Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 82


__ADS_3

“Kang Tae-ah.. Kau tahu Daeun mau kemana?”, tanya Daehyun tiba - tiba di belakang.


Sejak berangkat dari lokasi syuting tadi, Daehyun menyibukkan dirinya dengan bermain game online. Ternyata itu hanya dia lakukan untuk menghilangkan rasa penasarannya kemana Daeun pergi.


“Eh?”, Kang Tae adalah staf agensi yang masuk bersama - sama dengan Daeun.


“Ah.. Maafkan aku Daehyun-shi. Aku tidak terlalu tahu. Kebanyakan tugasku adalah mengantarkan para artis ke lokasi mereka masing - masing. Aku tidak banyak berbicara dengan Daeun. Tapi belakangan, dia sering meeting dengan Bokman gyejang-nim. Aku beberapa kali melihatnya saat aku di kantin.”, ungkap Kang Tae.


“Kang Tae-ah.. Hentikan mobilnya disini.”, ucap Daehyun.


“Eeh?”, tanya Kang Tae heran.


“Hentikan mobilnya disini.”, ucap Daehyun lagi.


“Daehyun-shi.. Aku bisa berada dalam masalah kalau aku menurunkanmu disini.”, ucap Kang Tae.


“Argh.. kalau begitu, segera melaju agar sampai di apartemen.”, ucap Daehyun frustasi dan membanting tubuhnya di dinding kursi.


“Maafkan aku. Aku hanya supir. Jika aku menurunkanmu di sembarang tempat, aku bisa dalam masalah dan dipecat.”, ujar Kang Tae merasa bersalah tidak dapat memenuhi keinginan Daehyun.


“Baiklah.. Baiklah.. Aku paham.”, ucap Daehyun dengan nada normal.


‘Lagipula aku juga harus mengambil mobil jika ingin menyusulnya.’, ucap Daehyun dalam hati.


Tak lama, mereka akhirnya sampai di apartemen milik Daehyun. Setelah menurunkan Daehyun, Kang Tae permisi untuk bisa mengembalikan van ke agensi dan kembali pulang.


Alih - alih kembali ke unit apartemennya, Daehyun justru bergerak menuju parkiran dimana mobilnya berada.


“Hm? Daehyun? Dia mau kemana?”, ternyata, selayang Hyun Joo yang juga baru pulang membeli makan malam bersama managernya melihat Daehyun.


“Kau kenapa?”, tanya Yura sambil menaiki lift.


“Sepertinya aku melihat Daehyun. Tapi, dia bukan naik ke atas malah menuju ke basement. Apa dia mau ke toilet?”, pikir Hyun Joo yang terdengar tengah menjawab pertanyaan Yura, managernya tapi ternyata malah berbicara sendiri.

__ADS_1


“Wah.. sampai kau melihat bayangannya segala? Lebih baik kau hati - hati.”, ucap Yura memperingatkan.


“Bukankah karena itu kau menginap di unit apartemenku.”, jawab Hyun Joo sarkas.


“Aku bilang air di rumahku mati. Jadi aku menginap di rumahmu sekarang.”, ucap Yura membela diri.


“Bukankah kau tinggal bersama keluargamu. Kenapa hanya kau saja yang kesini. Lalu keluargamu?”, ujar Hyun Joo berusaha menangkap kebohongan Yura yang sebenarnya sedang menjadi satpam agar Hyun Joo tidak berpindah tempat ke unit apartemen Daehyun yang hanya beberapa langkah dari apartemen miliknya.


“Lalu, kau mau menampung kami semua? Mereka sudah pergi ke kerabat yang lain.”, sampai akhir pun, Yura masih tetap memainkan skenario miliknya dan tidak pantang kalah.


“Huh..kenapa kau malah memilih tempatku. Wah.. kalau ada awards aktris yang paling memiliki jiwa sosial. Maka akulah pemenangnya.”, ucap Hyun Joo kembali mengeluarkan kalimat sarkas.


*************


“Bokman Ahjussi, aku hanya akan mengambil satu gambar lagi dan pulang, ya. Sepertinya akan berbahaya kalau aku salah melangkah. Sepertinya tempat ini adalah kasino ilegal yang sangat terstruktur.”, ucap Daeun sedikit merasa takut.


Dia hanya perlu mengambil gambar dimana Pisbol masuk ke dalam kasino itu. Sebelumnya, semua gambar yang muncul hanyalah gambar - gambar dimana wajahnya tidak terlihat jelas. Jika hanya mengandalkan foto - foto dari koleganya, Pisbol akan dengan mudah membantah kalau sebenarnya dia sedang terlibat kasino ilegal.


Daeun pergi kesana sendiri. Dia menyamar sebagai remaja SMA yang sedang bermain di PC bang yang berada tak jauh dari sana. Daeun mengambil spot di lantai atas, dimana dia bisa dengan mudah menangkap dan memantau pergerakan kasino.


