
Mini konser segera dimulai. Stadium dengan kapasitas 3000 orang sudah penuh. Para penonton sudah menunggu - nunggu kehadiran Triple Kill. Seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya oleh pihak management, mini konser ini akan menjadi mini konser terakhir di musim ini.
Setelah itu, Triple Kill akan disibukkan dengan persiapan mini album baru dan aktivitas solo dari para anggota masing - masing. Kemungkinan untuk tampil di televisi sebagai group baru akan dimulai setelah mini album berhasil dirilis dan aktivitas solo selesai. Hal itu baru bisa terjadi sekitar 6 - 8 bulan dari sekarang.
Fans yang akan merindukan penampilan Triple Kill menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk hadir dalam mini konser ini. Sejak Triple Kill berhasil melakukan debut, jadwal off air mereka sangat padat. Meski tidak sering wara wiri di televisi, tetapi para penonton yang senang menyaksikan festival pasti merupakan fans mereka.
Mayoritas kursi VIP juga sudah mulai terisi. Para selebriti yang saling mengenal langsung menyapa satu sama lain. Para member girl group yang diundang oleh Jisu tidak menyangka kalau ada Hyun Joo, aktris pendatang baru yang sedang naik daun disana. Mereka pun saling menyapa dan berfoto.
“Selamat malam semuanya, Triple Kill-imnida.”, ujar semua member yang baru saja memberikan intro perkenalannya lewat permainan instrument mereka.
Hyun Joo yang pertama kali menyaksikan konser seperti ini sangat bersemangat.
*********
“Ahjumma, bukankah aku selama ini tidak pernah telat membayar uang bulanannya? Kenapa telat beberapa hari saja tidak boleh?”, kata Daeun terkejut ketika penyewa studio datang menemuinya untuk meminta uang sewa.
“Setiap bulan, aku harus membayarkan semua biaya listrik, perawatan, perbaikan, dan masih banyak lagi. Jika ada yang terlambat membayar uang sewa, apakah aku yang harus membayarkannya? Aku berbisnis agar untung, bukan untuk merugi. Aku tahu situasimu, tapi coba mengerti juga situasiku.”, ujar Ahjumma pemilik studio itu pada Daeun beberapa hari yang lalu.
Sejak hari itu, Daeun harus mencari - cari kerja sampingan di luar pekerjaannya di agensi untuk bisa mengumpulkan uang sewa. Dia berjanji akan memberikannya minggu ini dan penyewa menyetujuinya.
Selama itu, Daeun sudah bekerja di beberapa tempat namun masih belum cukup. Tapi dia masih memiliki waktu dua hari lagi.
Hari ini, Daeun sangat bersemangat karena dia akan menghadiri mini konser Triple Kill. Seumur hidup, baru kali ini dia bisa menghadiri acara seperti ini. Biasanya dia hanya menikmati musik di pinggir jalan atau kalau beruntung, dia bisa menyaksikan penampilan seperti ini sesekali di Panti Asuhan.
“Hm… aku harus mengenakan baju apa ya? Aku tidak memiliki baju - baju yang bagus. Hm.. jeans ini dan outer ini sepertinya bagus. Aku juga bisa mengenakan sepatu ini.”, kata Daeun menantikan hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, kalau tidak berangkat sekarang, dia akan terlambat.
Kring Kring Kring
Seseorang menghubungi ponsel Daeun.
“Oh, Ahjussi. Ada apa?”, ujar Daeun menjawab teleponnya.
“Waktu itu kau meminta pekerjaan kan? Aku mendapatkan banyak pesanan ayam goreng malam ini di beberapa tempat. Kau bisa membantu. Aku akan membayarmu lebih.”, ujar seseorang yang dipanggil Ahjussi.
“Oh? Sekarang?”, tanya Daeun bingung.
