
Kabar meninggalnya Kristio Adriyel Cristian mengguncang seluruh keluarga, pasalnya anak ceria dan penuh kejutan itu baru saja berulang tahun yang ke tiga tahunnya, tubuhnya sehat sehat saja, lalu kenapa bisa? takdir memang tidak ada yang tau
"Tio, bangun nak, bangun...bry anak kita bry.." ujar Vely seraya mengguncang tubuh Bryan pelan, Bryan hanya mematung, teringat tadi subuh Tio bangun dan mengajaknya bermain Bryan tidak tau kalau itu adalah terakhir kalinya dia bermain dengan putra ke-lima nya itu....
SUBUH PUKUL 04:13
Bryan mengeliat kemudian terbangun karena Tio memanggil namanya
"Dad...dad" Bryan langsung duduk kemudian mengucek matanya, Setelah sadar kemudian dia mengedong Tio
"Ada apa Hem? kau haus, atau popok mu penuh" Bryan mengecek popok Tio dan ternyata penuh,
Setelah mengantikan popok Tio Bryan kemudian mengajak Tio bermain di bawah karena anak itu tidak mau tidur lagi,
Bryan tidak menyangka kepergian putranya terlalu cepat,
__ADS_1
"KENAPA TIDAK AKU!!!!" teriak Bryan, semua keluarga terkejut mendengar teriakkan Bryan yang mengema di ruangan mayat tersebut, ya setelah melepas semua alat bantu di tubuh Tio, Tio di pindahkan di ruang mayat karena akan di mandikan
"Kau tega padaku" ucap Bryan lemah,
"TUHAN!!!!!, JIKA KAU MAU AMBIL AKU JANGAN BAWA ANAK KU TUHAN!!!" lanjutnya kemudian,
Vely yang di pelukan Wenda tersebut hanya tersenyum senyum pedih, dia mengingat tadi Tio mengatakan kalau dia sesak, pikirnya apakah itu kata kata terkahir anaknya, sungguh kejam dunia ini...
"Seandainya aku bisa, biarkan mommy yang mengantikan posisi mu nak, Daddy dan mommy sudah merencanakan masa depan mu, Tio...." lirih Vely sambil memukul-mukul dadanya yang sesak,
Tak lama kemudian muncullah Marco dan para bodyguard membawa peti mati kecil, peti mati tersebut berwarna putih dengan lukisan nama Tio, karena mendesak akhirnya Marco mencari tukang pahat nama yang profesional, makanya peti mati tersebut cepat jadi
"Sabar, kita semua kehilangannya, jangan seperti ini Bryan....dia akan sedih jika kamu tidak merelakan nya" ujar Marco, laki laki dingin tersebut meneteskan air matanya karena tidak tahan lagi
"dia bermain dengan ku pagi tadi, tidak mungkin dia pergi begitu saja... " ucap Bryan,
__ADS_1
"Dia tersenyum seolah dia baik baik saja, lalu dia seperti ini saat aku di kantor...." Bryan bersimpuh di hadapan Tio, Vely mendekati suaminya
"Mas, kita harus kuat..." ujar Vely dengan lembut, namun dialah yang paling rapuh dan sesak, menyaksikan putranya menghembuskan nafas terakhirnya membuat Vely sakit hati
Sementara itu Hansel dan Lucio menangis di rumah mareka, kabar meninggalnya sang adik membuat mareka mengamuk ingin ke RS
"den sabar, nanti mayat den Tio akan di bawa ke rumah..." ucap Nani menenangkan Hansel dan Lucio
"Adek, adek....adek sakit apa Bu? bukankah dia baik baik saja?" ucap Lucio pilu, Hansel yang berdiri di samping Lucio pun penasaran
"Engak tau den...yang jelas tadi pagi den Tio tidak sadarkan diri..." kembali kedua Kakak dan Abang tersebut menagis sedih
***
Di lantai bawah rumah duka, Bryan dan Vely berdiri sambil menatap wajah tampan Tio yang seperti tertidur dengan setelah baju tuxdo hitamnya,
__ADS_1
"Peti matinya mau di kunci sekarang atau tidak?" tanya tukang penutup peti mati tersebut
"Kami akan memberkati jenasah cucu saya di rumah duka, jadi jangan di kunci..." ucap Farhan dengan mata sembabnya