
“Daehyun-oppa, Chukhahaeyo.”, ucap Hyun Joo segera setelah proses syuting singkat untuk interview itu berakhir.
Para kru sekitar 4 orang itu juga sudah undur diri dari ruangan ganti.
“Jang Hyun Joo, aku ingin bicara sebentar.”, ucap Daehyun dengan ekspresi serius.
Daehyun kemudian keluar dari ruangan. Hyun Joo melihat ke arah Yura sebentar seperti bertanya ‘Kenapa’, namun tentu saja Yura tidak tahu dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Hyun Joo mengikuti keluar ruangan. Di saat yang bersamaan para stylist dan make-up artis yang bertugas memasuki ruangan.
“Mereka kemana?”, tanya para staf yang sudah siap menyelesaikan pekerjaannya malam ini.
Melepaskan perhiasan dan atribut yang digunakan serta mengembalikannya pada desainer yang bersangkutan. Namun wajah mereka nampak bingung karena kedua selebriti itu justru keluar ruangan.
Daehyun berhenti di area tangga darurat dimana orang jarang sekali berlalu lalang.
“Aku kira kau harus mengatakannya. Kau harus mengakui dan meminta maaf.”, ucap Daehyun.
“Eh?”, Hyun Joo langsung menunjukkan wajah bingungnya.
“Apa maksudmu?”, tanya Daehyun.
“Kau tahu? Bagaimanapun aku mencoba, aku sulit melihatmu sama seperti aku melihatmu sebelumnya. Aku juga merasa bersalah setelah mendengar ceritamu karena hanya diam saja. Kau harus meminta maaf.”, ucap Daehyun.
“Untuk apa? Demi kebaikan siapa? Ini adalah masalahku, bukan kau. Kenapa kau harus menyuruhku untuk meminta maaf di saat wanita itu juga tidak menuntut permintaan maafku.”, ucap Hyun Joo dengan nada sedikit bergetar.
Ini kali pertama dia melihat Daehyun yang biasanya terkesan santai dan Chill tiba - tiba malah bersikap seperti ini.
“Untuk kebaikanmu. Kebaikannya. Jika kau ingin terus berkencan denganku, maka akui dan minta maaf.”, ucap Daehyun.
Segera setelah Daehyun mengatakan hal itu, ada suara pintu terbuka sedikit dari arah atas. Keduanya sontak langsung melihat ke arah suara itu.
‘Kang Byeol?’, ucap Daehyun dalam hati.
__ADS_1
Daehyun lebih cepat melihat ke atas beberapa detik dibandingkan dengan Hyun Joo. Saat Hyun Joo menengadahkan wajahnya ke atas, orang yang ada di balik pintu itu sudah pergi. Hyun Joo hanya bisa melihat pintu terbuka sedikit dan tidak ada siapa - siapa.
“Siapa disana?”, tanya Hyun Joo segera.
“Jadi, kapan kau akan meminta maaf? Sebelum media mencium hal ini, lebih baik kau meminta maaf lebih dulu.”, kata Daehyun kembali mengarahkan pandangannya pada Hyun Joo.
“Huh? Barusan ada kemungkinan seseorang mencuri dengar apa yang kita bicarakan dan kau memilih untuk melanjutkan omongan kita?”, tanya Hyun Joo tidak percaya.
“Tidak ada yang mendengar kita.”, balas Daehyun.
“Pintunya terbuka.”, tutur Hyun Joo.
“Tidak ada orang. Mungkin pintu itu memang seperti itu.”, ucap Daehyun berbohong.
Padahal dia jelas - jelas melihat ‘Kang Byeol’ ada disana. Tapi dia diam saja. Bukan hanya diam, pria itu justru mengatakan tak ada orang disana.
“Bagaimana kalau aku tidak mau?”, kata Hyun Joo dengan penuh percaya diri. Mungkin lebih tepatnya berusaha untuk percaya diri.
Disisi lain, dia sebenarnya takut kehilangan Daehyun. Mereka baru saja berpacaran.
Daehyun kemudian pergi dari tempat itu meninggalkan Hyun Joo yang terdiam speechless, tak bisa berkata - kata.
“Huh”, hanya helaan nafas itu yang keluar dari bibirnya.
Daehyun kembali melangkah menuju ke ruang tunggu untuk mengambil perlengkapannya. Dalam hati dia sangat tidak ingin untuk mengikuti acara after party. Tetapi sebagai aktor rookie, dia tidak punya pilihan lain.
