Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 78


__ADS_3

“Oh ya, Bokman Ahjussi mengatakan kau memiliki manager baru? Siapa?”, tanya Ji Woo pada Daehyun.


Mereka berdua masih berada di ruang latihan. Sementara member yang lain sudah pulang dari tadi. Pembicaraan mengenai perencanaan album sudah selesai dan mereka memutuskan untuk mengerjakannya minggu depan saat Daehyun mendapatkan libur syuting lagi.


Daehyun sedang mengemas barang - barangnya setelah membicarakan proyek berdua dengan Ji Woo.


“Lee Daeun. Dia bukan manager baru. Dia hanya menggantikan Seongmin hyung untuk sementara sampai agensi menemukan manager yang cocok.”, jawab Daehyun sambil berjalan keluar dari ruang latihan.


Yoon Ji Woo juga mengikutinya keluar dan berjalan beriringan di lorong gedung.


“Lee Daeun?”, tanya Ji Woo.


Sepertinya Ji Woo tidak mengenalnya. Padahal, mereka sempat bertemu beberapa kali.


“Anak buah Bokman hyung.”, balas Daehyun.


“Oh.. mereka yang mencari skandal kita sebelum tercium media, itu?”, ujar Ji Woo.


“Hn.”, balasnya lesu.


“Kenapa?”, tanya Ji Woo heran.


“Aku bingung apa yang dia lakukan seminggu ini. Dia tidak ke lokasi syuting dan aku harus bersama managermu.”, ungkap Daehyun.


“Haha.. bukankah managerku sangat membantu sekali? Dia juga tidak pernah mengeluh. Tunggu, apa selama aktivitas solo kita, aku banyak kehilangan informasi darimu? Kau tidak menyukai manager barumu itu, kan?”, ujar Ji Woo membuat Daehyun kaget dengan kalimatnya.


‘Bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu?’, bathin Daehyun dalam hati.


Ji Woo bahkan menghentikan langkah mereka dan bertanya dengan serius. Bahkan tatapannya juga serius.


“Annyeong haseyo..”.


Sembari mereka berhenti, sekelompok trainee perempuan berjalan melewati mereka dan menyapa. Daehyun dan Ji Woo langsung membalas selayaknya senior pada junior.


“Yaa… Kang Daehyun, kau tidak menyukai gadis itu, kan?”, tanya Ji Woo.


“Kau gila?”, balas Daehyun mendorong sedikit Ji Woo agar dia bisa melanjutkan langkahnya.


“Kalau begitu, berarti kau benar - benar mengencani Jang Hyun Joo?”, tanya nya lantang.


“Yaa.. kenapa tidak sekalian kau bawa mikrofon dan mengatakannya dengan suara yang keras?”, ucap Daehyun memberikan ekspresi ambigu.


Pria itu tidak mengiyakan dan tidak juga membantah perkataan Ji Woo.


“Sssshhh.. Entah kenapa aku berpikir kau memang mengencani Hyun Joo. Hanya saja kau masih ragu apakah itu adalah langkah yang benar atau tidak.”, lanjut Ji Woo.


‘Ahhh… pria ini. Dia seperti peramal saja. Anehnya, kenapa semua tebakannya selalu benar?’, Daehyun tidak menjawab dan memilih untuk berbicara di dalam hati saja.

__ADS_1


************


Sudah 1 jam, Daeun masih menunggu di sebuah Cafe yang disebutkan oleh Jang Hyun Joo.


“Ini minumannya.”, seorang pelayan menghampiri Daeun untuk mengantarkan minuman yang dia pesan.


Dia sudah menunggu selama 1 jam dan tenggorokannya sangat kering.


“Awas saja. Aku akan pesan banyak yang mahal begitu dia sampai disini nanti. Sudah pasti dia yang akan membayarnya. Ahhh.. aku sangat haus sekali.”, kata Daeun menenggak habis minuman yang baru datang.


Bahkan pelayan yang baru saja mengantarkan minumannya langsung heran. Memang itu adalah minuman sari buah yang segar, tetapi tidak banyak yang menghabiskannya hanya dalam sekali tenggak. Apalagi kondisinya, dia adalah seorang perempuan.


Kring kring kring kring


Tertulis nama ‘Jang Hyun Joo’ di ponsel Daeun. Tadi pagi dia baru saja menyimpan nomor itu agar kemudian hari, dia mengetahui kalau Hyun Joo yang menghubunginya. Meskipun kemungkinan itu kecil.


“Yeoboseyo..”, sapa Daeun ramah.


Padahal dalam hati dia sudah sangat ingin mengeluarkan kata - kata omelan. Selain Daehyun, tidak ada yang boleh membuatnya menunggu sampai satu jam begini. Memangnya dia tidak ada pekerjaan? Dia masih harus mengikuti Pisbol Ahjussi untuk mendapatkan beberapa potret lagi untuk dilaporkan pada Bokman Ahjussi.


Tapi, wanita ini malah membuang - buang waktunya begitu saja.


“Daeun-shi.. Bisakah kita bertemu di taman sekitar sini saja? Aku tahu taman yang sepi. Aku sudah disana. Aku akan mengirimkan lokasinya padamu. Aku sudah menunggu. Kau cepat kesini, ya.”, perintah Hyun Joo.


Belum sempat Daeun berbicara, Hyun Joo sudah menutup ponselnya lebih dulu.


