Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Gilda


__ADS_3

Aura kuat dan padat Gilda beradu dengan aura Harsa ketika kakinya menginjak di kelas Harsa. Aura Gilda langsung membangunkan Harsa. Dia tersenyum penuh percaya diri pada Harsa yang berwajah ‘huh’.


“Wooahhh!!” Kata teman-teman satu kelas Harsa yang kaget melihat kehadiran Gilda.


“Ya ampun ada bule!”


“Idih maluin banget.”


“Hush! Semua tenang!” Teriak guru wali kelas mereka. ”Hari ini kita kedatangan siswi pindahan. Dia merupakan salah satu putri diplomat dari luar negeri. Bahasa Indonesianya belum bagus. Jadi, tolong pada bantu dan maklum ya! Ayo, kamu boleh perkenalkan diri sebelum duduk.”


“Ha, hallo!” Kata Gilda sambil melambaikan tangannya dan bergerak malu-malu. “Salam kenal, namaku Gilda. Aku enam belas dan baru pindah dari Jakarta ke Bandung. Tolong bantu ya!”


Seisi kelas bertepuk tangan. Gilda duduk di salah satu pojok kelas dan terus memandang Harsa dengan senyum penuh kemenangan. Beberapa anak langsung mengajaknya berkenalan.


Harsa mengucak-ucak matanya. “Apa? Aku pasti mimpi.” Dia mencubit lengannya sendiri. Rasa sakit di tangannya berkata sebaliknya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kenapa, Sa? Kamu kenal Gilda?” Tanya Barasa menyadari mereka sempat saling berpandangan.


“Pasti ada kesalahan…” Gumam Harsa yang masih tak percaya. “Tidak mungkin orang yang sama…” Aura kuat dari Gilda menyatakan sebaliknya.


“Jadi kamu benar-benar kenal dia?” Ulang Barasa.


Sangking terkejutnya, Barasa harus menampar pipi Harsa pelan agar sahabatnya kembali ke dunia nyata. “Hei, jawab!”


“Eh? Hah? Apa?”


“Kamu kenal murid pindahan itu?” Ulang Barasa untuk ketiga kalinya.


“Iyahh… Mungkin…” Jawab Harsa ragu-ragu.


“Mungkin? Kamu memangnya kenal darimana?”


“Kakakku… Semestinya dia teman kakakku.”


Barasa turut bingung. “Kakakmu? Bukannya kakakmu bukan manusia?”


“Iya… Justru itu….”


Mereka tak dapat lanjut mengobrol karena guru mereka langsung memulai pelajaran. Namun, di waktu istirahat, Harsa dan Barasa langsung mendekati Gilda. Dia juga berdiri dan mengajak mereka ke tempat yang sepi. Beberapa anak kelas mereka melototi Harsa karena mereka juga ingin berkenalan dengan Gila.


Tempat sepi yang mereka maksud merupakan lantai empat di kelas kosong markas klub sihir. Dalam kelas itu, mereka bertiga duduk saling berhadapan. Tanpa basa-basi, Harsa memulai rapat mereka.


“Kak Gilda, apa yang kamu lakukan di sini?”

__ADS_1


“Lah, memangnya kakakmu nggak ngasih tahu?” Gilda tanya balik dalam bahasa Kasarewang, sehingga Barasa hanya dapat mengangkat satu alis.


Harsa menggeleng pelan.


“Masa’sih? Dia bilang padaku kalau sudah mengirimimu pesan lewat pemindai suara.”


“Ohh!!” Harsa baru teringat. Beberapa hari yang lalu, Adi memberikannya satu buah cincin batu akik yang biasa dia pakai untuk berkomunikasi. Cincin yang sama yang dia berikan pada Aster tahun lalu. Namun, Harsa tak punya ide bagaimana cara memakainya. Dia menaruh physis ke cincin tas portablenya yang selalu dia bawa di saku celananya. Dari sana, dia menarik cincin lain yang menjadi alat komunikasi Kasarewang. “Aku tak tahu cara pakainya.”


