Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 109


__ADS_3

Sesampainya di dalam unit apartemen miliknya, Daehyun melemparkan ponselnya begitu saja di atas meja. Dia membuka bajunya dan melemparkannya ke sembarang tempat. Dia lantas membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit - langit.


“Sebenarnya apa yang sudah terjadi hari ini?”, gumam Daehyun.


Hanya dalam semalam saja, banyak yang terjadi dalam hidupnya. Jujur, dia masih memikirkan tindakan buruknya pada Daeun tadi di dalam ruang tunggu. Dia memarahi gadis itu habis - habisan.


Daehyun juga melihatnya menangis tetapi masih terus membentaknya dan pergi begitu saja.


“Apa dia sudah pulang?”, tanya Daehyun dalam hati.


Tadi, sesampainya di depan unit apartemen miliknya, dia melirik sebentar ke unit milik Hyun Joo. Entah wanita itu kembali pulang kesana atau malah ke tempat lain.


“Hah.. kenapa semua tiba - tiba jadi kacau begitu. Hyun Joo, apa dia wanita yang tega melakukan itu? Kenapa? Hyuk Jae, apa mau pria itu? Argh..”, Daehyun menolak untuk memikirkan semuanya malam ini.


Perutnya juga lapar. Tetapi, dia sama sekali tidak nafsu untuk makan. Tubuhnya sudah terlanjur lelah untuk sekedar mengambil sesuatu di dalam kulkas. Seiring dengan detak jarum jam, mata Daehyun yang sudah semakin sayu mulai menutup. Pria itu tertidur.


************


Kring kring kring kring


“Perasaan aku tidak mengaktifkan alarm. Kenapa berisik sekali.”, kata Daehyun sambil berusaha mengambil ponselnya.


Pria itu menggeser screen ponselnya ke atas sambil berharap bunyi alarm itu segera berhenti.


Kring kring kring kring


Gagal. Bunyi yang dia pikir adalah alarm terus berdering di telinganya.


“Arghhhh aku sudah melalui banyak hal kemarin, ada apa lagi? Kenapa aku harus melalui banyak hal lagi sekarang. Kenapa alarm nya tidak mau berhenti?”, kata Daehyun sambil mengangkat ponselnya ke atas agar dia bisa melihatnya dengan jelas.


Pria itu masih tidur dengan posisi yang sama dari semalam. Sinar matahari sudah masuk mengintip dari sela - sela ventilasi kamarnya. Terangnya matahari membuat ruangan itu sudah cukup terang tanpa harus menyalakan lampu.


“Oh… Pilsung daepyo? Ah.. Waeeee??? Kenapa lagi? Kenapa menghubungiku pagi - pagi. Apa dia mau mengucapkan selamat karena aku menang nominasi? Apa jangan - jangan dia mau menyuruhku interview lagi? Ahhh… melelahkan sekali.”, komentar Daehyun dalam hati.


“Oh..”, respon Daehyun setengah malas.


“Yaaaaaaa… KANG DAE HYUUUUUUNNNN masalah apa yang sudah kau buat? DIMANA KAU SEKARANG?”, segera setelah Daehyun mengangkat ponselnya, suara 8 oktaf milik CEO agensi miliknya sudah menggema di ponselnya.


“Ah.. sshhh… berisik sekali. Wae?”, tanya Daehyun bingung.


“Ah… tamatlah kita sekarang? Apa yang kau lakukan, huh? Apa semua yang dikatakan media itu benar? Sejak kapan? Tunggu aku bahkan tidak tahu harus bertanya bagian yang mana. Apa itu benar? Yaa… kau harus … ah… kepalaku sakit.. Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana.”, ucap Pilsung panik, marah, bingung, semua ekspresi yang semakin membuat wajah Daehyun kebingungan.


“Daepyo-nim.. Apa maksudmu?”, tanya Daehyun masih tidak mengerti.


“Kau baru bangun? Bagaimana bisa kau baru bangun di saat dunia sedang jungkir balik sekarang. Lebih baik kau buka internet dan telepon aku setelah kau memiliki alasan di balik semua ini. Aku sudah menghubungi semua tim PR. Daeun akan menuju ke apartemenmu sekarang.”, ucap Pilsung memutuskan sambungan teleponnya.


