Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Adi Wijaya vs Kereta Api


__ADS_3

Sampai di rumah Harsa, matahari telah tenggelam. Begitu menjejak pagar rumahnya, Harsa bisa merasakan aura tipis Adi sudah mencuar dari dalam rumah. Di dalam dia lagi-lagi sedang menikmati teh manis di meja keluarga. Untunglah wujudnya sudah seperti manusia, sehingga Barasa tidak terlalu curiga, walaupun dia masih mengenakan seragam tentaranya yang biasa.


“Kak Adi!!” Teriakan Harsa mengejutkan Adi, hingga kakak laki-laki itu tersedak. Tanpa memedulikan suara batuk kakaknya, Harsa melanjutkan. “Kak Adi, bisa cari orang pakai physis nggak?”


“Hah? Apa? Ya ampun aku nggak tahu minum teh bisa bikin batuk.” Kata Adi bingung.


“Temanku ada yang hilang.” Secara singkat Harsa menjelaskan situasinya pada Adi.


Adi menghela nafas panjang. “Kamu pikir aku ini pencari manusia hilang kah?”


“Nggaklah! Ini aku minta tolong, Kak! Minta tolong!! Aku nggak minta Kak Adi untuk cari semua orang hilang di dunia, kok! Sekali ini saja. Kalau memang benar-benar ada bahaya yang menimpa Aster, aku nggak akan bisa tidur nyenyak lagi!” Pinta Harsa putus asa.


Adi memandang Harsa sambil berpikir.


“Kak ayolah, tolong aku! Aku takut Aster kenapa-napa karena…” Harsa melirik Barasa yang berdiri di belakangnya dengan khawatir. “Waktu dia hilang, Aster kelihatan curiga sekali dengan aku, tapi aku nggak tahu kenapa. Dia juga baru kenalan dengan teman dari internet yang bisa sihir dan memberitahunya soal, eee, soal…” Harsa kembali melirik Barasa yang sekarang balik memandang dengan heran. “Aku ingat papa pernah bilang tentang organisasi jahat yang mencari…”


“Cukup!” Potong Adi kesal. Dia berdiri dengan kasar, kemudian dia masuk ke kamar yang dikhususkan untuknya. “Kamu merepotkan sekali, tahu!”


Harsa jatuh terduduk lemas di kursi meja makan. “Aku nggak percaya dia nggak mau bantu.”


“Lalu gimana?” Tanya Barasa di belakangnya.


Harsa menggeleng. “Aku nggak tahu lagi harus ngapain.” Seandainya aku cukup kuat, cukup punya banyak physis untuk melebarkan auraku untuk menyeliputi satu kota…. Harsa menggeleng-gelengkan kepalanya sedih. Dia tidak mau lagi tertarik pada pemikran ‘seandainya’. Kali ini, Barasa tidak bertanya lagi. Dia hanya ikut duduk di meja makan di sebelah Harsa, turut berbagi rasa frustasi dan bingung dengan Harsa.


Di tengah-tengah keputusasaan mereka, Erik muncul dari dapur. “Jangan khawatir. Dia mau bantu kok. Dia mungkin kesal padamu, tapi dia akan bantu kok.”


“Papa?” Harsa mengangkat kepalanya, melihat ke mata Erik.


Erik tersenyum. “Lihat aja!”


Tepat setelah kata-kata Erik, Adi keluar dari kamarnya. Dia melemparkan satu buah cincin batu akik pada Harsa. Dalam cincin itu, Harsa bisa merasakan ada physis yang besar, bahkan jauh lebih besar dari physis yang ada dalam batu akik yang dia temukan di kamar Aster. “Apa ini?”


“Asuransimu.” Jawab Adi. “Cincin itu menyimpan cadangan physis untuk kamu gunakan, kalau-kalau physismu tidak cukup. Aku tidak begitu paham bahaya apa yang kamu maksud, tapi kalau memang berbahaya, lebih baik kamu pegang itu.”


“Woow. Aku nggak menyangka ada teknologi seperti itu.” Kata Harsa terkagum.


