
“Aku sudah memesan semua makanan yang kau inginkan.”, ucap Daeun setelah kembali ke bangkunya.
Daehyun hanya melirik sebentar kemudian kembali fokus pada layar PC miliknya. Daeun mengintip sedikit. Rupanya pria ini sedang memainkan permainan peperangan. Berbeda dengan mayoritas orang yang tadi dia lihat, Daehyun terlihat lebih tenang. Tidak, bahkan jauh lebih tenang.
Padahal, jika melihat situasi di layarnya, Daehyun seharusnya sudah berteriak - teriak sekarang karena dirinya hampir dikepung oleh pihak musuh dan tersudut. Sebaliknya, dia menggerakkan mouse-nya dengan tangan kanan seolah dia bukan sedang memainkan game online tetapi sedang mengerjakan tugas kuliah. Tenang sekali.
Sedangkan tangan kirinya menekan tombol mouse dengan pelan namun pasti.
“Woah….”, Daeun langsung berteriak saat melihat tulisan ‘Victory’ pada layar Daehyun.
Pria itu masih dengan ekspresi datar yang sama melepaskan headsetnya dan baru berbalik menghadap Daeun.
“Kau sudah memesan semua makanannya? Aku sudah sangat lapar.”, kata pria itu yang terdengar seperti keluhan.
“Sudah.”, balas Daeun.
‘Aku hampir saja ingin memesan semua makanan yang ada.’, ucap Daeun dalam hati sambil tersenyum mengingat betapa bahagianya dia memilih makanan sesukanya.
“Kenapa senyum - senyum?”, tanya Daehyun.
“Kau hebat juga main game. Kau bahkan tidak bergeming sedikitpun meski sudah dikepung musuh.”, ucap Daeun.
“Kau ingin aku berteriak disini dan menarik perhatian semua pengunjung?”, tanya Daehyun sedikit membuka topinya.
“Pakai lagi topimu.”, Daeun dengan cepat langsung menurunkan lagi topi Daehyun.
“Benar juga.”, lanjutnya.
“Kau tidak mau main?”, tanya Daehyun.
“Aku tidak mengerti caranya main game.”, jawab Daeun.
“Hah? Memangnya masih ada di jaman ini yang tidak mengetahui caranya main game?”, respon Daehyun sambil menunjukkan ekspresi tidak percaya.
“Daehyun-shi, aku tumbuh dan besar di panti asuhan. Pernahkah kau melihat ada yang memberikan fasilitas game online pada anak - anak di panti?”, Daeun melipat kedua tangannya di depan dada dan memberikan tatapan serius.
“Ah… maaf… maaf. Aku melupakannya. Hah… seharusnya mereka juga memberikan fasilitas itu.”, ucap Daehyun kembali ke posisi bermain gamenya.
__ADS_1
“Aku rasa tidak. Itu hanya akan membuat anak - anak tidak belajar dengan giat.”, ucap Daeun juga mengambil duduk, namun dia bingung harus memainkan apa.
“Ya.. sini.. Aku akan mengajarkanmu caranya bermain game. Jangan bermain game kartu karena itu membosankan.”, ucap Daehyun yang baru saja menangkap Daeun hendak membuka game permainan kartu yang jadul.
“Geser sedikit.”, ucap Daehyun mencoba untuk menggeser kursinya agar bisa melihat PC Daeun dan mengajarkannya.
Daeun yang merasa jarak mereka lebih dekat pun ikut bergeser ke kiri.
“Oh?”, Daeun terkejut.
Ketika dirinya bergeser, Daehyun langsung menarik kursi Daeun agar mendekat padanya.
“Kenapa jauh - jauh? Bagaimana kau bisa mengajarkanmu kalau kau saja duduk jauh sekali. Sini.. kau pegang mouse ini. Ini adalah permaian —------- yang perlu kau lakukan hanya menembak musuk selain tim mu?”, ucap Daehyun memberikan penjelasan.
“Kau bisa menggunakan ini untuk berjalan. Tombol ini untuk menembak. Ini ke kiri ke kanan. Ini untuk meloncat, dan ini untuk merunduk jika kau melewati sesuatu atau ingin bersembunyi. Kau juga bisa melemparkan amunisi. Dan bla bla bla bla.”, Daehyun kembali menjelaskan panjang lebar.
Daeun hanya bisa mengangguk - angguk tanda paham di sebelahnya. Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat.
‘Ya… kau memalukan sekali. Kenapa bisa - bisanya jantungmu berdetak. Dia adalah Daehyun. Selebriti… yang seharusnya bisa berdetak jantungnya adalah Hyun Joo. Kenapa malah dirimu.’, protes Daeun dalam hati.
