Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 68


__ADS_3

Daehyun dan Daeun makan dengan tenang. Keduanya lahap menghabiskan pesanan masing - masing. Ada beberapa menu yang mereka makan dengan cara berbagi seperti kimchi, lobak, sosis, dan cheese.


“Ah… kenyang sekali.”, ujar Daehyun meletakkan satu mangkok ramyun kedua miliknya.


Pria itu sudah memakan ramyun yang berbentuk seperti jajangmyun pada suapan pertamanya. Dia mengambil mozarella milik Daun karena tak suka dengan rasa ramyun yang dipilih gadis itu.


Awalnya Daeun protes, namun karena Daehyun memilih hanya mengambil mozarellanya saja, Daeun tidak jadi melayangkan protes kerasnya.


Untuk ramyun kedua, Daehyun memilih sebuah mie instan cup baru dengan tingkat pedas yang super. Daehyun tidak lupa memasukkan sosis dan bakso kedalamnya serta dumpling instan kesukaannya. Dia benar - benar sedang melakukan mukbang beberapa saat tadi.


‘Hah.. kalau yang dia lakukan hanya main satu game dan kemudian makan, kenapa dia tidak memilih restoran saja. Dia bisa makan dengan nyaman.’, komentar Daeun dalam hati.


Disini, mereka harus berbagai meja dengan PC gaming yang ada disana. Daeun bahkan meminta satu buah meja portable agar dia bisa meletakkan beberapa pesanan makanan Daehyun yang lain.


“Aku ambil minuman ini ya.”, kata Daehyun mengambil susu leci yang sebenarnya adalah pesanan Daeun.


‘Dia memesan sendiri makanan dan minumannya, tapi selalu mengambil punyaku dan memberikan pilihannya padaku. Sebenarnya dia ini pria seperti apa sih. Aku benar - benar kehabisan ide.’, kata Daeun dalam hati.


Dia sudah lelah berdebat dengan pria itu. Mereka sudah berdebat tentang mozarella yang diambil Daehyun, dumpling isi sayur, dan beberapa makanan lainnya yang sebenarnya itu adalah pilihan Daeun.


“Hm.. makanan - makanan yang kau pilih sangat sesuai dengan lidahku. Besok - besok kalau kebetulan bertemu, kita makan siang atau malam bersama, ya.”, ucapnya santai pada Daeun.


‘Lama - lama disini, aku bisa halusinasi.’, ujar Daeun dalam hatinya sambil mengambil satu buah dumpling sayur yang tersisa.


“Ya.. itu dumpling pedas super, kenapa kau memakannya. Bukannya kau tidak bisa makan pedas.”, teriak Daehyun ketika menyadari Daeun telah memasukkan satu dumpling berwarna merah pekat ke dalam mulutnya.


“Oh? Oh… Argh… Oh… Hmmm.ppphhhhh.”, Daeun baru menyadari kalau dumpling yang dia makan adalah dumpling super pedas dari semua dumpling yang ada.


Dumpling kemasan yang mereka pesan tergolong unik. Satu paket berisi beberapa buah dumpling dengan tingkat pedas yang berbeda. Daehyun yang bisa makan pedas saja menyerah dan memilih untuk tidak memakan dumpling terakhir.


Namun, Daeun malah memasukkan itu ke dalam mulutnya dan sudah memotong dan memberikan beberapa kunyahan. Sampai akhirnya, rasa pedas itu baru menusuk mulutnya.


Sebelum Daeun inisiatif untuk memberikan kantong plastik atau tissue, Daeun langsung berusaha mengunyah dan menelan dumpling itu meski harus sambil mengangis. Kemudian dia segera berteriak kepedasan sambil mengipas - ngipas mulutnya.


Daehyun dengan cepat mengambil satu dua buah susu yang terletak di dalam lemari es berisi minuman yang tak jauh dari tempat mereka.

__ADS_1


“Cepat minum ini.”, Daehyun bahkan membukakan susu tersebut agar Daeun bisa langsung meminumnya dengan nyaman tanpa sedotan.


“Kau ini. Dimana kau tinggalkan pikiranmu? Kenapa menyiksa mulutmu seperti itu. Tadi kau memakan tteokbokki yang belum dingin. Sekarang kau memasukkan dumpling super pedas ke dalam mulutmu.”, kata Daehyun mengambil tisu yang ada disana.


Daeun menyeka air mata yang keluar karena menahan rasa pedas luar biasa. Lidahnya seperti mati rasa. Dia bengong karena tak bisa lagi berpikir. Siapa yang menciptakan dumpling sepedas ini.


