Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Kota Drestha


__ADS_3

Harsa tidak tahu apa yang harus dia ekspektasikan dari perjalanannya ke Kota Drestha dengan Adi pada hari yang dijanjikan. Jadi, Harsa menyiapkan satu tas ransel berisi baju, makanan, dan barang berharganya. Seperti biasa, Adi tidak membawa apa-apa selain pakaian di badannya dan delapan cincin batu akiknya.


Seperti yang sudah mereka janjikan, Aster datang sebelum matahari terbenam. Dia juga sudah siap dengan tas ransel, topi, dan sepatu. Rambut panjangnya diikat satu sehingga menunjukkan senyuman cerah di wajahnya. Di tangannya, Aster membawa totebag berisi kotak yang dibungkus oleh kertas kado dengan rapi. Tanpa banyak kata, dia menjulurkan totebag itu.


“Selamat ulang tahun!” ucap Aster.


Harsa membalas senyumnya dengan tulus. “Makasih banyak! Haha, kalau begini aku harus membalas nih waktu ulang tahun kamu.”


“Nggak usah.” Kata Aster ringan. “Lagian kado itu makanan kok.”


“Kalau gitu, kita bawa aja. Siapa tahu bisa dimakan bareng-bareng nanti di jalan.”


Adi memincingkan matanya. “Apa? Nggak usah.”


“Kak, beda dengan kamu, Aster harus makan.” Bantah Harsa. “Kamu bawa bekal’kan?” Harsa berpaling pada Adi. Aster mengangguk yakin.


“Hm, tak kusangka kamu akan ke Drestha juga.” Kata Erik yang masih mengenakan piama.


“Papa yakin nggak mau ikut?” tanya Harsa. Dia baru sadar setidaknya Erik belum pulang ke kota Drestha selama enam belas tahun. Ah, tapi mungkin itu waktu yang singkat untuk Erik.


Erik menggeleng. “Kasihan kakakmu.”


Adi mengulurkan kedua tangannya. “Sudah siap? Kalau, ya. Pegang tanganku.”


Harsa memegang tangan kiri Adi dan Aster tangan kanannya. “Siap.” Kata Harsa.


“Bentar. Tarik auramu.” Suruh Adi sambil melemparkan tatapan tegas pada Harsa.


“Kenapa? Bukankah aura penting untuk mendeteksi formskitter?”


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan formskitter selama berada di dalam Kota Drestha.” Jawab Adi. “Justru kalau kamu mengeluarkan aura seperti itu, orang-orang akan mencurigai kenapa kamu sangat waspada.”


Harsa mengangguk tanpa banyak bertanya dan menarik auranya agar Adi segera melanjutkan.


“Lalu, tutup mata kalian.” Perintah Adi. “Ini pengalaman pertama kalian dalam berteleportasi, bukan? Aku peringatkan lebih awal bahwa akan terasa sedikit pusing.”


“Bukankah biasa kita juga berteleportasi dari Dunia Material ke Tepi Dunia Roh?” tanya Aster kali ini bingung.


Dahi Adi berkerut. “Mantra yang terdapat di cincin itu, dan cincin ini sama-sama berfungsi untuk memanipulasi elemen di bawah dekrit ruang, namun elemennya berbeda. Coba kamu rasakan saja. Aku tidak bisa menjelaskan dekrit ruang dengan benar.”

__ADS_1


Aster mengangguk. Setelah mulai dapat mempelajari sebagian kecil dekrit hidup, Aster juga penasaran dengan dekrit ruang. Sayangnya, Adi tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


“Siap?” tanya Adi sekali lagi.


Harsa dan Aster mengangguk dengan mata tertutup.


“Jangan buka mata sampai aku bilang buka.” Kata Adi lagi. Kemudian, punggung Harsa bergetar ketika merasakan jumlah physis yang dikerahkan Adi ke salah satu cincin batu akiknya. Satu saat kemudian, Harsa merasakan angin pagi menepak pipinya dengan lembut.


“Iya, sekarang, boleh buka mata.” Kata Adi sambil melepaskan kedua tangan Aster dan Harsa.