Daehyun menyeka matanya yang masih mengantuk dan memijat kepalanya sebentar sebelu akhirnya mengikuti perkataan Pilsung Daepyo. Pria itu membuka internet.


Tadinya dia berencana untuk mengetik namanya di salah satu mesin pencari untuk mengetahui. Tapi, Daehyun sudah tidak perlu melakukan itu karena semua notifkasi yang muncul di ponselnya segera setelah dia mengaktifkan internet lebih kurang sudah menjelaskan apa yang sedang terjadi.


Kang Dae Hyun, Vokalis Triple Kill melakukan pelecehan terhadap co-starnya


Pemeran Drama ******* Memaksa Co-Starnya untuk melakukan ****


Menyeramkan, Kang Dae Hyun memanfaatkan lawan mainnya untuk kepentingan pribadi


Diduga terlibat perkelahian, Kang Dae Hyun diam - diam mengajak lawan mainnya untuk bertemu di Klub Malam


Kang Dae Hyun terlibat transaksi mencurigakan di Klub Malam


Kang Dae Hyun sudah sering bertransaksi G*nja di Klub


Kang Dae Hyun ternyata memberikan perlakuan buruk pada stafnya


Apakah Kang Dae Hyun juga meniduri Manager wanitanya?


Video: Kang Dae Hyun membentak Manager perempuan yang masih muda


Dan berbagai judul - judul berita fantastis lainnya yang membuat Daehyun berpikir kalau dia belum sepenuhnya sadar. Belum lagi beberapa pesan - pesan dan telepon yang tidak berhenti dari rekan satu timnya, staf di agensi, kru film dan masih banyak lagi.


“뭐야 이게 (mwoya ige)? Apa yang aku lakukan? Uh? Meniduri? Siapa? Obat terlarang? Waahhh… “, Daehyun beberapa kali menampar pipinya untuk meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi.


“Wah.. apa ini benar?”, tanya Daehyun pada dirinya sendiri.


Ting Tong Ting Tong Ting Tong


“Ahhh…”, Daehyun kembali melemparkan ponselnya ke kasur dan bergerak menuju pintu apartemennya.


Dia bisa melihat dengan jelas Lee Daeun berdiri di pintu unit apartemen miliknya dari layar di dekat pintu. Daehyun mengacak - acak rambutnya. Dia akhirnya membukakan pintu.


Segera setelah pintu terbuka, Daehyun tidak menyambut Daeun dan hanya berjalan kembali masuk ke dalam. Daeun menggigit bibirnya karena merasa mereka berdua masih terlalu cepat untuk kembali bertemu setelah kejadian kemarin.


Mengingat kejadian kemarin, situasi yang terjadi sekarang, membuat keduanya sangat canggung satu sama lain.


“Kau sudah makan?”, tanya Daehyun tiba - tiba saat Daeun sudah masuk.


Alih - alih duduk di sofa, pria itu berjalan ke dapurnya dan membuka lemari makanan.


“Kau mau makan ramyun?”, tanya Daehyun random.


“Uh?”, Daeun bingung bagaimana harus menjawab Daehyun.


Di situasi seperti saat ini, setelah kejadian tadi malam, jam segini dalam keadaan seperti itu, bisa - bisanya Daehyun mengajaknya untuk makan Ramyun.

__ADS_1


“Aku tahu kau akan berpikir aku sangat aneh. Kau sudah tahu itu sejak lama. Aku tidak makan apa - apa sejak tadi malam dan aku sangat lapar sekarang. Kau mau? Kalau kau mau aku akan membuatkannya untukmu. Setelah perutku kenyang, baru kita bicara.”, ucap Daehyun.


“Ah.. biar aku saja yang membuatkannya.”, kata Daeun meletakkan tasnya dan mendekat ke dapur.


“Kau bisa membuat Ramyun?”, tanya Daehyun dengan tatapan serius.


Seolah Daeun akan diamanahkan untuk melakukan misi penting.


“Aku tanya, kau bisa membuat Ramyun? Kau tahu betapa pentingnya ini untukku? Aku belum makan dari kemarin dan harus menikmati Ramyun yang enak hari ini. Harus.”, ucap Daehyun.


“Hm.. aku bisa memasak Ramyun bahkan lebih dari itu. Kau bebersih saja. Aku yakin setelah itu kau sudah bisa menikmati hidangan Ramyun yang enak.”, kata Daeun.


