
Daehyun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sambil menunggu jam menunjukkan pukul 12 lewat. Hal ini dia lakukan agar minimarket lebih sepi dan dia bisa dengan mudah untuk makan tanpa menarik perhatian.
Dari tempat dia duduk di dalam mobil, dia bisa melihat sebuah billboard besar yang terletak di salah satu gedung tinggi. Beberapa iklan berseliweran dari tadi melalui layar tersebut. Lumayan untuk menjadi salah satu hiburan bagi Daehyun.
“Kenapa dari tadi Triple Kill tidak muncul disana?”, kata Daehyun terdengar seperti kalimat protes.
“Wah… sepertinya, uri Manager-nim harus bekerja lebih keras lagi. Apa dia tidak menyasar billboard - billboard yang besar itu? Lihat, setiap orang yang lewat di jalan ini bisa menyaksikannya. Bukankah ini menjadi sarana promosi yang bagus. Sebenarnya apa yang dikerjakannya.”, kata Daehyun geleng - geleng kepala sambil berbicara semaunya.
Dia sedang berada di dalam mobil dan tidak ada yang bisa mendengarnya.
Tak lama muncul trailer drama saeguk di billboard tersebut menampilkan para pemain utama. Kemudian tak lama muncul iklan sabun kecantikan dimana disana tertulis nama Jang Hyun Joo. Tampilan iklan mengambil background berwarna putih sehingga bisa menampilkan Hyun Joo lebih maksimal.
“Oh? Apakah itu selebriti yang bernama Hyun Joo? Aktris yang tadi mereka katakan sedang aku dekati? Cantik juga. Dimana aku bisa menemukannya sampai - sampai mereka menyebutkan aku mendekatinya. Bertemu saja belum pernah. Wah dia sedang naik daun sekali sepertinya. Hm.. cantik cantik.”, kata Daehyun.
Tanpa dia sadari, kata - kata yang keluar dari mulutnya di dominasi dengan kata ‘Cantik’, ‘Keren’, ‘Hm’. Terdengar seperti orang yang mengagumi tetapi tidak berani mengakuinya.
“Oh.. sudah jam 12 lewat. Aku harus coba melihat ke mini market yang tadi. Semoga saja sudah sepi.”, ujar Daehyun kembali menstarter mobilnya.
Dia berjalan maju kemudian mengambil U-turn dan kembali ke jalanan yang tadi di lewati.
“Oh… tuhkan benar sekali dugaanku. Mini marketnya langsung sepi. Okay.. aku akan memarkirkan mobil disini.”, ucapnya.
Daehyun memakai perlengkapan perangnya. Dia mengenakan topi berwarna hitam, kacamata culun, dan jaket dengan warna senada. Daehyun tidak mengenakan masker, karena menurutnya, justru dengan begitu dia lebih mudah menarik perhatian orang lain.
Daehyun turun lalu melihat kiri dan kanan untuk memastikan sebelum akhirnya masuk ke mini market.
__ADS_1
Minimarket ini adalah salah satu minimarket terkenal yang menyediakan berbagai macam makanan cepat saji yang enak. Mulai dari berbagai tipe ramyun, kopi, sosis, topping, sandwich, hot dog, dan masih banyak lagi.
Daehyun sibuk memilih - milih makanan yang dia inginkan. Tak lupa dia membawa keranjang. Tatapannya seolah dia ingin menghabiskan semua makanan yang ada disini. Antusias sekali. Daehyun mengambil satu cup ramyun. Lalu berjalan lagi untuk mencari topping yang enak.
Entah itu sosis, keju, atau makanan lainnya. Minimarket itu tidak benar - benar kosong. Terdapat satu dua orang yang juga sedang berbelanja disana tetapi sepertinya bukan penggemar.
Ada satu varian kimbap yang Daehyun tahu itu sangat enak. Hanya tersisa satu. Dia melihatnya dari kejauhan. Daehyun segera berjalan kesana dan langsung mengambilnya. Namun, ternyata ada satu wanita lagi yang meletakkan tangannya disana. Daehyun terlambat satu langkah.
“O-oh.. aku melihatnya dari kejauhan.”, kata Daehyun sambil berusaha menutupi wajahnya.
“Aku lebih dulu kesini mengambilnya.”, kata wanita itu.
