Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Ujian Standarisasi (7)


__ADS_3

Berjalan-jalan di Kota Drestha setelah melihat kondisi pertarungan antar Kasarewang dan formskitter di luar benteng terasa berbeda. Kondisi Kota Drestha masih tenang dan damai seperti sebelumnya, namun kedamain itu terasa seperti palsu. Tak bisa terbayang kalau kota ini sedang dikepung oleh formskitter setiap harinya.


Mereka berempat, Harsa, Aster, Bedo, dan Adi pergi ke Gedung Kemasyarakatan untuk memastikan keselamatan mereka. Di sana, Harsa juga merasa lega setelah memastikan bahwa Rucira dan Kriya baik-baik saja.  Costa juga berada di sana. Dia menjelaskan apa yang terjadi ketika ketiga anak itu sampai bisa berada di garis depan peperangan. Gedung itu begitu sepi, tampaknya seluruh peserta ujian telah pulang. Aster, Harsa, dan Bedo keluar dari ruang ujian dengan berteleportasi, sehingga mereka tak merasa telah mengikuti semua rangkaian ujian, meski ujian itu sudah selesai.


“Hahh.” Bedo menghela nafas panjang. “Aku akan ke rumah sakit lagi.” Lukanya telah tertutup sempurna, namun dia masih merasa pusing dan lemas karena kehilangan banyak darah.


“Lebih baik aku juga segera mengantar kalian ke rumah, sebelum terlalu malam di sana.” Kata Adi pada Aster dan Harsa. Jadi begitulah, ujian mereka berakhir.


***


Pelukan hangat dan air mata Darma membanjiri Harsa ketika dia akhirnya menjejakan kaki ke rumah setelah beberapa hari ke belakang. Sangking leganya, Darma kehilangan kata-kata. Dia hanya terus memeluk Harsa selama lima menit penuh.


Air mata Harsa turut menggenang melihat Darma begitu khawatir. Awalnya dia tak merasa emosional, namun melihat air mata Darma, Harsa juga ikut merasa sedih. “Uhh, iya, ma. Nggak apa-apa kok, aku nggak apa-apa.” Kata Harsa pada akhirnya.


“Aku lega kamu baik-baik saja.” Kata Erik serius. Mataya jauh lebih lembut dari yang pernah Harsa bayangkan. Dari tatapan mata yang seperti itu, Harsa bisa menebak pasti ayahnya sedang membayangkan scenario-skenario tertentu. Erik lalu berpaling pada Adi. “Benar, mereka mengutak-atik vasalnya?”


Adi dengan enggan menjawab. “Ya. Besok atau lusa, aku akan meminta permohonan pertemuan dengan raja.”


Erik menjawab dengan lemas. “Terima kasih, Di. Maaf merepotkanmu. Akhir-akhir ini kamu harus mengurus semuanya.”


Adi melambaikan tangannya seolah itu bukan apa-apa. Dengan alasan sudah terlalu larut, Adi kembali mengantarkan Aster pulang ke rumahnya, lalu kembali lagi ke Drestha. Selepas mereka hilang dari pandangan, Harsa masuk ke kamarnya dan menghempaskan diri ke kasur. Dia terkejut sendiri mendapati seberapa rindu dia akan kamarnya. Seberapa dia menyesal telah pergi meninggalkan kamar ini di hari itu. Pikirannya tenang dan dia akhirnya merasa nyaman setelah sekian hari merasa tegang dan kelelahan.


Harsa membuat keputusan pribadi untuk melupakan ujian itu selagi dia menunggu hasilnya keluar. Berbeda dengan Harsa, Aster sangat tegang, Setiap kali dia bertemu Harsa, hal yang dia tanyakan pasti kabar mengenai hasil ujian dari Adi. Dengan sabar Harsa selalu menjawab bahwa dia tak punya metode komunikasi Adi dan meyakinkan bahwa Aster akan mendapatkan informasi dari Adi lebih dahulu dibandingkan dengannya. Daripada mengkhawatirkan ujian standarisasi kemarin, Harsa lebih fokus untuk menghadapi ujian kenaikan kelas, kegiatan klub, dan main-main bersama dengan teman-teman.


Meskipun Harsa tak begitu peduli dengan ujian standarisasi, akhirnya kabar mengenai hasil ujian itu keluar juga.


“Sa!!” Pesan dari Aster muncul ketika dia sedang belajar untuk ujian akhir biologi. “Adi sudah menghubungimu belum?”