Entah bagaimana caranya, perkara Ramyun ini bisa membuat situasi super canggung diantara mereka tadi bisa hilang.


Daehyun mengangguk dan berjalan ke dalam kamarnya. Dia mencium bagian lengan dan singlet yang dia kenakan untuk memastikan apakah dia bau.


“Tidak bau sama sekali. Aroma parfum yang aku gunakan kemarin masih bisa tercium.”, kata Daehyun merasa tidak terima karena Daeun memintanya untuk bebersih.


Daehyun masuk ke dalam kamar mandinya. Dia melemparkan beberapa buah bath foam aroma buah dan green tea ke dalam bath up yang sedang dia isi air. Tak lama setelah itu, dia masuk ke dalam.


Daehyun mencoba memejamkan matanya dan memikirkan kembali apa yang sudah terjadi kemarin, apa yang sedang terjadi sekarang, dan apa yang harus dia lakukan. Ibarat game, ini baru highlight. Daehyun paham betul ada hal besar yang akan menghampirinya sebentar lagi.


Secara singkat, dia sekarang dipercaya terlibat kasus Pelecehan, Pembullian, Transaksi dan Pemakaian Obat terlarang, Perkelahian, dan …


“Ah.. banyak sekali sampai aku bingung untuk menjabarkannya. Pantas saja Pilsung Daepyo-nim juga pusing.”, ujar Daehyun tertawa miris.


“Sebenarnya apa yang terjadi?”, Daehyun membenamkan tubuhnya sepenuhnya.


Dua menit kemudian dia baru memunculkan kembali kepalanya di atas air sampai ngos - ngosan karena menahan nafas terlalu lama. Daehyun keluar dari dalam bath-up dan bersiap dengan mengenakan pakaian rumahan.


“Woah… kau membuat semua ini?”, tanya Daehyun terkejut melihat di atas meja sudah terdapat beragam jenis makanan termasuk Ramyun yang tadi dia minta.


“Aku kira aku hanya ingin memasak Ramyun saja.”, kata Daehyun.


“Di lemari es ada banyak sekali bahan makanan. Sepertinya kau sudah tidak memasak dalam waktu yang lama. Jadi aku memanfaatkan yang ada. Silahkan.”, ucap Daeun pada Daehyun yang masih terpana sambil mengeringkan rambutnya.


Semakin lama Daehyun semakin terbiasa dengan adanya Daeun di sekitarnya.


Daehyun melemparkan handuknya ke sofa (lebih tepatnya ke sembarang tempat), kemudian duduk di meja makan. Di hadapannya langsung tersaji Ramyun dengan topping telor setengah matang dan beberapa irisan daging serta daun bawang.


Daeun juga menambahkan tiga slice tomat serta rumput laut. Daeun tak menyangka di dalam lemari es Daehyun, dia bisa menemukan banyak hal.


Daehyun langsung menyeruput satu sendok Ramyun ke dalam mulutnya.


“Wah… ini enak sekali.”, ucap Daehyun.


Mendadak seperti ada bintang - bintang dan petasan di kepalanya karena Ramyun ini benar - benar enak.


Daeun tersenyum karena ada yang mengakui kemampuan masaknya. Selama ini dia hanya masak untuk dirinya sendiri. Sehingga komentar seperti ini tidak pernah dia dengar kecuali ketika sesekali membantu di panti asuhan.


“Hyun Joo yang memasukkannya. Tiba - tiba dia ingin cosplay menjadi ibu rumah tangga dan mengisi lemari es hingga penuh sampai tak ada ruang lagi.”, ucap Daehyun santai sambil mengambil beberapa makanan pendukung lainnya di atas meja.


“Ah..”, respon Daeun pelan.


 Ada sedikit rasa kecewa dalam nada bicaranya tetapi Daeun tetap berusaha tersenyum. Tiba - tiba entah bagaimana, Daehyun menyadari ekspresi itu dari Daeun. Namun Daehyun menggelengkan kepalanya seolah menyangkal.


‘Tidak mungkin.’, gumam Daehyun dalam hati.


Walaubagaimanapun Daehyun nyaman berada di sekitar Daeun, Daehyun tetap melihat Daeun sebagai seorang wanita. Meski Daehyun mengatakan tak melihat Daeun sebagai lawan jenis sama sekali, tapi dia hanya mengatakan itu di mulut saja agar tidak ada rasa canggung di antara mereka.