“Tapi, aku juga menginginkan kimbap ini. Hanya tersisa satu.”, kata Daehyun tidak mau kalah.
“Permisi..”, kata seorang pegawai minimarket.
“Apa? Kau juga menginginkannya?”, teriak kedua orang yang berseteru karena satu kimbap tadi.
Mereka mengira pegawai minimarket itu adalah pengunjung juga yang menginginkan kimbap tersebut. Padahal kepalan tangan mereka sudah menutup merek kimbap. Orang lain mungkin tidak akan bisa tahu apa yang sedang mereka ributkan.
“Aku ingin mengisi ulang deretan produk kimbap disini. Kalau kalian sedang meributkan ini. Stoknya masih ada banyak.”, kata pegawai tersebut memberikan penjelasan.
“A-ah…. Masih banyak.”, kata Daehyun langsung melepaskan tangannya.
“Kau saja yang ambil kimbap itu. Aku tidak tertarik.”, kata Daehyun langsung mengambil dua dari stok yang sedang dibawa oleh pegawai.
__ADS_1
“Heh.., apa - apaan orang itu. Kimbapku sudah penyok begini, dia baru menyerah. Hm.. tapi aku seperti melihat pria itu. Sepertinya aku mengenalnya. Tunggu, sepertinya dia tidak asing. Siapa ya? Ah tidak mungkin, aku kan baru saja pindah kesini. Memangnya aku punya kenalan?”, kata Daeun dengan suara pelan.
Daehyun sudah selesai dengan semua belanjaannya. Dia juga sudah menyeduh mienya. Daehyun berjalan kembali ke dalam mobil dan memakannya disana. Sebenarnya dia ingin makan di area minimarket itu. Tetapi dia merasa malu kalau harus bertemu dengan wanita tadi.
“Ah.. dia mengacaukan malamku yang indah saja. Lagipula kenapa aku tidak inisiatif untuk bertanya apakah stok kimbap itu masih ada. Kenapa aku harus berebut kimbap seperti itu dengannya. Tapi memang kimbap varian ini sangat enak, tidak mungkin untuk tidak diperebutkan.”, Daehyun menikmati kimbapnya dengan bahagia di dalam mobil.
Untuk menghidupkan suasana, dia menyetel musik.
Daehyun benar - benar menikmati setiap sendok ramyun yang dia masukkan ke dalam mulutnya, setiap slurp kuah ramyun, setiap gigitan kimbap dan sosis, setiap renyahnya gigitan rumput laut, dan beberapa kudapan lainnya yang dia beli.
Bosan mendengarkan musik, Daehyun mengarahkan pandangannya pada seorang wanita yang duduk di dalam kursi mini market. Wanita itu menikmati setiap makanannya persis seperti Daehyun. Dia bisa melihat ekspresi puas dari wanita.
Daehyun pun melihat bungkusan - bungkusan makanan yang sudah berhasil dia habiskan, kemudian melihat bungkusan yang juga wanita itu habiskan. Sama. Begitu batinnya dalam hati.
‘Apa semua orang makan - makanan seperti ini sekarang? Kenapa makanan yang aku ambil dengan yang wanita itu ambil sama. Bukan hampir, tapi persis sama. Bahkan sampai ke minumannya.’
Daehyun memang tidak bisa melihat dengan jelas tulisan merk yang tertera, tapi dari warna saja, dia bisa dengan mudah mengidentifikasinya.
Tanpa Daehyun sadari dia masih memperhatikan wanita itu. Wanita itu mengambil ponselnya seperti sedang memeriksa sesuatu. Kemudian dia seperti berteriak senang seperti orang gila. Bahkan pegawai minimarket saja terkejut melihatnya.
Rambut wanita itu acak - acakan. Ia memang mengikatnya ke atas, tetapi tetap saja banyak helaian rambut yang jatuh dan tidak terikat. Kemudian dia segera membereskan sampah - sampah makanan yang sudah dihabiskannya.
Dia terlihat keluar dari minimarket dan berjalan berlawanan arah dengan posisi mobil Daehyun.
‘Ah.. untuk apa aku memperhatikan wanita itu. Sebaiknya aku segera pulang. Besok aku harus bangun pagi sekali, ke salon, fitting, manggung. Akan sangat melelahkan.’, batinnya sambil menyalakan mobil dan melaju memecah keheningan malam itu.
__ADS_1