
Kerangka-kerangka manusia itu menerjang Harsa dan Barasa sekaligus. Barasa dengan mudahnya menghancurkan susunan tulang itu dengan pukulannya yang mengerikan. Gerakan Barasa tak lagi lancar dan fleksibel akibat luka benturan tadi, namun dia dapat mengalahkan kerangka-kerangka itu tanpa masalah besar.
“Hiyy!!” Teriak Barasa setiap kali dia menghancurkan satu kerangka hidup. “Sa! Ini tengkorak beneran!”
“Lihat baik-baik! Kalau kamu hancurkan, mereka hilang!” Kata Harsa sambil menghindari tebasan pedang tulang yang melekat pada tulang telapak tangan dari tengkorak itu.
“Ya, tapi mereka nggak habis-habis!” Teriak Barasa. Memang, setiap mereka mengalahkan satu kerangka, maka rasanya puluhan kerangka muncul kembali dari udara kosong.
Harsa menghindari serangan kerangka dan menghancurkan mereka dengan tinju api. Harsa dapat menghajar seluruh kerangka ini dengan serangan lasernya. Sayangnya, Harsa bisa merasakan phyisis hanya kuat untuk berubah menjadi satu serangan laser lagi. Serangan laser tadi sangat efektif dan dapat memotong benda sekeras apapun, tapi serangan itu memakan banyak physis. Dia berusaha menghemat cadangan physisnya, karena saat ini penyerapan physisnya sangat tidak efektif karena konsentrasinya terpecah belah.
Barasa menangkap kesulitan Harsa. “Sa! Apa kamu bisa melawan si Adit itu dengan laser tadi?”
Harsa memandang Adit yang berdiri di belakang jendela lantai dua. Meskipun dia berdiri diam, wajahnya tampak berkonsentrasi penuh menciptakan kerangka-kerangka itu. Jika mereka dapat mengalahkan Adit, kerangka-kerangka ini akan menghilang, atau jika Adit kehabisan physis… Harapan itu segera hilang ketika Harsa menyadari banyaknya physis yang digunakan oleh Adit berasal dari formskitter itu, dan jumlahnya tampak tak berujung.
“Ya! Tapi aku hanya punya kesempatan satu lagi untuk melancarkan serangan itu!”
“Oh, oke.” Kata Adit mendengarkan rapat strategi mereka.
Barasa tak peduli. Dia melaju ke depan Harsa dan mengalahkan seluruh kerangka yang ada di depan mereka. “Serahkan mahkluk-mahkluk ini padaku!”
Harsa langsung meloncat ke jendela lantai dua tempat Adit berdiri. Selagi meloncat, dia kembali membuat pedang putihnya dengan menggunakan physis dengan efesien. Adit terpaksa segera membuat pedang dari tulang putih yang mencuat dari telapak tangannya untuk menahan pedang putih Harsa. Tertimpa berat badan Harsa, Adit terjatuh tergeletak. Bau hangus mulai tercium ketika pedang api putih Harsa membakar dan memotong pedang tulang Adit.
Harsa sudah yakin dirinya bisa mengalahkan Adit, tapi tiba-tiba rasa sakit menyengat perutnya. Dari telapak kiri Adit, mencuat bilah pedang pendek yang menusuk tepat ke perut kiri Harsa. Pedang tulang Adit patah, tepat ketika pria itu bisa menendang Harsa tepat di perut kiri untuk membebaskan diri dari jepitan Harsa.
__ADS_1
Harsa terguling ke samping. “Arghh!!”
Adit siap menusuk Harsa dengan pedang tulangnya yang tumbuh kembali dengan sempurna, namun dari belakang sebuah serangan bola angin mendorong Adit hingga dia terlempar ke tembok kamar. Aster berdiri dengan masih mengenakan seragamnya yang kemarin. Kantung matanya hitam seperti dia tidak tidur berhari-hari. Rambutnya acak-acakan dan bau daging gosong tercium dari pergelangan tangan dan kakinya. Sebagian rok dan kaos kakinya terbakar. “Kamu nggak bisa selamanya menahanku dengan ikatan tulangmu itu!” Kata Aster marah.
“Aster!” Teriak Harsa gembira.
“Kamu nggak apa-apa?” Nada marah Aster berubah menjadi kekhawatiran ketika dia melihat darah mengucur keluar dari perut Harsa.
Sejujurnya Harsa tidak tahu. Dia tidak pernah terluka parah seperti itu sebelumnya. Rasa sakit menjalar dari perutnya hingga ke ubun-ubun sementara tangannya berusaha menghentikan peredaan darah. Menahan rasa sakit dan pusingnya, Harsa mengalihkan pertanyaan Aster agar anak perempuan itu tidak khawatir. “Kamu gimana?”
“Aku baik-baik saja setelah mengumpulkan physis.” Kata Aster tegas meski kakinya bergetar hebat.
