Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Study Tour (3)


__ADS_3

Mulut Harsa terasa kering dan kasar. Tenggorakkannya serak ketika dia menjawab Elis. “Menghilang? Hah? Apa? Kamu salah lihat kali.”


“Salah lihat apanya? Di perjalanan ke sini kamu dan Gilda benar-benar gak ada di bus, kok. Barasa, kamu juga lihat mereka gak ada kan?”


“Umm, ya…” Kata Barasa tak yakin. Dia menatap Harsa khawatir.


“Apa yang terjadi?” Desak Elis.


“Nggak, nggak ada apa-apa.” Balas Harsa defensif. Harsa tidak bisa menjelaskan formskitter dan Kasarewang pada Elis yang bahkan tidak percaya dengan hantu. Tidak, bukan hanya itu. Harsa tidak ingin mencebloskan Elis dalam bahaya yang dia alami sehari-hari. Berbeda dengan Barasa, Elis tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Jangankan formskitter, Elis tidak bisa bela diri.


“Nggak ada apa-apa?” Dia tidak percaya.


“Iya, nggak ada apa-apa. Ayo kita makan.” Harsa lalu duduk di salah satu meja di restoran itu. Gilda mengikutinya, lalu Barasa dan Elis yang masih ragu-ragu.


Makanan mereka datang tak lama kemudian dan anak-anak itu makan dalam kecanggungan. Harsa diam saja, dan terus menerus menghindari tatapan mata Elis. Gara-gara itu, meja mereka jadi bisu.


Gilda yang tak tahan mulai mencoba membuka pembicaraan. “Makanan ini enak sekali, ya.”


“Iya, bener banget. Sambelnya bikin nafsu.” Tanggap Barasa yang ingin keluar dari situasi itu juga. “Kamu suka. Gilda? Aku pikir orang luar negeri gak akan suka sambal.”


“Hm, sejujurnya aku kurang suka ‘makan’ karena mahal, tapi kalau gratis begini aku suka sih.” Jawab Gilda.


“Gratis? Nggak kok, kita kan bayar untuk ikut trip ini. Jadi makan yang banyak biar gak rugi.” Kata Barasa.


“Oh iya… maksudku….” Suara Gilda semakin kecil. “Itu dibayar sama….”


Mereka menunggu Gilda selesai berbicara. “Eeee sama orangtuaku maksudnya.” Kata Gilda. Setelah itu, Gilda menyerah untuk membangun kembali suasana.


Setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan.


Dalam bus, Barasa bertanya. “Jadi, tadi kenapa? Formskitter?”


“Ya.” Kata Harsa lemas. “Tapi aku tidak bisa memberitahu Elis. Aku tidak ingin melibatkannya dalam semua masalah ini.”


“Aku setuju soal itu, tapi kasihan juga sih dia tidak tahu sendiri.”


Harsa tidak menjawab.


Setelah hampir satu setengah hari di perjalanan, mereka sampai di pulau Bali. Karena masih siang, mereka tidak langsung menuju hotel. Sesuai jadwal acara, mereka pergi ke Tanah Lot. Di sana, mereka berfoto satu angkatan, lalu bebas menikmati pemandangan hingga matahari terbenam. Harsa melihat pemandangan pura di tengah laut yang disertai warna keoranyean dari langit sore. Angin sore yang kencang menerpa mukanya, tapi Harsa merasa tak terganggu. Elis dan Barasa sedang asik ngobrol dan berfoto-foto. Harsa tidak bisa masuk ke keseruan itu. Pikirannya sedang berkeliaran pada kata-kata Barasa.

__ADS_1


Kasihan Elis sendiri dari mereka berempat yang tidak tahu apa-apa….


Saat itu, Harsa baru tersadar. Kalau dia ingin lebih dekat dengan Elis, pasti dia harus membuka dirinya suatu  hari nanti. Tidak mungkin dia merahasiakan identitasnya sebagai setengah Kasarewang pada Elis seumur hidupnya. Kalau Harsa akan mengungkapkan perasaannya, Elis berhak tahu. Di sinilah Harsa dia ragu. Apakah dia mau menceritakan semuanya pada Elis? Sejak pagi, itulah yang ada dalam kepala Harsa.


Harsa melihat Barasa dan Elis yang mengobrol dengan serunya. Untuk pertama kalinya, Harsa tidak merasa cemburu. Dia hanya merasa lelah.


“Murung?” tanya Gilda. “Karena tadi kamu beradu mulut sama Elis?”


Harsa menghela nafas. “Physis kamu sangat besar. Apa kamu lebih tua dari kak Adi?” tanya Harsa, mengalihkan pembicaraan.


Gilda tertawa kencang. “Ya. Aku dua kali lebih tua darinya.”


Mata Harsa melebar. “Uuuh. Apa aku harus memanggilmu kakak?”


Gilda menggeleng. “Aneh, dong. Buat teman-temanmu."


"Ya. sihh... Omong-omong, kenapa kamu jadi tentara?"


