Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Sang Kakak (7)


__ADS_3

“Kamu tahu, aku tidak tahu apa harus memarahimu atau memuji kenekatanmu.” Kata Adi mengulurkan tangannya. “Apa kamu baik?”


“Kak Adi sendiri gimana?” tanya Harsa menunjuk pada luka Adi di perut kirinya. “Kak Adi terluka karena mencoba melindungiku, kan?”


“Aku harus melindungimu kalau masih ingin menghadap Ayah.” Kata Adi mengibas tangannya. “Lagipula lukaku cepat sembuh.”


“…” Harsa terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya. “Apa kak Adi nggak benci aku?”


“Kenapa kamu pikir begitu?”


“Habis pertama kali ketemu, Kak Adi langsung bilang aku ‘aneh’. Lalu Kak Adi selalu terlihat kesal karena aku nggak tahu apa-apa soal Kasarewang, dan Kak Adi juga nggak pernah menghormati mama dan selalu panggil nama mama, nggak pernah pakai panggilan hormat. Kalau bukan ibu, tante kek. Apa kakak memang nggak suka manusia? Atau kakak nggak suka pernikahan papa dengan mamaku?” Mengikuti perasaan Harsa, kata-katanya keluar tanpa tertahan.


Adi terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan Harsa dengan serius. “Tidak. Aku paham kenapa ayah ingin menikah lagi. Aku juga setelah menjalani sepuluh dekade sendiri, merasa ingin memilki pasangan. Meski Jujur, aku tak paham kenapa dengan seorang manusia. Mereka cepat mati. Berapa lama lagi ibumu hidup? Paling lama juga lima atau enam. Setelah ibumu meninggal, bukankah Ayah akan terjebak lagi dalam kesedihan karena kehilangan? Soal kau. Seingatku pertama kali kita bertemu aku tidak bilang begitu.”


Harsa terperanjat. “Huh? Maksudmu apa? Mamaku masih sehat kok! Dia bakal hidup lama!” Teriak Harsa tidak terima.


Adi menggeleng-geleng. “Kamu tidak paham. Kamu tahu usia Ayah sekarang berapa?”


Kalau dari tampangnya, papa berumur.....“Lima puluh? Papa memang beberapa tahun lebih tua dari mama sih.”


“…” Adi menggeleng putus asa. “Iya sekitar lima puluh, tapi lima puluh dekade, bukan tahun.”


Lima puluh dekade? Lima ratus tahun? Harsa tidak bisa mencerna kenyataan itu begitu saja. “Maksud kamu papa hidup melalui jaman penjajahan?!”


“Aku tidak paham sejarah manusia, tapi apa benar kamu paham bahwa Kasarewang adalah manusia abadi yang dapat melakukan sihir?"


Kemudian dia teringat kata-kata Adi ketika dia mengatakan telah melewati sepuluh dekade. Harsa kira itu hanyalah ungkapan saja. “Kamu… Kak Adi, memangnya berapa umur kak Adi?”


“Pertengahan empat belas?”


“Bohong. Aku saja sudah lima belas tahun.”


“Empat belas dekade.” Adi mendecak. “Tepatnya seratus empat puluh lima tahun. Sekarang apa kamu paham? Aku tidak nyaman memanggil ibumu dengan sebutan tante, tidak selama aku sepuluh dekade lebih tua darinya. Bukannya aku bermaksud tak sopan. Kemudian, pertama kali kita bertemu, aku tidak bilang kamu aneh. Pertama kali aku ketemu denganmu, aku setuju dengan Ayah kalau kamu lucu.”

__ADS_1


“Apa? Kapan kamu bilang itu?” Harsa tidak pernah ingat Adi bilang begitu.


“Ya. Pertama kali kita bertemu, dua hari setelah kamu lahir. Aku ingat pulang lebih awal dari tempat kerja untuk menengokmu yang baru lahir.”


Rahangku jatuh. Aku menggeleng-geleng. “Bukan. Maksudku ketika kamu datang ke rumah waktu aku sakit di umur delapan tahun. Kamu datang untuk memberikan sesuatu pada papa dan kamu bilang aku aneh.”


“Itu kedua kali kita bertemu, bukan pertama kali.” Sanggah Adi.


“Iya, tapi aku nggak akan ingat kamu kalau aku baru lahir. Jadi buatku, pertama kali kita bertemu waktu aku delapan tahun.”


“Tetap saja faktanya kita bertemu pertama kali saat kamu bayi.” Adi bersikukuh.


Harsa merasa putus asa. “Ya sudah! Pada saat kedua kali kita bertemu, kenapa kamu bilang aku ‘aneh’?”


“Yah, sungguh buatku, kamu benar-benar aneh. Kamu punya sihir seperti Kasarewang pada umumnya, tapi waktu itu kamu tidak punya tubuh yang bisa menahan kekuatanmu sendiri. Sampai kamu sakit karena itu. Bukankah itu aneh? Aku hanya mengatakan faktanya, aku tidak bermaksud menyinggungmu.”


“Kalau begitu bukankah lebih baik kalau kamu bilang aku ‘unik’? Kalau ‘aneh’ itu membuatku merasa negatif!”


Pertanyaan Adi menyadarkan Harsa. Tak pernah terlintas dalam pikiran Harsa bahwa Adi tidak bisa bahasa Indonesia sebelumnya. “Begitu…” Selain itu, kesadaran akan keabadian Kasarewang memicu pertanyaan lain dalam kepala Harsa. “Kalau kak Adi memang sudah seratus tahun lebih, kenapa penampilannya masih akhir dua puluh tahun-an? Papa juga seiring bertambahnya hari terlihat semakin tua.”


