Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 88


__ADS_3

Daeun sibuk mengubek - ubek isi kamar di apartemen lama miliknya. Beberapa hari ini dia tengah disibukkan dengan agenda pindahan. Daeun melakukannya dengan penuh semangat. Dia harus segera pindah minggu ini sebelum Daehyun memulai syutingnya.


Tapi, tidak disangka ternyata Daeun memiliki banyak barang. Padahal, waktu pindah ke apartemen yang lebih cocok disebut sebagai studio ini, Daeun hanya membawa satu buah tas. Dia bahkan tidak memiliki peralatan makan sama sekali.


Sekarang, dia sudah mengepak kurang lebih 4 dus. Biasanya, banyak orang yang pindah memilih untuk tidak membawa banyak barang. Tetapi, Daeun merasa sayang jika barang - barang yang masih dia gunakan harus dibuang begitu saja.


“Ah.. dimana ya.. Padahal itu bantal kesukaanku. Aku rasa aku tidak pernah membawanya.”, Daeun mencari - cari bantal leher kesukaannya.


Terakhir kali Daeun melihat bantal itu adalah sekitar satu minggu yang lalu. Dia tidak pernah merasa membawanya keluar.


“Oh? Bukankah hari terakhir syuting bersama Daehyun, aku meninggalkan bantal itu di mobil miliknya? Ah.. kenapa aku harus meninggalkan benda itu disana. Tunggu, tapi mungkin saja ada di van dan bukan di mobilnya.”, ucap Daeun berpikir sambil duduk di sebuah sand bag.


Sandbag ini juga merupakan benda yang baru saja dia beli beberapa hari yang lalu. Dia sangat senang menerima bonus dari Bokman Ahjussi dan langsung membeli sandbag agar dia bisa duduk dan diam seharian penuh tanpa memikirkan apapun.


“Apa aku telpon saja? Hm… coba aku telpon.”, Daeun tidak melihat jam sama sekali.


Gadis itu masih berpikir sekarang jam 7 malam. Belum terlalu larut untuk menelepon seseorang. Lagipula, Daehyun pasti sudah menyelesaikan syutingnya di sore hari. Daeun masih menyimpan timesheet untuk proses syuting Daehyun di tangannya.


“Yeoboseyo! Daehyun-hyung.. Kau dimana?”, tanya Daeun bersemangat.


Dia tidak tahu kenapa, Daeun tak bisa berhenti tersenyum memikirkan sebentar lagi dia akan tinggal di apartemen yang lebih layak dari sekarang. Lebih besar, memiliki ruang tamu, kamar tidur, dan dapur yang terpisah dari ruang utama.


“Yaaaaaaa… kau ini perempuan atau laki - laki? Kenapa senang sekali memanggilku dengan ‘hyung’?”, protes Daehyun.


Padahal, pria itu tidak pernah melayangkan protes sebelumnya meskipun Daeun memanggilnya dengan sebutan ‘hyung’, kata ganti untuk laki - laki yang lebih tua oleh laki - laki. Namun pada kenyataanya, Daeun adalah seorang perempuan. Seharusnya dia memanggil ‘oppa’.


“Ihh… aku tidak suka memanggilmu ‘oppa’. Menggelikan. Daehyun ‘oppa’? Wuaaa aneh sekali.”, ucap Daeun mencobanya.


“Apa kau sudah lupa. Kemarin waktu menginap di tempat pemancingan, kau juga dengan santainya memanggilku ‘oppa’.”, balas Daehyun yang berbicara dengan sangat santainya.

__ADS_1


Padahal, Jang Hyun Joo berada tepat disampingnya. Gadis itu menatap Daehyun dengan wajah kecewa sekaligus heran. Mengapa interaksi mereka bisa se-akrab itu. Mengapa untuk dirinya, Daehyun tidak pernah menawarkan percakapan yang sama.


Hyun Joo memanggil Daehyun dengan sebutan ‘oppa’ atas kehendaknya sendiri. Saat dirinya masih sibuk memanggil Daehyun-shi, pria itu sama sekali tidak memprotesnya.


‘Apa dia tidak melihatku?’, pikir Hyun Joo dalam hati.


“Kenapa kau menghubungiku?”, tanya Daehyun.


Mendengar Daeun tak menjawab pertanyaannya, Daehyun melontarkan pertanyaan. Pria itu cukup terkejut Daeun menghubunginya malam - malam. Padahal, mereka sedang tidak memiliki jadwal bersama.