“Iya.. memangnya kapan lagi? Ayo, kalau kau bersedia, aku akan membayarmu dua kali lipat dari bayaran yang biasanya aku berikan. Bagaimana? Kalau tidak aku akan menghubungi yang lain.”, kata orang tersebut.
“Ah iya iya, aku bersedia. Kenapa kau tidak sabaran sekali. Baiklah Ahjussi, aku akan kesana sekarang.”, ujar Daeun menutup teleponnya.
Dia tidak tahu kapan kesempatan seperti ini akan datang lagi. Dia juga sedang kekurangan uang. Jika Ahjussi itu benar membayar dua kali lipat, dia bisa menggunakan setengahnya untuk menutupi kekurangan biaya sewa yang diminta dan setengahnya untuk bertahan sampai gajian tiba.
‘Aku ingin sekali melihat konser itu. Tapi mau bagaimana lagi, Aku juga harus bertahan hidup.’
Daeun meletakkan tiket VIP nya kembali di meja. Dia segera berganti baju dengan pakaian training dan mengganti tasnya dengan tas biasa. Lalu berangkat menuju restoran ayam goreng.
**********
“Satu, dua, tiga. Oke sekali lagi. Satu, dua, tiga.”, ujar fotografer yang bertugas memotret mereka.
Ritual setiap kali penampilan selesai, mereka pasti akan berfoto - foto. Mulai dengan penonton, para kru, dan juga member Triple Kill sendiri.
“Terima kasih atas kerja kerasnya. Terima kasih.”, para anggota Triple Kill membungkuk setiap melewati para staff yang mereka temui menjelang ke ruangan backstage.
Mereka sudah bekerja keras menghasilkan mini konser dan memastikan semua berjalan dengan lancar.
Para penonton biasa keluar stadium dengan teratur. Para penonton VIP terlihat mulai turun dan berjalan menuju backstage. Ada yang langsung menyapa para member Triple Kill dan mengucapkan terima kasih atas penampilan yang diberikan lalu pergi. Ada juga yang meminta untuk berfoto bersama.
Hyun Joo dan girl group yang diundang oleh Jisu adalah salah satunya. Mereka mengambil beberapa potret bersama.
“Daehyun-shi. Woah, aku menyaksikannya dari awal hingga akhir. Kau luar biasa sekali.”, pujinya dengan senyum yang lebar.
“Hahaha.. Kau bisa saja. Aku senang kalau kau menikmati penampilan kami.”, balas Daehyun.
“Aku juga menghafal beberapa lagu sebelum kesini dan berhasil menyanyikannya dengan baik tadi.”
“Oh, benarkah. Di sela - sela jadwalmu yang sangat padat, kau melakukannya? Wow, aku sangat terkesan.”, Jisu tiba - tiba muncul dari belakang.
“Huh”, Daehyun hanya bisa merespon singkat.
“Hyun Joo-nim, boleh meminta foto?”, tanya Jisu pelan dan sopan.
Tentu saja Hyun Joo langsung mengiyakan. Tak lama, Jiwon yang sudah selesai menyapa para penonton VIP nya langsung ikut nimbrung dan meminta foto bersama Hyun Joo.
Selanjutnya para member lengkap Triple Kill juga akhirnya ikut berfoto.
“Daehyun-shi.”, Hyun Joo baru saja terbebas dari banyak orang yang mendekati dan memanggilnya.
__ADS_1
Namun, baru saja dia mendapatkan ruang untuk bisa memanggil Daehyun, Jiwon memanggilnya.
“Hyun Joo-nim, sign?”, kata Jiwon menyodorkan baju konsernya dan sebuah spidol berwarna putih.
“Okay… dengan senang hati.”, kata Hyun Joo terpaksa harus tersenyum.
‘Ah.. akhirnya. Semoga tidak ada yang memanggilku lagi.’, ujar Hyun Joo dalam hati.
“Dae..”, belum lagi Hyun Joo berhasil menyebut nama Daehyun, seseorang sudah memanggilnya kembali.
