Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Masa Orientasi Sekolah (4)


__ADS_3

Anak-anak yang tidak tahu apa yang terjadi berlari panik keluar dari ruang seolah, sementara beberapa lainnya yang melihat kejadian itu terkesiap, ada juga yang tertawa menikmati kekacauan acara MOS. Sementara itu, Harsa masih terduduk di kursinya yang tinggal bangkai, tercengang. Kemarahannya habis sudah termakan oleh kekagetan dan ketidakpercayaan.


Tak lama, dia mendapati dirinya sudah berada di ruang kepala sekolah, dikelilingi oleh kepala sekolah, wali bidang permuridan, dan ketua OSIS. Tangan Harsa berkeringat dingin. Tidak mungkin dia bilang, ‘Maaf sihir saya tidak sengaja meledak dan membakar buku MOS dan properti sekolah’ bukan? Menghadapi tatapan-tatapan yang sepertinya ingin membor tengkorak kepala Harsa, dia jadi teringat bagaimana ayahnya bercerita soal bagaimana sulitnya rata-rata manusia menerima keberadaan sihir.


“Harsa Wijaya bukan?” tanya kepala sekolah. “Ini bahkan belum hari pertama sekolah. Kamu sudah mau buat masalah?!”


“Tidak, Pak.” Jawab Harsa tegang.


“Kalau tidak, tolong jelaskan peristiwa tadi.”


“…” Harsa masih tidak dapat menemukan penjelasan.


Kepala sekolah itu menghela nafas panjang. “Jangan bilang kamu merokok dan kebakaran tadi karena pematik apimu.”


“Hah? Nggak, Pak! Aku nggak merokok.” Sanggah Harsa langsung. Dia tidak pernah menyentuh rokok seumur hidupnya. Lebih karena Darma, seorang dokter pencinta kesehatan, tidak akan membiarkannya dalam damai jika Harsa menyentuh rokok.


Mata kepala sekolah semakin melotot. Harsa bisa melihat urat-urat di dahinya semakin membiru. “Iya, lalu?”


“Eeee, aku sendiri tak paham…?” Jawab Harsa ragu-ragu. Dia tak pandai berbohong. Kalau tidak ada penjelasan ilmiah yang dapat menjelaskan kejadian tadi, bukankah aman kalau dia pura-pura tidak tahu?


Nampaknya kata-kata Harsa kurang meyakinkan. Dia tak juga dilepaskan oleh kepala sekolah. “Sudahlah, Pak Mul, kita panggil orangtuanya saja.”


Langsung terbayang bagaimana dirinya akan diomeli oleh Erik. Baru saja tadi pagi Erik menasehatinya agar menjaga sihirnya baik-baik, namun Harsa sudah putus asa. Dia tidak bisa keluar dari situasi ini sendirian.


Di tengah kepasrahan Harsa, pintu ruang kepala sekolah diketuk. Malu-malu, seorang siswi berambut panjang masuk dengan wajah pucat. Perhatian seluruh orang dalam ruang kepala sekolah teralih pada interupsi itu, termasuk Harsa.


Harsa ingat remaja putri itu adalah anggota klub sulap yang tengah mempersiapkan demonstrasinya sebelum sihir Harsa meledak. Rambut dan seragamnya masih basah kuyub. Harsa merasa kasihan bercampur bersalah melihatnya. Dia telah menghancurkan demonstrasi dari klub sulap.

__ADS_1


“Kenapa, Ter? Di sini kita lagi sibuk mencari tahu asal api tadi. Kalau nggak begitu penting, nanti saja.” Kata wakil kepala sekolah yang dari tadi diam.


Belum sempat menjawab, ketua OSIS menambahkan. “Kalau soal jadwal demonstrasi klubmu, nanti akan kucoba masukan di hari kedua.”


Aster menggeleng. “Eee, bukan. Ini soal api itu.” Mengambil nafas dalam-dalam, dia memberanikan diri. “Aku rasa itu salah saya. Saya menyiapkan atraksi dimana tiba-tiba ada kursi yang terbakar, tapi sepertinya kursi yang sudah saya persiapkan tertukar dengan kursi biasa.”


“ASTAGANAGA!” Kepala sekolah lepas kendali. “Kamu sadar kan kalau atraksi seperti berbahaya?! Bahkan kalaupun kamu sudah merencanakan agar aman, kenapa kamu nggak minta demonstrasinya diadakan di lapangan, bukan di aula?!!”


“Maaf, Pak. Sungguh, maaf. Ini keteledoran saya.” Pinta Aster sembari membungkuk rendah.


“Lalu!! Kamu tidak berpikir apa kalau alarm kebakaran di aula akan menyala kalau ada asap?! Acara MOSnya tidak akan terhenti seperti ini kalau kamu berpikir sedikit!!” Lanjut kepala sekolah, belum puas. “Aster!! Ini tidak akan cukup selesai dengan kata maaf! Kamu harus terima hukuman. Entah itu skors atau klub sulap dibubarkan sekalian!”