“Hah…. aku merasa sangat kenyang sekali. Kalau karirku hancur dan kau tidak jadi managerku lagi, mungkin kau bisa membuka restoran. Pasti restomu akan laris.”, ucap Daehyun dengan nada bercanda.


Namun, Daehyun tidak tahu betapa mengerikannya ucapan itu untuk Daeun.


“Yaa… kenapa kau bicara seolah - olah karirmu akan hancur?”, protes Daeun.


“Pelecehan, Obat - obatan terlarang, Manipulatif, Kekerasan. Huh, satu saja sudah bisa membuat karirmu hancur berkeping - keping. Dan sekarang semuanya ada padaku.”, kata Daehyun meneguk air putih.


“Kau tidak melecehkan siapapun, kau tidak menggunakan obat - obatan terlarang, transaksi? Mereka bercanda, satu - satunya transaksi yang aku percaya keluar dari dirimu adalah transaksi skin gaming secara online. Manipulatif? Siapa? Kau? Kekerasan? Aku rasa ada orang yang memang pantas mendapatkannya saat itu. Aku sama sekali tidak mempercayainya.”, jelas Daeun dengan nada menggebu - gebu.


Daehyun terkejut mendengar pengakuan Daeun barusan. Meski mereka sudah dekat, Daehyun sama sekali tidak memiliki ekspektasi Daeun percaya padanya. Setidaknya Daeun mungkin bisa berpikir Daehyun melakukan setidaknya salah satu dari tuduhan itu.


Tapi tidak. Daeun bahkan tidak menanyakan apapun untuk bisa mempercayainya.


‘Ada apa dengan wanita ini?’, tanya Daehyun bingung.


“Kau tidak apa - apa?”, tanya Daehyun setelah beberapa saat hening.


“뭐가 (Mwoga?) - Buat apa?”, tanya Daeun bingung.


“Aku memarahimu habis - habisan tadi malam di depan semua orang.”, ucap Daehyun pelan sambil menelan ludahnya.


“Hm… kalau kau menanyakan apa yang aku rasakan tadi malam, aku merasa sangat sedih, takut, dan kecewa. Aku menangis semalaman. Tapi, saat bangun pagi ini, aku sadar. Aku salah. Sebagai seorang manajer, seharusnya aku memastikan semua aktivitas tersampaikan padamu dan kau menerimanya. Apa kau nyaman melakukannya atau tidak. Aku membayangkan jika diriku ada di posisimu. Rasanya sangat menyebalkan. Berusaha melakukan apa yang tidak kita sukai dan terpaksa harus tersenyum.”, kata Daeun menjelaskan dengan tenang.


Sontak lagi - lagi Daehyun terkejut dengan jawaban Daeun.


Hening kembali menyelimuti keduanya.


“Aku harus ke kantor sekarang untuk menjelaskannya pada semua orang.”, kata Daehyun.


“Tunggu. Pilsung Daepyo-nim memintaku untuk memastikan kau tidak keluar dari apartemenmu sama sekali.


“Kenapa?”, tanya Daehyun terkejut.

__ADS_1


“Reporter dari berbagai media sudah memenuhi gedung bagian depan. Keluar sekarang sama saja bunuh diri. Bertahanlah beberapa hari. Mereka juga akan lelah sendiri. Beruntung, Hyun Joo tidak ada di apartemennya. Sehingga tidak akan ada yang tahu kalau kalian tinggal di gedung yang sama bahkan berseberangan.”, terang Daeun.


“Tidak banyak yang mengetahui wajahku. Video yang beredar memblurkan wajahku sehingga aku bisa dengan mudah keluar masuk gedung ini. Untuk sementara aku akan memastikan kebutuhanmu terpenuhi sampai para media itu pergi dari gedung ini.”, ucap Daeun.


“Bagaimana dengan latihan? Aku juga harus latihan mempersiapkan album terbaru kami.”, kata Daehyun.


“Untuk hal itu, kau bisa mendengarnya langsung dari Pilsung atau Bokman Ahjussi. Aku dengar mereka sudah membuat kebijakan tentang itu.”, ucap Daeun.


“Hah.. shhh.. “, Daehyun beranjak dari kursinya frustasi.


Kring Kring Kring


Telepon berbunyi. Suaranya berasal dari ponsel milik Daeun.


