
~La lalalalala lalalalala
Suara alarm seseorang berbunyi dengan sangat keras. Suara lagu yang memiliki ritme cepat tetapi tidak memiliki lirik. Hanya nada saja. Nada tersebut akan berulang setelah 15 detik. Siapapun yang mendengarkannya pasti akan merasa kesal dan ingin mematikannya.
“Huwa… alarm siapa ini. Mengesalkan sekali.”, Daeun yang masih ingin melanjutkan tidurnya akhirnya memilih untuk mengurungkan niat dan duduk.
Dengan rambut yang masih acak - acakan, kepalanya menoleh ke kanan, ke arah sumber suara. Daehyun, dia adalah si pemilik alarm yang paling mengesalkan yang pernah dia dengarkan.
Tidak hanya karena lagunya tidak memiliki lirik. Tetapi juga karena orang yang melantunkan nadanya terdengar tidak niat. Nadanya juga tidak tepat. Kemudian, alarm ini terus berulang.
“Daehyun-shi. Daehyun-shi. Kau sudah bangun? Yaaa… Lee Daehyun!”, teriak Daeun.
Awalnya dia memanggil dengan suara pelan karena masih menghormati dan ingin bersikap sopan. Tetapi pria itu tidak bergeming. Sepertinya dia masih tertidur. Dari tempat Daeun, meski hanya berjarak beberapa cm saja, Daeun tetap tidak bisa melihatnya.
“Oh… kenapa kau membangunkanku? Aku masih ingin tidur. Kepalaku sakit.”, balas Daehyun dengan nada serak.
“Bagaimana kepalamu tidak sakit kalau alarm milikmu berbunyi seperti itu.”, protes Daehyun.
“Ah.. Aku akan mematikannya.”, ucap Daehyun dan beberapa detik kemudian, tak ada lagi suara yang terdengar.
Hanya suara burung - burung pagi yang berkicau. Sesekali Daeun bisa mendengar suara deru nafas Daehyun yang sepertinya benar - benar kelelahan. Daeun merapikan kembali selimut dan bantal. Kemudian, dia membuka tenda bagian luar.
Cahaya ringan matahari langsung masuk ke area tenda dan membuat Daeun terkesima. Pemandangan yang indah ada di depan matanya sekarang. Tadi malam, Daeun tidak bisa menikmati pemandangan sama sekali karena minimnya penerangan.
Awalnya dia sempat takut karena dimana - mana gelap dan hanya ada pemandangan dari lampu - lampu portable para pemancing. Sepertinya pihak pemilik tidak benar - benar memperhatikan penerangan di sekitar sini.
Daeun bisa berani hanya karena ada Daehyun bersamanya. Kalau dia harus menginap disini sendiri, dia tidak akan berani.
“Wah.. Daehyun oppa. Kau harus melihat pemandangan ini. Indah sekali. Sekarang bukan waktunya tidur. Kau harus melihatnya.”, kata Daeun berteriak dari pintu tenda bagian luar.
“Hah… dia tidak akan bangun kalau belum waktunya. Aku hanya menghabiskan suaraku saja dengan memanggilnya.”, ucap Daeun menghela nafas.
Dia segera mengenakan sepatunya dan melakukan peregangan tangan.
“Hummmmmm….”, Daeun melebarkan tangannya kemudian menarik nafas perlahan.
__ADS_1
Dia melakukannya selama beberapa kali. Aroma khas pedesaan yang sulit dia rasakan di kota. Daeun memejamkan matanya untuk bisa merasakan udara, suara, dan aroma ini. Sejak tinggal di panti asuhan, Daeun hanya sesekali bisa mendapatkan pemandangan seperti ini. Hanya saat ada kegiatan khusus yang diadakan setiap tiga tahun sekali.
Ya, mengingat keuangan panti yang tidak begitu baik, bisa mendapatkan perjalanan rekreasi sederhana seperti ini bisa menjadi hiburan baginya saat itu.
“Ahjussi…kau mendapatkan ikannya?”, tanya Daeun terdistraksi dengan seorang kakek yang berhasil menarik pancingnya.
Ikan besar tersangkut disana dan dia berhasil mengambilnya.
“Iya.. aku berhasil mendapatkannya. Aku sudah duduk disini sejak jam 3 pagi tadi. Aku sudah mendapatkan banyak. Lihat ini.”, ucapnya bersemangat meminta Daeun untuk menghampiri dan melihat kotak yang dia miliki.
“Woah… banyak sekali. Mau kau apakan ikan ini?”, tanya Daeun ramah.
“Hm.. entahlah, aku belum memikirkannya. Kau tahu, aku juga melepaskan yang kecil. Sepertinya spot ini memang spot terbaik. Kau mau mencobanya?”, ucap kakek tersebut menawarkan.
“Eh? Ah tidak tidak.. Aku tidak membawa baju ganti. Kalau kotor, temanku akan memarahiku.”, ucap Daeun menolak dengan ramah.