“Hyun Joo-shi.”, kali ini Jisu membawa sebuah bola tennis kesayangannya untuk ditandatangani oleh Hyun Joo.
“Baiklah..”, bibir Hyun Joo bisa saja sedang tersenyum, tetapi dalam hati dan giginya sudah bergetar karena kesal.
Sampai kapan dia harus meladeni para member.
‘Kenapa mereka tidak meminta tanda - tangan sekalian saja.’, teriak Hyun Joo dalam hati.
“Daehyun-shi.”, panggil Hyun Joo, kali ini dia menarik lengan Daehyun agar tidak kecolongan lagi.
“Oh.. ya. Maaf - maaf, terlalu banyak orang, aku jadi tidak fokus.”, ujar Daehyun.
“Tidak apa - apa. Selca?”, kata Hyun Joo meminta dengan menggoyang - goyangkan ponselnya.
“Oh.. tentu saja. Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga.”, ujar Hyun Joo mengambil selca mereka berdua di ponselnya.
“Seongmin-hyung. Bisa bantu fotokan kami?”, ujar Daehyun setelah Hyun Joo berhasil mengambil Selca.
Hyun Joo nampak senang saat Daehyun langsung inisiatif untuk mengambil foto mereka dengan lebih serius.
Disisi lain, Seongmin-hyung langsung memberikan tatapan penuh arti pada Daehyun.
“Baiklah, satu, dua, tiga. Sekali lagi, lebih ceria, satu dua tiga.”, kata Seongmin, manager Triple Kill.
“Hyung, Daeun-i masih belum datang?”, tanya Daehyun lagi pada Seongmin.
“Hn. Aku tidak melihatnya dari tadi. Ah.. mungkin dia memang tidak datang. Ah.. kau sudah menghanguskan satu tiket VIP.”, komentar Seongmin sebelum akhirnya permisi karena harus mengurus hal yang lain.
“Daeun?”, tanya Hyun Joo heran.
Sepertinya terdengar seperti nama wanita di telinganya. Tentu saja Hyun Joo penasaran siapa dia.
“Hm.. kau mengundang karyawan ke VIP? Bukankah mereka seharusnya di backstage.”, Hyun Joo terlihat bingung dengan penjelasan Daehyun.
“Oh dia..”
“Hyun Joo, ayo pulang. Sudah larut malam. Besok kau ada jadwal fitting.”, kata Manager Hyun Joo memanggilnya. Daehyun akhirnya tidak melanjutkan perkataannya.
Dia sudah berusaha menarik Hyun Joo sedari tadi, namun gadis itu nampak masih sibuk dengan yang lain.
“Oh, aku kira kau tidak ada jadwal apa - apa besok.”, Daehyun.
“Ha - ha.. Hanya fitting baju saja. Tidak lama dan tidak terlalu penting.”, jawab Hyun Joo.
“Oh… kalau begitu, hati - hati di jalan. Sampai bertemu di syuting perdana minggu depan.”, ujar Daehyun pada Hyun Joo.
“Hm.. Terima kasih untuk hari ini.”, ujar Hyun Joo.
“Apanya yang hanya sebentar. Besok kau harus fitting baju yang akan digunakan untuk acara penghargaan. Tidak penting? Besok kau harus fitting baju untuk acara bergengsi. Huh!”, kata Manager Hyun Joo yang langsung mengomel setelah mereka berada di luar stadium.
“Unni, itu namanya ‘White Lies’. Woah, apakah kau tadi melihatnya? Daehyun-shi sangat memukau malam ini. Aku tahu dia cool. Tapi aku tidak tahu kalau dia bisa sekeren itu.”, Hyun Joo masih belum bisa lepas dari kesannya melihat penampilan Daehyun malam ini.
“Huh, terserah kau saja. Aku sudah tidak ingin ikut campur lagi. Arghhhh…”, teriak manager Hyun Joo di mobilnya.
