Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Bahasa Kasarewang


__ADS_3

Harsa menelan ludah mempersiapkan dirinya masuk dalam ruang klub sihir. Dalam sana, Harsa tahu Aster sudah berada di sana. Seperti minggu-minggu sebelumnya, siswi itu pasti sedang belajar, tapi bukan belajar bahan-bahan sekolah. Aster pasti belajar bahan-bahan ujian standarisasi Kasarewang. Setelah satu nafas panjang, Harsa membuka pintu kelas itu dengan lebar-lebar. Dia takut Aster masih kesal karena Harsa bicara agak keras padanya kemarin.


“Oh, Sa!” Sapa Aster dengan senyum lebar. “Kamu telat dateng. Tadi Barasa sudah datang untuk absen, lalu pulang lagi.”


Tampaknya kekhawatiran Harsa tak berdasar. Aster terlihat biasa saja. Dia sedang duduk di depan salah satu meja yang berisi buku pelajaran Sejarah Keluarga Kerajaan Kasarewang. Buku baru itu sama seperti yang Adi berikan pada Harsa, hanya buku itu baru diproduksi. Kertasnya masih putih terang dan rekatan jilidnya masih kuat.


“Iya, maaf.” Pinta Harsa sambil mengambil kursi dan duduk di seberang Aster.


“Tenang aja, aku kayaknya juga nggak buat kegiatan klub lagi karena harus belajar ini semua.”


“Kamu sudah sampai mana belajarnya?” tanya Harsa.


“Aku baru mulai bab 3 untuk Sejarah Keluarga Kerajaan. Sayang sekali, kalau soal bahasa Kasarewang gak ada kemajuan. Aku baru menghafal serratus bentuk kata dasarnya saja.”


“Hm… Sejarah Keluarga Kerajaan ya. Aku belum sampai sana.” Kata Harsa, masih dengan nada lelah. “Kamu sendiri kan kelas tiga, gimana cara mengatur waktu dengan belajar untuk UTBK?”


“Aku tidak akan ikut UTBK.” Jawab Aster yakin. “Kalau untuk ujian sekolah, sudah ada kelas tambahan. Jadi menurutku, ikut kelas tambahan dari sekolah saja sudah cukup. Kalau ditambah lagi di luar jam sekolah, aku bisa pusing.”


Harsa terdiam sebentar karena terkejut. “Kamu yakin?”


“Seratus persen. Aku tidak tertarik sama sekali paada pelajaran kuliah di sini. Tapi aku pengen banget belajar sihir.” Kata Aster. “Aku juga ingin kerja di keopolisian sihir yang kemarin. Jadi buat apa belajar yang lain?”


“Apa orangtuamu nggak apa-apa?”


“Maksudmu tante dan pamanku? Tentu saja nggak apa-apa. Aku rasa mereka nggak terlalu peduli.” Jawab Aster tanpa memalingkan wajah dari bukunya. “Aku juga sudah membicarakan ini dengan Adi. Dia bilang mau membantuku supaya bisa lewat jalur beasiswa untuk masuk Universitas Drestha.”


“Woah. Berarti kamu mengandalkan sekali ujian ini.”


“Ya. Karena itu, aku harus belajar mati-matian.” Kata Aster menghela nafas. “Kalau kamu memang gimana? Apa kamu nggak tertarik untuk belajar sihir di Universtas Drestha?”


“Sejujurnya aku belum tahu. Yang jelas aku juga harus lulus ujian standarisasi ini, cepat atau lambat. Omong-omong kamu bawa buku lainnya? Aku nggak bawa buku buat belajar sihir karena berat banget.”


Sayang sekali, Aster menggeleng. “Kalau gitu gimana tanya jawab aja?”


“Boleh, tapi bentar… buku itu kamu dapat dari Adi juga?” tanya Harsa.


Aster menggangguk. “Iya.”


Alis Harsa menaik, tapi dia tidak bertanya lebih jauh lagi. “Oke, kalau begitu. Mulai tanya aku.”


“Nama Raja Kasarewang saat ini?”


Harsa menuliskan sebuah nama dalam bahasa Kasarewang karena dia tidak bisa mengucapkannya.


Aster mengangguk. “Betul. Bagaimana keluarga Kerajaan Kasarewang naik taktha?”


“Ribuan tahun lalu, ketika Kasarewang tidak punya kota, banyak Kasarewang yang tewas karena serangan formskitter. Raja pertama Kasarewang, berinisiatif membuat benteng pertahanan untuk membuat kota perlindungan bagi setiap Kasarewang. Raja Kasarewang pertama juga berinisiatif untuk menyatukan seluruh klan Kasarewang yang lain agar dapat melawan formskitter bersama.” Cerita Harsa. “Kota itu kemudian jadi kota Drestha sekarang.”


