang kau lakukan dengan tubuhku?!”

__ADS_1


Di lengannya mulai muncul urat-urat hitam dan dia mulai bertarung untuk mempertahankan kesadarannya sendiri. Rasanya seperti ada satu pikiran asing yang berbicara dengan nada membujuk, berusaha untuk mengambil alih pikirannya.


“Stop! Tolong, stop!!” Teriaknya putus asa.


__ADS_2