
“Oh? Wanita itu? Kenapa dia tidak naik taksi saja? Jam berapa ini?”, ujar Daehyun saat melihat Daeun berjalan di trotoar jalan sendirian.
Beberapa toko sudah tutup, jalanan tampak sepi. Hanya ada toko minimarket yang buka. Penerangan lampu jalan juga sebagian berasal dari lampu jalan dan lampu toko yang tidak banyak.
“Siapa tadi namanya? Daeun? Lee Daeun? Ah betul. Apa rumahnya di sekitar sini?”, Daehyun bertanya - tanya sendiri di dalam mobilnya.
Saat ini posisinya berada di seberang jalanan yang berbeda dengan trotoar tempat Daeun berjalan.
“Apakah tidak berbahaya berjalan di sini malam - malam? Kenapa dia berani sekali? Mungkin rumahnya di sekitar sini. Kenapa aku harus memikirkannya. Dia kan sudah besar, bisa pulang sendiri.”, ujar Daehyun.
Tadinya saat melihat Daeun, Daehyun sedikit mengurangi kecepatan mobilnya untuk menyamai langkah Daeun. Setelah beberapa kali berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Daehyun kembali menormalkan laju mobilnya dan memutuskan untuk pulang.
Tak sampai 1 km, Daehyun melihat ada segerombolan anak - anak SMA. Pakaian mereka sebagian ada yang tidak dikancing dengan rapi. Mereka juga merokok.
‘Hm.. apa si Daeun itu akan melewati jalanan ini?’
‘Ah.. sudahlah bukan urusanku.’
Daehyun kembali teringat pada staff baru di management agensinya saat melihat anak SMA yang masih berkeliaran.
‘Ah…’, ujar Daehyun kemudian memutuskan untuk memutar setirnya untuk kembali menyusuri jalanan yang tadi dilewati oleh Daeun.
Dia berencana untuk memberikan tumpangan. Lagi pula ini sudah malam dan Daeun adalah staf baru di agensinya. Seperti kata Kwon Bok Man Ahjussi tadi. Mereka sudah seperti Manager Triple Kill.
Jadi, anggap saja dia sedang membantu manager. Begitulah yang dipikirkan oleh Daehyun sebelum memutuskan untuk kembali.
Sayangnya, saat dia kembali ke jalanan tadi, Daeun sudah tidak ada disana. Kebetulan, juga ada halte bus disana. Saat Daehyun menghentikan mobilnya, bus itu baru saja melaju dan Daeun sudah lebih dulu menaiki bus tersebut.
Ternyata dia berjalan sendirian tadi karena ingin menuju ke halte bus yang berada tak jauh dari persimpangan setelah area jalanan kantor agensi Xscape Entertainment.
Daehyun tidak menyadarinya. Dia juga tidak kepikiran kalau Daeun mungkin saja menaiki bus yang tadi.
‘Hm.. mungkin saja dia tinggal di daerah sini.’, begitu kesimpulan yang ditarik oleh Daehyun.
Disana juga terlihat jalan menuju pemukiman yang berada di antara dua roko. Mungkin saja keluarganya tinggal disana. Daehyun kembali melajukan mobilnya dan pulang ke apartemennya yang berjarak sekitar 30 menit dari sana.
__ADS_1
Sesampainya di lobi apartemen.
“Oh, Daehyun-shi. Kau baru pulang?”, tanya Jang Hyun Joo yang kebetulan baru saja mengambil pesanan makanannya di bagian sekuriti bawah.
Mereka akhirnya menaiki elevator yang sama. Daehyun melirik sedikit pada kantong plastik yang di bawah oleh Jang Hyun Joo.
“Kau makan semua itu sendirian, malam - malam begini? Kau tidak takut gendut?”, tanya Daehyun santai.
“Oh? Benar juga. Tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku lapar karena seharian harus syuting dan hanya makan salad. Besok aku tinggal berolahraga. Kau tahu, gym disini sangat bagus. Aku sudah mencobanya kemarin.”, balas Jang Hyun Joo.
Ting. Pintu lift terbuka.
“Daehyun-shi. Kau tahu siapa penghuni empat unit apartemen lainnya di sini? Aku belum sempat berkenalan.
Selain mereka, ada empat unit apartemen lagi yang ditinggali oleh orang lain disana.
“Hm.. unit sebelah sana, 1503 ditempati oleh sepasang suami istri bersama dua orang anaknya. Suaminya bekerja di firma hukum sementara istrinya seorang guru di sekolah swasta. Unit lainnya, aku belum pernah bertemu.”, jawab Daehyun menekan password pintu apartemennya.
