
Kang Daehyun, pria ini menunjukkan ketertarikan di dunia musik semenjak dia duduk di bangku sekolah dasar. Setiap hari dia pasti melewati seorang musisi jalanan sepanjang perjalanannya dari rumah menuju sekolah.
Musisi tersebut sudah paruh baya memegang gitar dengan baju lusuhnya. Gitar miliknya juga tak kalah lusuh dari penampilannya. Pria itu mengenakan topi, membuka tas gitar dan meletakkan tulisan berjudul ‘Hargai Musisi Jalanan’.
Kang Daehyun sudah tidak begitu mengingat full tulisannya. Tapi, setidaknya itulah yang dia ingat. Awalnya Kang Daehyun melewatinya seperti orang - orang lain yang melewati pria itu. Kadang pria itu bisa duduk disana memainkan musik bahkan sampai Daehyun pulang dari sekolahnya.
Daehyun tak pernah sekalipun melihat tas gitarnya penuh dengan uang. Kadang hanya beberapa koin dan beberapa lembar saja yang setidaknya cukup untuknya makan hari itu. Daehyun melihat pria itu sama seperti orang lain. Daehyun tak begitu mempedulikan musik yang dimainkannya karena pria itu tidak bernyanyi dan hanya memainkan gitarnya saja.
Suatu hari, orang tua Daehyun bertengkar. Seperti pertengkaran - pertengkaran sebelumnya. Bisinis ayahnya lagi - lagi tidak berjalan baik dan ibunya sudah tidak bisa membayar tagihan. Hal yang keluar dari mulut ayahnya adalah pergi mengadu nasib di luar negeri. Itu lagi dan itu lagi.
Ya, rencana itu sudah keluar dari mulut ayahnya bahkan jauh sejak Daehyun masih duduk di bangku sekolah dasar akhir. Kira - kira 6 tahun sebelum akhirnya mereka merealisasikannya. Daehyun menolak untuk pergi ke sekolah tetapi dia juga tidak tahu apa yang bisa dia lakukan dan kemana dia harus pergi.
Akhirnya, Daehyun teringat pada musisi jalanan itu. Mungkin dia coba berdiri disana dan menikmati musiknya. Daehyun benar - benar melakukannya. Dia tidak ke sekolah dan hanya berdiri mendengarkan musisi itu. Tapi Daehyun tak berani untuk berdiri dekat. Dia memilih duduk di sebuah mini market di seberang jalan dan mengamati pria itu.
Sesekali, pria itu menyadari kalau Daehyun memandanginya dan pria itu melambaikan tangan meminta Daehyun untuk melihatnya kesana. Lantas, Daehyun yang merasa asing memilih lari.
Beberapa hari kemudian, Daehyun mencoba untuk menghabiskan sedikit lebih banyak waktu melihat pria itu. Masih di tempat yang sama. Berpura - pura menjadi pelanggan mini market di seberang jalan dan mengamatinya.
Daehyun tidak sadar, bahwa saat itu sebenarnya ketertarikannya terhadap musik sudah menariknya. Selama beberapa kali melakukan hal yang sama, Daehyun akhirnya berani untuk mendekat.
Daehyun terus menerus melakukan aktivitas yang sama setidaknya sampai dia duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Saat itulah dia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara dengan pria itu.
“Kenapa kau terus memainkan musikmu di tempat ini?”, tanya Daehyun.
Untuk pertama kalinya dia penasaran dan bertanya pada pria itu.
“Menurutmu, dimana lagi aku harus memainkan musikku?”, ucap pria itu.
Daehyun terkejut. Bukan karena pria itu balik bertanya. Tetapi karena pria itu ternyata tidak bisa berbicara. Dia memberikan bahasa isyarat. Daehyun tentu saja tak mengerti apa yang pria itu katakan.
Wajah terkejut Daehyun rupanya disadari oleh pria itu.
“Aku rasa, kalau kau pindah ke tempat itu, akan lebih banyak orang lagi yang bisa mendengar musikmu. Mungkin kau bisa mendapatkan lebih banyak uang.”, ucap Daehyun.
Pria itu menggeleng. Dia tahu walaupun dia menjawab dengan bahasa isyarat, Daehyun pasti tidak akan mengerti.
Daehyun mengamati pria itu beberapa saat kemudian memberikannya uang dan pergi. Pria itu bingung.