Dia mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu lalu memberikannya pada kasir. Daeun tidak melihat kartu itu sama sekali. Dia hanya memiliki satu buah kartu dan sudah pasti kartu yang ada di dalam dompetnya adalah kartu miliknya.


“Silahkan.”, ucap petugas itu pada Daeun.


Daeun menekan sesuatu pada mesin yang diberikan oleh petugas itu.


“Oh.. kata sandinya salah.”, kata petugas itu kembali.


“Eh? AKu sudah memasukkan yang benar.”, komentar Daeun dan mencoba memasukkan kembali kata sandinya.


“Masih salah. Apakah anda tidak memiliki kartu yang lain?”, tanya petugas itu lagi.


“Tunggu.. Bisakah kau mengeluarkan kartu itu.”, kata Daeun memperhatikan kartu yang tadi dia berikan.


‘Kenapa kartu Daehyun bisa ada padaku? Aaaah…’, Daeun langsung ingat bahwa kartu Daehyun ada padanya. Satu diantara beberapa kartu milik pria itu tentunya.


“Permisi.. Apa aku bisa menambah pesananku?”, tanya Daeun pada petugas tersebut dengan senyuman.


“Boleh.. Tapi apa aku boleh memastikan Anda memiliki kartu yang bisa digunakan?”, tanya petugas tersebut.


“Haha… tenang saja. Aku memilikinya. Aku pesan menu yang itu, sampai baris di bawahnya. Minuman yang sebelahnya, sampai di bagian kirinya.”, ucap Daeun tersenyum mantap.

__ADS_1


“Semua ini?”, tanya petugas tersebut memastikan.


“Hm.. Maaf tadi aku melupakan sandi kartuku. Sekarang aku sudah mengingatkan. Boleh cepat di proses? Aku sedang ditunggu orang.”, jawab Daeun mantap.


************


“Jang Hyun Joo-shi?”, sapa Daeun begitu melihat seseorang di sebuah taman bermain yang lumayan sepi di dekat komplek apartemen.


Hari itu sangat panas, sehingga banyak yang tidak bermain di taman ini. Padahal, di beberapa tempat masih ada spot - spot lindung.


Hyun Joo duduk di salah satu spot itu. Dia mengenakan dress panjang berbahan katun berwarna biru gelap. Dia mengenakan sepatu sport dan di lengannya terdapat tas sandang kecil. Penampilannya santai, tidak menarik perhatian, namun tentunya sangat memukau.


Hyun Joo menoleh ke arah sumber suara dan berhasil mendapati Daeun. Matanya memandang beberapa kantong yang dibawa Daeun. Pesanan makanan dan minuman yang tadi dia beli di cafe tersebut.


“Hahaha.. Tenang saja. Ini bukan buatmu. Kebetulan aku ada janji setelah ini.”, ujar Daeun mengambil duduk.


Sebelumnya, dia meletakkan kantong - kantong itu dengan rapi di pinggir.


“Ada apa bertemu denganku?”, ucap Daeun yang volume suaranya sudah berubah.


Bertemu dengan seorang aktris terkenal seperti orang pada umumnya seperti ini adalah hal yang sangat baru untukknya. Bagaimana mungkin? Siapa dia? Daeun tidak pernah membayangkan ternyata bekerja di agensi membuat dirinya mendapatkan eksposur dan kesempatan yang luas untuk bertemu selebriti.


“Annyeong haseyo, aku Jang Hyun Joo. Senang bertemu denganmu.”, Hyun Joo tiba - tiba memperkenalkan dirinya dengan nada formal.


Daeun yang mendengar itu langsung kebingungan.


“Eh? Ah… perkenalkan.. Aku Lee Daeun. Senang juga bertemu denganmu. Aku tidak menyangka bisa berbicara dengan selebriti sedekat ini.”, kata Daeun tersenyum kaku.


“Ahahahaha.. Bukankah Daehyun juga selebriti. Maaf, ini adalah pertama kalinya aku berbicara denganmu. Jadi, aku rasa aku perlu memperkenalkan diri.”, ucap Hyun Joo.


Daeun baru akan menjawab, namun Hyun Joo seperti sudah ingin melanjutkan kembali kata - katanya.


“Aku tahu kau sangat sibuk. Aku tidak akan menyita banyak waktumu. Aku lihat kau sudah hampir seminggu tidak menemani Daehyun syuting. Aku tidak tahu apakah kau sudah mengetahuinya.”, lanjut Hyun Joo.


“Iya.. aku ditugaskan untuk mengerjakan hal lain. Aku bukan manager tetap Daehyun, jadi kadang bisa saja ada orang lain yang mendampinginya.”, balas Daeun.


Dia masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Hyun Joo.


‘Mengetahui? Mengetahui apa?’, pikirnya.


“Oh.. aku kira hubunganmu dengan Daehyun sangat dekat. Baguslah kalau begitu.”, ucap Hyun Joo tersenyum.


“M-maksudmu? Maaf aku tidak begitu paham.”, ujar Daeun bertanya.


“Aku dan Daehyun, kami sedang berkencan. Sejujurnya, aku sedikit terganggu dengan interaksimu dengan Daehyun. Aku kira kalian punya kedekatan yang lebih. Baguslah jika tadi kau sudah memperjelasnya. Maafkan aku kalau aku terlalu berlebihan. Tapi, kau mungkin tidak tahu bagaimana aku sangat menyukainya. Dia pria pertama yang menghargaiku.”, ujar Hyun Joo.


Seketika pikiran Daeun langsung mengawang - awang.

__ADS_1


__ADS_2