Daehyun sangat sensitif. Jika nanti Daeun mengiyakan dan ikan itu mendarat di bajunya. Dia akan mendengarkan omelan Daehyun sepanjang perjalanan.
“Kau tidak kemari untuk memancing?”, tanya kakek itu heran.
“Oh benarkah? Aku menyimpan stok di mobilku. Kau mau menggunakannya? Jika berjalan ke pom bensin dari sini, jaraknya sangat jauh. Belum lagi kau harus kembali kesini untuk memasukkannya. Jam bukanya juga random. Kadang saat tidak ada stok, mereka tidak akan buka.”, ucap kakek tersebut memberikan penjelasan.
“Eh? Benarkah?”, respon Daeun terkejut.
Daehyun harus ke lokasi syuting sore nanti. Jika mereka tidak bisa kembali ke kota sebelum siang. Maka Daehyun tidak bisa sampai tepat waktu.
“Hm. Bagaimana? Kau mau menggunakannya? Aku akan menghubungi puteraku. Kebetulan dia yang mengantarku kemari.”, kata Daeun.
Sebentar kek, aku akan tanyakan pada temanku.”, ucap Daeun.
***********
“Annyeong haseyo, Hyun Joo-shi. Wah.. kau sangat cantik sekali hari ini.”, kata salah penulis naskah yang sedang standby di lokasi syuting.
“Oh.. writer-nim.. Apa hanya hari ini saja aku terlihat cantik?”, ujar Hyun Joo dengan nada gemas.
__ADS_1
“Ah… sepertinya aku salah memilih kata - kata. Tentu saja kau sangat cantik setiap hari. Hari ini, juga sangat cantik.”, ucap penulis itu pada Hyun Joo.
Keduanya tertawa ringan.
“Ohiya, Daehyun-shi sudah datang?”, tanya Hyun Joo sambil melihat - lihat ke sekitar.
“Ah.. sepertinya belum. Dia akan syuting sore ini. Adegan yang paling banyak di ambil hari ini adalah adeganmu dengan beberapa pemeran pendukung dan pemeran utama kedua. Kenapa? Kau tidak sabar untuk bertemu Daehyun?”, tanya writer-nim itu menggoda Hyun Joo.
“Hn.. kau benar sekali.”, kata Hyun Joo jujur.
“Hahahahha.. Kau bisa saja.”, writer-nim tentu saja mengira Hyun Joo hanya bersikap ramah saja.
Sementara dari kejauhan, Kim Yura, manager Hyun Joo sudah memberikan pandangan dengan sinar laser yang tajam pada Hyun Joo.
“Kau… sekalian saja kau umumkan ke semua orang yang ada di lokasi syuting ini tentang hubunganmu dan Daehyun. Huh?”, ucap Yura dengan nada emosi dan kesal.
“Oh apakah boleh, unni? Aku akan langsung memanggil tim PR dan meminta mereka membuat press conference.”, ucap Hyun Joo senang.
“Arghhhhhhh….”, Yura hanya bisa menghilang dari sana dan meninggalkan gadis gila yang sedang mabuk cinta itu disana.
“Apa? Memanggil tim PR? Membuat presscon? Dia hanya belum tahu apa akibatnya kalau dia ketahuan mengencani Daehyun. Aku bisa gila lama - lama. Apa aku pindah management saja seperti Seongmin-oppa. Sepertinya dia sudah mencium hal ini dan pergi lebih dulu sebelum masalah semakin besar? Arghhh.”, Yura berjalan menuju van untuk mengambil beberapa baju Hyun Joo.
“Aku bahkan tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Kalau tidak dia pasti sudah membuat kekacauan. Si Hyun Joo itu benar - benar.”.
************
“Woah… bagaimana Daehyun-shi. Aku sudah bekerja dengan baik, kan? Berkat kemampuan sosialku, aku bisa mendapatkan bensin dengan mudah. Kau tidak perlu berjalan ke pom bensin lagi.”, kata Daeun membanggakan dirinya.
Mereka sekarang sudah berada di dalam mobil menuju kota.
“Huh.. kau baru saja menyelamatkan dirimu. Kau kira, kalau kita tadi tidak mendapatkan bensin, maka aku yang akan berjalan ke pom bensin? Oh tentu tidak.. Kau yang seharusnya kesana. Jadi, kau sudah menyelamatkan dirimu. Bukan aku.”, kata Daehyun dengan wajah sok cool.
“O-oh? Kau datang jauh - jauh menyelamatkanku, hanya untuk mengirimku membeli bensin sendirian?”, tanya Daeun.
“Apapun itu. Aku juga berperan besar karena berkat tanda - tanganku. Mereka tidak meminta bayaran yang mahal untuk harga bensin yang mereka berikan. Kau tahu, bahkan popularitasku sudah sampai kemana - mana sekarang. Kau harus berhati - hati.”, ucap Daehyun.
__ADS_1
“Iya… iya.. Daehyun-nim.”, ucap Daeun menyerah.