Keesokan harinya, Daehyun datang kesana. Pria itu lagi - lagi bingung. Jika Daehyun terus mengamatinya, pria itu juga. Pria itu tahu kalau Daehyun hanya melewati area itu di hari - hari sekolah saja. Sedangkan hari libur tidak. Tapi, sekarang Daehyun ada disana.
Tidak biasa, Daehyun seperti membawa sebuah tas besar. Daehyun mengeluarkan isinya. Sebuah baju, celana dan topi.
“Ini untukmu. Aku harap ukurannya cocok.”, kata Daehyun.
Tentu saja perlakuan Daehyun membuat dia bertanya - tanya. Dia tidak mengira bahwa Daehyun akan memberikannya pakaian. Tidak, Daehyun masih terlalu muda untuk mengetahui hal seperti ini. Tidak sampai disitu saja. Perkataan Daehyun selanjutnya membuat pria itu lebih terkejut.
“Aku akan memberikanmu uang. Apa kau tidak keberatan untuk pergi ke tukang cukur?”, kata Daehyun.
Tentu saja pria itu keheranan. Siapa anak ini menyuruhnya untuk bercukur? Tapi, entah chemistry atau apa yang membuat dirinya seolah tak keberatan dengan permintaan Daehyun. Langsung saat itu juga pria itu pergi ke tukang cukur yang tak jauh dari sana. Daehyun mengikutinya.
Pria itu memakai pakaian yang Daehyun berikan dan sekarang dia terlihat berbeda. Rambutnya tertata rapi dan lebih baik dengan topi. Meski dirinya sudah tua tapi pakaian itu membuatnya terlihat lebih bersih dan lebih enak dipandang dibandingkan dengan sebelumnya.
“Aku sudah menanyakan pada pemilik toko itu dan kau boleh memainkan musikmu disana. Selama ini aku menabung dan membeli sebuah pengeras suara yang sudah aku titipkan pada paman pemilik toko itu.”, ucap Daehyun.
__ADS_1
“Apa yang kau inginkan?”, tanya pria itu.
“Aku ingin kau memainkan musikmu. Aku akan bernyanyi. Penghasilan kita bagi dua.”, ucap Daehyun saat itu.
Pria itu langsung speechless. Kali ini lebih daripada saat Daehyun menyuruhnya untuk bercukur. Apa yang sebenarnya anak ini inginkan dan pikirkan.
“Apa yang membuatmu berpikir kau bisa mengambil penghasilanku?”, tanya pria itu.
“Kau bisa duduk di tempatmu biasa bernyanyi dan mendapatkan uang cukup untuk makan setiap hari tanpa tempat tinggal. Atau kau menerima tawaranku dan aku yakin kau bisa membeli lebih dari makanan setelah ini.”, ucap Daehyun.
Saat itu, Daehyun sudah berusia 15 tahun. Sebentar lagi dia akan lulus dan masuk ke sekolah menengah atas.
Mendengar perkataan Daehyun, pria itu mencoba untuk mengadu keberuntungannya. Yang dikatakan Daehyun menghidupkan jiwa untuk menerima tantangan dalam dirinya. Meski diusia yang sudah tua.
Daehyun membawa pria itu ke tempat yang dia maksud. Sebuah Cafe. Di depannya terdapat halaman yang cukup luas, milik pria itu. Dia mengeluarkan pengeras suara yang dia titipkan di cafe itu dan melakukan sedikit pengaturan sekaligus dengan mike yang dia miliki.
Pria itu bingung kenapa ada mic. Seharusnya Daehyun sudah tahu kalau pria itu tidak bisa berbicara.
Pria itu menatap Daehyun kebingungan.
“Mainkan saja musik yang biasa kau mainkan.”, kata Daehyun.
Pria itu melongo sebentar sebelum akhirnya memetik gitarnya. Melewati beberapa melodi, Daehyun kemudian mengeluarkan suaranya. Pria itu tercengang sambil terus memainkan gitarnya.
Dia tidak tahu kalau sebuah lirik dari melodinya yang keluar dari mulut Daehyun bisa begitu memukaunya. Tak hanya dirinya. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka langsung terkejut. Beberapa ada yang meneruskan langkah mereka namun sambil berbisik. Sementara sebagian lagi ada yang memilih berhenti.
Meski tidak 100% sempurna seperti penyanyi profesional tetapi suara Daehyun sangat enak di dengar dan menyatu dengan melodi yang pria itu lantunkan dari gitarnya.
