
Angin semilir malam semakin menusuk ke kulit. Terlebih, sekarang mereka berdua sedang berada di jembatan dimana terpaan angin jauh lebih kencang. Daeun sudah lesu dan resah di dalam hati memikirkan kalau dirinya harus melewati jembatan ini sendirian.
Terima kasih untuk keegoisan dan harga dirinya yang tiba - tiba muncul dari mana di waktu yang sangat tidak tepat. Daeun terlihat santai dari luar tetapi kepalanya sudah menangis memikirkan bagaimana dia bisa melewati jembatan ini sendirian.
‘Siapa aku. Untuk apa Daehyun, sang selebriti harus mengikuti kemauanku. Daeun… semakin lama menghabiskan waktu bersama mereka bukan berarti kau juga salah satu diantara mereka.’, Daeun merutuki kebodohan dirinya sendiri.
Gadis itu tak berani melihat ke belakang seolah tidak ingin Daehyun melihat wajahnya yang berharap. Lagipula, mungkin Daehyun tidak melihatnya. Untuk apa? Pikir Daeun.
‘Daehyun pasti sudah pergi. Dia pasti jauh lebih mengkhawatirkan kekasihnya yang tadi pergi begitu saja. Untuk apa memikirkan aku? Hah.. memangnya siapa diriku. Pertanyaan itu saja tidak berhak keluar dari mulutku.’, ucap Daeun kembali memarahi dirinya sendiri.
Sudah beberapa menit dia melangkah menuju pinggir jembatan setelah turun dari mobil. Mungkin dia sudah bisa melihat ke belakang pikirnya. Sudah pasti pria itu tidak ada disana. Dia sudah pasti pergi sedari tadi.
Daeun perlahan mengintip ke belakang.
“Kenapa?”, suara seorang pria tiba - tiba menyeruak dan mengagetkan Daeun sampai - sampai dia hampir saja terjatuh.
Beruntung, Daehyun segera sigap menangkapnya. Salah - salah, kepala Daeun bisa saja membentur tiang pembatas yang ada di belakangnya.
“Dasar kau ini. Jalan itu pakai mata. Melihat ke depan. Apa yang sedang kau pikirkan? Bagaimana kalau kau terjatuh.”, ucap Daehyun memarahi Daeun yang masih berada dalam pangkuannya.
Wajah Daeun langsung memerah karena ini kali pertama dia berada sedekat ini dengan Daehyun. Matanya membesar. Ia menelan ludahnya.
‘Tampan.’, hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Hembusan angin yang tiba - tiba datang menerbangkan rambut Daeun yang tanpa sengaja tertarik oleh tangan Daehyun sewaktu menangkap gadis itu. Rambutnya yang panjang terbang dan menampar wajah Daehyun.
“Ah.”, respon Daehyun tatkala beberapa helainya masuk ke dalam mulutnya.
“Ah… maafkan aku.”, ucap Daeun segera setelah menyadari rambutnya sudah masuk ke dalam mulut pria itu.
Keduanya langsung mengambil posisi berdiri dan sikap sempurna sembari menepuk - nepuk dan merapikan bajunya. Daehyun juga mengarahkan pandangannya ke segala arah. Dia tidak pernah turun seumur hidupnya di tempat ini sebelumnya.
Saat melihat ke kiri, dia mendapatkan hamparan sungai. Sisi kiri dan sisi kanannya adalah perkotaan padat. Jika sisi kiri didominasi oleh gedung tinggi perkantoran, maka sisi kanan didominasi oleh apartemen.
Tak banyak orang yang berlalu lalang malam ini disini. Mengingat hari juga sudah semakin larut. Sehingga, Daehyun tak perlu untuk menyembunyikan wajahnya. Dia melangkah melewati pembatas dan berdiri di sisi pinggiran jembatan yang tinggi. Dia melihat ke bawah sambil menikmati hembusan angin yang mengeluarkan aroma khas.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan disana? Bukankah untuk ini kau memaksa keluar?”, teriak Daehyun dari tempat dia berdiri.
‘Aku memaksa keluar karena pria itu. Kenapa dia bisa menyimpulkan aku ingin melihat pemandangan ini.’, bathin Daeun dalam hati.
Namun, gadis itu tetap melangkahkan kakinya mengikuti Daehyun.
“Bukankah kau buru - buru pulang untuk melihat kekasihmu? Kenapa malah berhenti disini?”, tanya Daeun sambil meletakkan tangannya persis seperti Daehyun. Berpangku diatas pembatas jembatan.
“Yura unni sudah pasti sedang bersamanya sekarang. Menghampiri Hyun Joo saat ini hanya akan membuat suasana semakin canggung. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Jika dia sudah siap, dia pasti akan menceritakannya padaku.”, ucap Daehyun menatap lurus ke depan menikmati pemandangan malam.
