
Daeun tengah menjalankan titah Daehyun untuk membeli Ice Americano di cafe yang terletak tak jauh dari lokasi pemotretan. Berhubung lokasi pemotretan dilangsungkan di salah satu gedung perkantoran yang ada di ibukota, Daeun bisa menemukan berbagai jenis Cafe di sekitarnya.
Dia hanya perlu berjalan sedikit dan bisa menemukan berbagai pilihan. Daehyun, pria itu memiliki satu brand Cafe favorit yang paling disukai. Daeun sudah hapal berkat instruksi dari Seongmin, Manager tetap Daehyun dan juga member Triple Kill lainnya.
“Permisi, aku pesan Ice Americano 2. Yang satu double shot plus extra ice.”, ujar Daeun pada kasir yang menerimanya.
Kebetulan jam belum memasuki waktu makan siang. Sehingga, belum banyak antrian yang tercipta di Cafe tersebut. Begitu masuk ke dalam Cafe, Daeun langsung bisa dilayani.
Tit tit. Ponsel Daeun tiba - tiba bergetar.
“Oh?”, responnya refleks dan membuka ponsel miliknya.
Pesan dari Daehyun:
Beli 35 cup. Aku yang traktir. Gunakan kartu milikku saja.
“Hm? 35? Ada apa dengannya? Kenapa tiba - tiba bersikap baik?”, tanya Daeun.
Daeun mengerti maksudnya. Pria itu ingin mentraktir semua staff dan kru yang terlibat dalam pemotretan. Jumlahnya memang sekitaran orang - orang yang ada disana.
‘Tunggu. Kenapa dia baru memberitahuku sekarang? Bagaimana caraku membawa semua pesanan ini?’, Daeun baru menyadari masalah yang akan segera dia hadapi.
35 cup adalah jumlah yang tentu saja tidak bisa dia bawa sendirian. Bagaimana caranya? Satu orang setidaknya hanya bisa membawa maksimal 8. Jika ingin memaksakan, bisa sih bawa 16, tetapi itu kalau tutup cupnya sangat erat.
‘Dia kira aku apa?’, Daeun yang baru saja memujinya, langsung mengeluh.
“Apa ada yang bisa aku bantu lagi, nona?”, tanya wanita yang berdiri di meja kasir.
“Aku ingin menambah sebanyak 33 cup Ice Americano. Tapi, apakah ada staff yang bisa membantu membawakannya? Aku ada di sekitar gedung itu. Tidak terlalu jauh.”, kata Daeun mau tidak mau harus meminta bantuan.
“Tentu saja. Tidak masalah. Kami bisa membantu untuk membawakannya. 33 cup one shot? Ah tidak, berikan 10 double shot dan sisanya one shot. Untuk 2 pesanan tadi tetap sesuai dengan deskripsi sebelumnya, ya.”, Daeun memesan sesuai dengan instingnya.
Mungkin mereka yang memerlukan double shot adalah para penanggung jawab pemotretan yang bekerja dalam waktu yang lebih lama.
“Terima kasih.”, respon Daeun.
__ADS_1
“Untuk pembayarannya menggunakan?”, tanya kasir itu lagi.
“Ohiya, maaf.”, Daeun segera membongkar tas milik Daehyun.
Tanpa sengaja dia membawa - bawanya kemana - mana. Tapi, Daehyun memang ingin seperti itu. Dia mempercayakan tas miliknya pada Daeun. Ini pertama kalinya sejak tadi dia membuka tas pria itu.
“Oh? Lengkap juga. Dia membawa ini. Ah.. pantas berat. Untuk apa dia membawa game console seperti ini.”, Daeun terdistraksi dengan beberapa item yang terletak di dalam tas olahraga milik Daehyun.
Kasir menunggu dengan sabar sambil memberikan beberapa instruksi kepada rekannya yang sedang menyiapkan pesanan.
“Ha-ha.. Maafkan aku. Tunggu sebentar.”, ujar Daeun merasa tidak enak karena masih mencari kartu yang dimaksud.
‘Ah… dimana dia menyimpannya? Bodoh. Kenapa aku tidak tanya padanya.’, Daeun merutuki kebodohannya sendiri.
Daeun mencoba mencari - cari di berbagai sudut. Dia mencoba membuka beberapa kantong tetapi tidak menemukannya.
‘Apa mungkin disini?’, tanya Daeun mencoba membuka salah satu kantong celana yang ada di dalam tas itu.
