
Pandangan mata Adi dingin bagai dapat membekukan Edi dan Harsa. Tangannya terkepal keras karena marah. Harsa bergidik karena tekanan aura Adi yang semakin mengerikan. Kakaknya, benar-benar marah.
“Kak… Berarti dia juga yang membuat papa nggak bisa memakai sihirnya lagi?”
“Ya.” Jawab Adi singkat. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Adi mengusir semua pemikiran dan perasaan membebaninya. Ekspresinya berubah drastis ketika dia membawa dirinya kembali ke kenyataan. Adi lalu memandang Harsa penuh dengan simpati. “Aku akan mengajukan cuti dari kerja untuk menjagamu.” Kata Adi pada Harsa.
“Makasih, kak.” Kata Harsa tidak bersemangat.
“Uhh. Sekarang dengan Lisa tidak sadarkan diri, dan Gilda…. Sudah tidak ada lagi…. Apa kita masih melaksanakan rencana kita?”
“Rencana apa?” tanya Adi tajam.
“Kita mau mengejar mereka. Formskitter itu.” Jawab Edi. “Tadinya… Ketika mereka datang, kita akan memanfaatkan kesempatan itu untuk sekaligus melacak dan menghancurkan organisasi mereka sekaligus.
Adi menggeleng-gelengkan kepala. “Apa kamu gila?” tanya Adi dengan mata melotot.
Edi tak berkutik ditanya seperti itu. Dari penampilan keduanya, usai mereka memang tidak terlihat berbeda jauh. Namun, untuk perama kalinya Harsa merasa bahwa kakaknya seperti seorang mahkluk kuno. “Yah… Aku memang mengajukan rencana itu, tapi kami menyetujuinya bersama.”
Harsa segera berbicara untuk mencairkan sauasana. “Jadii.. Kak Edi kemarin sudah berhasil menaruh pelacak di tubuh formskitter itu. Benar’kan?”
Edi mengangkat teleponnya yang menunjukkan peta di handphonenya. Satu titik yang sedang bergerak menarik perhatian Adi dan Harsa. “Ya. Kita bisa mengejar mereka. Selain lokasi, kita juga bisa melihat suara dari sekitar formskitter itu. Aku sendiri terkejut. Kita bisa menemukan lokasi mereka di Tepi Dunia Roh dari Dunia Material.”
“Bagaimana…” tanya Adi kebingungan melihat balok besi itu.
__ADS_1
“Teknologi manusia.” Jawab Edi singkat. “Gilda bilang satu minggu biasanya mereka akan pergi ke mana-mana untuk menjebak kita. Jadi, mungkin lebih baik menunggu satu minggu.”
“Uhh.” Adi memiringkan kepalanya. “Aku tak tahu harus bilang kamu gila nekat atau gila bodoh. Aku jujur ingin ikut. Tidak, aku harus ikut.” Kata Adi memutuskan.
“Tentu saja. Aku sih senang kamu mau bantu.” Jawab Edi.
“Yah… Costa yang pasti akan protes.” Kata Adi. “Dia tidak suka aku bertarung karena dendam.”
“Satu minggu… Aku harus latihan, dan…” Harsa melihat tangannya sendiri yang hitam. “Aku pikir aku membuat kesalahan besar dengan menunda menyelesaikan masalah tangan ini. Kalau saja aku menyembuhkan tanganku sendiri sebelum kemarin, aku mungkin bisa bergerak untuk membantu Gilda untuk bertarung.”
“Sa.” Potong Adi cepat. “Jujur aku lebih bersyukur kamu nggak gak bisa bergerak. Sihir formskitter itu teraktivasi ketika terkena lawannya. Lalu sihir itu… ya menghancurkan pintu Kai dan vasal. Kamu akan segera berakhir kalau tidak bisa merasakan physis.”
Meskipun Adi sudah berkata seperti itu, Harsa tidak bisa tenang. “Tapi.. pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan.”
“Yaitu… ayo kita pergi ke kediaman adipati sebelumnya. Untuk menyembuhkan tanganmu juga.” Putus Adi cepat. “Sana, pergi bilang ke ayah ibumu kalau kamu akan pergi.”
