
Tidak jauh berbeda dengan lokasi pemotretan Daehyun, pantai yang menjadi lokasi pemotretan Hyun Joo juga tidak kalah sibuk. Terdapat dua fotografer yang standby untuk sesi pemotretan. Pertama adalah fotografer untuk pemotretan dimana fotonya akan dimasukkan ke dalam majalah, iklan, dan juga media promosi yang berkaitan dengan outfit.
Kemudian, satu orang fotografer lagi akan bertanggung jawab untuk membuat foto - foto behind the scene yang nantinya akan menjadi media promosi untuk kedua model. Oleh karena itu, Manager Hyun Joo mewanti - wanti gadis itu agar dia tidak bertindak semaunya.
Sedikit saja ada tindakan yang melenceng, potretnya akan tertangkap oleh kamera behind the scene dan bukan tidak mungkin masuk ke dalam media dengan cepat.
“Kita harus segera menyelesaikan potret disini. Sore ini air laut akan naik. Kita harus secepatnya mengambil potret di kapal setelah itu kembali. Kita tidak bisa kehilangan kesempatan dan menghancurkan jadwal yang sudah susah payah diatur.”, ujar penanggung jawab berteriak menggunakan toak agar terdengar oleh seluruh kru dan juga artis.
“Baiklah. Hanya tinggal beberapa angle lagi. Dalam 30 menit seharusnya sudah bisa selesai.”, ujar sang fotografer utama memberikan arahan.
“Bagus. Stylist, Designer, dan MUA, tolong untuk langsung standby di kapal dengan segala perlengkapan. Begitu pemotretan ini selesai dalam 30 menit, kita langsung berangkat.”, ujar penanggung jawab yang lain memberikan arahan.
Berkat informasi tersebut, para kru yang diminta bersiap - siap langsung sibuk dengan peralatan mereka. Sebagian perlahan langsung menaiki kapal yang letaknya tidak jauh dari sana.
“Hyuk Jae, ini adalah beberapa pose terakhir. Tolong lebih dekat lagi, pegang pinggangnya, dan berikan kecupan singkat di pipi.”, ucap fotografer tersebut.
“Eh?”, Hyun Joo sontak langsung kaget.
Arahan ini tidak ada sama sekali di rencana pemotretan yang dia terima. Dia tidak mempermasalahkan lagi untuk menjadi pasangan dalam pemotretan bersama Hyuk Jae karena pihak manajemennya berjanji untuk menghapus pose itu dalam draft.
“Kenapa? Kau tidak mau aku cium?”, ujar Hyuk Jae dengan cara berbisik agar hanya merekalah yang mendengar pembicaraan itu.
“Heh… lalu? Kau kira aku akan senang hati mengatakan. Yaa… silahkan. Jangan bermimpi.”, ucap Hyun Joo terang - terangan.
Meskipun dia mengeluarkan kata - kata yang tegas, namun secara ekspresi wajahnya masih menunjukkan wajah yang bersahaja.
“Bibirmu telah mengeluarkan kata - kata tajam tetapi ekspresi wajahmu bisa menunjukkan sebaliknya.”, entah omongan yang barusan adalah pujian atau sarkasme dari Hyuk Jae pada Hyun Joo.
__ADS_1
“Kau lupa kalau aku ini aktris. Kalau bukan karena perilisan foto - foto di belakang layar itu, aku tidak akan pernah mengendalikan diriku sekuat ini. Kau tahu, jujur aku sangat muak berada di dekatmu.”, Hyun Joo secara terang - terangan mengatakannya.
Meskipun Hyuk Jae terbiasa dengan penolakan Hyun Joo belakangan ini, tetapi kata - kata gadis itu barusan sudah keterlaluan menurutnya.
“Heh.. kau sepertinya sudah benar - benar lupa dengan hari - hari yang sudah kita lewatkan bersama rupanya. Kenapa? Apa karena pria itu? Siapa dia? Aku sangat penasaran.”, ucap Hyuk Jae dengan nada sinis.
Ekspresi wajah Hyun Joo seketika langsung diam. Sedikit panik, namun bukan Hyun Joo sang aktris naik daun jika dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya disaat seperti ini.
Hyun hanya diam saja. Dia memilih untuk tidak menggubris omongan Hyuk Jae, daripada dia harus membuat identitas Daehyun terbuka. Hyun Joo tidak tahu jadi pria seperti apa Hyuk Jae sekarang.