Dia merasa dia sudah merasakan hal - hal yang aneh padahal dia bahkan tidak dianggap perempuan oleh Daehyun apalagi wanita.
“Kau mengerti?”, tanya Daehyun setelah dia rasa semua penjelasan sudah diberikan.
“Oh?”, Daeun hanya bisa memberikan ekspresi bengong karena jangankan mendengarkan perkataan Daehyun, dirinya tak bisa memikirkan apapun lagi sekarang.
‘Bodoh.. Bodoh.. Sekarang apa yang bisa kau lakukan.”, kata Daeun dalam hati.
“Selamat malam, beberapa makanan Anda sudah bisa disajikan, izin untuk kamu taruh sebentar.”, ucap seorang petugas yang mengenakan celemek namun dengan gambar - gambar berbagai karakter game online.
“Hah…”, Daeun bernafas lega.
“Oh, itu ramyunku. Bisa taruh disini.”, kata Daehyun dengan cepat saat melihat sebuah Ramyun dengan topping mozarella diatasnya.
“Oh? Itu punyaku. Memangnya tadi kau minta topping mozarella? Kau hanya menyebutkan Ramyun saja.”, kata Daeun protes dan memberikan kode pada petugas agar menaruh kembali Ramyun itu di mejanya.
“Hm? Tapi setelah melihatnya aku ingin makan itu. Kau ambil yang tidak ada topping mozarelanya saja. Kau itu perempuan, kalau gendut nanti tidak ada yang mau.”, ucap Daehyun dengan santainya.
__ADS_1
Daeun tak bisa berkata apa - apa.
‘Kau itu selebriti. Kalau kau gendut bagaimana? Aku akan dimarahi management. Hah.. dia ini semena - mena. Disaat seperti ini saja, baru dia mengatakan kalau aku itu perempuan’, kata Daeun yang hanya bisa protes di dalam hati.
“Oh? Itu ayam goreng kan? Sini sini.”, kata Daehyun lagi.
Matanya sudah seperti mesin scanner barcode yang memancar ke setiap makanan yang akan dihidangkan.
“Kau pesan es krim juga?”, tanya Daehyun.
“Hn. Aku sudah bilang untuk mengantarkannya satu jam lagi.”, jawab Daeun.
“Pintar sekali memang manager sementaraku ini. Wah.. kau memesan sebanyak itu? Kau ingin membuatku jatuh miskin?”, kata Daehyun bercanda.
“Memangnya ini bisa membuatmu jatuh miskin. Ini bayaranku untuk bertahan dengan segala kegilaanmu hari ini.”, ucap Daeun memasukkan satu tteokbokki ke dalam mulutnya.
“Ah hah hah hah… panas…”, Daeun langsung mengipas - ngipas mulutnya.
Karena terlampau fokus pada Daehyun, dia tidak sadar kalau tteokbokki yang dia makan masih mengeluarkan asap pertanda masih fresh dan panas.
“Oh? Kau tidak apa - apa? Sini keluarkan dulu.”, Daehyun dengan cepat mengambil tisu dan meminta Daeun mengeluarkan saja tteokbokki yang dia makan. Daripada mulutnya menahan panas.
Daeun tentu saja tidak ingin. Meski pria itu tidak memandangnya sebagai perempuan, setidaknya dia bisa peka. Bagaimana bisa Daeun melepehnya diatas tangan Daehyun. Meski ada tissue disana.
Daeun akhirnya memutuskan untuk mengambil tisu itu dan melepehnya sendiri.
“Sini, minum airnya dulu. Kau ini. Aku tahu kau juga sedang lapar. Tetapi bagaimana kau bisa memakan tteokbokki yang masih panas. Ah.. kau ini.”, Daehyun masih berkomentar.
“Hah… lidahku..”, Daeun menyeka lidahnya dengan tisu.
‘Ini semua gara kamu yang tidak fokus. Lee Daeuuuuuun, dia itu artis. Kau itu hanya karyawan.’, Daeun kembali mengomeli dirinya sendiri yang dia anggap terlampau baper.
“Ini… aku sudah meniupnya, jadi tidak terlalu panas.”, kata Daehyun dengan santainya menyerahkan satu suap tteokbokki pada Daeun.
“Eh?”, tentu saja Daeun bingung.
‘Dia berniat menyuapiku?’, tanya Daeun bingung dalam hati.
__ADS_1
“Ehem - ehem.. Tenang saja.. Aku tidak menyuapimu, kau ambil ini dan masukkan ke mulutmu sendiri.”, kata Daehyun yang akhirnya mampu membaca situasi.