Harsa membuka matanya perlahan. Dia tidak lagi berada di dalam ruang tamu keluarganya, dia sedang berada di tengah hutan belantara. Seperti kata Adi, pergantian tempat dan waktu yang begitu drastis hampir membuatnya kehilangan pijakan kaki.


“Wow.” Ungkap Aster kagum melihat dimana mereka beradai. “Bagai-” Pertanyaan Aster terhenti ketika melihat wajah Adi yang sedikit pucat. “Apa kamu nggak apa-apa?” tanyanya pengertian.


Adi tidak bisa menatap Aster tepat di mata. Dia menengok ke samping untuk menyembunyikan pipinya yang mulai memerah kembali. “Nggak apa-apa, kok. Aku hanya tidak menyangka kalau ikut membawa kalian akan semelelahkan ini.”


“Ah, iya. Kakak pernah bilang kalau bulak-balik dari Drestha ke rumah melelahkan.” Harsa teringat. “Aku sampai merasa takut tadi karena jumlah physis yang kakak pakai besar sekali.”


“Aku takut kita terpisah.” Kata Adi. “Lebih baik pakai banyak physis daripada menyesal.”


“Tapii.. jadi ini Drestha?” tanya Aster agak bingung, melihat bagaimana jauhnya mereka dari kata ‘perkotaan’.


“Bukan. Kita masih di Dunia Material. Destha berada di Tepi Dunia Roh.” Sambil menjawab, Adi melambaikan tangannya. Tudung transparan di sebelahnya terbuka menunjukkan satu alun-alun kota yang berbentuk bulat. Beberapa orang yang sedang berjalan-jalan menengok pada mereka, namun langsung mengabaikan tudung transparan yang terbuka.


Baik Aster dan Harsa terkesiap melihat pemandangan kota Kasarewang itu. Alun-alun kota itu ditutupi dengan batu bata berwarna coklat muda dengan rapi. Di tengah-tengah alun-alun itu, satu air mancur besar berdiri dengan gagahnya. Di tengah air mancur itu, patung stickman yang kedua tangannya menggendong lingkaran batu besar yang terus berputar. Dalam lingkaran itu, terdapat lima bola kecil yang saling berputar mengelilingi lingkaran itu. Di sekeliling alun-alun itu, terdapat kursi dan meja taman dari besi yang berjajar dengan rapi.


Di tengah-tengah pagi hari seperti ini, alun-alun lebih ramai dari yang Harsa kira. Beberapa pasangan Kasarewang sedang bercakap-cakap sambil duduk di kursi taman. Di ujung taman alun-alun, terdapat anak-anak Kasarewang yang sedang bermain-main skateboard terbang. Di keempat penjuru taman, banyak kios-kios sementara yang menjual minuman dan permen berwarna-warni. Tak butuh waktu lama, Harsa langsung menyadari bahwa hanya minuman dan permen saja yang mereka jual. Tak ada makanan atau minuman jenis lain.


Harsa merasa bingung mendeskripsikan perasaannya ketika melihat sekelilingnya. Kota itu tampak jauh lebih normal dari perkiraan Harsa, tapi juga sangat berbeda. Perbedaan pertama yang langsung Harsa sadari adalah bagaimana mencoloknya penampilan semua orang. Mulai dari warna rambut merah terang, kuning terang, pink, biru, ungu, hijau, hingga ke pakaian mereka dan aksesoris yang orang-orang itu gunakan. Semua warna tampaknya bisa disebut untuk mendeskripsikan warna rambut dan mata orang-orang ini. Dari dalam diri setiap orang di sekitarnya, Harsa bisa merasakan jumlah physis besar yang sudah seperti bom waktu. Sekarang, Harsa paham kenapa Adi berkata bahwa mengeluarkan aura di dalam kota sangat tidak sopan. Pertubrukan aura antar Kasarewang sebanyak ini akan mencekik lehernya karena dia tidak dapat bernafas.