“Itu karena Ayah sengaja mengubah penampilannya setiap beberapa selang waktu. Aku memilih penampilan ini, karena badanku berada dalam kondisi paling prima di usia dua puluh delapan tahun. Badan ini memudahkanku untuk bertarung. Kalau mau, aku bisa tampil lebih muda darimu.” Kata Adi yang sekarang menyusut menyerupai anak sembilan tahun. “Tapi  kalau begini, aku nggak bisa bertarung dengan benar.” Ketika Harsa membuka mulutnya karena tak percaya, dia kembali ke wujudnya yang semula.


“Lalu bagaimana dengan aku? Apa aku bisa begitu? Aku setengah manusia setengah Kasarewang, berapa lama aku akan hidup?”


“Tercatat, setengah Kasarewang yang paling lama hidup mencapai umur delapan puluh dekade.” Adi memberikan penekanan pada kata dekade. Dia terus berbicara selagi Harsa mencerna fakta ini. “Kita, atau kami, Kasarewang lebih suka memakai satuan dekade daripada tahun. Kamu juga pasti akan paham kalau sudah menginjak umur sepuluh dekade. Satuan tahun terlalu singkat untuk diperhitungkan.”


“Jadi kakak nggak pulang selama tujuh tahun itu-” Harsa mulai memahami bagaimana Adi mempersepsikan waktu. Mungkin seperti beberapa bulan berlalu.


“Ya. Seperti mengedipkan mata.” Katanya memincingkan mata. “Meski harus aku akui kamu banyak berubah dalam waktu sesingkat itu.”


“…” Harsa terdiam sebelum mengeluarkan nafas lega. Sekarang, tampaknya Adi lebih manusiawi daripada biasanya. “Baguslah, semua itu cuma prasangka.”


“Yah, sebenarnya kamu memang menyebalkan ketika bercakap aku tidak dapat cakap bahasa Indonesia baik, ketika aku memang belajar khusus untuk dapat berkomunikasi dengan kamu.”

__ADS_1


“Maaf soal itu, tapi memang faktanya cara bicara Kak Adi aneh.” Kata Harsa tertawa, membalikan kata-kata Adi pada dirinya sendiri. “Ngomong-ngomong ini dimana?”


Adi melihat ke sekeliling mereka. “Benar juga. Kita belum kembali. Apa kamu dapat berdiri?” tanya Adi sambil mengelurkan tangan.


Harsa meraih tangan kakaknya, mencoba untuk berdiri, dan gagal. Tidak ada lagi energi sihir yang kabur dari segel pada Kainya. Menyerah, Harsa menggeleng.


Adi menghela nafas. “Hal aneh memerlukan solusi aneh.” Gumamnya.


Sebelum Harsa sempat membalas, Adi menjentikkan jarinya. Harsa bisa menangkap untuk sesaat salah dua cincin Adi menyala. Kemudian dua hal terpisah terjadi. Pertama, pedang ramping Adi yang ditancapkan ke pasir menghilang. Kedua, di depan mereka seolah ada tudung transparan yang robek. Di balik tudung transparan itu, terlihat jalanan belakang hotel.


Dahi Harsa berkerut dan mulutnya terbuka keheranan. “Apa… yang terjadi?”


Adi menarik ketiak Harsa, menyeretnya melewati robekan tudung transparan itu. “Kita kembali dari Tepi Dunia Roh ke Dunia Material tempat manusia tinggal.” Ketika mereka sudah berada jalanan belakang hotel di tengah malam yang sepi, tudung transparan itu seolah memperbaiki dirinya sendiri dan menghilang. Sensasi realita Harsa kembali normal. Dia telah kembali dari Tepi Dunia Roh yang sepi, ngeri, dan asing. Badannya kembali menjadi ringan dan dia bisa bergerak seperti biasa.


“Tepi Dunia Roh?” Selidik Harsa.


“Ya.” Jawab Adi tanpa berniat menjelaskan. Ketika Harsa masih memandang Adi penuh pertanyaan, kakaknya itu bergumam pada diri sendiri. “Oh, tentu saja Ayah tidak menjelaskan padamu dimana itu Tepi Dunia Roh.”


“Urgh. Ya, sudah kalau kamu memang nggak niat jelasin.”


Adi menghela nafas. “Ayo, kembali saja ke kamar hotel.” Kata Adi melompat kembali ke beranda kamar mereka di lantai dua. Dari atas dia berseru, “Tunggu apa lagi?”


“Aku nggak bisa lompat setinggi itu!” teriak Harsa protes. “Aku akan berputar masuk lewat pintu gerbang depan. Kak Adi bukakan saja pintu kamar untukku!”


Harsa sudah mau berlari ketika Adi menghentikannya. “Jangan! Itu percuma!”


Mata Harsa menyelidik. “Kenapa?”


“Ehm, itu. Aku-” Bahkan dalam kegelapan malam, Harsa menangkap wajah Adi memerah seperti tomat. “Aku tidak tahu cara buka pintu hotel. Tidak dengan yang kunci kartu.”


“HAHAHA! Jadi itu kenapa Kak Adi lompat dari lantai dua?!” Harsa tidak akan melewatkan kesempatan untuk menertawakan kakaknya. “Buka saja! Pintunya nggak dikunci kalau dari dalam!”


Adi tak menyangka kata-kata Harsa benar. Sekarang dia merasa semakin malu karena merasa tampil terlalu mencolok, penuh aksi. “Urgh. ------------------------.” Kata Adi pada dirinya sendiri dengan bahasanya sendiri. Kurang lebih, dia mengatakan, “Meskipun dia (adikku) lucu, dia tetap aneh.”

__ADS_1


__ADS_2