Pilsung Daepyonim juga pasti akan membuat kupingnya panas jika dia berani melewatkan acara after party ini.
Begitu masuk ke ruang tunggu, Daehyun melihat Daeun disana.
“Yaaaa… Lee Daeun! Dari mana saja kau?”, teriak Daehyun dari pintu.
Beberapa staf yang duduk standby menunggu Daehyun dan Hyun Joo terkejut dengan teriakan Daehyun. Pancaran kemarahan ada di wajahnya. Sesuatu yang tidak pernah dilihat staf tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kau menyetujui interview tanpa mengatakannya padaku, huh? Memangnya masih kurang jelas kau mengatakannya padamu? Apa kau sebodoh itu sampai tidak paham kata - kataku? Aku tidak ingin ada interview sebelum, saat, ataupun setelah acara berlangsung. Kau tidak mengerti kataku?”, Daehyun langsung memarahi Daeun sejadi - jadinya di depan semua orang yang ada di sana.
Para staf menelan ludah. Mereka terkejut sekaligus kasihan pada Daeun. Yura yang tergolong sebagai manager veteran juga ikut terkejut. Dia tidak tahu ada sisi ini pada Daehyun.
“Ah.. karena itu aku tidak suka acara on-air. Kau mengerti TIDAK? Apa perlu aku mengulanginya beberapa kali sampai kau paham? Huh…kalau kau ingin menjalankan semuanya sesukamu, kenapa tidak kau saja yang jadi artisnya? Bagaimana?”, Daehyun benar - benar berada pada puncak emosinya saat itu.
Air mata sudah menetes di pipi Daeun. Dia tahu Daehyun akan marah, tapi dia tidak tahu kalau Daehyun akan semarah ini dan ini juga pertama baginya. Apalagi Daehyun memarahinya di depan semua orang. Daeun malu sekaligus sangat takut. Daehyun yang ada di depannya sangat mengerikan.
“Kalau kau tidak ingin jadi Managerku, BILANG!”, teriak Daehyun melepas jam tangan dan cincin di tangannya dan meletakkannya di atas meja rias.
Dua barang itu adalah barang titipan desainer yang memang harus dia kembalikan. Dia juga melepaskan jas dan kemeja yang dia kenakan tanpa mengatakan apa - apa. Semua staf disana juga terdiam tanpa bisa mengatakan apapun. Termasuk Yura. Bibirnya bahkan tak bisa berkata - kata karena dia tahu benar kalau Daehyun paham interview ini adalah permintaan Yura dan juga tim dari sisi Hyun Joo.
Daehyun melangkah keluar ruang tunggu dengan mengenakan t-shirt dalam dan juga celana bahan. Daeun baru langsung mengambil tas milik Daehyun dan mengikutinya.
“Aku tidak ingin melihatmu. Jadi tidak usah mengikutiku. Kau pulang saja.”, kata Daehyun dengan ucapan dingin.
“Daehyun-oppa tapi..”, kata Daeun sambil menahan tangisnya.
Kalau dia tidak ingat dia masih ada di ruang tunggu, Daeun mungkin sudah membiarkan tangisnya pecah.
“Get lost!”, kata Daehyun dengan suara pelan, namun menyakitkan.
Nafas Daeun tak beraturan karena tangisnya yang pecah. Dia beberapa kali menyeka air mata yang turun di pipinya padahal dia sudah berusaha menahannya.
Saat Daehyun pergi melewati lorong, dia berpapasan dengan Hyun Joo yang baru akan berjalan kembali ke ruang tunggu. Daehyun tak menoleh sedikitpun dan terus berjalan lurus.
Hyun Joo bingung dan memilih untuk melangkah ke ruang tunggu sampai dia melihat ada Daeun disana dengan tangisannya.
“Eonni, ada apa?”, tanya Hyun Joo yang melihat Yura keluar dari ruang tunggu itu.
“Daeun-shi.. Aku benar - benar minta maaf. Aku tidak tahu dia akan semarah itu.”, kata Yura yang merasa bersalah.
Tangis Daeun tak berhenti dan terus tersedu - sedu. Dia shock, bingung, dan malu dengan kejadian tak terduga barusan. Daeun memilih membawa perlengkapan Daehyun dan berjalan pergi dari sana.
__ADS_1
Sesampainya di luar, mobil van milik agensi sudah melesat meninggalkan Daeun disana sendirian. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan Daeun melihatnya dengan tatapan bingung.