Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Universitas Drestha (2)


__ADS_3

Pengumuman dari Adi menarik Harsa kembali ke kenyataan. “Di sini?” tanyanya tak percaya.


Bertolak belakang dengan skema Harsa akan apa itu ‘gerbang universistas’, mereka bukan satu-satunya yang berada dalam gua itu. Beberapa Kasarewang lain berjalan dalam kelompok. Salah satu dari mereka menyentuh kristal itu dan memasukkan physis ke dalamnya, lalu mereka semua berjalan masuk ke dalam kegelapan gua dan menghilang. Harsa melihat kakaknya yang jarang-jarang tersenyum.


“Wah, sudah lama sekali. Aku jadi bernostalgia.” Kata Adi sambil memasukkan physisnya ke dalam kristal itu. “Ayo masuk.”


Punggung Harsa bergidik ketika dia berjalan masuk ke dalam kegelapan gua, namun dia percaya saja dengan Adi yang sudah lebih berpengalaman. Begitu masuk ke dalam bagian gua yang gelap, Harsa tersentak. Indranya langsung diserang oleh informasi-informasi yang bertolak belakang. Cahaya terang terpancar dari atas langit yang tak berawan. Suasana lembab gua berubah menjadi seburan terik panas matahari.


Di depannya, lapangan berumput yang dipotong dengan rapi terhampar luas. Di lapangan itu, beberapa Kasarewang sedang mengobrol, berlatih sihir mereka, dan beberapa bermain skateboard terbang. Jauh di depan mata, sebuah kastil besar yang terbuat dari karang-karang berdiri. Kastil itu ditutupi oleh tembok yang juga tersusun oleh batu karang yang sudah mati. Tembok itu membentuk satu kotak persegi panjang yang mengelilingi gedung Universitas Drestha. Di belakang tembok karang itu, berdiri pohon-pohon pinus yang tingginya bahkan melebihi tembok itu.


“Khusus hari ini, Universitas Drestha dibuka untuk umum, supaya keluarga dan teman bisa mengantarkan siswa-siswi yang akan tinggal di asrama.” Kata Adi. “Jadi ramai sekali. Biasanya alumni saja tidak boleh masuk.”


“Wahh… Aku nggak nyangka. Apa kita benar-benar berada dalam ruangan di luar angkasa?” tanya Harsa sambil merasakan semilir angin membelai pipinya.


Dahi Adi berkerut. “Apa? Nggak. Mantra yang terdapat dalam kristal tadi berbeda jenis dengan mantra apartemen portabelku. Daripada mengubah ruang yang sudah ada di angkasa, mantra itu menciptakan ruang baru dan dimensi baru khusus untuk Universitas Drestha.”


“Jadi kita tidak berada di tepi dunia roh?” tanya Aster.


“Kita masih di sana, tapi tidak seperti ada dimensi tambahan dalam gua itu.” Jelas Adi sambil mulai berjalan menuju kastil.

__ADS_1


Ketika mereka berjalan ke gedung itu, selalu saja ada satu kelompok yang berhenti melakukan aktivitas mereka untuk melirik Adi, Harsa, dan Aster, sebelum akhirnya berbisik-bisik di antara mereka sendiri. Punggung Harsa menegang melihat perilaku seperti itu. Dia melihat Aster khawatir, namun anak perempuan itu hanya menunduk ke bawah. Dia  mengabaikan semua yang terjadi dan fokus pada jalanan menuju gedung universitas.


Setelah mendaftar ulang, Aster mendapatkan satu buah lempengan buat seukuran kancing yang menjadi ‘kunci’ dari asramanya. Di lantai dua sebelah kiri kastil, mereka masuk ke bagian asrama putri yang ramai dipenuhi oleh keluarga-keluarga dari murid-murid Universitas Drestha. Bagian asrama itu merupakan satu ruang aula besar yang di penuhi oleh lemari berisi kubus-kubus yang terbuat dari bahan metal yang sama seperti ‘kunci’ Aster.