***********
“Huh… aku sudah berbaik hati memberikan tiket VIP padanya dan dia tidak datang? Memangnya dia siapa? Hyun Joo yang jadwalnya sangat padat saja, yang aktris terkenal saja datang, kenapa dia tidak? Hah… emosiku.. Hah.. kepalaku sakit.”
“Mau datang atau tidak, apa urusannya denganku? Aku sudah memberikan tiket VIP itu padanya. Kenapa aku harus menantikannya? Memangnya aku ini siapanya? Dia siapaku?”
“Tapi, bisa - bisanya dia tidak hadir? Orang - orang bahkan rela membayar mahal untuk tiket VIP itu dan dia tinggal datang saja tidak bisa?”
“Kenapa ya, dia tidak datang?”
“Tunggu, apa terjadi sesuatu padanya?”
“Wah.. dia juga tidak menghubungiku. Apa - apaan wanita ini?”
__ADS_1
“Hah.. sudahlah aku mau tidur.”
Daehyun berbicara sendiri di kamarnya. Sejak pulang menyelesaikan konser dan menghadiri party sebentar, dia kembali ke apartemennya. Dia sudah mandi dan sekarang lengkap dengan piyama tidurnya.
Absennya Daeun dari konsernya hari ini mengusik pikirannya. Di satu sisi dia tidak rela sementara di sisi lain dia juga tidak ingin memikirkannya. Wanita itu bukan siapa - siapanya.
Setelah berdebat sendirian di atas kasur, Daehyun memilih untuk mematikan lampu dan masuk ke dalam selimut.
5 menit. 10 menit. 15 menit.
“Hah… “, Daehyun bangun dari kasurnya dan menyalakan kembali lampu kamarnya.
“Bagaimana bisa dia tidak menghubungiku. Apa sulitnya menelepon atau memberikan pesan. Minta maaf tidak bisa hadir kalau memang ada hal yang urgent. Kenapa tidak memberikan kabar sama sekali.”, ujar Daehyun kembali bangun dari tidurnya dan memegang ponsel.
Drrrrrttttdrttttttt
Tiba - tiba muncul pesan di ponselnya. Pesan yang dia tunggu walaupun dia tidak ingin mengakui kalau dia menunggu pesan tersebut. Dari Daeun.
Daehyun-hyung. Aku minta maaf tidak bisa hadir di konsermu malam ini. Aku tahu kau mungkin juga sadar. Tapi setelah aku pikirkan, sebaiknya aku memberikan pesan ini.
Aku mendapatkan tawaran bekerja paruh waktu. Ada hal mendesak. Aku tidak tahu kapan aku mendapatkan tawaran seperti ini lagi. Sekali lagi aku minta maaf. Semoga aku masih bisa mendapatkan kesempatan untuk menonton Triple Kill lain kali.
Maafkan aku.
“Bekerja paruh waktu?”, pikir Daehyun bingung.
“Apakah bekerja paruh waktu jauh lebih penting dibandingkan dengan menghadiri konserku.”
“Pekerjaan apa yang membuatnya harus bekerja dari jam 9 sampai jam 12 malam?”
“Lagipula, dia sudah bekerja di agensi, kenapa masih perlu bekerja paruh waktu? Bukankah bayaran Bokman Ahjussi biasanya besar?”
Meskipun Daehyun sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang membuatnya tidak bisa tidur. Tetap saja, Daehyun masih tidak mengerti.
***********
Beberapa hari setelah konser, Daehyun kembali ke sebuah stasiun televisi. Dia memiliki satu jadwal disana untuk menghadiri salah satu Reality Show. Secara kebetulan, saat itu tengah syuting acara musik dimana kebanyakan Idol group muncul.
Sejak debut, Triple Kill belum pernah masuk ke acara musik tersebut. Karena memang kebanyakan yang masuk hanyalah idol group saja. Sementara Triple Kill adalah band. Selain ketenarannya masih kurang, pihak staff juga sulit untuk mengatur stage untuk mereka.