“Ayo, apa yang kalian lakukan? Kalian sudah dengarkan kalau kita hanya memiliki waktu 30 menit untuk menyelesaikan beberapa angle lagi.”, sang fotografer yang tadinya sudah siap - siap di belakang shutternya malah harus kembali berdiri tegap dan meminta Hyuk Jae dan Hyun Joo untuk melakukan pose yang tadi dikatakannya.
“Tentu saja.”, jawab Hyuk Jae sambil tersenyum. Sementara tangannya sudah berusaha meraih pipi Hyun Joo dan mengarahkannya dekat sekali pada wajahnya.
“Aku akan mencuci setiap bagian yang kau pegang hari ini.”, ujar Hyun Joo dengan nada bergetar saking tidak terima pria itu menyentuhnya meski itu hanya wajahnya saja.
Seolah tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Hyun Joo, Hyuk Jae langsung memulai beberapa pose sesuai dengan arahan dari sang fotografer. Di dalam hati, dia merasa puas dan tak sabar untuk membuat bagaimana caranya proyek pemotretan ini terus ada.
“Kau ini. Bisakah tidak bersikap terlalu ketara seperti itu di depan Hyuk Jae? Aku tahu kau tidak menyukainya, tetapi jangan lupa kalau ada satu kamera lagi yang menangkap kalian. Belum lagi sekembalinya di hotel, kalian juga harus lebih akrab satu sama lain.”, ucap Manager Hyun Joo sambil melepaskan outfit bagian luar Hyun Joo serta membantunya untuk merapikan beberapa aksesoris yang dia kenakan.
“Aku benci padanya. Kalian terlalu menuntut banyak. Bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak suka melakukan pemotretan bersamanya. Sekarang aku sudah mau ikut pemotretan tetapi lagi - lagi kau menyuruhku yang macam - macam.”, ucap Hyun Joo melayangkan protesnya.
“Kau tidak menjelaskan kenapa. Bagaimana aku bisa mengetahuinya. Hanya dengan mengatakan kau benci padanya tidak bisa membuat manajemen menolak pekerjaan begitu saja.”, ucap Manager Hyun Joo dengan tegas.
“Ini outfit yang akan kau kenakan. Kendalikan dirimu sampai proyek ini selesai.”, ucap Manager itu lagi.
“Unni…”, Hyun Joo akhirnya merengek.
__ADS_1
“Kenapa? Merengek saja pada pria itu jika kau mau.”, ucap Managernya.
“Oh? Daehyun?”, tanya Hyun Joo.
Managernya tidak mengatakan apa - apa. Hyun Joo melirik sedikit padanya.
‘Aku tidak menyinggungnya. Kenapa sekarang dia yang menyinggungnya? Apa itu berarti dia merestui aku untuk mulai dekat dengan Daehyun?’, Hyun Joo bertanya - tanya dalam hati.
“Kenapa?”, tanya Manager itu karena Hyun Joo melihatnya terlalu lama.
“Tidak. Jangan mengatakan apapun tentang Daehyun di depan Hyuk Jae. Bahkan nama sekalipun. Aku tidak ingin Daehyun terlibat masalah dengan Hyuk Jae, si brengsek itu.”, ucap Hyun Joo.
“Tenang saja. Aku tidak akan menyebutkannya. Kenapa aku harus menyebut nama pria yang sudah hampir membuatku kehilangan pekerjaan.”, ucap Managernya.
“Apa Daepyonim mengancammu begitu?”, tanya Hyun Joo menunjukkan rasa simpatinya.
“Kau mengkhawatirkanku? Kalau begitu jauhi pria itu.”, ucap Managernya.
“Kenapa kau langsung mengambil kesimpulan begitu.”, Hyun Joo memanyunkan bibirnya.
“Apa dia juga menyukaimu?”, sambil memasuki kapal, Manager itu bertanya.
“Hush… nanti ada yang mendengarnya.”, Hyun Joo yang khawatir langsung menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Tidak akan ada yang mendengar. Mereka ada di ruangan yang satunya.”, ucap Manager itu.
“Nanti aku akan menceritakannya. Jangan menyebutkan namanya sekarang.”, ucap Hyun Joo lagi – lagi mengulangi perkataannya.
__ADS_1
“Siapa yang menyebut. Dari tadi aku tidak menyebut namanya.”, Manager Hyun Joo greget padanya.
“Shutt.. Ada Hyuk Jae.”, mata Hyun Joo menatap kehadiran pria itu dan segera menutup mulut managernya.