Aster mengangguk-angguk. “Tepatnya berapa ribu tahun lalu?”


“Eh, memangnya ada?” Dahi Harsa berkerut mencoba mengingat-ingat.


“Sekitar tiga puluh ribu tahun lalu. Ada di bab selanjutnya. Dijelaskan seberapa detail lama masing-masing raja memerintah.”

__ADS_1


“Memangnya ada berapa banyak raja? Kita harus hafal semuanya?” Tanya Harsa kaget.


“Ya, tapi tidak banyak kok. Raja yang memerintah kali ini merupakan raja keenam. Jadi, hanya ada lima nama raja di atasnya yang perlu dihafalkan.”


“Fiuhhh. Oke.”


“Selanjutnya, tanya aku dong.” Pinta Aster.


“Uh, apa ya? Bagaimana kalau susunan kerajaan saat ini?” tanya Harsa.


“Kerajaan dipimpin oleh Raja, tentu saja. Kemudian Raja membawahi enam kementrian yang dipilih oleh penduduk kota Drestha. Kementrian Pertahanan, Kementrian Pendidikan dan Penelitian, Kementrian Kebudayaan, Kementrian Ekonomi, Kementrian Kesehatan, dan Kementrian Bendahara Keuangan Kerajaan. Selain itu, Adipati menjabat sebagai penasihat Raja. Saat itu, Raja mempunyai satu anak laki-laki yang menjabat sebagai Putra Mahkota dan calon istirnya sebagai Putri Mahkota.” Jawab Aster yakin.


“Kamu menjawab sudah gak pakai ragu.” Puji Harsa.


“Ya, tapi jujur nggak tahu gimana menjawabnya pakai bahasa Kasarewang.” Kata Aster murung. Harsa juga tak punya jawaban atas pertanyaan itu.


Mereka bertanya jawab hingga sore. Tak lama, petugas sekolah menyuruh mereka pulang karena ingin segera mengunci ruang kelas. Mereka terpaksa beres-beres.


“Sa, apa kamu nanti ikut kan?” tanya Aster di depan gerbang sekolah.


“Ikut apa?”


“Lah, Adi nggak mengajakmu?”


“Mengajak apa?” Harsa menggeleng-gelengkan kepala. “Terakhir kali aku bertemu Adi waktu dia meminjamikan buku pelajarannya dulu. Dia belum menghubungiku lagi sejak saat itu.”


“Oh.” Aster lihat kebingungan. “Kemarin dia menawarkanku belajar bahasa Kasarewang. Seperti belajar listening dan speaking begitu. Setelah ini aku ada janji untuk bertemu dengan Adi. Aku pikir dia mengajakmu juga.”


“Oh, waktu itu. Waktu dia membelikanku batang cincin untuk cadangan physis yang aku buat, dia juga memberiku ini.” Aster menunjukkan satu buah kalung bermata batu akik hijau terang. “Katanya ini hadiah sebagai permintaan maaf karena Adipati Aakil menolak untuk mengajariku. Di dalamnya ada mantra yang bisa menangkap dan mengirim suara. Seperti voice mail. Adi mengirimiku pesan lewat sini.”


Mata Harsa menyipit penuh kecurigaan. “Hm? Kalau begitu aku boleh ikut? Aku penasaran apa ekspresinya kalau melihatku datang.”


“Ya, tentu saja, boleh.” Kata Aster semangat.


Mereka memesan taksi menuju kafe dimana Aster sudah janji dengan Adi. Aster sengaja memilih tempat yang cukup sepi agar tidak malu ketika dia harus menyanyi. Ketika sampai, Adi sudah berada di depan kafe itu. Dia menunggu di luar dengan ekspresi bingung. Beberapa orang yang lewat di depan sana melihatnya karena Adi tidak menyembunyikan penampilannya yang mencolok. Dengan rambut berwarna biru navy dan mata putih, dia terlihat seperti anak rock. Adi melambai ketika melihat Aster, namun matanya mengerjap-ngerjap kaget melihat Harsa mengekor di belakang Harsa.


“Eh, Sa? Ka. Kamu ngapain di sini?” tanya Adi masih kagaet.


Harsa tersenyum penuh kemenangan. “Tadi pulang sekolah, Aster mengajakku latihan bareng kak Adi.”


“O, oh.”


“Sorry, menunggu. Ayo masuk.” Ajak Aster. “Kamu mau minum apa?” Tanya Aster pada kedua kakak beradik itu. “Aku saja yang beli, sekalian ucapan terima kasih karena sudah mau mengajariku banyak hal.”


“Aku mau kapucino yang kopinya sedikit. Soalnya sudah sore banget.” Kata Harsa.


“Eh? Uh. Ya aku juga itu.” Jawab Adi mulai pusing karena tidak tahu kopi. “Tapi biar aku saja yang-”


“Kak Adi memang punya rupiah?” potong Harsa.