Mata Gilda melebar karena terkejut. “Ya, ampun gampang kok. Kamu tinggal masukan physismu untuk mengaktifkannya.” Kata Gilda sambil mengambil cincin itu dari tangan Harsa. Dia memasukkan physis ke dalamnya, dan suara Adi langsung terdengar keluar.


“Ehm.” Kata Adi. “Aku sudah mendaftarkan jadwal pertemuanmu dengan Raja, kamu tinggal menunggu saja. Aku juga mendapatkan laporan lanjut mengenai kasus penculikanmu. Bosku beranggapan bahwa kamu masih dalam bahaya karena kita belum menghancurkan organisasi formskitter itu sebelumnya. Jadi, kita sepakat untuk meminta Gilda menjagamu. Kamu sudah kenal dengan Gilda’kan? Tolong kerjasamanya, ya. Oh, ya. Aku tahu kamu kuat, jadi aku tidak terlalu khawatir. Sebenarnya kamu juga kunci untuk kita bisa menemukan organisasi itu. Jadi, intinya, tolong, ya.”


“Wow… Oke. Tapi, aku tetap tak paham… Kenapa kamu bisa masuk ke sekolah ini? Maksudku, untuk masuk perlu daftar segala macam kan.”


“Soal itu, aku nggak begitu tahu.” Jawab Gilda dengan ringannya. “Kami minta bantuan kepolisian sihir di sini.”


Ingatan Harsa langsung berpindah pada cerita Barasa dan Aster soal kepolisian sihir. “Wah, ternyata Kasarewang kenal dengan kepolisian sihir di sini?”


“Tentu saja! Mereka satu-satunya hubungan yang Kasarewang punyai dengan pihak manusia. Hubungan seperti itu dibangun susah payah oleh diplomat seperti ayahmu, loh!” Kemudian Gilda terdiam, lalu dengan canggung meminta maaf. “Duh, maaf. Aku tak bermaksud menyinggung. Aku lupa kalau ayahmu tak bekerja sebagai diplomat lagi.


Belum sempat Harsa membalas Gilda. Barasa mengangkat tangannya. “Um, permisi. Kalian sedang berbicara?” tebaknya heran setelah mendengarkan Gilda dan Harsa saling melempar nyanyian satu sama lain.


“Yes.” Jawab Gilda. Dia kembali menatap Harsa dengan tatapan menyelidik. “Ngomong-ngomong, aku sangat penasaran sama kamu. Kau… setengah Kasarewang, bukan?”


Harsa menganggguk.


“I, iya?” Jawab Harsa malah jadi ragu akan identitasnya sendiri. “Kenapa emangnya?”


“Aku penasaran, soalnya aku ini pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang yang merupakan setengah Kasarewang juga. Apa kamu punya masalah dalam mengendalikan sihirmu juga?”


“Ju, juga?” Harsa berdiri terkejut. “Apa maksudmu dengan juga?”


Gilda mengangkat kedua tangannya “Seperti yang kamu kira! Aku juga punya keturunan manusia!” Kata Gilda dengan senyum lebar.


“Wow!! Ini pertama kalinya aku ketemu dengan sesama setengah Kasarewang!”


“Hehehe. Aku juga!”


Harsa dan Gilda langsung akrab satu sama lain. Mereka langsung berbagi kisah tentang bagaimana sulitnya mengontorl sihir masing-masing. Bagaimana mereka bingung dengan identitasnya masing-masing.


“Kamu juga sempat disegel Kainya?” tanya Harsa.


“Yes! Tapi dilepas perlahan sejak aku berumur satu dekade. Soalnya aku mulai masuk belajar di sekolah cara mengendalikan physis. Yang aku dengar dari Adi, kamu punya keselarasan terhadap Dekrit Abstrak ya?”

__ADS_1


“Yaps bener banget.”


“Menarik, ya. Kalau begitu kamu hampir tidak ada bedanya dengan Kasarewang biasa.”