Perbedaan kedua yang dia rasakan adalah setiap orang, setiap orang bernyanyi. Yah, terkadang terdengar tawa di sela-sela nyanyian mereka, namun semua orang berbicara dengan bahasa Kasarewang dengan lancar. Harsa hanya dapat menangkap sedikit makna dari apa yang orang-orang di sekitarnya ucapkan. Namun, seperti yang Harsa duga, Aster menatap mereka bingung.


“Uh, ya. Aku tidak menyangka akan seperti berangkat ke negara lain.” Kata Aster. “Apa yang mereka semua nyanyikan?”


“Nada-nada itu bukan lagu. Itu bahasa Kasarewang.” Kata Adi.


“Aku juga belum begitu paham, kalau kamu penasaran.” Harsa berinisiatif menjawab tatapan bingung Aster.


Langit di sekitar mereka terbentang luas dengan warna biru bening. Hanya di utara alun-alun mereka, terdapat satu buah gunung kecil yang mencolok karena berada di tengah-tengah kota. Di sisi gunung tersebut, di atas tebing yang menjorok ke keluar, berdiri satu kastil raksasa yang seolah-olah selalu mengawasi keadaan kota Drestha. Menara-menara batu berterbangan di sekeliling gunung itu. Tampaknya mereka menjaga baik gunung, kastil, maupun kota Drestha.

__ADS_1


“Kakak, lahir di sini?” tanya Harsa merenung. Dia membayangkan Adi kecil, seratus tahun lalu, bermain-main skateboard terbang seperti anak-anak di ujung taman itu.


Adi sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. “Ya. Tentu saja. Kenapa?”


“Nggak, rasanya… beda saja.”


“Hari ini akhir pekan, sehingga kebanyakan orang sedang bersantai. Di hari biasa alun-alun Kota Drestha tidak seramai ini.” Cerita Adi sambil mulai berjalan menuju gunung kecil di dalam kota itu.


Tak lama setelah mereka berjalan, seorang wanita muda berambut pirang panjang dengan mata biru muda melihat Adi, kemudian melambaikan tangannya dengan ramah. Adi balas melambai. Wanita itu melihat Aster dan Harsa dengan tatapan heran, sebelum berbicara santai dengan Adi dalam bahasa Kasarewang.


“-----------adik-------dan-----------?” tanya wanita itu ramah.


Kali ini, wajah Adi memerah bagai tomat. “-----------!”


Wanita itu tertawa, lalu pergi sambil melambaikan tangannya. “--------------------!”


“Dia teman dan atasanku yang mengambil studi manusia.” Kata Adi pada Harsa dan Aster, menekankan pada kata ‘teman’.


“Oh?” Harsa tidak tahu harus bagaimana menjawab. “Apa kita tidak perlu berkenalan dengannya?”


Adi menggeleng. “Dia tidak bisa bahasa Indonesia.”


“Lalu, di mana kita bisa bertemu dengan orang bisa mengajariku memanipulasi berbagai macam elemen?” tanya Aster yang mengikuti Adi dari belakang.


Adi menunjuk ke gunung kecil itu. “Di sana.”


“Di kastil itu?” tanya Harsa bersemangat. Dia ingin melihat-lihat kemegahan kastil itu dari dekat.


Adi tertawa kecil. “Tidak. Kastil itu tempat tinggal keluarga kerajaan. Tidak mungkin kita masuk ke sana. Kita akan menemuinya di gubuk kecil di kaki gunung itu.”


Aster mengangguk-angguk.


“Tapi, kak. Sebenarnya aku nggak ngerti. Katamu sulit sekali mempelajar elemen lintas dekrit.” Tanya Harsa sembari mereka berjalan menyusuri trotoar. Mereka mulai memasuki daerah pertokoan yang ada di dekat alun-alun.


“Ya, lalu?”


“Bagaimana orang ini bisa mengajari Aster cara memanipulasi dan mengendalikan banyak elemen?”


“Tentu saja bisa. Dia bisa mengajari Aster semua jenis elemen, kalau dia punya keselarasan dengan empat jenis dekrit.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2