“Pak, tolong ini ide saya pribadi. Klub sulap nggak ikut andil. Apapun selain klub sulap dibubarkan, saya terima hukumannya.” Punggung Aster semakin membungkuk. Suaranya semakin putus asa.


“Ya sudah.” Nada suara kepala sekolah akhirnya menurun. “Kamu di skors tiga hari!”


Tidak. Harsa ingat jelas kursi itu sama seperti kursi lainnya. Harsa juga ingat jelas energi sihirnya memang meledak dalam bentuk api. Hingga saat ini pun, Harsa tidak bisa mengeluarkan sihir tanpa mengeluarkan api dari tubuhnya. Kalau begitu, kenapa kakak kelasnya itu melindunginya? Harsa juga tak enak karena dirinya dia mendapat hukuman skors.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Elis dengan wajah khawatir saat Harsa kembali dari ruang kepala sekolah.


Harsa menggelengkan kepala.


“Tapi aku kaget banget, kursi kamu terbakar. Baguslah kamu nggak apa-apa.” Kata Barasa lega, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa herannya.


“Ummm. Itu, kurasa aku beruntung.” Kata Harsa mencoba menjelaskan. “Alat pemadan kebakarannya langsung menyala sehingga apinya nggak sempat menyebar ke tubuhku.”


Walaupun dengan usaha keras anggota OSIS, acara MOS mereka  tetap diberhentikan. Murid-murid diizinkan untuk langsung pulang. Bahkan ketika Harsa kembali ke aula, dimana anak-anak berkumpul, setengah dari murid-murid kelas satu sudah pulang.

__ADS_1


“Hm. Oh iya. Ojolku sudah datang.” Kata Elis melihat ponsel cerdasnya. “Aku pulang duluan ya. Sampai nanti di hari Senin!”


“Yo!” Barasa melambaikan tangannya.


“Hati-hati, ya!” Harsa mengikuti. “Bagaimana, kamu nggak akan pulang?”


“Aku bisa pulang kapan saja. Soalnya aku bawa motor. Kamu sendiri gimana?” Barasa balik bertanya. “Aku temani kamu sampai kamu pulang saja.”


Wow, baik sekali. Batin Harsa. Padahal baru kenal. “Hm, makasih. Tapi apa nggak apa-apa? Kayaknya aku bakal dijemput sore oleh ayahku…” Kata-kata Harsa mulai menghilang. Mungkin seharusnya aku memanggil ojol, supaya Barasa tidak perlu menugguku. Harsa agak malu mengakuinya, tapi dia sulit mengambil keputusan ini. Pascanya, seumur hidupnya, dia tidak diizinkan naik kendaraan umum baik oleh Darma dan Erik. Jangankan kendaraan umum, naik ojek online pun, belum tentu dia akan lepas dari omelan kedua orang tuanya. Erik juga sangat ketat mengenai masalah kendaraan pribadi. Dia tidak akan diijinkan memegang motor sebelum tahun depan. Dia, Harsa, tidak bisa tidak mengakui bahwa dia tumbuh terlindungi oleh kedua orangtuanya.


“Oh? Sore?” tanya Barasa mulai ragu. Namun, sebelum Barasa memutuskan, satu sosok siswi perempuan mendatangi mereka. Siswi perempuan berambut panjang sampai ke punggung yang tadi malah menanggung kesalahannya.


“Hmm. Hai?” sapa anak perempuan itu ragu-ragu.


“Halo. Uh, kak. Siapa ya?” balas Harsa.


“Oh.” Siswi itu langsung mengulurkan tangannya. “Aster. Aku anak kelas dua yang ikut klub sulap.”


“Ehm iya. Ma-” Harsa ingin berterima kasih karena dia telah membantunya lepas dari kepala sekolah, tapi Harsa langsung sadar bahwa dirinya akan ketahuan bahwa dialah penyebab dari api itu. Jadi, dia menyambut tangan Aster. “Aku Harsa.”


“Nggak perlu pakai panggilan kak. Aku nggak biasa. Ehmm.” Kemudian dia memandang Barasa dengan ragu. “Boleh aku pinjam Harsa dulu?”


Barasa meliriku sebentar, kemudian mengangguk. “Boleh saja.”


Gestur tangan Aster menyuruh Harsa untuk mengikutinya. Dari aula, dia membawa Harsa ke lorong di lantai dua yang sepi. Kelas-kelas masih ditutup karena sekolah belum mulai. Aster dan Harsa berdiri berhadapan di samping setengah tembok yang membatasi mereka dengan udara kosong di atas lapangan speak bola sekolah.


“Eeee. Hm, aku langsung ke intinya saja ya.” Kata Aster. “Kamu bisa sihir?”

__ADS_1


__ADS_2