“Yeoboseyo, ne Ahjussi”, jawab Daeun ketika tahu yang menghubunginya adalah Bokman.


“Minta Daehyun menghidupkan laptopnya. Pilsung Daepyo-nim ingin video call dengannya.”, ucap Bokman.


Karena Daehyun mengaktifkan speaker pada ponselnya, Daehyun sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan. Dengan malas dia masuk ke kamar dan mengambil laptop serta menunggu sambungan video call dari Pilsung Daepyo-nim.


“Yaaaa…. Waaa… kau membuat banyak masalah dan sepertinya kali ini sangat besar. Aku heran kenapa belakangan kau sangat tenang.. Ternyata kau sudah mempersiapkan bom yang sangat besar untukku, ya?”, ucap Pilsung dengan nada dan kalimat sarkas.


“Kau tahu aku tidak melakukan semua itu.”, ucap Daehyun.


“Tentu saja aku tahu. Memangnya aku mau membawa anak sembarangan untuk aku terbitkan menjadi artis. Tapi, kau sudah lengah sampai dengan mudah terjebak hal seperti ini. Sekarang apa yang akan kau lakukan?”, tanya Pilsung.


“Kau menyuruhku diam di apartemen. Kau berharap aku bisa melakukan apa?”, ujar Daehyun.


“Pikirkan Daehyun.. Kalau tidak hanya menghancurkan dirimu tetapi juga kami semua, bandmu.”, kata Pilsung.


“Hyun Joo, apa ada kabar dari pihak Hyun Joo? Dia bisa menjelaskan apa yang terjadi.”, KATA Daehyun.


“Yaa.. kau bercanda? Mereka sudah cuci tangan sejak awal. Kau pikir kenapa nama ‘Jang Hyun Joo’ tidak muncuk di setiap artikel. Hanya namamu saja? Kang Daehyun, Kang Daehyun, bersama Co-Star. Tinggal menunggu waktu kapan mereka bersiap menyerangmu.”, ucap Pilsung memijat kepalanya.


Kasus ini semakin dipikirkan semakin membuat kepalanya sakit.


“Hyun Joo, kau berkencan dengannya?”, tanya Pilsung.


“Ne.”, jawab Daehyun tanpa berpikir.


“Wah.. kau bahkan sama sekali tidak berkedip mengatakannya. Dia yang waktu itu datang tiba - tiba ke kantor agensi ingin menemuimu, kan?”, tanya Pilsung.


“Hn. Tapi kami sudah putus kemarin malam.”, jawab Daehyun.


“Huh.. siapa yang akan peduli kau dan dia sudah putus. Oke sekarang aku serahkan pada tim PR. kau dengarkan penjelasan dari mereka dan ikuti. Jangan membantah.”, ucap Pilsung.


“Daehyun-shi.. Kau sudah pasti tidak akan terbukti untuk kasus transaksi dan penggunaan obat terlarang. Kau tidak memiliki transaksi apapun. Kami sudah meminta tim ahli untuk memeriksa transaksi mencurigakan dan sesuai dugaan semua transaksi adalah jual beli barang - barang digital untuk gaming. Kami sudah mendapatkan kopiannya sehingga jika ada catatan yang mencurigakan datang tiba - tiba, itu bukan darimu.”, jelas seorang wanita yang merupakan PR di agensi.


“Selanjutnya, kau tetap harus memenuhi panggilan kepolisian untuk tes urine dan sebagainya dimana kami sudah menyiapkan pengacara untuk memantau semua proses agar tidak ada kecurangan. Jika kau tidak terbukti maka semua akan terlihat dari hasil tes.”, lanjut wanita itu.


“Tentu saja aku tidak menggunakannya.”, gumam Daehyun pelan.


Pilsung langsung memberikan tatapan kesalnya pada Daehyun karena bisa - bisanya dia terjebak berbagai kasus ganda seperti ini.


“Untuk manipulatif dan berbagai spekulasi lainnya, kami tidak memiliki kuasa penuh untuk menghapus image itu darimu setelah semua ini masuk dalam ranah media. Pilsung Daepyo-nim, aku rasa kita harus bekerja keras untuk mengembalikan image Daehyun dan Triple Kill.”, ucap PR itu menoleh pada Pilsung.