“Tapi, Bokman Ahjussi, apakah tidak apa - apa kita memasang track di ponsel Pisbol Ahjussi. Bukankah itu melanggar hak privasi.”, tanya Daeun khawatir dengan keputusan Bokman untuk memasang tracker tersebut.


“Tenang saja. Hal itu tidak perlu kau pikirkan. Aku yang akan bertanggung jawab. Saat ini, masa depan agensi bergantung pada hal ini. Jika sampai media mencium aktivitas Pisbol, maka agensi akan terkena masalah besar. Bisa - bisa selebriti yang tidak bersalah malah ikut - ikutan terseret. Apalagi Pisbol akrab dengan beberapa orang di agensi.”, ucap Bokman.


“Huh.. baiklah.”, ucap Daeun.


Misi kali ini, hanya mereka berdua yang mengetahuinya ditambah dengan Pilsung Daepyonim. Mereka harus mendapatkan bukti yang kuat agar bisa memutuskan kontrak dengan Pisbol tanpa mengeluarkan skandal ini ke media sebelum media menangkapnya.


Jika sebelum itu media mengetahuinya, maka perusahaan akan ikut menanggung resiko yang besar.


“Oh.. Pisbol akan segera tiba. Kau bersiaplah untuk mengambil potretnya.”, ucap Bokman yang bisa memantau Pisbol karena tracker terhubung langsung ke ponselnya.


“Baik.”, ucap Daeun langsung turun ke bawah dan mengambil posisi di antara beberapa mobil yang tengah parkir.

__ADS_1


“Okay.. dia datang. Kau sudah bersiap di posisimu?”, tanya Bokman.


“Hm..”, ujar Daeun.


Dari kejauhan, Pisbol nampak datang dengan beberapa orang teman - temannya. Seperti biasa, dia berpakaian dengan gaya yang berbeda dari dirinya saat biasanya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


“Ah.. sulit untuk mengambil potretnya karena dia menutupinya dengan scarf.”, keluh Daeun.


“Sayang sekali.”, ucap Bokman.


“Ahjussi. Bagaimana kalau aku masuk?”, kata Daeun menawarkan diri.


“Eh? Yaaa… bagaimana kalau kau ketahuan?”, Bokman tak menyetujuinya.


“Gedung itu terdiri dari 2 lantai. Saat tengah hari memeriksanya, disana ada berbagai jenis usaha termasuk laundry dan bilyar. Aku bisa berpura - pura sedang menemui teman disana.”, kata Daeun.


“Apa kau bisa melakukannya? Kau yakin?”, tanya Bokman.


“Hm. Jika kita terus - terusan begini. Kita tidak akan bisa mendapatkan potretnya. Aku sudah menangkap ada dua staf media yang mungkin sudah mencium hal ini.”, kata Daeun.


“Baiklah, hati - hati. Aku akan memberimu bonus. Tenang saja.”, ucap Bokman.


Daeun kemudian memasukkan kembali kameranya. Jika dia berhasil memastikannya, dia hanya perlu mengambil gambar dari ponselnya saja. Kalau dilihat dari luar, ini bukan kasino ilegal yang begitu berbahaya. Hanya saja mereka terstruktur sehingga bisa menyamarkan orang - orang penting yang ikut di dalamnya. Seperti halnya Pisbol yang merupakan salah satu selebriti.


Daeun sepertinya tidak yakin bisa melakukan ini. Tetapi, sudah kepalang tanggung. Apalagi, jika skandal ini muncul ke permukaan, maka agensinya juga yang akan menanggung kerugian. Jika agensi mengalami kesulitan, Daeun juga akan terkena dampaknya.


Padahal, impiannya saat ini adalah mengumpulkan 3 bulan gajinya untuk mendapatkan deposito apartemen yang layak.


Sejak kecil, Daeun memimpikan untuk memiliki rumah dimana dia bisa melakukan banyak hal dan tidak perlu merasa tidak enak dengan yang lain. Hidup berbagi tempat tidur dengan penghuni panti lainnya membuatnya memiliki mimpi seperti itu.


Meskipun semua orang di panti merupakan keluarganya, tetapi entah kenapa Daeun tidak merasa itu rumahnya. Dia tahu ini adalah keinginan yang istimewa untuknya. Bisa hidup tanpa hutang dan tidak kedinginan di luar panti saja sudah bagus. Daeun bermimpi terlalu besar. Kadang dia berpikir seperti itu di sudut hatinya.


Karena hal itu, dia harus melakukan pekerjaan ini dengan baik dan mendapatkan bonus sehingga dana deposit yang dia inginkan bisa lebih cepat terkumpul.

__ADS_1


__ADS_2