
“Daehyun-shi, kami benar - benar minta maaf. Pihak keamanan sudah lalai dalam mengidentifikasi petugas yang masuk ke area pemotretan.”, salah seorang penanggung jawab sesi pemotretan langsung meminta maaf pada Daehyun begitu laporan itu sampai padanya.
“Tidak apa - apa. Tapi, lain kali aku berharap pihak keamanan bisa lebih teliti. Dan mohon untuk bisa memberikan sanksi kepada reporter itu. Dia sudah beberapa kali melakukan kesalahan serupa. Tidak hanya padaku tetapi juga pada selebriti lainnya.”, ujar Daehyun dengan santai.
“Apa dia menanyakan sesuatu yang lain padamu?”, setelah staf penanggung jawab pergi ke ruangan dimana reporter tadi diamankan, Daehyun beralih ke Daeun untuk memastikannya.
“Hah… maafkan aku. Aku tanpa sengaja menyebutkan tentang drama. Tapi.. aku tidak spesifik memberitahu bahwa kau akan terlibat dalam sebuah drama. Aku hanya mengatakan mungkin para member Triple Kill sedang mempertimbangkan untuk membintangi drama. Itu saja. Aku ragu dia tahu kalau sebenarnya kau sudah menerima satu drama.”, ucap Daeun nampak panik menjelaskan.
Dia mengatakan apapun yang bisa dia katakan. Lagipula, siapa yang bisa menyangka kalau wanita itu adalah reporter. Sebenarnya Daeun juga tidak bersalah dalam hal ini.
“Tenang saja. Lagipula, presscon untuk drama itu akan digelar segera dalam awal pekan ini atau pekan depan. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Kedepannya, kau harus berhati - hati. Bukannya kau Secret Agent? Kenapa bisa ceroboh begitu?”, Daehyun mengawali kalimatnya dengan tenang dan terkesan tidak menyalahkan. Namun, pria ini malah kembali pada kepribadiannya semula.
“Bagaimana aku bisa menduga dia bukan staf, kalau dia bisa masuk bahkan sampai ke lokasi pemotretan. Aku baru pertama kali kesini, mana bisa aku kenal pada semua orang yang ada disini?”, Daeun menunduk. Dia ingin sekali menarik kembali kata - katanya yang mengatakan Daehyun baik.
“Fokus. Outer selanjutnya.”, Daehyun meminta Daeun untuk memberikan outer selanjutnya yang harus dia kenakan.
“Iyaa..”, kata Daeun dengan nada tidak bersemangat setelah dimarahi.
‘Ingat Daeun… setelah menyelesaikan pekerjaan ini, kau akan mendapatkan 2x lipat bayaran dari Seongmin-oppa.’, Daeun memberikan semangat pada dirinya sendiri.
“Ini.”, Daeun membantu Daehyun melepaskan outer yang sebelumnya dan mengenakan yang baru.
Outer kali ini memiliki konsep yang sangat unik. Sebagai konsekuensinya, outer ini sulit untuk dikenakan.
“Kau bisa tidak sih?”, nampak tali melilit di leher Daehyun dan dia juga kesulitan untuk menaikkan lengannya.
“Iya.. tunggu sebentar. Lagi pula, aneh sekali. Masa pemotretan tidak ada desainernya langsung yang mengenakannya.”, mendengar Daehyun mengomel, Daeun juga ikut mengomel sambil melihat foto instruksi bagaimana outer tersebut seharusnya dikenakan.
“Ha-ha.. Maafkan kami. Tim kami melakukan kesalahan saat mengatur jadwal. Jika diundur, maka kita tidak bisa memasukkan potret kali ini ke majalah edisi bulan depan. Sementara musim gugur akan segera tiba dan department store juga harus segera membuka koleksi secepatnya.”, penanggung jawab pemotretan yang mendengar omelan mereka ikut menghampiri dan meminta maaf.
“Tidak masalah. Manajerku saja yang tidak pintar untuk melihat contoh yang sudah diberikan.”, Daehyun malah menyalahkan Daeun.
__ADS_1
‘Apa - apaan dia ini. Kenapa dia malah menyalahkan aku? Kurang pintar? Enak saja. Meskipun aku lulus dari perguruan tinggi yang tidak terkenal, tetapi setidaknya aku pernah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi darinya.’, Daeun memilih untuk membalas omelan Daehyun di dalam hati.
“Ah.. sudah. Kau sudah tampan sekarang.”, ujar Daeun dengan nada sarkasnya.
Seorang hair stylist merapikan tatanan rambutnya. Seorang make-up artist juga mengoleskan beberapa sentuhan tambahan di wajahnya.