Ya, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa membalikkan opini media yang sudah terlanjur liar. Terlepas dari benar atau tidaknya, opini sudah tergiring dan Daehyun harus rela hidup berdampingan dengan hal tersebut.


Menyangkalnya sekarang hanya akan membuat situasi bertambah buruk.


“Untuk kasus pelecehan, kami akan berusaha semaksimal mungkin mendapatkan rekaman CCTV atau keterangan lainnya. Yang jelas semua usaha yang kami lakukan sekarang adalah sebisa mungkin menjauhkan Daehyun dari jerat kasus hukum atas hal yang tidak dia lakukan.”, ucap PR itu lagi.


Panggilan video itu berlangsung sangat hektik dan belum memberikan titik terang. Intinya semua seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Daehyun dilarang mengaktifkan ponselnya dan menunggu.


Panggilan video sudah terputus, meninggalkan Daehyun dan Daeun dalam keheningan. Daeun melihat ke sekeliling. Dia baru sadar kalau sekarang berada di dalam kamar Daehyun. Di tambah lagi, mereka hanya berdua.


Baju berserakan dimana - mana. Celana bahkan ada yang masih menggantung di atas lemari. Satu buah pintu lemari terbuka. Handuk sudah tidak jelas dimana taruhnya. Meskipun berantakan, kamar Daehyun masih wangi dan bersih.


Sebuah botol whiskey terletak di atas nakas samping tempat tidur. Daeun sedikit terkejut. Dia jarang melihat Daehyun minum - minuman keras bahkan soju sekalipun. Hanya beberapa kali saat perhelatan after party. Itu juga karena terpaksa.


Tapi, pria yang dia kenal jarang minum, kenapa bisa menyimpan botol whiskey di nakas tempat tidurnya? Begitu kira - kira yang ada di pikiran Daeun.


“Itu bukan milikku.”, balas Daehyun.


Rupanya pria itu melihat pergerakan mata Daeun yang memandang ke arah Whiskey di atas nakas.


“Uh?”, tanya Daeun terkejut karena keheningan berubah menjadi suasana yang canggung.


“Jisu. Anak itu menginap disini sekitar seminggu yang lalu dan meninggalkan botol itu disana. Jisu? Maknae?”, tanya Daeun.


“Maknae adalah Ji Won. Jisu masih satu tahun di atas Ji Won.”, balas Daehyun.


“Ah… “, ujar Daeun mengangguk.


Sadar kalau terlalu lama disini akan membuat perasaannya semakin aneh, Daeun bersegera untuk keluar dari kamar itu. Semakin dia mengedarkan pandangannya ke seisi kamar, semakin banyak hal yang seharusnya tidak boleh dia lihat dan temukan.


Sayangnya, pergerakan Daeun terlampau terburu - buru sampai - sampai dia tidak melihat secara detail langkahnya. Daeun tanpa sengaja menginjak salah satu pakaian tidur Daehyun yang terbuat dari kain sutera yang lembut dan licin.


Sontak kain itu berhasil membuat kaki Daeun meluncur. Menyadari hal tersebut, dengan cepat Daehyun datang menangkapnya. Namun, sayangnya ancang kaki - kaki Daehyun tidak begitu tegap dan sukses membuatnya ikut terpeleset dan tersungkur.


Karena Daehyun sudah terlanjur menarik lengan Daeun, kepala dan tubuh Daeun juga sudah menoleh ke arah Daehyun. Akhirnya dirinya pas jatuh di atas tubuh Daehyun.


“Arghhh… shhh… Aw… Aaaa… Aaa.”, Daehyun langsung mengaduh kesakitan.

__ADS_1


Pertama, kepalanya langsung membentur lantai yang sudah dilapisi vinyl berbahan kayu. Meski hanya beberapa cm sebelum mendarat, tapi rasanya lumayan. Kedua, karena Daeun jatuh tepat di atas tubuhnya. Kepala gadis itu juga membentur dadanya.  Ketiga, lengan Daehyun tanpa sengaja menekan lengan milik Daehyun dan rasanya juga lumayan menyakitkan.


Alih - alih langsung bangun. Daehyun merentangkan tubuhnya dan menghela nafas. Benturan tadi menyadarkan dirinya bahwa keadaannya pagi ini benar - benar di luar dugaannya. Tiba - tiba semua kelam. Akankah karir Daehyun masih dapat diselamatkan?


__ADS_2