“Kamu tunggu apa lagi?” tanya Adi.


***


Mereka segera keluar rumah, namun Adi sudah langsung berhenti. “Jadi, kemana kita pergi?”


“Justru itu, aku ingin kak Adi mencari dimana Aster.” Kata Harsa.


“Gimana aku bisa cari Aster kalau aku nggak pernah ketemu orangnya?”  Keluh Adi.


“Kak Adi pernah ketemu. Itu waktu itu di hari MOS, pas ada form-, Legenda Bayangan menyerangku di sekolah. Legenda Bayangan itu melukai Barasa dan ada satu anak perempuan lagi. Dia yang Namanya Aster.”


Adi mengubrak-abrik ingatannya sampai ketemu. “Oooh. Anak perempuan yang itu.” Dia mengangguk-angguk. “Yang ada di kantungmu itu, physis punya, eee siapa tadi namanya?”


“Aster.” Jawab Barasa.


“Ya, Aster.”


Harsa mengeluarkan batu akik yang dia temukan dari kamar Aster. “Kayaknya, sih iya kak. Bisa Kak Adi lacak?”


“Sejujurnya sejauh ini aku tidak merasakan keberadaan temanmu itu di kota ini.” Kata Adi. “Tapi dia meninggalkan jejak physisnya ke arah selatan.” Kata Adi.


“Kak Adi nggak bisa coba cari dimana posisi Aster tepatnya dimana?”

__ADS_1


“Huh. Jangan remehkan aku. Kalau mengerahkan setengah physisku, aku rasa aku bisa menemukannya.” Kata Adi. Dia mengerahkan konsentrasi penuhnya dalam memperlebar auranya, lebih daripada yang biasa Adi lakukan. Selain melebar, Adi juga mengarahkan agar physisnya terarah ke mana Aster meninggalkan jejaknya.


Dahi Barasa juga berkerut merasakan aura Adi yang menguat, namun dia tetap menutup mulutnya.


“Ketemu.” Kata Adi yakin. “Aku rasa jaraknya sekitar tujuh puluh kilometer ke tenggara.”


Barasa dan Harsa bertatapan. “Tujuh puluh kilometer?! Kemana itu?”


“Ke arah sana.” Tunjuk Adi.


“Kak, maksudku ke kota mana?” tanya Harsa sabar.


Adi kembali membuang nafas keras-keras. “Kamu pikir aku tahu nama kota ini?”


“Ehm, Namanya Bandung sih, kak.” Jawab Barasa. Remaja laki-laki itu kebingungan kenapa ada orang yang tidak tahu nama kota dimana dia tinggal.


“Maaf, aku bukan orang sini.”


Barasa melempar tatapan pada Harsa. Dia kakakmu kan?


Harsa berusaha untuk tak putus asa. Dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi peta. “Kota yang tujuh puluh meter ke tenggara dari sini… Garut?”


“Ya, mungkin.” Kata Adi ragu. “Sudahlah. Kalau gitu, aku akan bawa kalian saja ke sana. Dengan physis, aku bisa mengangkat kalian berdua dan berlari dengan kecepatan tinggi.”


“Eh, iya. Bentar, kak! Kalau begitu teleportasi aja! Seperti Kak Adi biasa teleportasi dari sini ke mana? Kota Drestha?” Kata Harsa baru ingat Adi sering berteleportasi.


“Tidak dapat.” Kata Adi menggeleng. Dia lalu mengangkat tangannya untuk menunjukkan salah satu cincin batu akiknya. “Aku bisa berteleportasi dari kota Drestha ke rumah dan rumah ke kota Drestha karena aku punya cincin ini. Di dalam sini, ada mantra yang bisa mengubah physisku menjadi elemen ruang, tapi aku tidak bisa menyihir ruang karena aku tidak punya dekrit ruang. Teleportasiku hanya terbatas dari sini ke kota Drestha saja.” Jelas Adi panjang lebar.


“Oooh.” Kata Harsa kecewa. “Tapi physis kak Adi tinggal setengah setelah mencari Aster, bukan?”