“Aku belum kalah loh!” Kata Adit dan memerintahkan physis untuk menjadi tiga buah zombie dari udara kosong mengeliling mereka.
“Sa!! Awas!!” Teriak Aster.
Mata Harsa baru melihat serangan Adi ketika dari jendela lantai dua, Barasa masuk dan menendang kepala Adit sampai pria itu terlempar kembali ke tembok kamar yang sempit itu. “Kayaknya aku datang di waktu yang tepat.” Barasa sempat-sempatnya berkomentar. “Setelah kamu masuk menghadapinya, kerangka-kerangka itu berhenti muncul lagi. Butuh beberapa menit untuk memusnahkan kerangka-kerangka itu.”
Sebelum Adit berdiri, Harsa mengacungkan ujung pedang putihnya ke leher Adit. “Berhenti!” Perintahnya. “Aku bisa membakarmu lebih cepat daripada kamu membuat zombie lagi!”
Adit kali ini, benar-benar berhenti, tapi dia tersenyum lebar. “Huh? Lalu apa yang kamu harapkan? Kenapa gak langsung tebas saja aku?”
Dahi Harsa berkerut. “Kamu manusia, tapi kenapa bekerja sama dengan formskitter?”
__ADS_1
“Kenapa tidak? Formskitter memberikan kekuatan physis yang tidak bisa aku bayangkan. Dengan perjanjian dengan formskitter, aku bisa menyihir tanpa batasan. Lagipula, tujuan formskitter dengan tujuan kami nggak begitu beda jauh. Formskitter itu ingin memusnahkan kalian para peri, sementara kami ingin mendapatkan pengetahuan akan kunci keabadian kamu! Salah kaummu sendiri, sebagai peri, kalian selalu bersembunyi, bukannya berbagi kenapa kalian bisa hidup abadi! Bayangkan berapa banyak hidup yang bisa diselamatkan dengan kemajuan ilmu kedokteran kalau saja manusia bisa mengutak-atik satu tubuh peri!”
Tubuh Harsa bergetar karena pencampuran rasa takut dan marah membayangkan Adi atau ayahnya dijadikan sebagai bahan kelinci percobaan. “Aku bukan kelinci percobaan! Apa kamu pikir etis memperlakukan orang lain seperti itu?”
“Tapi kamu bukan manusia!” Teriak Adit kesal. “Aster. Ayo, aku tahu kamu ingin kekuatan sihir yang besar. Belum terlambat buat kamu bergabung dengan formskitter. Kamu bisa menyingkirkan mereka berdua dan jadi semakin kuat!”
Aster menggeleng ngeri. “Tapi di dalam dirimu, ada sesuatu yang berubah! Lagipula aku nggak butuh kekuatan sihir kalau kamu menyuruhku untuk membunuh orang dengan sihir!”
“Apa?!” tanya Harsa dan Barasa kaget secara berbarengan.
Aster mengangguk. “Dia menyuruhku membunuhku seseorang dengan sihir setelah mengajariku dekrit hidup. Dia juga hampir memaksaku untuk bergabung dengan formskitter, tapi setelah dua hari belajar dekrit hidup, aku tidak mau.” Melihat wajah Harsa dan Barasa yang penuh simpati, mata Aster mulai berkaca-kaca setelah dia merasa aman. “Aku merasa bodoh sekali. Karena tergiur oleh teknik sihir baru, aku sampai meninggalkan rumah dan terlibat dengan mafia pembunuh bayaran!”
“Bodoh! Kalau kamu punya kekuatan, mestinya kamu gunakan sebisa mungkin untuk keuntunganmu sendiri! Memangnya, apa akan ada yang peduli kalau kamu nggak bisa apa-apa?! Orang-orang akan membuangmu kalau kamu nggak punya kemampuan. Jadi, kemampuan yang kamu miliki, apapun itu harus kamu pakai!” Teriak Adit memarahi Aster.
“Aku bisa memakai sihirku untuk hal lain!” Bantah Aster tegas. “Walaupun aku belum tahu apa itu…”
Adit tertawa. “Terserah! Jangan kalian berpikir kalau aku sudah kalah! Formskitter yang menjadi partnerku, masih mengamuk di alam sana!”
Butuh waktu untuk Harsa memahami maksud Adit dengan istilah ‘alam sana’. “Maksudmu Tepi Dunia Roh? Formskitter yang kamu buat janji tepat ada di ….”
Mata Harsa melebar ketika dia mulai menghubungkan semua hal yang aneh dari formskitter yang mereka lawan. Formskitter lemah yang dia dan Barasa lawan di awal tidak memiliki inti karena formskitter itu hanya merupakan cadangan physis yang diletakkan dalam tubuh Adit. Tubuh formskitter yang sesungguhnya adalah formskitter kuat berbentuk seorang perempuan yang Adi lawan di Tepi Dunia Roh.
“Kak Adi!” Teriak Barasa dan Harsa berbarengan. “Apakah dia akan baik-baik saja?”
__ADS_1