Muka Adi memerah. “Ya, tidak sih.”


Aster tertawa kecil. “Oke. Cari tempat duduk gih. Aku pesan dulu.”

__ADS_1


Harsa menarik Adi yang linglung ke sebuah meja kosong di pojok ruangan. Duduk berdua di sana, Harsa langsung membuka percakapan tepat ke intinya. “Oke, kak. Jadi, kak Adi membelikan Aster batang cincin, kalung untuk telepon, buku-buku pelajaran baru, dan mengajaknya bertemu berduaan.” Simpul Harsa sambil menarik nafas. “Jadi ada apa sebenarnya?”


Adi menutup mukanya dengan kedua tangan. “Nanti saja ya.”


Aster datang tak lama kemudian, tapi jelas sekali Adi merasa canggung. Mereka memulai pelajaran dengan Adi menyanyikan beberapa frasa mudah seperti “Namaku adalah…. Salam kenal, dan selamat pagi.”


Semuanya pelajaran mudah bagi Harsa yang sudah pernah belajar bahasa Kasarewang, tapi Aster sangat kesulitan.


Adi menggeleng-geleng. “Kamu menyanyikan satu oktaf terlalu rendah. Jadi artinya aneh. Bukannya Namaku adalah, jadi Judulku adalah…”


Aster menghela nafas panjang, mencoba untuk sabar mungkin. Bahkan setelah satu jam penuh, mereka tidak mengalami kemajuan. Ketika kepala Aster sudah penat, akhirnya dia memohon.


“Istirahat dulu, ya. Aku juga lapar banget. Sebentar aku pesan makanan sadanya di sini. Pada mau makan apa?”


“Mau! Tapi aku saja yang bayar!”


“Aku nggak perlu.” Tolak Adi pelan. Dia bahkan belum menyentuh kopnya.


“Nggak perlu aku saja!” Aster memaksanya untuk bayar. Di waktu istirahat, Aster benar-benar diam karena sudah lelah. Harsa juga sambil mengerjakan PR untuk besok. Adi tidak tahan dengan perasaan canggung karena tidak ada yang bicara, jadi dia mulai mengeluarkan topik apa saja.


“Sa, aku dengar minggu lalu kamu diserang formskitter.”


“Iya! Ngeselin banget. Kak, masa aku lagi asik main sama temen terus dia tiba-tiba dateng gitu.” Harsa lanjut menceritakan bagaimana pertarungannya dengan formskitter dengan detail.


“Baguslah. Sekarang aku nggak perlu terlalu takut kamu akan kenapa-kenapa.” Kata Adi mengangguk-angguk.


“Tapi, kak. Sebenarnya, aku takut kalau diserang formskitter yang intinya berpindah-pindah.”


Adi menggeleng. “Nggak akan. Formskitter seperti itu jarang menyerang sendirian. Apalagi kalau untuk menangani Kasarewang yang masih muda seperti kamu, mereka tidak akan mengirimkan formskitter yang terlalu kuat.” Kata Adi menenangkan.


“Begitu?”


“Tunggu, tunggu dulu.” Potong Aster tiba-tiba. “Tadi kamu bilang bagaimana kamu bisa mendengar slime itu bergerak?”


“Huh? Aku menaruh physis ke telingaku untuk meningkatkan jangkauan pendengaranku.” Ulang Harsa.


Aster berdiri dari tempat duduknya. Dia mencengkram bahu Harsa dan berkata keras. “Itu Sa!! Itu jawabannya!!”


“Hah? Jawaban apa?”


“Cara untuk belajar bahasa Kasarewang!” Aster melepaskan cengkramannya, mengambil nafas dan mengalirkan physis ke telinganya. “Coba, Di! Sekarang kamu bicara padaku lagi dengan bahasa Kasarewang. Nanti aku terjemahkan.”


“Eh? Selamat sore, nama saya Adi.” Nyanyi Adi.


“Selamat sore, nama saya Adi.” Ulang Aster dalam bahasa Indonesia. “Benar bukan?”


“Be, benar!”


Muka Aster langsung cerah kembali. “Yess!! Ya ampun, kenapa dari kemarin tidak pernah terpikirkan?!” Dia langsung bersemangat dan mencoba mengetes kemampuan perfect pitch dengan aplikasi. “Yes. Yes!” Katanya senang ketika berhasil menebak semua nada dengan benar.


Harsa pun meninggalkan PRnya dan melakukan hal yang sama. “Woahh. Kalau saja aku bisa dari dulu.” Katanya masih tidak bisa percaya bahwa dia mengeri apa yang Adi nyanyikan dalam bahasa Kasarewang.


“Tinggal bagaimana berlatih untuk menyanyikan nada yang tepat.” Simpul Aster senang. “Terima kasih, Sa!”

__ADS_1


__ADS_2