Hari pertama, mereka belum mendapatkan banyak uang. Hanya lebih sedikit dibandingkan dengan apa yang didapatkan oleh pria itu. Tetapi, sebagai seorang musisi, pria itu tidak kecewa dan tidak mau berhenti.
Satu bulan pertama, mereka masih berada di titik yang sama. Tidak terlalu banyak penghasilan tetapi setidaknya, pria itu bisa membeli lebih dari sekedar makanan.
Bulan kedua, Daehyun mulai menerapkan hal yang berbeda. Sebelum dia datang, dia meminta pria itu berlatih memainkan musik yang dia pilih. Sebuah lagu yang terkenal di kalangan remaja. Prai itu awalnya menolak karena dia sudah memainkan musiknya selama bertahun - tahun.
Tetapi, Daehyun berhasil meyakinkannya. Penampilan pertama mereka dengan lagu itu benar - benar membuat orang berhenti di tempat mereka. Cafe juga lebih ramai dari biasanya dan mereka juga mendapatkan tips dari pemiliknya.
Penghasilan pria itu meningkat 3x lipat dari yang biasa dia dapatkan. Bahkan kadang jika di akhir pekan, penghasilan itu lebih bertambah karena lebih banyak orang yang lalu lalang.
Setiap minggu mereka akan menambah satu lagu baru. Daehyun yang memilihnya dan pria itu akan berlatih saat Daehyun masih sekolah. Lama - kelamaan hubungan mereka lebih akrab dari hanya sekedar musisi jalanan dan pengamat.
“Ahjussi, Man Sik Ahjussi, ada dimana?”, tanya Daehyun pada pemilik Cafe.
Daehyun sudah menunggunya hampir setengah jam tapi pria itu tak kunjung muncul.
“Aku tidak tahu. Biasanya dia selalu tiba lebih awal darimu.”, ucap pemilik cafe.
Sejak penghasilan mereka jauh lebih baik, Daehyun dan Man Sik Ahjussi akan tampil hanya dari sore menuju pukul 9 malam saja. Sisanya, Man Sik bisa menggunakan waktu itu untuk berlatih lagu baru dan yang lainnya.
Man Sik juga sudah bisa menyewa tempat tinggal meski hanya basement. Tetapi setidaknya dia tidak tidur di jalanan.
Daehyun terus menunggu sampai satu jam lamanya. Tetapi pria itu tidak datang. Tidak ada yang tahu dimana tempat tinggal pria itu. Dia hanya memberitahu Daehyun kalau dia sudah bisa mendapatkan tempat tinggal.
Daehyun dan Man Sik tidak pernah berhubungan di luar tempat pertemuan mereka karena Daehyun pasti akan bisa menemukan pria itu disana. Pria itu juga tidak pernah memiliki ponsel, jadi Daehyun tidak bisa menghubunginya.
__ADS_1
Hari itu, Daehyun harus pulang tanpa bertemu dengan Man Sik setelah menunggu hampir 3 jam lebih.
Keesokan harinya, dia juga menunggu di tempat yang sama dengan waktu yang sama tetapi pria itu lagi - lagi tak muncul.
Hal itu berlangsung sampai seminggu lamanya sampai - sampai Daehyun akhirnya bertanya pada polisi. Dia sudah bertanya pada pemilik toko sekitar tapi memang tidak ada yang mengenal dimana pria itu tinggal. Dia hanya orang jalanan dimana tak banyak yang terlalu memperhatikannya.
Daehyun tidak percaya tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Sampai akhirnya Daehyun memberanikan diri untuk bertanya pada orang jalanan lain yang ada di sekitar sana. Banyak yang tidak tahu sampai akhirnya seorang pria mengenalnya.
Pria itu mengatakan Man Sik sudah tidak pernah tidur disini lagi. Katanya, dia sudah mendapatkan sewa basement tak jauh dari stasiun. Beberapa stasiun dari tempat ini. Tapi pria itu juga tidak tahu tepatnya dimana karena merasa Man Sik hanya membual. Mana mungkin dia bisa memiliki tempat tinggal sementara selama bertahun - tahun kadang dia tidur di sana.
Daehyun harus mencari ke stasiun yang dimaksud. Setelah berjalan kurang lebih 800 meter dari sana, Daehyun akhirnya bisa menemukan tempat tinggal pria itu.
“Ahjumma, kau mengenal pria ini? Man Sik Ahjussi.”, kata Daehyun.
“Oh.. kau keluarganya?”, tanya Ahjumma itu terkejut.