‘Pantas aku merasa aneh dia meninggalkan satu dumpling itu. Ternyata itu dumpling super pedas.’, pikir Daeun.


“Kau belum pernah membeli dumpling model ini?”, tanya Daehyun to the point.


Dia bertanya, tetapi sekarang tatapannya sudah kembali menuju ke layar PC di depannya.


“Aku belum pernah memakan dumpling kemasan seperti ini.”, ucap Daeun pasrah.


Dia meneguk kembali satu botol susu yang tersisa. Beruntung Daehyun sangat sigap dan langsung mengambil susu ini untuknya.


‘Hah… sepertinya aku akan terjaga semalaman karena perutku pasti akan sakit setelah menelan dumpling ini.’, Daeun hanya bisa pasrah.


Tak lama setelahnya, Daehyun menendang - nendang kaki Daeun.


“Es krim.”, kata Daehyun tanpa menoleh.


Daeun tidak menjawab.


Merasa tak mendapat respon yang dia inginkan, Daehyun kembali menendang kaki Daeun.


“Apaaaa?”, balas Daeun emosi.


Daehyun baru menoleh sambil bergidik.


“Kenapa kau marah? Es krim.. Sudah saatnya makan es krim.”, kata Daehyun tak mempedulikan kekesalan Daeun sama sekali.


Daeun bangun dari tempat duduknya, membersihkan sisa - sisa bungkus makanan yang ada di meja dan berjalan menuju tempat es krim. Disini, mereka bisa memilih es krim apa saja sebagai salah satu paket gratis dari pihak PC bang.


Jadi, kalaupun pengunjung tidak memesan makanan, dengan menyewa PC bang, mereka sudah berhak mendapatkan satu es krim sambil melakukan scan barcode di aplikasi ponsel mereka. Dari sana sistem akan mendeteksi apakah mereka sudah pernah ambil es krim atau tidak untuk ID pemesanan mereka saat itu.

__ADS_1


Mereka akan kembali mendapatkan es krim jika mereka menyewa lebih dari 5 jam, 10 jam, dan seterusnya. Intinya, mereka bisa mengklaim satu buah es krim setiap 5 jam.


Rasa pedas di mulutnya sudah mulai berkurang. Dia juga bersemangat memilih es krim dari berbagai varian yang tersedia. Setelah lebih kurang 5 menit dia menatap es krim, dia menjatuhkan pilihannya.


Dia memutuskan untuk memilih es krim yang sama dengan Daehyun agar pria itu tidak usil lagi mengambil yang dia mau dan membuatnya kesal. Setelah itu, Daeun kembali.


Namun, saat dia kembali, Daehyun tak berada di kursinya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


“Permisi, kemana pria yang disini?”, tanya Daeun pada salah seorang petugas yang sedang bersih - bersih di area itu.


“Oh aku melihatnya naik ke atas. Di atas ada rooftop. Aku melihatnya sedang menerima telepon.”, jelas petugas itu.


Daeun mengangguk dan mengucapkan terima kasih kemudian langsung ikut naik ke atas. Sesampainya di atas, dia kembali mengedarkan pandangannya, namun tak bisa menemukan Daehyun. Daeun kemudian ingin berbelok ke kanan, mungkin dia ada disana.


“Oh.. kau sudah menyelesaikan pemotretanmu?”, terdengar suara Daehyun sedang menelepon seseorang.


Suaranya sangat bersemangat.


“Hm.. punyaku juga sudah selesai. Kau belum istirahat? Bukankah besok kau akan melakukan pemotretan kembali?”, suara Daehyun kembali terdengar.


Daeun tak mendengar suara dari seberang telepon karena jaraknya jauh. Dia hanya bisa mendengar suara Daehyun.


“Tidak. Bukan berarti aku tidak senang menerima teleponmu. Tentu saja aku senang. Heh.. kau tidak tahu berapa orang di agensiku yang ingin berbicara denganmu.”


“Tentu saja, Hyun Joo, aktris pendatang baru yang menyapu bersih brand produk di awal tahun ini. Hati - hati saja. Terlampu sering berbicara denganku bisa membuatmu terkena skandal.”


“Bagaimana kalau ada yang mengeluarkan artikel kita berkencan?”


“Hahahahaha… kembalilah dulu. Kita akan obrolkan tentang itu.”


“Tidak. Aku sedang di PC bang bersama managerku.”


“Hn.. Ya sudah.. Kau jaga diri. Aku menunggumu disini.”


Daeun segera turun dari rooftop mendengar sepertinya pembicaraan Daehyun di telepon sudah selesai.

__ADS_1


__ADS_2