__ADS_1


Belum sempat Harsa menjawabnya, Aster meneleponnya. “Hai, Ter. Kak Adi belum ngasih tahu apa-apa. Kenapa emangnya?”


“Kita lulus, Sa! Lulus!” Teriak Aster bersemangat.


“Lulus? Kamu serius, Ter?” Harsa malah lebih tidak percaya daripada senang. Pascanya, kelompok mereka tidak menyelesaikan ujian tahap kedua dengan baik. Bahkan mereka sampai kena marah pengawas ujian.


“Ya! Ya! Ya! Aku belum tahu detailnya sih, tapi tahu sudah lulus saja aku sudah lega banget. Dengan gini aku bisa belajar sihir di Drestha bukan?”


Harsa turut tersenyum mendengarkan antusiasme Aster. “Ya, kayaknya sih begitu.”


Sesuai dengan kata Aster, malam hari itu Adi datang ke rumah dengan membawa kabar baik. Kelelahan Adi tak mencegahnya untuk tersenyum ketika mengabarkan bahwa Harsa dan Aster lulus ujian.


“Selamat, ya.” Katanya sambil duduk di sofa ruang tamu mereka, tak peduli kalau bajunya kotor karena habis bertarung seharian.


Harsa cengengesan karena senang. “Rasanya kayak menang voucher kejutan. Aku heran dah, kak. Kenapa bisa lulus? Soalnya waktu itu di tahap kedua kelompok aku nggak ada kerja samanya sama sekali.”


“Nih lihat sendiri.” Katanya memberikan kertas-kertas yang bertuliskan bahasa Kasarewang. Di sana terpampang dengan jelas angka bertuliskan; 501/1000.


“Itu rapormu.” Jawab Adi. “Jujur nilainya jelek sekali. Untuk lulus, kamu harus dapat nilai lebih tinggi dari lima ratus. Kalau melihat nilaimu sih, kayaknya mereka meluluskanmu karena merasa nggak enak karena telah melakukan kesalahan di ujian terakhir.”


“Maksudmu yang formskitter tak berinti itu?”


“Ya. Itu insiden yang cukup dibicarakan kemarin. Apalagi siapa temanmu? Bedo? Dia terluka cukup parah’kan.”


Harsa ingin mengatakan, ya, tapi dia bukan temanku, namun mengunci mulutnya. “Ya, seram sih lukanya. Tapi kalau aku lulus karena insiden itu, aku jadi tidak tahu harus mengeluh atau bersyukur” Kata Harsa tertawa.


“Lima ratus satu?” tanya Erik terkejut.

__ADS_1


“Iya, Pa.” Kata Harsa menegaskan. “Kenapa emangnya?”


“Itu jelek banget, Sa.” Kata Erik tanpa menutup-nutupi. “Hati-hati sulit masuk universitas Drestha loh. Memang ujian standariasi dibuat mudah untuk lulus, tapi perlu nilai tinggi supaya bisa masuk pendidikan tinggi.”


“Aaahh.” Harsa mengangguk-angguk. “Soal itu…” Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi menggeleng-geleng tak jadi.


“Kenapa?” tanya Adi penasaran.


“Nggak, nggak apa-apa kok.”


Adi menghela nafas. Dia lalu mengaktifkan salah satu cincinnya, dan satu buah cap yang terbuat dari batang kayu keluar dari udara kosong. “Ah ya. Aku ke sini mau memberi ini.”


“Capku?!” Tanya Harsa bersemangat.


“Ya.”


“Yeay! Makasih kak.” Kata Harsa sambil menerima cap kayu berbentuk balok yang berukuran dua centimter kurang-lebih. Lambing Kerajaan Kasarewang terpatri di salah satu permukaannya yang mulus. Benda itu mirip dengan pembakar kata, namun bedanya, ketika tutupnya dibuka, ada sebuah busa yang tercekuk ke dalam. Ketika Harsa memasukkan phsisnya ke sana, busa itu penuh dengan tinta berwarna ungu.


“Eits. Jangan dipakai untuk sembarang cap ya.” Peringat Adi. “Barang itu bukan mainan.”


“Hehe. Siap, kak. Tahu aja.”


“Ya, sudah aku ke rumah Aster dulu, ya. Aku akan kasih punya dia.” Kata Adi sambil berdiri.


“Iya, goodluck ya?” Kata Harsa menggoda.


Adi hanya bisa menghela nafas panjang.

__ADS_1


 


 


__ADS_2