“Ya.”


“Beda denganmu, aku bisa menyerap physis sembari bergerak dan mengeluarkan physis.” Kata Adi, lagi-lagi bukan berbangga, hanya mengatakan fakta.


“Hmmm. Bagaimana kalau naik kereta aja?” tanya Barasa memotong percakapan mereka. Sedikit-sedikit Barasa paham bahwa mereka sedang berdebat akan bagaimana metode perjalanan ke Garut, meski dia juga tak paham apa itu physis maupun elemen ruang. “Kayaknya masih ada tiket di aplikasi KAI.”


“Ide bagus! Aku pinjam kartu kredit mama, bentar!” Harsa langsung kembali masuk dalam rumah, kemudian keluar lagi dengan membawa kartu kredit milik Darma.


“Uah. Kartu kredit.” Komentar Barasa.


Sekarang, bagian Adi yang memandangi mereka seolah Harsa dan Barasa sedang berbicara dengan bahasa alien. “Kartu kredit? Kereta? Aplikasi?” Tanya Adi.


“Eehh? Bagaimana ya? Sudahlah. Nanti saja aku jelasinnya ke kakak.” Kata Harsa. Sementara itu Barasa memandang Harsa dengan tatapan, memangnya kakakmu tinggal di balik batu? Tentu dia tidak berani mengatakannya keras-keras.


“Kak Adi, Aster nggak kemana-mana kan? Kalau kita sampai ke Garut dua jam lagi pasti kekejar kan?” Tanya Barasa sambil melihat jadwal kereta yang masih tersedia. “Ini paling cepat jam tujuh tiga puluh berangkat. Nanti sampai di Garut jam sembilan lewat dua puluh menit. Sekarang udah jam enam lewat dua puluh menit. Kalau kita pesan sekarang, mungkin keburu.”


“Pesan, cepat!” Kata Harsa tanpa memikirkan bagaimana dia akan pulang.


“Oke, aku pesan ya. Buat tiga orang?” Tanyanya masih tidak yakin sambil melihat Adi.


“Ya!” Sahut Harsa. “Eh, tapi kalau kamu lelah dan nggak mau ikut, aku nggak bi-”


“Aku ikut.” Tegas Barasa. “Mana kartu pelajarmu. Sama minta tolong KTP Kak Adi.” Kata Barasa terburu-buru memasukkan informasi penumpang.


Harsa mengeluarkan kartu pelajarnya dari dompet, kemudian melihat Adi yang terdiam kebingungan. Satu bola lampu kiasan menyala di pikiran Harsa. “Kak Adi nggak punya KTP.”


“Hah? Terus gimana dong, aku nggak bisa pesan kalau nggak ada tanda pengenal.”


Harsa berpikir keras. “Kak Adi! Kak Adi bisa berpenampilan mirip papa?”

__ADS_1


“Hm….. Mungkin kalau aku menua, mirip? Aku kan anak Ayah.” Katanya lalu berbalik mencoba menua. Mata Barasa yang dari tadi sudah melebar tidak bisa melebar lagi. “Gimana?”


“Uuuhh. Iya? Lumayanlah.” Harsa lalu berlari masuk ke rumahnya dengan tergesa-gesa, dan kembali dengan KTP Erik. Dia memberikan KTP itu pada Barasa. “Kita ke stasiun naik motormu, bisa?”


“Bisa, tapi aku nggak berani botri.” Jawab Barasa kembali melirik Adi.


“Hm, apa aku minta papa antarkan ya?”


“Tidak perlu. Aku bisa mengikuti, kok.” Janji Adi.


“Kak Adi ada motor?” tanya Barasa sudah memakai helmnya dan menyerahkan satu pada Harsa.


Dahi Adi kembali berkerut. “Tidak, tapi jangan khawatir. Aku pasti bisa mengikuti. Tunjukkan saja jalannya ke tempat yang bernama ‘stasiun’ ini.”