“Hm.. kalau begitu, sampai bertemu besok.”, ujar Jang Hyun Joo dengan penuh semangat.
“Kenapa aku harus bertemu dengannya besok. Aku mau tidur seharian.”, ujar Daehyun yang sudah masuk ke apartemennya dan menutup pintu.
********
“Kau menginap di hotel lagi? Kapan kau akan pulang ke rumah. Kakekmu menanyakanmu terus.”
Kim Ji Su. Dia baru saja tiba di kamar hotelnya setelah check-in. Jiwon mengikutinya tapi dia menolak untuk tidur satu kamar sehingga Jiwon terpaksa memesan kamar lainnya.
Barusan, ibunya menghubunginya. Masih dengan cerita yang sama. Dia harus pulang. Padahal baru seminggu yang lalu dia pulang ke rumah. Jisu memang jarang pulang karena setiap kali dia pulang, rumah sepi.
Ibunya adalah seorang Jaksa di sebuah district dan ayahnya adalah anggota dewan. Keduanya jarang sekali pulang. Jadi, Jisu juga malas pulang karena dia tidak merasa pulang ke rumah jika rumahnya selalu kosong.
Hanya ada kakeknya yang selalu marah - marah dengan keputusannya menjadi seorang Idol. Padahal, kalau dia tidak di rumah, kakeknya malah menanyainya.
“Iya, minggu depan aku akan pulang. Kakek selalu saja memarahiku. Ibu, kau sedang dimana?”, tanya Jisu.
__ADS_1
“Di luar kota sedang menghadiri konferensi. Minggu ini ibu juga akan pulang. Sebaiknya kau tidak berbohong kalau kau akan pulang.”, ujar Ibunya.
“Hm.. bagaimana dengan Ayah?”, tanya Jisu lagi.
“Dia ada di rumah bersama kakek. Dia sedang mengambil cuti. Minggu depan ibu rasa dia juga masih akan di rumah.”, jawab ibunya.
“Baiklah.”
Jisu menutup ponselnya dan akan bergerak menuju kamar mandi sebelum ponselnya penuh dengan berbagai macam pesan masuk.
Ting Ting Ting Ting
“Ah.. siapa lagi sih.”, ujar Jisu mengeluh.
“Wanita ini lagi. Padahal aku sudah bilang putus. Kenapa dia masih saja menggangguku. Apa dia tidak mengerti kata putus? END. OVER. 끝 (keut).”, ujar Jisu mengomel sendiri melihat ponselnya penuh dengan pesan dari seorang wanita yang dikencani sekitar 2 minggu.
Mereka baru saja putus tiga hari yang lalu. Jisu memutuskannya melalui panggilan telepon.
“Dia tidak akan berbicara yang aneh - aneh, kan?”, ujar Jisu.
Wanita itu adalah seorang trainee Idol dari salah satu agensi besar. Jisu bertemu lewat perkenalan di sebuah pesta. Mereka berdua memutuskan untuk berpacaran setelah satu bulan berkenalan.
Namun, Jisu merasa lelah dengan wanita itu karena dia selalu saja memintanya untuk keluar dan tidak mengerti dengan kesibukannya. Dia juga selalu saja mengeluh tentang masa - masa trainee-nya yang sulit.
Telinga Jisu mulai panas. Dia muak dan langsung memutuskannya lewat panggilan telepon. Sepertinya wanita itu belum terima dan masih mengirimkan pesan untuk minta berbalikan dengannya.
Jisu melemparkan ponsel ke kasur tanpa membalasnya. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
*********
Di kamar hotel yang lain, Jiwon sedang duduk termenung sambil mendengarkan lagu di ponselnya. Setitik demi setitik tangis keluar dari pelupuk matanya.
Jiwon adalah member yang paling bocah, atletis, dan jago berkelahi. Dia juga yang paling ceria dan suka mengeluarkan jokes - jokes receh. Tapi sebenarnya, dia yang paling kesepian di antara yang lain.
Alasan kenapa Jiwon selalu ingin bersama seseorang adalah karena bisikan dalam dirinya yang terus saja memintanya untuk mengakhiri hidup. Seperti saat ini, Jiwon sedang berusaha keras untuk menjauhkan pikiran itu dari kepalanya.
__ADS_1
Dia sudah meminum satu pil tidur agar dia bisa segera mengantuk dan melupakan semuanya.Hari yang paling dia tidak suka adalah hari dimana dirinya dan member Triple Kill tidak memiliki aktivitas.
Dia merasa nyaman dan aman saat Triple Kill sibuk karena dengan begitu dia bisa melupakan luka di hatinya.