“Yah.. Kemarin sih pas aku ke Drestha, banyak yang mengirang aku Kasarewang sampai aku bilang aku punya keturunan manusia. Tapi, kak Adi sadar, kok.”


“Ya, aku dulu sering cerita kalau dia sering khawatir akan seberapa nggak stabilnya sihirmu.” Komentar Gilda. “Hmm iri deh. Aku juga ingin punya keselarasan.”


“Memangnya kamu nggak punya?”


Gilda menggeleng. “Karena itu dulu teman-teman di sekolah langsung tahu kalau aku setengah Kasarewang. Aku hanya bisa mengontrol physis saja, tapi aku tak bisa menguba physis menjadi elemen apapun.”


“Memangnya nggak bisa mengubah physis dan elemen seperti Aster?” tanya Barsa. Dia berusaha masuk ke pembicaraan.


“Ah, iyaa… Anak manusia yang baru-baru ini bikin heboh karena masuk Universitas Drestha, ya.” Gilda menyentuh dagunya. “Aku jujur tertarik dengan sihirnya, tapi sepertinya mustahil untuk Kasarewang meniru sihir manusia. Kalau sudah bisa, pasti setiap orang sudah menguasai semua dekrit. Kalau begitu, tatanan masyarakat Kasarewang sudah pasti berubah drastis.”


“Tatanan masyakarat?” tanya Harsa yang tak pernah tinggal di antara Kasarewang.


“Ya. Kebanyakan Kasarewang yang punya selerasan dengan Dekrit Hidup dan Ruang adalah bangsawan. Lalu, Dekrit Materi dan Dekrit Abstrak orang biasa.”


“Eehhh. Begitu. Bagaimana dengan Dekrit Waktu?” tanya Harsa.


“Hanya dikuasai oleh Raja Kasarewang saja.”


“Kamu tahu banyak soal masyarakat Kasarewang ya.” Harsa mencatat dalam mentalnya kalau dia bukan bangsawan di Kota Drestha. “Aku tak tahu apa-apa soal tatanan masyarakat di sana. Di ujian pun itu tidak pernah dibahas.”


“Soalnya aku lahir dan besar di Drestha sih! Pengetahuan seperti itu sih sudah umum, nggak perlu diajarkan di sekolah. Sebaliknya, aku justru nggak tahu apa-apa soal manusia.” Gilda melanjutkan. “Aku semangat banget untuk ikut misi ini karena ingin belajar lebih banyak lagi soal manusia sih. Aku belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris dari ayahku, tapi aku tak tahu banyak soal kehidupan manusia lainnya. Ini pertama kalinya juga aku tinggal di Dunia Material, jadi tolong, ya.”


Pertama kalinya Harsa merasa begitu nyambung dengan seseorang. Matanya terbakar dengan semangat dan gairah. Namun, di akhir cerita Harsa segera tahu kalau ada perbedaan besar antara dirinya dan Gilda.


Gilda merasa lebih seorang ‘kasarewang’ daripada ‘manusia’.


“Bahasa Indonesia cukup bagus tapi.” Komentar Barasa.


“Kepolisian sihir mengajariku sebulan penuh setiap hari.” Gilda tertawa mengingat kesengsaraannya.


“Mereka di Drestha?” Tanya Harsa.


Gilda mengangguk. “Tapi sekarang sudah di Indonesia lagi. Mereka juga akan terlibat dalam melindungimu dari organisasi itu. Juga… memburu organisasi itu.”


Kenyataan menabrak Harsa seperti kereta MRT, membawanya dengan kecepatan tinggi dari kesenangan bertemu dengan setengah Kasarewang. “Benar juga. Aku nggak bisa santai-santai saja.” Kata Harsa bertekad.


“Ya! Ayo kita buat mereka bayar harga karena sudah melukai tanganmu!” Kata Gilda sambil menonjok ke udara.

__ADS_1


 


 


__ADS_2