
Daeun baru saja pulang dari kantor agensi setelah melakukan diskusi dengan tim dan juga bosnya. Bokman Ahjussi memintanya menangani desas desus yang beredar antara anak trainee agensi.
Seminggu terakhir ada rumor yang mengatakan kalau ada anak trainee yang sedang hamil. Padahal dia masih berstatus trainee. Pihak perusahaan dan penanggung jawab trainee sudah melakukan pemeriksaan pada semua anggota dan tidak menemukan ada yang hamil.
Namun, sebelum rumor seperti ini banyak beredar, Bokman meminta tim Idol Secret Agent untuk menyelidiki siapa yang berani - beraninya menyebarkan isu ini di lingkungan perusahaan.
“Aku tahu kalau rumor itu tidak benar. Kita sudah menyelidikinya. Tetapi, jika si pembuat rumor tidak kita temukan sekarang, kita tidak bisa memastikan rumor apa lagi yang mungkin akan disebarkannya ke depan.”, ujar Bokman Ahjussi.
Menurut Daeun, itu memang benar. Masyarakat terkadang tidak begitu tertarik dengan klarifikasi. Mereka akan lebih tertarik saat berita itu pertama kali muncul. Ketika rumor sudah beredar, meskipun agensi memiliki klarifikasi, prosesnya belum tentu mudah.
Membalikkan sentimen masyarakat bukan sekedar memberitahukan kebenarannya. Kadang klarifikasi bisa disebut sebagai pembelaan. Ketika masyarakat sudah berpikir seperti itu, maka sulit untuk mengembalikan reputasi agensi dan artis itu sendiri.
Apalagi jika rumor itu ternyata adalah rumor yang benar. Seperti biasa, Daeun akan fokus menyelidiki SNS masing - masing trainee yang ada. Pihak management sudah memberikan daftarnya. Mungkin selama seminggu kedepan, Daeun akan lebih banyak menghabiskan waktu di studionya atau di cafe terdekat.
Ruang kantor Idol Secret Agent masih belum diproses karena belum disetujui. Mereka harus memberikan hasil yang signifikan agar keberadaan mereka diakui. Daeun berharap kasus ini bisa membantu mereka mendapatkan ruangan yang layak untuk mereka lembur.
Terkadang beberapa penyelidikan memerlukan waktu lembur. Mereka perlu bertukar informasi dengan cepat. Tapi, fasilitas yang ada sekarang belum memenuhi kriteria. Sehingga mereka harus tetap berdiskusi lewat aplikasi grup kantor agar bisa bertukar informasi. Dan hal itu tentu saja bukan hal yang aman juga mengingat keamanan Cyber yang semakin rentan.
‘Besok aku gajian. Hm.. harusnya aku membuat daftar makanan yang akan aku masak besok. Aku harus berpesta. Tapi siapa yang yang aku ajak untuk berpesta?’, ujar Daeun.
Selain tugas yang baru diberikan padanya, pikirannya saat ini juga dipenuhi dengan hari gajian besok. Dia begitu bersemangat menerima gaji pertamanya sebagai orang dewasa yang independen.
Tin Tin Tin Tin Tin
Suara klakson mobil mengagetkannya. Ada mobil putih yang mendekatinya. Daeun langsung bisa menebak siapa orang yang ada di dalamnya.
Daehyun, pria yang mengendarai mobil putih itu langsung menurunkan kaca mobilnya.
“Ya.. kau mau pulang?”, tanya Daehyun pada Daeun.
Jalanan sudah mulai sepi dan malam juga sudah semakin larut. Daeun bingung kenapa pria itu ada disini, bukankah tadi dia pergi bersama Hyun Joo.
“Hm.. kau lanjutkan saja perjalananmu. Tidak perlu menyapaku.”, kata Daeun menghentikan basa basi Daehyun.
“Mau ku antar pulang?”, kata Daehyun.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”, jawab Daeun.
__ADS_1
“Aku bisa mengantarmu sampai studio. Kau bisa hemat uang transportasi. Kakimu juga tidak lelah berdiri di bus.”, ujar Daehyun berusaha merayunya.
“Kenapa kau disini? Bukankah kau tadi pergi bersama Hyun Joo?”, ujar Daeun berhenti dan membiarkan pembicaraan berlangsung lebih nyaman.
Ketimbang Daehyun harus menyetir mobilnya dengan kecepatan lambat hanya untuk mengobrol.