Daehyun tentu saja menggeleng.
“Lalu kenapa mencarinya. Apa dia berhutang padamu?”, tanya Ahjumma tersebut.
Daehyun lagi - lagi menggeleng.
“Dia partner kerjaku. Apa kau tahu dimana dia sekarang?”, tanya Daehyun.
Ahjumma itu memberikan tatapan bingung pada Daehyun.
“Dia sudah tidak ada. Dia ditemukan tewas beberapa blok dari sini.”, ucap wanita itu.
Mata Daehyun langsung membulat. Bagaimana bisa? Sehari sebelum pria itu tak muncul - muncul, mereka masih tampil bersama.
“Hm.. aku tidak tahu detailnya. Dia menyewa basement di dekat situ dan seseorang melaporkan menemukan mayatnya beberapa blok dari sana. Detailnya kau bisa tanyakan pada polisi.”, ucap Ahjumma itu.
Tanpa membuang waktu lagi, Daehyun langsung mendatangi kantor polisi yang dimaksud. Polisi menjelaskan kronologinya. Meski Daehyun tak begitu paham bagaimana bisa semua itu terjadi, tapi yang jelas tidak ada yang mengambil jenazahnya karena dia tidak memiliki keluarga.
Kemungkinan jenazahnya akan dikirimkan untuk dijadikan Kadaver (Mayat yang telah diawetkan secara resmi atau legal untuk digunakan sebagai media pembelajaran khususnya anatomi). Mendengar hal ini, Daehyun langsung berlari ke rumah sakit yang dimaksud.
Sambil menangis Daehyun memohon pada pihak rumah sakit untuk memperbolehkannya memproses pemakaman pria itu dengan layak. Tentu saja pihak rumah sakit tidak menyetujuinya karena Daehyun bukan pihak keluarga dan dia juga belum 17 tahun.
Daehyun menelepon orang tuanya dan bukannya membantu, tetapi tentu saja orang tua Daehyun syok karena pria itu selama ini berkenalan dengan pria jalanan yang tidak dikenal dan sekarang malah ingin mengklaim jenazahnya dan memakamkannya. Disaat keluarga mereka sendiri juga sedang kesulitan ekonomi dan sedang dalam proses untuk migrasi ke luar negeri.
Pada akhirnya, Daehyun terduduk di depan rumah sakit. Dia terdiam. Tangisnya tak bisa dia tahan. Dadanya sesak. Selama ini, dia bersikap dingin pada pria itu dan memanfaatkannya untuk kepentingannya.
Pertama kali Daehyun menawarkan pekerjaan itu pada Man Sik Ahjussi adalah karena dirinya juga harus mengumpulkan uang jika suatu saat kedua orang tuanya benar - benar pindah keluar negeri. Sekitar dua minggu sebelum Man Sik tak kunjung muncul ke tempat mereka biasa tampil, Daehyun mendapatkan tawaran dari beberapa teman sekolahnya untuk bergabung dengan band mereka.
Man Sik mungkin tanpa sengaja mendengarnya. Daehyun tidak terlalu memikirkan apa pandangan Man Sik tentang tawaran itu. Man Sik tidak bertanya, Daehyun berpikir dia juga tidak punya kewajiban untuk menjawabnya.
Jujur Daehyun tertarik dengan tawaran itu. Bergabung dengan tim yang seusia dengannya sudah pasti akan memberikannya banyak peluang untuk mengumpulkan uang. Tapi, bukan berarti dia akan meninggalkan kerjasamanya yang sudah lama dia jalankan dengan Man Sik.
Dia masih memikirkannya.
Meski kematian Man Sik yang tiba - tiba bukan kesalahannya, tapi entah kenapa Daehyun merasa aneh. Selama ini dia berbicara datar dan menjaga jarak dengan pria itu padahal mereka tampil bersama.
Pria itu beberapa kali menunjukkan ketulusannya karena Daehyun yang pertama menganggapnya ada. Daehyun yang menjadi temannya untuk berbicara meski dia tak bisa bicara. Daehyun yang menjadi semangatnya untuk menjalankan hari.
__ADS_1
Sebaliknya, Daehyun tak terlalu memikirkannya dan kerap memberikan respon dingin. Kini Daehyun hanya bisa menangis di depan rumah sakit. Dia tak bisa mengklaim dan menguburkan jenazah pria itu dengan layak bahkan tak bisa menemuinya sama sekali karena dia bukan keluarga atau pihak berwenang.