“Daehyun-nim.. Apa bantal leherku ada di mobilmu? Aku tidak bisa menemukannya di kamar. Setelah aku pikir - pikir sepertinya aku lupa dan meninggalkannya di mobilmu.”, jelas Daeun.


“Oh? Bantal leher? Aku tidak yakin. Memangnya kapan terakhir kali kau naik mobilku?”, tanya Daehyun sambil mencoba memeriksa ke belakang mobil.


“Hm… aku pikir aku meninggalkannya di van saat syuting tempo hari. Tapi setelah aku pikir - pikir lagi, mungkins aja di mobilmu saat kita pergi ke PC Bang.”, terang Daeun.


“Memangnya waktu ke PC Bang bersama, kau membawa bantal leher?”, tanya Daehyun.


Mereka terlihat sangat akrab. Padahal, menurut keterangan Daehyun, Daeun baru bekerja kurang lebih dua bulan setengah di perusahaan agensi mereka. Tetapi dia sudah bisa membuat Daehyun nyaman selama menjadi managernya.


“Sudah ku bilang, setiap kali pulang, kau harus memeriksa barang - barangmu? Bukankah aku memberimu waktu setiap kali aku mengantarkanmu di depan pintu apartemen?”, lanjut Daehyun lagi.


‘Apa? Mengantarkan sampai ke kamarnya?’, Hyun Joo mulai emosi.


Gadis itu sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Bahkan, tanpa Hyun Joo sadari, gadis itu sudah keluar dari mobil dan membanting pintunya lalu berdiri di samping mobil.


Mendengar suara pintu tertutup dan Hyun Joo tak ada di sampingnya, Daehyun terkejut.


“Daeun-ah.. Aku akan menghubungimu kembali nanti. Kalau aku menemukannya, aku akan menghubungimu.”, kata Daehyun ingin segera menutup teleponnya.

__ADS_1


“Oh.. baiklah.. Kau sedang di luar? Kau sedang bersama siapa?”, tanya Daeun.


Tak ada jawaban dari Daehyun. Daeun-pun berhenti bertanya.


“Pastikan kau mencarinya dengan baik di mobilmu, ya. Itu aku beli dengan harga yang lumayan. Aku tidak mau kehilangan bantal leherku.”, ucap Daeun.


“Hn.”, Daehyun memberikan jawaban singkat dan segera menutup ponselnya.


Pria itu tidak langsung keluar mobil melainkan membuka kaca mobil terlebih dahulu.


“Hyun Joo-shi? Kau sedang apa di luar sana?”, tanya Daehyun bertanya.


Pria itu sama sekali belum berpikir kalau Hyun Joo sedang marah dengannya. Bagaimana bisa pria itu mengacuhkannya dan lebih mementingkan percakapan dengan Daeun, si manager pengganti itu ketimbang dirinya.


Hyun Joo bisa mendengarkan pertanyaan Daehyun dari posisinya. Tetapi, aktris wanita dengan popularitas yang semakin tinggi itu tidak menjawabnya.


“Hah..”, Daehyun cukup cerdas untuk bisa mengetahui, ada sesuatu yang terjadi sekarang.


Daehyun akhirnya mengambil topi hitam miliknya, sebuah kacamata, dan masker sebelum ikut keluar dari mobil. Dia akan merasa sangat bersalah jika image Hyun Joo jatuh karena ketahuan media berpacaran dengannya.


“Hyun Joo-shi? Kau sedang apa di luar?”, tanya Daehyun seusai menghampiri Hyun Joo.


Hyun Joo masih diam seribu bahasa.


“Hyun Joo-shi? Apa kau sedang marah padaku? Kau marah tentang apa? Apa aku melakukan kesalahan?”, tanya Daehyun berhati - hati.


Ini adalah perselisihan pertama sejak mereka memutuskan untuk pacaran diam - diam sekitar 2 minggu yang lalu.


“Hyun Joo-shi?”, tanya Daehyun lagi mencoba untuk menepuk ringan bahu Hyun Joo.

__ADS_1


“Kenapa kau tidak memanggilku sama seperti kau memanggil Daeun.”, itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Hyun Joo setelah diam beberapa menit.


“Eh? Maksudmu?”, kehilangan petunjuk, Daehyun sama sekali kaget dan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hyun Joo.


__ADS_2