Daehyun membawa dua buah celana jeans dan dua buah t-shirt polos di dalam tasnya. Sepertinya masih baru, tercium dari aromanya.
‘Untuk apa ya dia membawa dua pakaian ini? Apa untuk berjaga - jaga jika sewaktu - waktu dia menginap di rumah seseorang?’, tanya Daeun dalam hati.
Daehyun. Unik juga dompet miliknya. Berbahan kulit tetapi dengan tema kayu. Brown dengan beberapa aksen simpel ala pria. Daeun membuka bagian dalamnya. Di luar dugaan, dompet pria itu lebih tipis dibandingkan dengan pria kebanyakan.
‘Oh.. ada foto masa kecilnya. Lucu juga.’, Daeun tanpa sadar telah membuat kasir menunggu terlalu lama.
“Ehem…”, ujar kasir tersebut mengingatkan.
Secara kebetulan, sudah ada beberapa orang yang mengantri di belakang.
“Ah iya.. maaf. Ini, silahkan.”, Daeun mengambil salah satu diantara beberapa kartu yang ada di dalamnya.
“Baik. Terima kasih.”, kasir tersebut menyelesaikan pembayaran dengan cepat.
“Silahkan duduk dulu. Akan kami siapkan segera.”, ujar kasir tersebut.
__ADS_1
Daeun mengambil duduk di sebuah kursi kosong. 35 pesanan yang harus disediakan membutuhkan waktu mungkin sekitar 10-15 menit. Daeun memilih untuk memainkan ponselnya.
Daeun sudah menaruh dompet tersebut kembali ke dalam tas. Dia mulai membuka ponselnya. Namun, pikirannya masih tertuju pada dompet tadi.
‘Hm.. apa aku buka lagi, ya. Sepertinya ada beberapa foto lain disana.’, kata Daeun yang jiwa kepo-nya sudah sampai di ubun-ubun.
“Ah, tidak - tidak. Apa - apaan aku ini memikirkan hal seperti itu. Dia mempercayakan tasnya padaku. Itu berarti dia percaya kalau aku tidak akan melakukan hal yang tidak - tidak pada barang - barang miliknya. Hal yang perlu aku lakukan hanya mengambil kartu dan melakukan pembayaran, bukan yang lain.”, Daeun berusaha menguatkan diri untuk tidak bertindak lebih meskipun dia nampak penasaran.
Apalagi, di dalamnya juga terdapat foto keluarga yang terselip dibalik kartu. Meski hanya melihatnya sekilas, Daeun bisa mengetahui kalau itu adalah foto keluarganya.
‘Tunggu, Daehyun sepercaya itukah padaku? Aku kan baru sebulanan ini bekerja di agensi. Aku juga bukan manager tetapnya. Kenapa dia bisa begitu percaya padaku?’, terlintas beberapa hal di pikiran Daeun sembari menunggu pesanan.
“Eh.. katanya ada pemotretan selebriti di gedung sebelah sana.”
“Kau tahu dari mana?”
“Temanku bekerja disana. Katanya, dari pagi di lantai salah satu perusahaan majalah sudah ramai sekali dari pagi. Apa kau ingin melihatnya nanti?”
“Memangnya siapa selebritinya?”
“Kang Dae Hyun, vokalis band Triple Kill.”
“Wah.. benarkah? Apa kau serius?”
“Hm.”
“Bukankah mereka sedang tidak aktif demi mempersiapkan album terbarunya?”
“Mereka tidak aktif tetapi aktivitas individu mereka sangat banyak. Kemarin aku lihat gitaris Triple Kill sedang sibuk syuting salah satu reality show. Tapi, kenapa Kang Dae Hyun hanya sibuk pemotretan? Bukankah wajah sepertinya sangat cocok untuk main film atau drama?”
Daeun sayup - sayup mendengar pengunjung lain yang sedang membicarakan tentang Kang Dae Hyun.
‘Wah… apa begini rasanya kalau ada fans yang membicarakan selebriti mereka? Bagaimana reaksi mereka kalau tahu, aku sedang memegang tas idola mereka, ya.’, Daeun tersenyum hanya sekedar memikirkannya.
“Nona, pesananmu sudah siap. Aku harus mengantarkannya kemana?”, ujar seorang staf Cafe yang menyadarkan lamunan Daeun.
__ADS_1
“Oh.. ayo ikut denganku.”, ujar Daeun mengarahkannya.
Daeun tak lupa merapikan tas yang dipegangnya dan memastikan tidak ada barang apapun yang tertinggal.