Seperti biasa, Daehyun yang masih maknae datang ke studio syuting jauh lebih awal. Dia sudah menyapa semua senior disana. Sebelum syuting dimulai, dia tertarik untuk sekedar melihat - lihat saja proses syuting acara musik.
Beberapa idol group yang baru debut ada yang menyapa Daehyun karena mengenalnya. Daehyun tentu saja juga menyapa balik.
Puas melihat - lihat, Daehyun berencana untuk kembali ke studio syuting. Sebelumnya dia singgah di toilet dekat situ, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Lokasi stasiun TV yang memiliki banyak lorong lantas membuatnya bingung.
Sampai akhirnya Daehyun berpapasan dengan seorang wanita dan berniat ingin menanyakan jalan.
“Permisi.”, sapa Daehyun, namun wanita itu terlihat menutupi wajahnya seperti takut ketahuan dengan cue card.
Daehyun tentu saja bingung. Ia berniat untuk mengurungkan niatnya bertanya dan jalan terus. Dia pikir, dia juga akan menemukan lokasinya jika terus berjalan. Namun, saat wanita itu menurunkan ‘Cue Card’ nya, dia seperti mengenalnya.
“Oh? Kang… Byeol?”, kata Daehyun masih dengan nada ragu - ragu.
“Maaf kau salah orang.”, kata wanita itu.
“Hm… aku yakin kau Kang Byeol. Ya… Kang Byeol. Aku benar, kau Kang Byeol! Jangan coba - coba menipuku.”, ujar Daehyun membuka cue card yang sengaja dia gunakan untuk menutupi wajahnya.
“Kenapa?”, akhirnya wanita itu membuka cue cardnya dan mengakui bahwa dia adalah Kang Byeol.
“O-oh? Kau sekarang sedang cosplay jadi girlgroup?”, Tanya Daehyun sedikit menyindir.”
“Aku memang seorang anggota girlgroup. Aku debut hari ini. Jadi jangan mengangguku.”, kata Kang Byeol berusaha pergi.
“Tunggu. Kau kan yang menguntitku beberapa hari ini? Benarkan? Aku yakin aku melihatmu berlari menuruni tangga saat itu.”, kata Daehyun langsung to the point.
Mumpung tidak ada siapa - siapa disana. Dia bisa bertanya sepuasnya tanpa khawatir ada yang melihat mereka.
“Tidak. Kau salah orang.”, ujar Kang Byeol tegas.
“Kenapa? Kau menguntitku pasti ada alasannya? Ingat, kau yang memutuskanku waktu itu. Bukan aku. Jadi aku berhak bertanya sekarang kenapa kau mengikutiku.”, ujar Daehyun lagi.
“Huh.. bukan aku.”,. Kata Kang Byeol.
“Ya.. aku benar - benar ketakutan beberapa hari belakangan karena ada yang mengikutiku terus dengan tingkah aneh. Kalau itu kau, aku tidak akan memperpanjangnya. Tapi kalau ternyata bukan kau, aku harus segera lapor ke polisi.”, ujar Daehyun.
Kang Byeol melihat lurus ke arah Daehyun.
__ADS_1
“Bukan. Sudah aku mau pergi. Jangan bersikap kenal denganku.”, kata Kang Byeol sebelum melarikan diri dari sana.
‘Hah.. kalau aku mengaku bahwa aku yang mengikutinya kemarin, aku akan malu sendiri. Lebih baik aku tidak mengakuinya. Hm padahal sulit bisa menemukan dimana alamat apartemennya. Aku harus menghubungi orang tuanya terlebih dahulu. Tapi, aku hanya mengikutinya hari itu saja. Tidak di hari - hari sebelumnya. Apa dia memiliki stalker yang lain?’, Kang Byeol bertanya - tanya dalam hati.