Harsa mengangguk. Lalu dia berpaling pergi dengan hati berdebar-debar. Dia berjanji, kali ini, dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
***
Adi berkata bahwa kediaman adipati sebelumnya berada di luar Kota Drestha. Kediaman itu berupa hutan luas yang di dalamnya terdapat satu villa yang menyerupai istana kerajaan. Seluruh wilayah itu diliputi oleh mantra persembunyian yang membuat formskitter tidak dapat masuk ke sana. Namun, oleh karena itu, lokasi kediaman sang mantan adipati itu juga sulit ditemukan. Hanya keluarga mantan adipati dan orang yang diberi ijin oleh sang raja yang dapat masuk ke sana.
“Jadi, kertas dengan cap ini sangat penting?” tanya Harsa sambil mengenggam erat-erat kertas yang seolah-olah ingin lari darinya.
__ADS_1
“Ya, cap di tengah itu merupakan satu mantra yang mengambil physis di sekitar untuk bekerja. Mantra itu memungkinakan kita untuk melewati pengharang sihir ruang yang akan membuat orang-orang berputar-putar.” Cerita Adi.
Mereka berdua berdiri di pinggir benteng Kota Drestha. Baik Adi dan Harsa siap dengan baju pendaki mereka. Adi dengan seragam tentaranya yang biasa, karena baju itulah yang paling enak dia pakai untuk banyak bergerak. Harsa memakain kaos dan celana training. Dia tidak suka memakai cincin batu akik yang mencolok, tapi untuk kali ini, dia memakai semua cincinnya, termasuk cincin cadangan physis yang dipinjamkan Adi untuknya. Dia siap menarik pedang kembarnya.
“Kak Adi, di perjalanan ini, bisa kamu sekalian latih aku untuk memakai elemen gelombang magnetik?” Pinta Harsa sebelum mereka melangkah keluar dari perlindungan mantra kota Drestha. Di depan mereka, Harsa sudah dapat merasakan aura beberapa formskitter yang setiap harinya menyerang kota Drestha.
“Nggak bisa. Bukan karena aku nggak mau lho. Itu karena aku nggak bisa menggunakan elemen gelombang magnetik. Di Dektrit Abstrak, aku hanya bisa menggunakan elemen api dan elemen listrik. Kamu harus menguasai elemen gelombang sendiri. Tapi jangan khawatir, di perjalanan ini, banyak kesempatan untuk latihan.”
“Formskitter-formskitter itu?” tanya Harsa Wijaya dengan determinasi tinggi.
“Ya. Apa kamu takut?”
Harsa menggeleng. Dia tidak takut. Dia terlalu marah dan ingin menjadi kuat untuk mengalahkan mereka semua. Dari auranya, formskitter-formskitter itu tidak sama kuatnya seperti formskitter yang menyerangnya. “Nggak sama sekali.”
“Kalau begitu ayo pergi.”
Mereka berdua kemudian langsung berlari ke depan. Adi sudah mengeluarkan pedangnya untuk menghancurkan formskitter itu. Dia menciptakan awan kinton dan naik ke sana. Di atas awan itu, Adi melesat cepat. Serangan Adi mematikan. Dia terbuang begitu cepat tanpa disadari oleh itu ketika dia menanyakan pedangnya orang sekitar itu terbelah menjadi dua tanpa perlawanan
Di belakangnya, Harsa juga langsung mengeluarkan kedua pedang kembarnya. Dia mengalirkan physis dan mengubahnya menjadi elemen magnetic. Harsa mencipatakan kutup positif dan negatifyang memungkinkannya untuk terbang melaju ke depan menyusul Adi. Harsa harus berkonsentrasi keras untuk tetap terbang dengan gelombang magnetiknya.
Adilah yang banyak menyelesaikan hidup formskitter-formskitter itu. Harsa hanya membunuh satu dua formskitter yang terlewat oleh Adi. Harsa lebih terfokus untuk mengendalikan ruang magnetiknya. Sulit, namun jika Harsa bisa mengendalikannya sepenunya, dia bisa bergerak bebas di udara seperti Costa ketika mengendalikan elemen di sekitarnya. Berkali-kali Harsa terjatuh karena kehilangan kontrol akan elemen magnetiknya.
Setelah sekitar mereka menghabisi barulah perjalanan itu lebih tenang. Tanpa terasa, ketika mereka berjalan menurut arah dari kertas itu, seluruh badan Harsa seperti tersengat listrik statis. Harsa melirik kakaknya. Adi mengangguk. Dia juga merasakan listrik statis itu. Harsa melihat kertas yang diberikan oleh sang raja. Cap mantra yang berada di sana telah hilang. Mereka telah sampai.
__ADS_1