Gilda memandang kekejauhan seolah mengingat hal yang lama sekali. "Dulu aku sempat mengeluh kenapa aku tidak lahir jadi manusia saja, sehingga bisa hidup damai tanpa perlu takut bayang-bayang formskitter. Tapi dengan mengeluh seperti itu, aku tidak kemana-mana. Akhirnya aku berpikir, dengan situasi seperti ini, apakah aku memilih bertarung dalam peperangan abadi atau mati tanpa bertarung? Aku putuskan untuk bertarung, karena itu aku jadi tentara." Lalu dia menambahkan. "Apa kamu meragukan pilihanku karena jabatan Adi lebih tinggi dariku? Meski lebih tua dan physisku lebih banyak, aku menghargai Adi soalnya dia berani sekali kalau melawan formskitter. Dia seperti tidak takut mati. Karena itu prestasinya juga lebih banyak dariku. Dia juga sangat jago untuk mengendalikan physis dan membuat formasi serangan. Gara-gara itu, dia bisa dipilih sebagai wakil ketua tanpa banyak yang protes.” Cerita Gilda.


Harsa mengangguk-angguk. “Aku sering dengar dia disebut jenius, dan nggak kok. Aku nggak meragukan kekuatanmu.”


“Apa kamu dekat dengan kak Adi?” tanya Harsa penasaran.


“Dekat? Iya, mungkin. Kami sudah lama bekerja sama, tapi dia itu teman. Perbedaan umur kami terlalu timpang untuk lebih dari itu.”


“Tiga ratus tahun…” Gumam Harsa. “Berarti ayahmu sudah tidak ada?”


“Dari dulu sekali.”


“Aku turut berduka.” Kata Harsa, takut dia menanyakan hal yang sama.


Gilda tersenyum. “Nggak apa-apa. Sudah aku bilang sudah lama sekali.”


“Hei, guys! Ayo foto berempat!” teriak Barasa memanggil Harsa dan Gilda yang tertinggal karena sibuk mengobrol berdua.


Harsa memaksakan senyum untuk foto itu. Dia masih belum berbicara dengan Elis. Dia merasa tidak nyaman sehingga di tempat makan malam, Harsa memutuskan untuk membuka pembicaraan dengan Elis duluan. Meski sebenarnya, Harsa belum tahu apa yang harus dia katakan.


“Lis.” Panggil Harsa.

__ADS_1


“Apa?”


“Ya, tadi siang kamu memang tidak salah lihat. Aku ada sesuatu juga… tapi, aku belum bisa cerita sekarang.” Harsa terdiam sebentar. “Eng. Sebenarnya aku nggak yakin bisa cerita juga.”


Elis mengangkat satu alisnya. “Apa? Kalau nggak mau, aku nggak bisa paksa kamu cerita. Tapi sejujurnya, aku penasaran banget sih. Kamu dan Gilda hilang begitu saja…. Untung guru nggak nyadar tahu. Eh, tunggu dulu. Ada sesuatu antara kamu sama Gilda. Sejak dia pindah, kamu selalu dekat sama dia.”


“Hah? Nggak.” Lalu Harsa berubah pikiran. “Memangnya kalau ada kenapa?”


“Nggak, nggak kenapa-kenapa.” Kata Elis cepat lalu langsung makan agar pembicaraan mereka berhenti sampai di situ.


Harsa tersenyum miring.


Berkat pembicaraan itu, dia bisa jadi lebih menikmati study tour mereka. Di luar dugaan Harsa, mereka tak lagi di serang formskitter. Baik hari itu, hari berikutnya, maupun hari terakhir mereka di Bali. Harsa bersyukur dia dapat bermain-main sampai puas tanpa diganggu oleh formskitter. Dia bermain sampai kelelahan. Rasa lelahnya sampai setara dengan ketika dia diculik. Harsa tidak pernah merasa senang dan lelah seperti itu sebelumnya.


Harsa menghempaskan tubuhnya yang lelah di kasur hotel mereka. Harsa satu kamar dengan Barasa dan satu orang murid laki-laki lainnya yang belum pulang. Begitu pulang di jam sepuluh malam, Barasa mandi duluan sementara Harsa beristirahat.


Benar dugaanku, lebih worth it ikut study tour. Pikir Harsa.


“Senyum kamu lebar banget.” Komentar Barasa.


“Mandi kamu cepet banget.”


“Pengen cepet tidur soalnya, nggak kuat capek banget.” Kata Barasa langsung berbaring di sebelah Harsa.


“Soalnya seneng banget liburan bareng temen-temen gini.” Kata Harsa.


“Iya, nggak tahu kapan lagi bisa gini.  Kalau udah lulus, maksudku.” Tanggap Barasa. “Jujur pengen nggak usah selesai sih. Studi tour ini. Soalnya setelah ini kita harus langsung persiapan ujian kan? Habis ini pasti nggak bakal ada waktu main lagi.”


“Hehe, iya. Ada persiapan ujian. Aku sampai lupa.”


“Mandi gih, jorok tahu.” Suruh Barasa. “Sebelum ketiduran! Cepet!” Dia mendorong Harsa agar terjatuh dari kasur.


“Adu, duh! Iya, iya, aku mandi!” Harsa bangun dari lantai dan mandi.


Tak terlintas, di kepala Harsa, kalau studi tur ini belum selesai.


 


 

__ADS_1


__ADS_2