‘Hah… kalau dia tidak cerewet, aku mengakui dia sangat tampan sekali. Dibandingkan dengan anggota Triple Kill yang lain, dia lebih cool. Tapi moodnya itu selalu berubah - ubah.’, ucap Daeun sambil melamun.
“Hey… Yaa… Daeun… Daeun?”, Daehyun yang sudah duduk di kursi pada area pemotretan melambaikan tangan pada Daeun. Namun gadis itu masih saja bengong.
“Hei.. Daehyun memanggilmu.”, kata seorang staf yang sedang membersihkan area pemotretan di dekat Daeun.
“Oh… Oh?”, tanya Daeun dengan ekspresi wajahnya.
“Aku haus. Belikan aku ice americano. Plus, jangan lupa roti yang seperti biasa.”, kata Daehyun memberikan kode pada Daeun.
“Ng? Aa..h okay..”, kata Daeun menerima perintah Daehyun.
“Dompetmu?”, tanya Daeun menunjuk - nunjuk tas yang dia kenakan.
Daehyun mengangguk.
“Tidak perlu. Seongmin-oppa memberikan kartu kredit perusahaan padaku. Aku akan menggunakannya.”, kata Daeun juga sambil memberikan kode pada Daehyun.
“Oh-Oke.”, Daehyun memberikan ekspresi senang.
“Kalau begitu, beli juga untukmu.”, kata Daehyun menambahkan.
‘Itu tanpa kau suruh pun, aku juga akan melakukannya.’, ucap Daeun dalam hati.
Dia hanya mengangguk sebagai respon dari perkataan Daehyun barusan. Kemudian, Daeun segera berhembus dengan cepat. Dia harus segera kembali sebelum pemotretan yang ini selesai.
__ADS_1
Outer selanjutnya sangat mudah. Daehyun bisa mengenakannya sendiri tanpa perlu bantuan.
***********
“Oke, bagus sekali.. Coba sedikit lebih dekat. Pandangan mengarah ke laut. Hyuk Jae, bisa kau bantu dia?”, teriak sang fotografer.
Min Hyuk Jae dan Jang Hyun Joo juga sudah memulai sesi pemotretan pertama mereka. Latar yang diambil adalah pinggir pantai. Cuaca sangat mendukung. Sederetan baju dan aksesoris tersusun rapi di sebuah mobil box besar di pinggir jalan sebelum memasuki area pantai.
Seseorang bertugas untuk mengantarkan set demi set baju tersebut ke sebuah tenda dimana Hyuk Jae dan Hyun Joo bisa berganti pakaian.
Untuk pemotretan hari pertama, mereka menargetkan setidaknya 20 outfit yang nantinya akan mereka pilih kembali. Dengan target sebanyak itu, mereka baru bisa menyelesaikan pemotretan hari ini pada sore nanti.
Hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk Hyun Joo. Terlebih dia yang paling tidak ingin melewatkan waktu bersama dengan Hyuk Jae. Rasanya hari - harinya akan terasa lebih lama dari biasanya berkat pria itu.
Anehnya, Hyuk Jae dinilai sangat profesional dari perkiraan Hyun Joo. Pria itu bisa saja mengambil banyak kesempatan saat ini pada Hyun Joo, tapi dia benar - benar tidak melakukannya. Dia bersikap sewajarnya. Ketika pengarah atau fotografer memberikan arahan untuk membantu Hyun Joo, dia juga melakukannya layaknya seperti model - model lain.
Mengingat Hyuk Jae memang model yang handal, fotografer ingin dia memberitahu Hyun Joo yang memiliki dasar akting dan bukan model.
Tapi, di luar sesi pemotretan, Hyun Joo tidak bisa bersikap lengah sedikitpun. Pria itu bisa mentrigger emosinya kapan saja.
“Kenapa kau selalu menghindariku?”, tanya Hyuk Jae.
Mereka baru saja menyelesaikan lima outfit pertama dan sedang beristirahat sambil mempersiapkan outfit berikutnya di dalam tenda.
“Jangan mengajakku berbicara. Aku sama sekali tidak tertarik untuk berbicara denganmu.”, Hyun Joo menolak mentah - mentah.
“Kenapa? Aku tidak ingat kalau kita pernah punya pengalaman buruk satu sama lain. Aku hanya mengingat yang indah - indah saja.”, ucap Hyuk Jae.
“Tutup mulutmu.”, sesaat sebelum tim desainer, makeup artist, dan juga hairstylist datang ke dalam tenda.
Hyun Joo sangat khawatir kalau pria itu membuka mulutnya lagi.
__ADS_1