“Hn. Aku sudah kembali.”, kata Daehyun.
“Kau tidak ada jadwal kan? Kenapa kau tidak pulang dan istirahat. Bukankah minggu depan kau sudah mulai syuting? Sebelum jadwalmu padat, lebih baik kau memanfaatkan momen senggang ini. “, ujar Daeun setengah berteriak karena jarak mereka juga tidak terlalu dekat.
“Kenapa dari tadi kau terkesan mengusirku? Kau cemburu aku pergi dengan Hyun Joo?”, kata Daehyun penuh percaya diri.
Daeun tidak mempercayai apa yang dia dengar sekarang.
“Hah? Kau benar - benar sangat percaya diri. Memangnya kau kira semua orang ngefans padamu?”, kata Daeun berpura - pura cool.
“Kau mau aku antar atau tidak?”, kata Daehyun kembali ke pertanyaan awalnya.
Daeun melirik sedikit ke jam tangannya. Sudah jam 10 malam. Di depan sudah sangat sepi dan tidak ada orang lain yang sedang menunggu di halte.
“Hanya sampai kereta bawah tanah.”, ujar Daeun.
“Naiklah.”, kata Daehyun membuka pintu mobilnya.
Dia tidak benar - benar turun. Dia hanya menekan tombol agar pintunya bisa dibuka dari luar.
“Terima kasih.”, kata Daeun memakai seat belt nya.
Daehyun melajukan mobilnya segera setelah Daeun selesai mengenakan seatbelt.
“Kenapa kembali ke kantor? Bukankah kau tadi bersama Hyun Joo-shi”, tanya Daeun.
“Managernya menunggu di kantor. Karena itu aku kembali untuk mengantarnya.”, ujar Daehyun.
Daeun mengangguk - angguk.
“Kudengar kau besok gajian pertama. Kau akan mentraktirku, kan?”, tanya -nya.
__ADS_1
“Jadi, kau berhenti dan mengantarku karena ingin bertanya apakah kau akan di traktir atau tidak? Lebih baik aku naik bus saja, tadi.”, ujar Daeun.
“Heh.”, Daehyun hanya berkomentar singkat.
“Daehyun-hyung, bukankah aku memintamu untuk berhenti di stasiun kereta bawah tanah. Kenapa kau melewatinya. Berhenti di depan saja.”, ujar Daeun yang sadar kalau stasiun kereta bawah tanah sudah terlewat jauh.
“Aku antar sampai rumahmu. Lagipula, kenapa kau tidak menyewa yang dekat dengan kantor saja?”, tanya Daehyun.
“Aku belum menemukan yang sesuai. Lagipula tempat yang sekarang adalah yang terbaik diantara yang lain dari segi harga dan lainnya.”, jawab Daeun.
“Bukankah kau bilang pemiliknya mata duitan?”
“Kapan aku mengatakannya.”
“Kau bilang tempo hari dia memintamu uang sehingga kau harus bekerja paruh waktu.”
“Tapi bukan berarti aku mengatakan kalau dia mata uang. Aku hanya bilang, dia perlu untuk biaya perbaikan studio.”, ujar Daeun.
Daehyun mengangguk.
“Di depan ke kanan kan?”, tanya Daehyun masih belum bisa menghapal lokasi tempat tinggal Daeun.
“Tidak, belok kiri. Kau mau membawa aku kemana?”, ujar Daeun.
Mereka kemudian kembali terdiam beberapa saat.
“Daehyun-hyung? Kenapa kau baik padaku?”, Daeun tiba - tiba bertanya di sela - sela keheningan mereka.
“Hm? Menurutmu, aku baik padamu?”, tanya Daehyun heran.
“Hn. Selebriti yang lain tidak pernah mengajakku berbicara seperti dirimu. Aku belum pernah bicara dengan selebriti lain bahkan trainee. Tapi kau berbicara dan mengobrol denganku seolah kita sudah lama kenal. Kenapa?”, tanya Daeun bingung.
“Hm… aku akrab dengan semua orang. Kau hanya salah satunya.”, jawab Daehyun singkat.
“Ah… benar juga.”, ujar Daeun sedikit kecewa. Meski dia tidak tahu kenapa dia kecewa.
Daehyun fokus memandang jalanan yang ada di depannya. Pikirannya sedang terbang kemana - mana saat ini. Karena itu dia butuh orang untuk diajak berbicara.
__ADS_1