Mereka mencari kubus yang diberi angka sesuai dengan kamar Aster, 202. Kubus seukuran sepuluh senti itu berada di rak lemari bertanda dua di rak kedua. Setelah Harsa perhatikan, di dalam kotak itu terdapat batu akik yang menyimpan mantra dekrit ruang lainnya.


Adi mengambil ‘kunci’ kamar Aster dan menaruhnya di slot bulat di bagian atas kubus. “Kotak ini berfungsi agar tidak ada yang bisa mengaktifkan mantra menuju kamar kamu sembarangan. Ada mantra dalam kotak ini yang mecegah physis mengalir.” Jelas Adi. “Untuk ‘membuka’ pintu kamarmu, kamu harus menaruh ‘kunci’ ini ke sisi atas kotak ini, barulah kamu bisa menaruh physis ke dalamnya.”


Sembari menjelaskan, Adi memasukkan physisnya sendiri ke dalam lempengan kotak tersebut. Pintu mozaik warna-warni terbuka dari dalam kotak kubus itu. Masuk ke pintu mozaik warna-warni itu, mereka tiba di apartemen portabel yang mirip seperti milik Adi, hanya sedikit lebih kecil.


“Lumayan juga.” Kata Harsa ikut bersemengat.


Saat itulah kedua kakak beradik saling berpandangan. “Aku baru sadar kamu perlu makan.” Kata Adi sambil menggaruk kepalanya. “Uuhh. Di kantin banyak yang menjual minuman yang merupakan kumpulan physis atau elemen itu, tapi… Kurasa kamu tidak bisa makan itu…”


“Aku sebenarnya sudah terpikirkan hal ini.” Kata Aster sambil mendesah. “Aku membawa kompor kecil dan makanan darurat. Tapi kalau begini aku harus bulak-balik ke rumah untuk membeli bahan makanan.”


Harsa dan Adi memandang Aster degan tatapan kasihan. Harsa sudah terbiasa bertahan hanya dengan physis, tapi Aster tak mungkin mencerna physis. Aster adalah murid pertama di Universitas Dresta yang merupakan manusia, jadi tak ada fasilitas berbeda untuknya.


Aster malah tersenyum miring ketika dilempari tatapan simpati. “Jangan khawatir, Pasti aku akan cari cara untuk bertahan.”

__ADS_1


Adi balik tersenyum bangga, “Ya, kamu pasti bisa. Kalau ada apa-apa, hubungi aku saja.”


“Siap.”


“Tapi jujur aku khawatir. Kasarewang suka ngebully gak sih kak?” tanya Harsa.


“Nggak, kok. Kalau sudah di universitas biasanya pada cuek, tapi mungkin saja sih ada yang tak mau berteman dengamu.” Kata Adi jujur.


Aster menggeleng-geleng. “Aku sudah terbiasa sendirian, kok.” Kata Aster sambil mengacungkan jempolnya.


Harsa menggeleng-geleng khawatir. "Kamu ini. Apa benar-benar nggak apa-apa?"


Aster tertawa. Dia senang karena ada orang yang benar-benar peduli padanya. "Ya, kalau kamu khawatir gitu... Kamu cepat-cepat lulus dan masuk Universitas Drestha! Masuk sini temani, aku!"


"Uhh, yaa. Aku juga berpikir kalau aku memang perlu bersekolah di sini." Kata Harsa ragu.


"Jangan khawatir." kata Adi sambil menatap Aster dengan intens. "Kalau ada apa-apa, kamu langsung kontak aku saja. Aku akan datang, kok."


Pipi Aster menyala merah. Matanya langsung mencari-cari tempat lain untuk dilihat selain mata biru jernih Adi. Dengan gugup dia menjawab, "I. iya."

__ADS_1


Sementara itu, Harsa menepuk jidatnya sendiri.


__ADS_2