“Hm.. kau pasti sangat mencintainya.”, celetuk Daeun tanpa sadar.
“Hehe.. kau berpikir begitu?”, Daehyun justru memberikan respon yang ambigu.
Daeun melihat ke sebelahnya. Sementara Daehyun tetap melihat lurus ke depan.
‘Ah tidak - tidak.’, Daeun menggeleng - gelengkan kepalanya dan kembali menatap lurus ke depan.
“Kenapa? Apa kau suka padaku?”, kata Daehyun sontak langsung membuat Daeun terkejut, tersedak, dan terdiam.
“Belakangan ini kau nampak terus membicarakan Hyun Joo. Apa kau menyukaiku?”, tanya Daehyun lagi.
Jika tadi dia berkata seolah - seolah hanya bercanda, kini dia terdengar serius. Tadinya, Daeun berpikir dia salah mendengar ucapan Daehyun.
Daeun bingung harus menjawab apa.
“Heh…”, Daehyun kemudian hanya tersenyum tipis.
Setelah itu, dia tak mengeluarkan kata - kata apapun lagi. Pria itu hanya menikmati angin malam, pemandangan, dan kadang berbalik untuk sekedar melihat mobil yang lalu lalang.
“Kau kedinginan? Pakai jaketku.”, ucap Daehyun membuka dan memasangkan jaket itu pada Daeun.
“Tidak perlu. Besok kau harus menghadiri Malam Penghargaan. Kau tidak boleh sakit.”, ucap Daeun mencoba mengembalikan jaket itu pada Daehyun.
Tetapi, pria itu kembali merekatkannya.
__ADS_1
“Aku mengenakan sweater yang hangat. Pakai saja. Ngomong - ngomong, mau berapa lama lagi kau disini?”, tanya Daehyun segera.
‘Cih.. dia bersikap sok ‘Cool’ memberikan jaketnya padaku. Tapi langsung bertanya dan ingin cepat - cepat pulang.’, protes Daeun dalam hati.
“Hari sudah larut. Tidak bagus kalau kita bertemu dengan orang mabuk. Kau lihat diujung sana? 5 menit lagi, dia bisa sampai disini.”, ucap Daehyun menunjuk seseorang yang jauh diujung sana.
Langkah pria itu nampak gontai. Di tangannya terdapat satu botol minuman. Dia mabuk.
Tanpa pikir panjang lagi, setelah mendengar kata - kata Daehyun, Daeun langsung menarik pria itu untuk masuk ke dalam van.
“Ahjussi, kita segera kembali.”, kata Daeun cepat.
Daehyun hanya tersenyum tipis.
“Aku tahu tempat makan enak di sekitar sini. Kita makan odeng dulu…”, ujar Daehyun menawarkan.
“Jangan harap.”, ucapnya segera.
Belum selesai Daehyun berbicara, Daeun segera memotongnya.
Gadis itu sudah tahu trik Daehyun sekarang. Pria itu pasti sedang mencoba menghipnotis dirinya agar mau jajan dan kemudian membawanya ke PC Bang. Daehyun, pria ini punya banyak tipu muslihat untuk cheating pada rencana dietnya dan tetap pulang ke kampung halaman-nya, PC Bang.
“Ah.. dasar pelit. Oh.. kalau kau mengizinkan aku ke PC Bang, aku akan memberikan tiket penonton untuk acara besok padamu.”, ucap Daehyun teringat pada keinginan Daeun tadi. Dia segera menjual itu.
“Tidak tertarik.”, balas Daeun ketus.
“Cih… cepat sekali bocah ini berubah pikiran.”, komentar Daehyun.
Perlahan keduanya tertidur di dalam van yang kurang lebih satu jam lagi akan membawa mereka kembali ke area apartemen. Daehyun sudah menawarkan pada Daeun untuk tinggal di apartemen kosong milik agensi khusus untuk malam ini.
Apartemen itu berada hanya berjarak beberapa lantai dari apartemen milik Daehyun. Apartemen itu masing kosong dan nanti rencananya akan digunakan untuk idol baru besutan agensi. Entah kapan itu.
Daehyun mendapatkan kuncinya dari Pilsung Daepyo-nim langsung karena rating penayangan perdana dramanya bagus. Tadinya dia kira itu hadiah yang tidak berguna, ternyata dia salah.
Kasihan Daeun jika harus ke apartemen miliknya sekarang. Besok pagi, dia harus kembali lagi ke apartemen Daehyun. Pasti melelahkan. Jadi, lebih baik dia tinggal di apartemen agensi sehingga dia punya banyak waktu untuk istirahat dan ada ketika Daehyun membutuhkan dengan cepat.
__ADS_1