“Okay kalau begitu. Sudah, Barasa! Nggak apa-apa! Kita duluan aja. Kak Adi nyusul di belakang ya?” Kata Harsa langsung naik ke motor Barasa. Meksi ragu, Barasa menggas motornya menuju stasiun. Matanya benar-benar terbelalak ketika mendapati Adi langsung muncul entah dari mana ketika mereka akhirnya selesai memarkirkan motor di stasiun. Adi tidak membawa motor, maupun mobil. Dia bahkan tidak berkeringat sedikitpun.


“Jadi ini stasiun?” tanya Adi.


“Ya! Ehm. Physis kakak masih banyak?” tanya Harsa.


“Yah, lumayan kok.”


Sebagai kompensasi, Harsa membelikan Adi air mineral satu liter untuk mengembalikan physisnya. Mereka naik kereta dengan terburu-buru. Orang-orang memperhatikan mereka karena hanya mereka yang tampaknya berpergian tanpa membawa satu taspun. Mereka juga terburu-buru masuk ke gerbong kereta. Berkali-kali Harsa harus menarik Adi untuk tidak terdistraksi melihat suasana stasiun dan gerbong kereta.


“Hayu, Kak! Kita nggak lagi tamasya!” Kata Harsa putus asa.


***


Adi sudah kembali ke kekuatannya yang seperti semula setelah meminum satu liter air putih dan menyerap physis sepanjang perjalanan. Adi seorang diri membawa Harsa dan Barasa yang sudah lelah ke lokasi dimana Aster berada. Dia membuat awan yang dipenuhi oleh physis untuk dinaiki oleh Harsa dan Barasa. Awan itu melayang di atas Adi yang berlari dengan kecepatan tinggi. Ketika baru setengah perjalanan, Adi sudah mengerutkan dahi.


“Harsa, siap-siap.” Kata Adi dari bawah. “Apa kamu merasakannya?”


“Nggak, kak! Auraku hanya menjangkau lima ratus meter!” Teriak Harsa dari atas awan.


“Ada formskitter di tempat temanmu, siapa namanya?”


“Aster!” Teriak Barasa.


“Ya, ada formskitter di tempat Aster berada! Mereka kuat!!”


Dada Harsa berdebar dengan kencang. Dia membayangkan bagaimana seramnya bertarung dengan formskitter yang Adi bilang kuat.


“Formskitter?” tanya Barasa.


“Legenda Bayangan.” Jawab Harsa. “Kakakku menyebutnya formskitter, karena bentuknya bisa berubah-ubah.”


“…” Barasa menelan ludah. “Seperti yang menyerangmu di sekolah waktu itu?”


“Kayaknya lebih kuat.” Jawab Harsa dengan wajah pucat.


“Aku nggak paham. Apa Aster akan baik-baik saja kalau ada mahkluk sekuat itu di tempat dia berada? Dan kenapa Aster bisa berada bersama Legenda Bayangan? Apa kita akan baik-baik saja?”


Dada Harsa semakin berdegup kencang. Dia sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya, tapi dia tidak yakin dapat melindungi Barasa. “Aku nggak paham… Tapi itu alasan yang kuat kenapa kita harus cepat-cepat ke tempat Aster dan memastikan kalau dia baik-baik saja.”


“Harsa!!” Panggil Adi dari bawah. “Begitu kita sampai, kita harus langsung bertarung! Mereka sudah menyadari keberadaan kita!”


“Ya!” Jawab Harsa, lebih untuk mempersiapkan dirinya sendiri.


“Ada dua formskitter. Satu kuat dan satu lemah.” Adi lanjut berteriak. “Kalian berdua hadapi yang lemah dan aku akan bawa yang kuat ke Tepi Dunia Roh untuk bertarung di sana! Sebentar lagi kita sampai! Siap?”

__ADS_1


Harsa menggelengkan kepalanya, “Nggak!” Namun, tak ada lagi waktu bersiap. Formskitter itu dengan segera masuk radar aura Harsa. Auranya yang mengerikan menekan Harsa bahkan jauh lebih mengerikan dari formskitter manapun yang pernah dia hadapi sebelum ini. Mereka telah sampai ke tempat Aster berada.


__ADS_2